
“Bagaimana ini. Bayi ini terus menangis.”
Dua orang berpakaian bak ninja itu berhenti sejenak. Mereka adalah sindikat penculik bayi yang diperjual belikan secara ilegal. Dan hari ini, menculik Putri kerajaan Amber akan menjadi keuntungan besar untuk mereka. Salah satu dari keduanya—yang berjenis kelami*n perempuan—menggendong bayi itu, masih terus mencoba membuat tenang bayi dalam gendongannya. Namun rasa-rasanya mustahil, si kecil itu masih menangis keras tanpa menunjukkan tanda-tanda ingin berhenti.
“Kita pergi kesalah satu rumah warga dan kita cari ibu susu untuknya.” kata satu orang lainnya yang berjenis laki-laki. “Jika tidak menemukan ibu susu, kita berada dalam bahaya.”
Wanita yang menggendong bayi cantik berbaju hijau dan berlogo harimau dan ular phyton itu mengangguk mengiyakan. Mereka tidak ingin prajurit kerajaan yang mengejar dan susah payah ia jauhi itu menangkap mereka hanya karena tangisan bayi. Meskipun itu merupakan resiko, tapi mereka berdua masih menyayangi nyawa.
Keduanya berlari menuju desa yang tidak jauh dari tempat mereka berada.Tawaruna. Desa tandus yang letaknya dekat dengan hutan tidak terjamah, dan laut.
Mereka melepas cadar penutup wajah, lalu mendatangi satu persatu rumah warga dan mencari orang yang bisa memberi air susu kepada bayi mungil dalam gendongan wanita itu. Hingga ia sampai disebuah bangunan kecil ditengah ladang sayuran. Mereka berdua merasa lega karena sepasang suami istri yang mereka datangi, juga memiliki seorang bayi. Lantas, mereka meminta dengan sebuah ancaman kepada wanita pemilik rumah itu untuk memberikan ASI nya kepada bayi mungil yang mereka bawa.
Namun semuanya tidak terlaksana. Sepasang orang asing itu bergegas merebut bayi yang belum beberapa detik mendarat dalam pangkuan calon ibu susu si bayi, mereka berdua lari tunggang langgang dari pintu belakang ketika mendengar suara gaduh diluar. Orang-orang berkuda itu sampai di dera Tawaruna karena melihat dua orang yang mereka buru berlari memasuki desa tersebut. Dua orang yang mengambil putri kerajaan Amber dan membunuh ratu dan putra pertama raja mereka.
“Sial. Kita kehilangan jejak.” teriak salah satu prajurit geram karena tidak lagi melihat jejak dua penyusup yang mereka incar.
“Ayo kita ke hutan yang ada disana.” ucap prajurit lain sembari menunjuk hutan yang terlihat gelap oleh kabut.
Pada akhirnya, mereka memutar arah menuju hutan berkabut yang mungkin menjadi tujuan akhir dua penculik anak raja Aru, putri Honey.
Kedua presensi itu mulai kehabisan nafas. Bayi yang mereka bawa juga mulai melemah karena sejak tadi menangis dan tidak mendapatkan asupan ASI. Mereka berhenti di balik salah satu pohon Oak besar yang terlihat berusia ribuan tahun.
“Bagaimana kalau kita tinggalkan saja bayi itu disini.”
“Apa kamu gila? Dia akan mati diterkam hewan buas jika kita meninggalkan dia disini.”
“Aku sudah lelah berlari. Kalau kamu mau, kamu saja yang bawa bayi itu. Aku menyerah.”
Dan mereka kembali mendengar ringkikan kuda. Bayi mungil yang sudah lemas itu terdiam, tidak menangis lagi.
“Sial. Bagaimana bisa mereka menuju kesini?” umpat wanita yang masih terengah karena berlari jauh sembari menggendong bayi. Ia lalu meletakkan bayi dalam bungkusan kain putih itu di atas dedaunan yang gugur berserakan di bawah pohon. “Aku tidak akan membawanya. Jika kamu bersikeras, silahkan. Tapi aku tidak mau lagi membantu jika nanti kamu kesulitan.”
