
Gadis kecil setinggi pinggang orang dewasa itu berlari mengelilingi taman bunga mawar tanpa lelah. Berlari memutar arah menuju lorong istana yang sedikit gelap, kemudian berputar arah menuju tangga yang menghubungkan lorong lain yang lebih terang dan dekat dengan kamar tidurnya. Para dayang yang mengejar hampir pingsan kehabisan nafas dan masih tidak bisa menghentikan tapakan langkah kaki kecil bersepatu merah itu untuk berhenti berlari.
“Putri Reddyara, raja akan memarahi anda jika berlarian seperti itu. Ini waktunya Anda belajar musik dengan nyonya Huppon.” kata salah satu dayang pengasuh yang menjaga Redd.
Reddyara Evera Geogini, gadis berusia enam tahun yang mulai belajar mengenal Xylophone . Gadis cantik bermata jernih seperti ayahnya itu tersenyum riang, menampakkan deretan gigi putihnya yang rapi dan bersih, terapit dua pipi gembil menggemaskan.
“Apa raja akan melihatku bermain Xylophone?” tanyanya antusias sembari melompat-lompat kecil hingga poni depannya memantul ceria.
“Yang mulia raja akan melihat permainan Xylophone anda lain waktu, tuan putri. Saat ini, raja sedang melakukan tugasnya—”
“Aku tidak mau jika tidak ada raja disampingku.”
Tierre yang sudah bekerja beberapa tahun dan sempat menjadi dayang ratu Ivory, bisa melihat banyak kesamaan gadis kecil itu dengan sang ibu. Mereka berdua sama-sama keras kepala, dan juga selalu menolak jika keinginannya bertemu Grey tidak terwujud.
“Tuan putri, raja akan menemani anda belajar Xylophone jika pekerjaannya sudah sele—”
“Biar aku yang menemaninya.” sahut Grey mengejutkan dua presensi yang sedang bersitegang dengan argumen masing-masing.
Redd melompat girang mendengar suara ayahnya. Namun senyuman manis dibibir mungil sewarna Cherry itu memudar kala pemandangan yang menurut Redd sangat menyeramkan, terlihat jelas di raut wajah sang ayah. Redd beringsut takut dan berlari kearah sang ayah. Memeluk kedua kaki jenjang yang tidak bisa ia rengkuh sepenuhnya sebagai rayuan agar mendapat pengampunan.
“Apa yang mulia akan marah padaku karena aku nakal?”
Diam Grey membuat putri kecilnya itu semakin digelung rasa takut. Rengkuhannya semakin erat.
“Maafkan saya, yang mulia.”
Grey tiba-tiba saja memaku. Ingatan kelam yang selalu menghantui benaknya selama enam tahun itu muncul sekali lagi.
Maaf...
Seketika itu juga Grey merasa bak ditancap tombak hingga menembus rongga dada. Permintaan maaf Ivory yang tidak pernah mendapatkan jawaban darinya. Penyesalan yang membelenggu itu mengerat kuat, melilit setiap inci tubuhnya secara tak kasat mata. Grey merintih sakit dalam diam.
Lantas , ia menggendong Redd menuju kamarnya untuk berunding sesuatu yang menjadi rahasia mereka berdua. Dayang Tierre beranjak pergi atas perintah Grey. Dia ingin menghabiskan waktu berdua bersama gadis kecil yang ia rindukan lima hari terakhir.
Sesampainya di dalam kamar berornamen bunga matahari, alih-alih marah, Grey malah tersenyum menyaksikan keluguan dan juga kelucuan Redd. Lantas berlutut untuk mensejajarkan tinggi dengan putri semata wayangnya yang sangat cantik itu.
“Coba katakan, kesepakatan apa yang kita buat ketika tidak ada siapapun?”
Redd mendekatkan bibirnya pada telinga Grey, membisikkan sesuatu yang memang menjadi kesepakatan mereka berdua sejak beberapa hari yang lalu. “Ayah tidak akan memarahiku kan?”
Grey tersenyum lembut. Mengusap pipi dan surai coklat madu milik sang putri, yang tentu saja selalu mengingatkan Grey pada seseorang, Ivory. Wanita yang rela menukar nyawanya demi putri secantik Redd untuk hadir ke dunia, menggantikan kebahagiaan yang sempat hilang terbawa kesedihan akan perginya Ivory. Pada kenyataannya, si buntung memang mendapatkan sebuah keajaiban tentang sebuah pengorbanan besar, yang begitu bermakna.
