
Hari pertama masuk sekolah yang sangat menyebalkan juga mengesankan bagi Icha. Menyebalkan karena terlambat masuk dan menyenangkan karena hadiah anniversary ke 7 bulan. Ah, mengingat kejutan semalam, rasanya ia ingin terbang ke langit. Menjauh dari semua orang untuk berteriak sekencang mungkin. Teriak?? kenapa? ah, berteriak karena senang lah. hh
flashback on,
Setelah melepaskan pelukan, Rio mengambil sesuatu di saku celananya. Mengambil sebuah kotak, berjongkok, membuka kotak tersebut lalu melihat Icha yang berdiri mematung karena tidak tahu apa maksudnya.
"Icha." meraih tangan mungil nan lembut itu. Icha terkesiap saat Rio memegang kedua tangannya. Pandangan mereka bertemu.
"Berjanjilah pada kakak, untuk selalu ada disamping kakak."
"Untuk selalu ada saat dalam susah atau senang. Melanjutkan dengan nada yang sudah bergetar.
"Apapun yang terjadi nanti, tolong tetaplah yakin pada cinta kakak." semakin erat menggenggam tangannya.
"Tetaplah hanya percaya pada kakak. Jangan dengarkan apa yang orang lain bicarakan." Icha semakin bingung dengan apa yang dikatakan Rio.
"Selalu tunggu kakak dengan tetap di samping kakak." semakin mengembun matanya.
"I love you FANISYA OKTAVIANI." Mengecup beberapa kali tangan mungil kekasihnya itu. Tak dirasa air mata yang mengembun tadi sudah mulai berjatuhan. Icha yang melihatnya ingin sekali mengusap pipinya yang basah. Tapi tangannya sudah dipegang erat oleh Rio. Yang mana, ia bisa merasakan tangannya yang bergetar.
"I love you." ucapnya lagi. Entah hanya kata itu yang mampu ia ucapkan saat ini.
Bangun dari jongkoknya lalu mengambil kalung couple yang berwarna silver keemasan itu. Dipakaikan untuk Icha yang bergantilan gambar love yang berhias berlian dan permata. Di gambar love itu tersematkan nama ALFERIO yang tidak disadari oleh Icha.
"Cantik." katanya setelah memakaikan kalung di lehernya.
Icha hanya tersipu malu.
"Dan ini." menunjukkan kalung yang satunya. Bergantilan nama ILR.
"ILR?"
"Icha Love Rio. Agar kakak ingat kamu terus." seraya tersenyum dengan menampilkan deretan gigi putihnya.
"Kakak, akan pakai terus." ucapnya seraya memakaikan ke lehernya sendiri. Kalung yang memang didesain khusus untuk laki-laki itu pas di lehernya dan seakan menambah ketampanannya.
"Apapun yang terjadi nantinya, tolong jangan lepas kalung itu." menatap lekat mata hitam Icha.
Icha hanya mengangguk. Dan mereka kembali berpelukan di bawah terangnya sinar rembulan yang temeram.
Flashback off.
Hari kedua sekolah.
Seperti biasa, Rio akan menjemput Icha untuk mengantarnya sekolah. Dia ada jam kuliah siang, jadi waktu paginya ia gunakan untuk bersama Icha lagi.
"Yank."
"Ya?" sedikit maju agar bisa mendengar suara Rio. Saat ini mereka sudah berada di atas motor sport Rio.
"Nanti malam, kita ke pasar malam yha." Ajaknya sedikit menoleh ke samping.
"Emmm." sedikit berfikir. "Aku ada tugas kak." jawabnya nyengir tak enak.
"Tugas? mengernyit karena jawaban yang aneh.
"Iyha, tugas hari Senin lalu waktu aku terlambat masuk." jawabnya setengah jujur dan setengah bohong. Hah kog bisa? Lha emang bisa, kan memang ia mendapatkan tugas dari Pak Hakim kan suruh nulis kata SAYA BERJANJI TIDAK AKAN TERLAMBAT LAGI Dikarenakan ia terlambat mengumpulkan maka, hukumannya ditambah jadi seratus kali. Lha bohongnya kan karena tugasnya dikumpulkan 3 hari lagi tepat hari Jum'at
"Hhhhhh. kasihan banget sih pacarnya aku." tertawa renyah.
"Ihhh, kog diketawain sih kak." cemberut dengan memukul punggung Rio berulang.