Wanita itu berdiri dan kembali berjalan untuk menyelamatkan diri. Dan yang lebih memilukan, bayi itu ditinggalkan. Ya, laki-laki itu memutuskan untuk tidak membawa bayi cantik itu lagi. Dia juga tidak mau mengambil resiko untuk tertangkap ketika bayi itu kembali menangis saat mereka lari menyelamatkan diri.
Uang yang akan mereka dapat dari menukar bayi itu cukup menggiurkan, tapi untuk saat ini, mereka memilih untuk menyelamatkan diri saja.
—
Skiva, berjalan lurus menuju satu titik dimana biasanya dia akan mendapatkan kayu bakar yang tumpah ruah dan bisa ia pergunakan semala berminggu-minggu. Ia menyusuri jalan seperti biasanya—tenang dan tidak mengundang petaka untuk dirinya sendiri—agar hewan-hewan buas dihutan itu mengejar lalu memangsanya.
Dia hidup sebatang kara, tidak menikah, dan menyendiri didalam hutan. Usianya juga sudah kepala empat dan ia nyaman dengan kehidupannya itu.
Tiba-tiba, samar-samar ia seperti mendengar suara rengekan bayi. Jaraknya tidak terlalu jauh, atau bahkan mereka memang dekat. Skiva memasang telinga lamat-lamat dan berjalan mencari sumber suara. Hingga akhirnya, langkah itu terhenti pada sebuah pohon Oak besar yang ia tau sering ditempati oleh orang asing untuk melakukan pemujaan. Ya, Skiva sering menemukan makanan atau buah-buahan enak yang bisa ia bawa pulang dan menghabiskannya sendirian. Namun saat ini, seorang bayi. Apa bayi ini juga objek pemujaan?
Skiva menoleh ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada atau ada orang lain selain dirinya. Ia hanya tidak mau dituduh sebagai penculik jika bayi merah nan cantik itu memiliki orang tua.
Skiva meringkuk beberapa lama ditempat bayi yang masih tergeletak itu, menunggu jika saja memang tidak sengaja tertinggal. Namun, pandangan sendu terbit dari mata bulan sabit sibayi. Suara rengekan yang lemah dan terdengar membutuhkan asupan makanan, juga bibirnya yang sedikit membiru sebab kedinginan. Tangan Skiva terulur begitu saja, meraih kain putih berisi bayi mungil nan cantik itu, lalu menggendongnya.
Hati kecil Skiva seolah terhenyak ketika mata bayi itu bertemu dengan miliknya. Tanpa sadar air mata mulai membanjiri kelopak, dan Skiva memutuskan untuk membawa bayi tersebut pulang.
Sesampainya dirumah, ia memasak air dan memberi bayi itu minuman hangat. Bayi itu begitu serakah menenggak setiap sendok air yang ia sodorkan pada bibir kecilnya.
“Bayi malang, siapa yang tega meninggalkanmu sendirian ditengah hutan begitu?”
Setelah selesai memberi minum, dan bayi itu terlihat lebih bertenaga. Skiva membuka kain pembungkus yang sudah basah. Bayi itu mengompol dan Skiva sadar dia tidak memiliki apapun untuk dikenakan si cantik mungil dihadapannya saat ini.
“Amber.” gumamnya. Ia tau betul pemilik logo itu, dan seketika sadar dengan siapa kini dia berhadapan.
Skiva menelan kasar salivanya, ia tidak menyangka jika akan menemukan putri kerajaan yang baru dua Minggu lalu diumumkan kehadirannya. Lebih tepatnya sebelum keadaan Amber memanas seperti sekarang. Skiva tau semua tentang Amber, karena dia pernah mengenal salah satu orang dari sana.
“Kalau aku membawanya kesana, apa aku akan dipercayai meskipun aku tidak menculik putri Honey.”
Termasuk nama sibayi, Skiva juga mengetahuinya. Honey Green Amber.
Dan pada detik itu, Skiva memutuskan untuk menunggu saja. Bila mana dia bertemu dengan teman lamanya, dia akan memberitahu keberadaan Honey. Tapi semua tidak berjalan seperti yang ia inginkan. Semuanya seolah terlewat begitu saja. Honey tumbuh semakin besar dan menjadi anak-anak.
