IVORY

IVORY
Jatuh cinta?



...Hai readers yang baik hati. Bagaimana mood kamu hari ini? Semoga kalian selalu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa....


...Tidak pernah lupa untuk mengingatkan. Jangan lupa follow, favorit, like, dan komentarnya ya......


...Happy Reading....


...•...


Junot sedang meninjau beberapa lokasi istana yang rawan untuk dijadikan sebagai jalan pintas penyusup keluar masuk istana. Pernah suatu ketika, ia mendapat laporan jika seorang penyusup dari kerajaan Amber masuk melalui aliran sungai yang berada diperbatasan paling belakang istana—sungai yang hendak ia tinjau hari ini. Sungai yang dialiri air dari pegunungan gletser itu memang sudah diberi pagar besi tinggi berduri dan masuk ke kedalaman sungai, sebagai pembatas keamanan. Tapi entah bagaimana caranya penyusup itu dengan mudahnya bisa masuk kedalam istana tanpa ketahuan dan hampir mencelakai raja.


Junot yang saat itu benar-benar geram dan habis kesabaran, menghukum penyusup itu tanpa ampun. Hukuman yang akan membuat siapapun takut untuk mengirim orang mereka masuk kedalam wilayah Geogini tanpa izin. Seperti itulah Junot, tegas dan selalu bisa membuat nyali lawan menciut.


“Panglima, saya mendengar teriakan seseorang.” tutur salah seorang prajurit yang ada dibalik punggungnya.


Junot menghentikan langkah. Memasang telinga dan coba menangkap suara yang dimaksud prajuritnya.


Dan benar. Seseorang sedang berteriak minta pertolongan. Tanpa membuang banyak waktu, Junot berlari menuju sumber suara yang sudah ia ketahui dari mana asalnya, yang sesaat kemudian sudah menghilang. Tidak lagi terdengar.


Kedua maniknya melebar ketika melihat Dayana sedang menaiki tepian sungai dengan kondisi basah kuyup dan terbatuk-batuk. Tapi, ia tau itu bukan suara Dayana. Junot sangat hafal suara Dayana.


“Putri, apa yang terjadi. Anda baik-baik saja?” tanya Junot memastikan ketika sudah berada disisi Dayana. Dia melihat sekitar dan tidak menemukan apapun selain Dayana yang masih terpingkal batuk dan memuntahkan air. “Anda sendirian, tuan putri?” lanjutnya sembari memijat tengkuk leher Dayana yang berusaha menetralisir diri.


Tanpa suara, Dayana menunjuk kearah sungai. Dan saat itu juga, Junot sadar ada orang lain didalam sana. Tenggelam.


Nafasnya seolah tercekik ketika sadar akan suara yang tadi berteriak meminta pertolongan. Ivory,


ya, itu suara Ivory.


Tanpa peduli apapun lagi, ia segera terjun kedalam sungai. Berenang dalam, dan semakin dalam ketika tak kunjung menemukan sosok yang ia cari. Jantungnya berpacu cepat, antara mengatur laju gerakan renang, dan rasa takut yang menyergah sebagian dirinya. Ivory, gadis yang beberapa hari ini ia ajak bicara dalam situasi tak terduga. Gadis yang membuatnya kagum karena kesederhanaan yang ia miliki, dan gadis berwajah cantik yang bisa membuat orang lain berteriak karena tingkah konyolnya. Hari ini, gadis itu yang berteriak. Meminta pertolongan, dan Junot tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri jika sampai terjadi sesuatu kepada Ivory.


Dia harus selamat.


Junot terus berenang menyusuri sungai di kedalaman yang semakin dipeluk gelap. Hingga akhirnya, bayangan gaun yang melambai karena genangan air tertangkap penglihatannya. Junot memacu gerakan tangan dan kaki secepat mungkin, kemudian meraih pergelangan kecil milik Ivory yang mengambang. Menariknya sekuat tenaga menuju permukaan yang tentu saja harus segera ia gapai sebelum semuanya terlambat, sebelum Ivory benar-benar kehabisan nafas.


Tolong bertahan.


Bisik Junot dalam hati. Dia juga sempat memekik geram didalam hati sebab daratan terasa semakin menjauh.


Hingga akhirnya, siluet cahaya yang menembus air menyapa permukaan wajah Junot yang masih tergenang didalam dingin. Lega menyapa sisi hati, ia mencapai titik kegelisahan dan rasa takut, sebuah tujuan yang ia perjuangkan meskipun harus mempertaruhkan hidupnya. Menyelamatkan Ivory.


Junot memutar tubuh, bergerak kembali untuk merengkuh tubuh Ivory, lalu berenang cepat menuju permukaan agar sampai ke daratan.


...***...


“Kamu baik-baik saja kan?” tanya Grey, menangkup wajah pasi Dayana karena kedinginan dengan sorot panik dan khawatir yang masih mendominasi pupil abu-abunya.


Dayana mengangguk dan seorang menyelimuti tubuh serta baju Dayana yang basah dengan sebuah selimut tebal.


“Kamu sendirian?”


Dayana menggeleng. “Aku bersama putri Ivory.”


Grey terbelalak karena menyadari tidak menemukan Ivory disekitar mereka. Hanya dua orang prajurit Junot, dan kini semakin ramai karena beberapa dayang mulai berdatangan. Termasuk Fucia.


