
Di tempat lain,
Icha yang sudah berkutik di depan laptop sedari tadi, melupakan makan malam yang sudah ibunya kirimkan ke kamarnya. Mengingat tugas yang ia dapat sangat menguras otak, maka ia mengerjakannya dengan fokus. Jika jawaban yang ia kerjakan benar, maka uang yang ia terima juga tinggi. Lumayan, bisa tambah-tambah uang untuk pergi ke study tour besok.
"Ah. Akhirnya, selesai juga.". Meregangkan otot-otot leher dan tangannya. Melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 8 malam.
"Huh. Lumayan juga ni soal. Sangat menguras pikiran dan tenaga." Mengambil air putih lalu diteguknya.
"Tinggal kirim ke orangnya. Selesai." Monolognya yang diiringi menyalin file tugas tadi ke ponselnya, lalu mengirimnya ke yang punya.
Membuka aplikasi hijau, mengirim file tugas.
"Selesai." Ucapnya saat filenya sudah terkirim dan centang dua abu-abu.
Tak apalah, nanti juga dibuka.
Mematikan laptopnya setelah menyimpan filenya tadi. Melirik ke ponselnya yang menampilkan chat clien nya. Online sih, tapi belum dibaca. Udahlah, yang penting udah selesai.
Jangan di tanya lagi kalau soal Matematika. Icha adalah jagonya. Meskipun belum diterangkan, ia sudah bisa memahami konsepnya dengan hanya membaca dan mempelajarinya serius. Ia juga suka ikut lomba Olimpiade Matematika yang diadakan di sekolah maupun luar sekolah. Jadi, jangan tanya, berapa banyak piala yang sudah ia kumpulkan.
Di sebrang sana,
"Huh. Susah banget sih ni soal. Huhu." Rengek teman wanita Rio selain Devi.
"Iyha. Mana belum juga diterangkan, udah dikasih tugas aja." Mencebikkan bibirnya.
"Benar." Rio ikut menimpali. Menyilangkan kedua tangannya di dada lalu bersender pada kursi di belakangnya.
"Ya elah. Gitu aja pusing. Ini tuh, udah pernah diajarkan di SMA dulu. Hanya saja, ini lebih ke asal usul rumusnya dari mana. Kalian aja yang mungkin tidak mendengarkan penjelasan guru." Celoteh Devi yang memang jago dalam hal hitung-hitungan.
"Bodo amat. Pusing gue kalau udah soal hitung-hitungan. Mending disuruh menceritakan sejarah Indonesia aja. Lebih gampang." Jelas teman pria satunya.
"Hah, bener lu." Tungkas teman pria yang lain dan diangguki temannya yang lain juga.
"Kenapa lu? sedari tadi gue perhatiin nengok ponsel terus?? tunggu balasan chat dari pacar?" Tanya temen cewek yang memang sedari tadi memperhatikan dia terus.
"Bukan. Boro-boro punya pacar, temen deket perempuan aja nggak punya gua." jawabnya nyerocos.
"Ciellah, perhatian." Devi terkekeh mendengar pernyataan temannya itu.
Secara spontan, teman pria yang ditanyai tadi langsung mentonyor kepala Devi.
Pletak.
"Auw." Rintih Devi memegangi jidatnya.
"Sakit tau." Kini berbalik menabok lengannya.
"Makanya, jangan suka menyimpulkan pernyataan yang belum tentu fakta." elaknya.
"Ye, gitu aja sewot." Mencebikkan bibirnya karena kesal.
"Udah-udah, malah pada ribut." Kini Rio yang berbicara.
"Auk Lo ngab. Makanya, nggak punya teman cewek, orang lu aja suka kasar ma cewek. Hiya nggak Dev?" timpal teman pria lain.
"Huumb, bener banget." jawabnya mengangguk seraya memasukkan camilan ke mulutnya.
"Auk ah. Gue mau ke kamar mandi. Mana Dev?"
"Masuk kedalam lurus aja. Sebelah kanan, kamar mandinya." tunjuknya dengan bantuan gerakan tangan.
"Hem, Permisi yha." Sedikit membungkukkan badan saat melewati teman yang lain.
Iyha, mereka sedang mendapatkan tugas kelompok dari mata kuliah Matematika. Satu kelompok harus terdiri dari lima orang, dan yha ini, kelompok Rio, dua orang perempuan dan tiga orang laki-laki.
