I'M Okey

I'M Okey
15 menit



"Hah? Terus?" Paham, tapi pura-pura tidak tahu saja.


Melirik tajam yang di depannya.


Paham akan lirikan tajam itu, segera meletakkan buku yang tadi ia bawa ke meja lalu mengadahkan tangannya.


Mengernyitkan dahi, "Apa?" Maksud sih, tapi pura-pura nggak tahu.


"Katanya haus!" Ucapnya kesal.


Sangat paham, tapi milih untuk diam.


Menit berlalu, masih dengan mode diam-diaman. Hanya suara detak jarum jam saja yang terdengar. Akhirnya, Icha yang sudah merasa jengah, memutuskan untuk langsung pergi setelah menurunkan tangannya yang terus menengadah tadi.


Rama yang melihat Icha pergi dengan rasa kesal, membuatnya tertawa renyah. "Masih sama." Malah tambah terbahak-bahak.


Iyha, Rama yang mengajak atau lebih tepatnya memaksa Icha untuk bertemu di perpustakaan dengan dalih meminta maaf untuk kejadian penyiraman beberapa hari yang lalu serta kejadian satu tahun lalu. Males? sangatlah. Tapi ia tak punya pilihan, mau tak mau ia harus mau, karena tu anak orangnya nekad banget, bisa-bisa ia mengacaukan kelasnya.


Hari ini, ia sudah menyiapkan semuanya dengan matang. Rencana yang dirancangnya tentu bukan hanya dia seorang untuk mewujudkan, tetapi dua cecunguk, Syahril dan Eko juga terlibat.


"Gue minta maaf untuk kejadian waktu dulu Cha. Tak mendengarkan semua penjelasan darimu dulu. Gue menyesal. Sangat menyesal." Gumamnya lirih yang sendu.


Berkomat kamit sepanjang menuju dan kembali dari kantin, membuat ia tak fokus memperhatikan jalan yang berakibat menabrak seseorang. Mungkin menabrak adalah hobinya. Hhh.


Dug,


"Ahh." Pekik Wahyu saat tahu seragamnya basah karena es cup yang dibawa Icha tumpah sedikit.


"Ah." Pekiknya dengan mata membulat sempurna yang langsung berjalan mundur beberapa langkah.


"Sor, Sorry Yu, gue nggak sengaja." Ucapnya tak enak hati.


"Aduh." Menggaruk kepalanya karena bingung.


"Sorry, sorry banget. Ya ampun." Menggigit bibir bawahnya serta mengerutuki kebodohannya.


"Basah deh, beneran nggak sengaja." Ucapnya gugup karena tak enak hati.


"It's ok. Santai, no problem." Jawabnya seraya membersihkan seragamnya yang terdapat noda coklatnya.


Menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Bingung mau gimana lagi, ingin sekali membantu Wahyu membersihkan seragamnya, tapi di sisi lain, ada seseorang yang sedang menunggu pesanannya.


"Ah, kalau nggak papa, gue duluan yha Yu."


"Kemana?" Dengan sigap, ia mencekal tangan Icha.


Terasa tangannya di tahan, ia langsung berhenti dan memutar tubuhnya.


Menelan ludah, tidak mungkinkan ia bilang ke perpus nemuin Rama. Yang bisaa, mereka adu jotos.


"Em, perpus. Gue tadi minjem buku, tapi eh, bukunya malah tertinggal. Hhhe." Tersirat raut muka yang penuh kebohongan, dan hal itu tentu Wahyu tahu.


"Jangan bohong. Lo belum makan kan?" Tanyanya menghardik.


"Ha?"


"Gue tadi gak lihat Lo ke kantin," Sambungnya,


"Ha?" Lola lagi.


"Tap, tapi gue kan udah bel...." Putusnya.


"Makan dulu di kantin." Ucapnya terjeda sebentar untuk melihat jam di tangannya.


"Lumayan, masih ada 15 menit lagi." Imbuhnya.


"Ha?? 15 menit?" Terlihat semakin gusar.


"Kenapa?" Tanyanya curiga.


"Ha?? Gak papa, ya udah, gue pergi duluan Yu, sebaiknya Lo kembali ke kelas dulu aja. Hehe, gak lama kog." Sarkasnya yang langsung melenggang pergi menuju perpustakaan lagi.


Mengernyitkan dahi. Sudah ingin mengejar, tapi tangannya di cekal seseorang.


"Pak Hakim manggil Lo." Ucap tiba-tiba Ilham.


Hanya dibalas anggukan Wahyu dengan tatapan yang sudah tertuju pada gadis yang mulai masuk ke dalam perpustakaan itu.