Semua pandangan berotasi ketika sebuah teriakan dari arah sungai menggema keras. “Bantu aku dan bawa selimut hangat untuk putri Ivory.”


Junot membopong tubuh pucat dan lemah milik Ivory keluar dari dalam sungai, lalu membaringkan bebas diatas bentangan luas padang rumput. Bersiap memberikan pertolongan pertama sampai tanpa ia duga seseorang berhasil menghalau gerakannya. Grey menyingkirkan Junot dari atas tubuh Ivory sembari menatapnya tajam.


“Dia milikku.”


Junot berniat tak peduli dan kembali mendekati Ivory. Namun untuk kesekian kali tanpa ia duga, Grey menarik kuat pakaiannya kemudian melayangkan bogem mentah kearah wajah hingga ia jatuh terjerembab dengan sudut bibir berdarah.


Beberapa orang yang menyaksikan itu hanya diam tercenung. Dua orang hebat dari Geogini sedang berseteru, mereka sama sekali tidak pernah mengira.


“Jangan pernah menyentuh Ivory, apapun itu. Dia milikku.” ucapnya dengan nada suara terlampau dalam penuh penekanan untuk Junot. “Cepat selimuti putri Ivory.” lanjutnya, memberikan titah kepada siapapun yang sedang membawa selimut tebal sebagai pertolongan.


Lantas, dengan segala pengetahuan serta pengalaman yang Grey punya. Dia berusaha memberi pertolongan untuk Ivory yang belum sadarkan diri. Grey mendekatkan satu sisi wajah kearah mulut dan hidung Ivory, memeriksa nafas yang ternyata sama sekali tidak ia rasakan. Dengan gerakan cepat, ia mencari denyut nadi Ivory, terasa lemah—nyaris tidak ada. Grey segera melakukan CPR*, meletakkan kedua telapak tangan yang saling tumpang tindih di bagian tengah dada Ivory, lantas menekannya dengan sangat hati-hati. Ia lakukan berulang, kemudian kembali memeriksa nafas Ivory.


Jika ia khawatir terjadi sesuatu kepada Dayana, kali ini perasaan yang timbul untuk Ivory lebih dari sekedar rasa khawatir. Grey ketakutan, tubuhnya gemetar dan isi kepalanya penuh dengan sebuah perasaan membuncah yang tidak bisa ia gambarkan dengan kata-kata. Begitu menakutkan.


Karena tidak ada respons, Grey segera mengapit hidung Ivory dengan jari tangannya, meletakkan bibir diatas bibir gadis itu, kemudian meniupkan udara kedalam mulut Ivory, melakukan teknik nafas buatan itu berkali-kali, hingga Ivory membuka mata dan terbatuk dengan banyak air yang keluar dari mulut dan hidungnya. Tubuhnya perlahan menghangat, dan warna kulitnya kembali seperti semula—tidak lagi pucat. Ivory selamat, dan orang yang pertama kali ia lihat ketika maniknya terbuka adalah Grey. Junot berlalu entah kemana.


Menyadari banyak orang yang mengelilinginya, Ivory semakin takut. Ia menuju Fucia dan memeluk erat gadis tersebut. Saat ini, hanya Fucia yang dia percaya dan bisa ia andalkan. Ivory Menangis tanpa suara dengan airmata yang terus membasahi pipi. Grey yang baru pertama kali melihat ketakutan dan tangis Ivory, merasa tersayat. Dia bahkan merasa tidak berguna kerena tidak bisa membuat gadis itu merasa aman.


Tubuh Grey yang bergetar, terduduk lemas tidak jauh dari Ivory berada. Rasa takut yang menghantuinya perlahan pergi, berganti lega. Ia tidak berhenti mengucap Syukur dalam hati melihat keadaan Ivory yang perlahan membaik. Suara lembut dan hangatnya mengudara, “Cepat bawa dia ke kamarnya, segera ganti dengan pakaian kering dan hangat.” titah Grey untuk Fucia. Lantas gadis itu hendak berlalu mencari tandu, tapi Grey menahan Fucia, menghentikan langkah dayang pribadi Ivory itu dan menitahkan untuk mengikutinya saja. Tanpa meminta izin terlebih dahulu, Grey meraih tubuh Ivory. Meletakkan lengan kirinya dibelakang punggung, dan menelusupkan lengan kanan dibawah lutut, mengangkat bobot Ivory dengan mudah seperti tidak ada beban, membawa gadis itu pergi begitu saja dalam gendongannya.


Disudut lain, Dayana yang juga masih duduk ditempat awalnya, bisa melihat ketakutan dimata Grey. Respon yang jauh berbeda dengan yang Grey berikan selama ini untuknya. Tatapan hangat penuh perhatian, kekhawatiran, serta takut kehilangan. Dayana sadar, Grey sedang jatuh cinta kepada Ivory. Dayana melihat itu. Nyata didepan mata. []


...Bersambung....


...🍃🍃🍃...


CPR* (cardiopulmonary resuscitation) / resusitasi jantung paru adalah adalah tindakan pertolongan pertama Bantuan Hidup Dasar pada orang yang mengalami henti napas karena sebab-sebab tertentu. CPR bertujuan untuk membuka kembali jalan napas yang menyempit atau tertutup sama sekali dengan melakukan beberapa teknik pemijatan atau penekanan pada dada. Sumber: Wikipedia