Lima menit berlalu, ia keluar dari kamar mandi langsung menyusul temannya yang lain. Mendudukkan dirinya di tempat tadi lalu meraih ponsel, untuk melihat aplikasi hijau itu.
"Em gaes. Gue buntu nih di nomor 15. Gue belum tahu caranya tapi ngerti jawabannya." kata Devi yang membuat semua orang beralih menatapnya.
"Gimana bisa, ngerty jawabannya tapi nggak tahu jawabannya?" seloroh teman ceweknya.
"Gue nalar. Terus bingung cara nulis caranya. Hhhe." cengir dengan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Meraih laptop Rio untuk dilihatnya, "Wah, emm, kayaknya salah deh Yo, soalnya ini kan pertanyaannya....." Belum selesai bicara, langsung dipotong teman pria yang habis dari kamar mandi tadi.
"Udah, nih. Gue udah punya jawabannya. Nggak usah pada bingung gitu." Jelas pria itu.
Semua mengernyitkan dahi, menatap tajam ke arahnya.
"Udah. Biasa aja lihatinnya." mengalihkan pandangan dengan tangan yang sibuk menyalin file dari ponsel ke laptopnya.
"Nih, pada mau nggak?" tanya pada temannya yang masih memperhatikan tingkahnya.
"Mau apa?" tanya polos teman pria yang lainnya.
"Jawaban." ketusnya.
Semua bengong. Tak terkecuali Rio.
"Eh mau apa Lo?" tanyanya saat Devi berusaha merebut laptopnya tapi dengan segera berhasil menjauhkannya.
"Mau lihat. Pasti Lo nyontek dari kelompok lain kan?"
"Eh, enak aja Lo. Ni gue dapat dari teman gue yang jago Matematika. Gue minta bantuan sama dia." elaknya.
Menyipitkan mata, "Gue gak percaya."
"Ya udah, kalau nggak percaya. Terserah." mengedikkan kedua bahu.
"Gue mau salin nih jawabannya ke lembar jawaban." imbuhnya.
"Eh, iyha-iyha."
"Ya udah, mana laptopnya. Biar gue lihat dulu, jawabannya benar apa nggak, nanti kita diskusikan sama-sama." ucapnya nyerah.
Menyerahkan laptopnya. Lalu dengan teliti, Devi memeriksa jawabannya. Dibuatnya berdecak kagum sesampai melongo.
"Gila temen Lo. Pintar juga." menggelengkan kepala dengan tatapan yang tak beralih dari layar laptop.
"Gue bilang juga apa. Suhu tuh orang." timpalnya ketus.
"Udah-udah jangan ribut mulu. Kita selesaikan saja tugasnya sekarang, keburu malam, nanti gue gak berani pulang." tengah teman perempuan itu.
"Kalau nggak berani, nanti aa' tamvan Lucky aja yang nganterin." sombongnya Laki-laki yang bernama Lucky itu.
"Idih, kagak mau gue. Nih yha, nanti dikira gue bohong ngerjain tugasnya, dan bokap gue kagak percaya lagi kalau sewaktu-waktu keluar malam." jelasnya dengan ketus.
"Kan nanti aa' yang jelasin, kalau adek Adel nggak berani pulang, gitu Pah." celetuknya.
Seketika tubuh Lucky langsung kena lemparan buku.
Bughh.
"Idih, Amit-amit gue dipanggil adek sama Lo. Juga apa tadi, Pah?? hello?? Itu bokap gue bukan bokap Lo. Ighh."
"Kan, nanti juga jadi bokap gue Del. Hhhh." godanya yang membuat seisi ruangan tertawa.
"Udah-udah katanya takut pulang kemalaman, kog malah pada berantem sih." celetuk Devi.
"Iyha-iyha." jawab Adel dan Lucky serentak.
Akhirnya, mereka mengerjakan tugasnya dengan serius. Sesekali memakan camilan yang sudah Devi siapkan.
Di kamar Icha,
Kruyuk kruyuk. Suara cacing yang sudah lapar di dalam perutnya.
"Ah, aku sampai lupa makan malam gegara ngerjain tugasnya." Menepuk jidatnya sendiri.
Meraih nampan yang berisi makanan yang sudah dingin, tapi tak apa lah, yang penting kenyang.
Bersambung.