I'M Okey

I'M Okey
Grafanda



Masih waktu pagi hari,


"Tuan, sepertinya ada mata-mata lain yang sedang mengawasi pergerakan Tuan Rio dan Nona Icha." Lapornya pada seseorang disebrang telepon.


Mengernyitkan dahi, "Siapa?


"Saya juga tidak tahu Tuan. Sepertinya mata-mata itu hanya mengawasi Tuan Rio. Buktinya, setelah Tuan Rio pergi, dia juga ikut pergi Tuan."


"Baiklah. Terus awasi Icha. Aku tidak memperdulikan Rio. Juga awasi mata-mata itu, jangan sampai dia menyakiti Icha sedikitpun." ucapnya lantang nan dingin.


"Ah, cari juga informasi mengenai mata-mata itu. Sepertinya, bakal ada cerita menarik yang akan menghibur kita. Hhhhhhhh." tawanya keras.


Mendengar tawa keras dari bosnya, Awan sedikit menjauhkan ponselnya dari kupingnya.


Gila keras bener. Batin Awan dengan menelan ludahnya kasar


"Baik Bos."


Tut. Telepon dimatikan.


"Anakmu akan aman Yah."


"Akan saya jaga dia, seperti Anda menjaga Ibu." ujarnya tersenyum. Tapi tak berselang lama, senyumnya memudar yang diganti dengan kerutan di dahi. "Siapa dia?"


"Tidak akan saya biarkan siapapun yang bisa mencelakainya." ujarnya tegas.


Di sisi lain,


"Kamu gak sarapan dulu?" tanya Bu Mindi yang sedang mengoles roti dengan selai.


Indah hanya menghembuskan nafas kasar. Sejujurnya dia masih marah dengan sikap mamahnya tadi malam. Tapi, dia juga tidak tahu alasan apa yang mendasari sikapnya begitu. Terlebih melihat mamahnya yang tiba-tiba menangis.


Akhirnya, Indah ikut sarapan.


Sarapan yang hanya ditemani keheningan itu akhirnya, terpecah setelah bibi Ani datang.


"Maaf nyonya, non, di depan ada Tuan Grafa yang katanya mau menjemput Non Indah." ucap Bi Ani dengan menunduk.


Grafa? tanyanya dalam hati dengan mengerutkan keningnya.


Bu Mindi hanya melirik Indah lalu melanjutkan sarapannya.


"Iyha Bi, suruh masuk aja. Sebentar lagi aku selesai kog sarapannya." Tutur Indah halus. Indah memang punya hati yang baik, tulus, dan sopan. Tapi tidak dengan musuh-musuhnya.


Bi Ani pergi.


"Sebaiknya, kamu segera putuskan Grafa sebelum mala bahaya menimpanya." ucap Bi Mindi tegas dengan sedikit melirik Indah


"Uhuk-uhuk." Segera Indah mengambil susu hangat dan meminumnya.


"Mamah apa-apaan sih" katanya sedikit terkejut mendengar ucapan mamahnya tadi.


"Aku nggak tahu masalah apa yang menimpa mamah dan papah. Tapi yang aku tahu, aku tidak akan pernah putus sama Grafa." ucapnya sedikit berteriak tapi dengan nada masih pelan. Dan berlalu pergi meninggalkan mamahnya yang mematung dengan tatapan kosong.


Sepeninggalan Indah dari ruang makan. Bu Mindi sudah mengeluarkan air matanya yang tertahan sejak tadi. Ia juga tidak bisa melihat anaknya menderita. Tapi, jikalau ia memaksa, maka akan ada banyak orang yang tersakiti.


Mengusap air matanya. "Maafkan mamah nak." terlihat tubuh yang bergetar menahan tangisnya.


Bi Ani yang tahu majikannya menangis, hanya menatap kasihan. Ingin sekali menenangkan tapi ia urungkan.


"Tuan. Anda pasti akan menyesal karena telah menyakiti hati perempuan." gumamnya lirih lalu kembali bekerja.


*******


"Sayang."


Grafa yang mendengar namanya dipanggil, ia beranjak berdiri.


"Kok tumben jemput? Kangen yha." godanya


"Ih, emang benar-benar kulkas." menabok lengan Grafa dengan mencebikkan bibirnya lalu bersedakep.


"Hhhh. Gemes banget sih." Mencubit kedua pipi Indah.


Grafa hanya tertawa kecil dan Indah masih merajuk saja.


Mereka pun pergi ke sekolah bersama.