“Tidak. Ayah tidak akan memarahimu. Tapi, berjanjilah pada ayah, jangan membuat dayang Tierre kewalahan lagi.” titah Grey. Gadis kecil itu mengerucutkan bibir kedepan, wajahnya ditekuk masam penuh penyesalan. “Janji?” lanjut Grey sembari menyodorkan jari kelingkingnya didepan dada Redd.
Lengan kecil itu terulur pelan seolah tak rela membuat kesepakatan yang akan menyita waktu bermainnya. Jari kelingking kecil sedikit berisi itu melilit kelingking panjang milik sang ayah, lalu berkata. “Redd janji tidak akan membuat dayang Tierre kesulitan lagi.” gumamnya dengan suara kecil nyaris tak terdengar di telinga Grey.
Grey mengusuk surai indah sepanjang bahu itu sekali lagi. “Gadis baik.” pujinya, membuat Redd mendongak menatap fitur sang ayah, menganggap semua sudah impas dengan sebuah kesepakatan kecil. Tidak membuat dayang Tierre kesulitan lagi. “Jadi, katakan pada ayah. Apa Redd menyayangi ayah?”
Sebuah anggukan kelewat gembira menjadi jawaban yang begitu menghangatkan hati Grey. “Lalu, apa Redd juga menyayangi ibu?”
“Redd selalu menyayangi ayah dan ibu.”
“Peluk ayah.”
Tanpa banyak berkata, Redd memeluk Grey yang masih mengenakan pakaian kerajaan lengkap hingga gadis itu mengaduh kesakitan ketika tanpa sengaja tertusuk sebuah lencana di bahunya. Grey terkejut dan melihat gadis kecilnya menangis karena lengan atasnya berdarah.
Entah mengapa, hati Grey mencelos. Ia ingin menangis di tempat yang sama dengan putrinya tersedu. Diusapnya darah sebesar biji jagung itu dengan ibu jarinya, lantas mengecup penuh perhatian dan rasa sayang tepat dimana luka itu berada. “Maafkan ayah, sudah membuatmu terluka.”
Redd masih menangis dalam pelukan Grey. Dia yang tidak pandai mengurusi anak kecil, terus berusaha membuat putrinya menghentikan tangis. Hingga satu kenangan pahit kembali terputar dalam benaknya. Sebuah dongeng singkat yang ditanyakan Ivory kepadanya dulu, tentang si beruntung dan si buntung.
“Apa kamu mau ayah bacakan dongeng?”
Redd menghentikan tangis. Meskipun sisa-sisa isakan tangis itu masih terlihat jelas dimata dan hidungnya yang memerah, Redd mengangguk.
“Baiklah. Duduk disamping ayah.”
Grey menepuk sisi ranjang empuk berwarna putih tulang, menangkap tubuh gembil sang putri ketika gadis kecil itu sudah berhasil menaiki ranjang yang tidak lebih tinggi dari tubuhnya.
“Ibumu pernah membaca dongeng ini untuk ayah, dan setelah itu ayah tertidur pulas.”
“Eumm...” jawab Grey meyakinkan, meskipun semua itu hanya kebohongan semata yang ia buat. Ivory pernah menceritakan dongeng itu saat Grey mencoba membenci wanita itu mati-matian. “Mau dengar?”
“Mau.” sahut Redd manja bersuara serak.
Grey menyandarkan kepala Redd di dadanya, mengusap puncak hingga ujung Surai yang membuat Redd mencari tempat yang lebih nyaman disisi dada sang ayah.
“Ada dua orang sedang berjalan diatas sebuah tangga. Satu orang perempuan selalu beruntung, dan satu laki-laki yang selalu buntung.”
Grey menahan sesak.
“Tau apa yang dikorbankan si beruntung untuk si buntung agar hidup temannya itu lebih bahagia dari dirinya sendiri?”
Redd menggeleng, mendongak untuk melihat fitur ayahnya yang berada tepat diatas kepala.
“Si beruntung rela memberikan segalanya. Cinta, kasih sayang, dan juga kehidupannya.”
“Mengapa?”