"Kenapa?" Ikut melihat arah pandang Wahyu.


"Icha? ngapain dia ke sana?"


Hanya menjawab dengan mengedikkan kedua bahunya dan langsung pergi meninggalkan Ilham yang masih termangu tak mengerti.


"Eh, kamvret. Gue ditinggal." Selorohnya saat Wahyu sudah tak terlihat lagi.


"5 menit." Ujarnya santai saat melihat Icha sudah masuk kedalam dengan membawa sebuah es cup coklat dan satu roti.


Paham kalau dia terlambat lagi. Ihhh, benar-benar nih orok yha, pen tenggelamin aja di samudra.


Memutar bola mata malas, "udah kan? Sekarang, Lo mau bicarain apa?" Tanyanya to the point, karena ia sudah jengah berduaan di perpustakaan dengan Rama.


"Duduk dulu."


Malas sih, tapi karena pegal berdiri yha duduk aja.


"Masih aja kaya dulu. Jutek." Godanya sembari meneguk es coklatnya dengan tersenyum tipis.


Memutar bola matanya lagi, "Ya udah kalau nggak ada yang penting. Gue pergi." Selorohnya seraya beranjak tapi duduk.


"Eh, eh, tunggu dulu. Kan belum ngomong." Mencekal tangan Icha yang mau melangkah pergi.


"Ya udah cepetan, nggak usah basa basi." Melepaskan cekalan tangannya.


Rama berjongkok menghadap Icha yang memandang ke lain arah. Mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.


"Ya?" Panggilnya lirih yang seketika langsung mendapatkan tatapan terkejut Icha.


"Masih ingatkan?" Tangan kirinya memegang tangan Icha dan tangan yang satunya mengeluarkan sebuah kalung silver yang bergantilan love dengan nama Fiya.


Deg,


Seketika ingatannya memutar pada waktu ia dan Rama baru jadian. Rama memberikan kalung itu sebagai pertanda ia dan Icha sudah berpacaran. Namun, karena kesalahpahaman yang terjadi, mengharuskan mereka putus dan Rama mengambil paksa kalung tersebut.


"Maaf." Jawabnya tak nyaman dan segera melepaskan cekalan di tangannya.


"Kenapa?" Ucap Rama yang beranjak dari jongkok untuk berdiri.


"Maaf, saya sudah lupa tentang kalung itu. Maaf juga karena saya, Anda harus kehilangan kepercayaan dari orangtua Anda." Gumamnya dengan jantung yang terus berdebar tak beraturan, tatkala mengingat semua kenangannya dulu.


Memejamkan mata, mengingat kebodohannya yang ia lakukan pada Icha waktu itu.


"Brengs*k, dasar wanita jal*ng." Teriaknya pada seorang wanita yang sudah tersungkur lemas di jalan. Siapa lagi kalau bukan Icha.


"Gue peringatin ke Lo ya." Menuding wanita yang masih menangis histeris, "sampai nyokap dan bokap gue belum maafin gue dan mengembalikan semua fasilitas yang telah mereka berikan. Jangan harap, Lo bisa hidup tenang." Ancamnya tajam. Terlihat guratan amarah yang memuncak di wajahnya.


Seketika, netranya melihat kalung bergantilan love itu yang masih ada di leher Icha. Dengan cepat, ia memaksa mengambilnya dengan kasar yang membuat lehernya memerah. Detik kemudian, ia langsung meninggalkan Icha begitu saja di tengah jalan yang hanya ditemani hujan lebat nan petir yang menggelegar.


Memasuki mobilnya dan segera pergi dari sana.


Icha hanya menatap mobil yang sudah pergi jauh darinya. Menangis histeris di bawah hujan lebat di tengah jalan yang sepi.


"Ahhhhhhh." Teriaknya semakin histeris, hingga akhirnya pandangannya buram sebelum jatuh pingsan.


Tes,


Sebuah buliran asin yang tanpa permisi jatuh di pipi putih itu.


Memejamkan mata sebentar, merasakan bagaimana sakitnya Icha pada waktu itu. Sakit, sungguh sakit. Keterlaluan, sangat keterlaluan. Bodoh sangat-sangat bodoh. Itulah ungkapan yang memang harus diberikan untuk Rama. Bisa-bisanya menyakiti hati seorang wanita tanpa mau mendengarkan penjelasannya dulu.


Bersambung,


Maaf, baru bisa update yha. Memang jarang update, tapi diusahakan tetep update. Hhe terima kasih yang sudah mampir😘