"Mas, apa kamu belum puas? Apa kamu tidak lihat, bagaimana bahagianya Indah bersama laki-laki itu. Kamu terlalu egois untuk kebahagiaan dirimu sendiri mas." gumamnya lirih, saat melihat Indah bertemu Grafa.


******


Di sekolah,


Semua hiruk pikuk bergerumuh terdengar menggema di SMA favorit itu. Semua teriakan kekaguman terlontar dari mulut masing-masing murid yang melihatnya. Pujian demi pujian pun terdengar. Memandang takjub pada mobil sport keluaran terbaru memasuki halaman sekolah, yang mungkin hanya ada satu di dunia. Mobil sport yang berwarna merah maroon yang di desain seelegan mungkin itu berhenti tepat di tengah lapangan.


"Kog berhenti di sini Graf?" tanyanya heran, sesaat setelah mobil yang ia tumpangi berhenti tepat di tengah lapangan. Bagaimana tidak heran, terkejut, dag dig dug der coba. Mobil yang mereka tumpangi menjadi pusat perhatian seluruh sekolah.


Karena memang jam pelajaran akan berbunyi 15 menit lagi.


Tak ingin meninggalkan moment yang langka, beberapa murid ada yang merekam kejadian apa yang bakal terjadi nanti.


Tak menjawab pertanyaan Indah, Grafa keluar dari mobil dengan kacamata yang sudah bertengger menutup kedua matanya dan tas yang sudah menyelempang di bahu kanannya saja. Berjalan mengintari mobil, untuk membuka pintu. Cara berjalan dengan gaya coolnya dan penuh wibawa serta wajah dinginnya, hanya menambah teriakan-teriakan histeris dari seluruh penghuni sekolah, terutama para fansnya. Indah melihat raut wajah Grafa yang menyimpan sebuah kekesalan hanya bisa menelan salivanya kasar.


"Mampus gue." batinnya.


Entah apa yang terjadi selama perjalanan menuju ke sekolah tadi. Yang pasti, Grafa dalam mode marah dan Indah hanya takut karena melihatnya saja.


Di waktu bersamaan,


Icha yang sudah memasuki kelas dan sedang berbicara dengan sahabat rempongnya tak terkecuali Sukma, karena anak itu belum datang juga. Mereka mendengar teriakan-teriakan histeris dari lapangan sekolah.


"Ada apa sih? kog heboh banget pagi-pagi." cerocos Ilham.


"Auk." timpal Anggy


"Yuk lihat." Ajak Syiffa.


"Nggak ah, males, ngapain coba?? paling juga ada anak ganteng yang lewat atau mungkin ada anak baru yang gantengnya mengalahi Wahyu." Seloroh Icha.


"Kog gue yang kena?" protes Wahyu


bbbbmmmpp hhhhh


Semua yang mendengar ucapan Icha hanya tertawa renyah.


"Yha kan emang." sanggah Icha.


"Yha gak mungkinlah, ada murid sini yang berani mengalahi kegantengan seorang Wahyu Ahmad Dirgantara." Ucapnya pede.


"Eh udah-udah, malah pada debat. Kalau nggak mau lihat juga gak papa. Biar kita aja yang lihat. Yuk." Ajak Kevin pada temannya yang lain. Dan mereka pergi keluar melihat keributan yang terjadi, meninggalkan Icha dan Wahyu sendirian.


Di sisi lain,


Pak Hakim yang sedang menyelesaikan beberapa pekerjaan di ruangannya, mendengar suara keributan dari luar. Karena takut para muridnya ada yang terlibat tawuran antar pelajar. Maka, Pak Hakim keluar, memastikan keributan apa yang telah terjadi.


Setelah keluar, ia menuju ruang guru. Tampaknya, semua guru yang sudah datang juga mendengar suara keributan, buktinya mereka sudah berkumpul. Pak Hakim hanya bisa mengernyitkan dahinya ketika matanya tertuju pada tengah lapangan.


Melihat mobil yang dibuka, keluarlah sesosok gadis cantik, putih, tinggi, dengan rambut pirang kecoklatan yang dibiarkan terurai begitu saja. Menutup pintu mobil, menggenggam tangan yang punya. Orangnya pun hanya menoleh kearahnya lalu melirik tangan yang digenggam erat tersebut. Tak banyak basa basi, Grafa pun segera melepas kacamatanya lalu bersuara yang menggelegar di seluruh sekolah.


"Ehem."


Bersambung,


Hemmm Grafa mau ngapain ya?๐Ÿ™„


Jan lupa yah, tinggalin jempolnya atuh๐Ÿ˜˜ hhhe