“Karena si beruntung menyayangi si buntung dengan tulus.”
Redd seorang anak yang aktif. Selain itu, dia juga cerdas dan cepat tanggap terhadap apapun yang sampai ditelinga dan masuk kedalam otaknya.
“Lalu, pada suatu ketika, si beruntung sedang menghadapi sebuah dilema besar dalam perjalanan hidupnya. Sebuah pilihan berat yang harus ia pilih.”
Seluruh isi dongeng itu, murni karya Grey Yohansen yang tidak pernah mau memaafkan kebodohannya terhadap si beruntung yang buntung. Grey melirik putrinya yang fokus, namun pandangannya terlihat perlahan melemah dan terenggut oleh kantuk.
“Si beruntung mengambil keputusan sepihak untuk memberikan sebongkah berlian kepada si buntung yang saat itu terlihat begitu menginginkan sesuatu yang dimiliki si beruntung. Tapi, si buntung memilih marah dan tidak lagi mau berteman dengan si beruntung yang baik hati setelah si beruntung memberikan apa yang dimiliki temannya itu dengan tulus.”
“Si buntung jahat.” sahut Redd setengah sadar dalam kantuknya.
Lihatlah, bahkan gadis sekecil Redd saja menganggap itu semua sebuah kejahatan. Ya, Grey mengakui itu. Mengakui jika dirinya adalah orang keji dan jahat.
Dimanakah hati nuraninya saat itu?
“Iya. Dia jahat sekali sampai-sampai dia menyesal sepanjang hidupnya.”
“Lalu, apa yang terjadi pada si beruntung?” tanya Redd.
Mendengar pertanyaan yang keluar dari bibir Redd, Grey memeluk tubuh mungil itu, lantas mengecup puncak kepala beberapa kali. Ia menghela nafas, mencoba menguatkan dirinya sendiri dengan dongeng yang ia buat untuk menghibur putrinya yang sedang sedih karena terluka di lengannya.
"Si beruntung, dia hidup terlunta dalam kesulitan.”
Grey kembali mencari wajah putrinya, memejamkan mata sejenak untuk menerima kepahitan yang ia torehkan untuk wanita yang selalu menjadi sumber kebahagiaannya dulu.
“Dia menderita karena si buntung tidak lagi mempedulikannya. Memilih membawa lari sebongkah berlian yang diberikan oleh si beruntung, dan menikmati kebahagiaan yang ia dapatkan setelah mengganti berlian dengan berkilo-kilo emas.”
Redd mencoba mempertahankan kesadaran, ia beberapa kali mengerjap seolah sedang menghilangkan kantuk di kedua pelupuk mata indah yang ia miliki.
“Ayah, aku ingin tidur.”
Grey tersenyum, ia mengusap kepala Redd, lalu menyematkan sebuah kecupan di puncak kepala seharum apel. “Ayah akan menjagamu saat kamu tidur. Jadi, tidurlah yang nyenyak.”
Suara nafas Redd begitu teratur, dengkuran halus terdengar dari bibir mungilnya yang sedikit terbuka. Grey merasa sesak sekali lagi, Redd benar-benar jelmaan seorang Ivory. Apa ini balasan kekejaman yang pernah ia lakukan? Hingga alam dan seisinya tidak pernah mengizinkan dia untuk melupakan Ivory barang sedetik saja.
“Anak kita sangat cantik.” gumamnya pada diri sendiri. Namun ia lebih suka membayangkan jika Ivory sedang duduk bersama mereka, lalu tersenyum hangat ketika Grey melontarkan pujian-pujian kekaguman untuk putri kesayangannya, Redd. “Dia seperti dirimu. Tidak ada bedanya sama sekali.”
Grey menatap pada bayangan imajinasi Ivory yang ia buat itu sedang tersenyum ke arahnya.
“Aku mencinta kalian, hari ini, esok, dan seterusnya.” []
..._____________...
...Terima kasih sudah mau mengikuti perjalanan Grey dan juga Ivory....
...Cerita Green sudah di publish ya readers baik hati sekalian. Silahkan mampir dan baca-baca disana. Vi's Minta maaf jika ada salah-salah kata. Semoga tulisan Vi's disini bisa menghibur dan menjadi peneman readers semua ketika penat....
...Sampai jumpa di karya Vi's selanjutnya ....