Kemudian, saat usia Honey menginjak remaja, Skiva mulai menceritakan apa yang sebenarnya perlu diketahui gadis itu, kecuali tentang statusnya sebagai putri kerajaan Amber. Skiva terlalu menyayangi Honey dan tidak mau kehilangan gadis yang sudah ia anggap sebagai anak itu.
Ia mengarang beberapa hal, termasuk ketika pertama kali dan bagaimana cara mereka bertemu. Lantas, mengajari Honey dengan berbagai hal yang perlu dilakukan untuk melindungi diri di hutan.
Honey Green yang tumbuh semakin dewasa, berubah menjadi sosok gadis yang mahir memanah, cantik, dan tentu saja baik hatinya. Semua itu Skiva tanamkan dalam diri Honey, meskipun terkadang gadis itu memberontak.
Dan sampai pada hari itu, Skiva sakit parah dan wafat yang juga dikebumikan sendiri oleh Green.
Gadis itu hidup seorang diri didalam hutan. Melindungi dirinya sendiri seperti sedia kala. Dan ia tidak pernah tau tentang status diri yang sebenarnya, yang belum pernah disinggung atau diungkap sama sekali oleh Skiva. Tentang nama belakangnya, Amber.
...***...
Green mengikat pintu, dan membalik badan menghadap Ivory. Ia sudah bersiap akan mengantar sang tuan putri menuju Denham.
Green melewati Ivory dan turun dari rumah panggung nya. Namun langkahnya kembali terhenti ketika mendapati Ivory yang masih memaku ditempat. Green yang merasa waktunya terbuang sia-sia itu menautkan alis karena kesal. “Ayo. Bukankah kamu ingin ke Denham? Bergegaslah sebelum aku berubah pikiran.” cerocos Green yang benar-benar sudah sebal karena Ivory diam seperti patung selamat datang yang ada diperbatasan desa.
Ivory menatap lurus ke arah Green. Meremat kesepuluh jarinya, ragu akan permintaan yang hendak ia utarakan.
“Kenapa? Kamu berubah pikiran?” sekali lagi, Green bertanya karena menangkap raut bingung diwajah Ivory. Atau, jangan-jangan Ivory hanya membual dan membohonginya? Tentang statusnya yang mengaku seorang putri dari kerajaan besar dan kuat seperti Geogini?
Green kembali naik dan menarik paksa telapak tangan Ivory. Sedangkan Ivory, menolak dan meronta untuk melepaskan diri, yang tentu saja membuat benak Green semakin geram.
“Sebenarnya, apa mau mu, huh?!”
Ivory diam tidak menimpali. Dia menunduk sekilas, lantas dengan sisa keberanian yang ia miliki, ia bertanya. “Kamu tau dimana letak Geogini?”
Green membelalak. Ia tau arah pembicaraan Ivory. Gadis itu menjawabnya dengan sebuah anggukan. “Tentu.” katanya kemudian. “Kenapa? Apa sekarang kamu ingin aku mengantarmu kembali ke sana? Ketempat asal kamu berada?”
Dengan gerakan pelan dan ragu-ragu, Ivory menganggukkan kepala. Ia tidak yakin Grey akan membiarkan dia disana, lantas memaki dan memarahinya habis-habisan, lalu mengirimnya kembali ke Denham. Tapi dia sangat ingin kembali, juga ingin bertemu Grey. Ia berharap semoga tidak terjadi apapun disana.
“Ya. Bawa aku kembali ke Geogini.” []
Bersambung.
...🍃🍃🍃...
...Apakah Green akan mengabulkan permintaan Ivory? Atau malah sebaliknya?...
...Ikuti terus kisah Ivory dan jangan lupa untuk menjadikan Ivory menjadi salah satu list favorit kalian agar tidak ketinggalan update nya....
...Silahkan luangkan waktu untuk memberi like, komentar, rate, dan Vote jika berkenan. Terima kasih....
...See You Soon....