"Ih, ampun-ampun yank." berteriak agar Icha menghentikan pukulan ke punggungnya.
"Makanya jan diketawain." memukul lebih keras lalu memeluk dan menyenderkan kepalanya ke punggung Rio.
"Iyha-iyha." menahan tawa.
Rio yang mendapati pelukan dari Icha hanya tersenyum menahan sakit dalam hatinya. Apa yang akan ia lakukan jikalau orangtuanya sudah kembali? Ia belum siap bahkan tidak akan siap jika harus meninggalkan Icha. Icha adalah penyembuh luka yang ampuh dan langka. Rasa sakit dahulu yang pernah ia terima dari mantan pacarnya, Intan sekarang sudah sembuh. Ia tidak ingin merasakan sakit untuk yang kedua kalinya. Tapi ia juga tak tahu bagaimana cara menghindari atau cara meyakinkan hati kedua orangtuanya.
"Kakak janji. Kakak akan selalu ada disampingmu apapun nanti yang terjadi. Tapi tolong jangan tinggalkan kakak, Cha. Kakak gak mau pisah dengan kamu. Kakak sayang sama kamu. Love you Cha." gumamnya dalam hati seraya mengusap jemari yang melingkar di perutnya.
Tak lebih dari 20 menit. Motor sport hitam miliknya sudah sampai di depan gerbang sekolah Icha turun dari motor dan merapikan anak rambutnya yang sedikit berantakan.
"Gak usah kak. Kalau naik mobil, nanti gak bisa pelukan sama kakak. Hhhe." jawabnya nyengir.
"Ih, bisa aja nih pacarnya kakak." mencubit kedua pipi Icha yang merasa gemas.
"Hhhe." tersenyum bahagia.
"Waduh-waduh masih pagi aja udaranya udah panas gini yak." Seloroh Pak Tono keluar dari pos satpam seraya mengibaskan tangannya ke tubuhnya dan mendongakkan kepalanya menatap langit pagi.
Icha dan Rio hanya tersenyum tipis saat mendengar ucapan sekaligus tingkah Pak Tono.
"Sudah sana masuk.. Nanti telat. Kena hukuman lagi."
"Hhhe, iyha kak." mengecup tangan Rio yang dibalas kecupan di keningnya.
"Aku masuk dulu kak." pamitnya.
"Iyha." mengacak rambutnya.
"Mari pak." sedikit membungkukkan badannya pada Pak Tono.
"Iyha non."
"Dadah." melambaikan tangan ke arah Rio dan dibalas juga lambaiannya oleh Rio.
Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang memakai hodie menutup kepalanya dan kacamata hitam yang sukses memfoto Rio waktu mencium kening Icha.
"Sial." umpatnya setelah menerima foto itu dari mata-matanya tadi.
"Berani sekali kau mempermainkan perasaan anakku " geramnya seraya meremas ponselnya.
Terus awasi mereka. Lakukan sesuai rencana. Lakukan dengan rapi tanpa meninggalkan jejak sekalipun. Send Mata-mata.
Baik boss. Balas dari mata-matanya
"Kau yang mulai dulu Tuan Alferio." ucapnya geram diiringi senyuman menyeringai.
"Nantikan balas dendamku."
"Kau harus menerima rasa sakit yang telah kau berikan kepada anakku satu-satunya.."
"Arrfgghhhh." membanting semua yang ada di kamar itu.
pyaaaar... pyaaaar.... pyaaaar..
Semua barang berjatuhan ke lantai. Pecahan kaca maupun benda beling, langsung berhamburan ke penjuru kamar.
"Kau harus menderita Tuan Alferio." teriaknya histeris dengan mata yang melotot dan wajah yang memerah.
"Aku tidak akan mengampunimu. Kau harus mati. Harus." teriaknya dengan menjambak rambutnya sendiri lalu melempar seprai ke lantai.
"Argfghhh." menangis sesenggukan dengan menyandarkan tubuhnya pada tepi ranjang.
Seseorang di balik pintu yang hanya menangis meratapi kondisi keluarganya. Terlebih Istrinya yang sudah seperti orang gila.
"hiks hiks hiks. Maafkan Ayah nak." tangisnya pecah dengan menyandarkan tubuhnya pada pintu kamar itu
"Maaf." lirihnya seraya memegang dadanya yang terasa sesak.
.
.
.
.
.
bersambung