
Setelah puas dan merasa senang berfoto ria, mereka berdua melanjutkan bermain berbagai game yang berada di mall itu.
Lelah adalah satu kata yang mungkin Icha dan Rio rasakan. Bagaimana tidak, sedari Icha pulang sekolah sampai malam hari, mereka belum istirahat. Uh, tapi gak papa lah, kan perginya sama pacar sendiri. Xixixii.
,,######
"Pelan-pelan yank." ucap Rio tatkala melihat Icha yang langsung turun dari motor sportnya dengan berlari kecil menuju teras rumahnya.
"Igghh dingin kak." ucapnya seraya memeluk dirinya sendiri.
Rio yang sudah sampai rumah, langsung memarkirkan motornya di garasi.
Menggelengkan kepala ketika garasi kosong. Pertanda sang adik, Grafa belum pulang. Melihat jam yang melingkar di tangan kirinya, masih pukul 20.00 WIB. Hem pasti remaja itu masih bersenang-senang sama temannya. Ah, anak remaja memang begitu. Suka menghabiskan waktu malam mereka di luar. Xixixixi.
Turun dari motornya dan langsung melepas helm serta jaket yang ia kenakan. Ketika berbalik ke belakang, ia mendapati Icha yang sedang kedinginan dengan memeluk dirinya sendiri seraya menggosok - gosokkan kedua tangannya agar mendapatkan kehangatan.
Seulas senyumannya menerbit lalu menghampiri Icha, "Iyha. Maafin kakak yha. Karena kakak kamu kehujanan."
Icha yang Kedinginan, sudah kehilangan fokus saat Rio melemparkan sebuah pertanyaan untuknya,
"Hah? Apa kak?" memang ia tak mendengar.
"Hem gak papa." tersenyum karena merasa Icha sangat lucu.
"Ayo masuk." ajaknya seraya menggandeng tangan Icha.
Deg deg deg.
Saat Rio sudah membuka pintu rumah, jantung Icha berdetak lebih cepat dari biasanya. Keringat dingin nan tangan yang bergetar begitu terasa di Rio.
"Jangan takut. mamah sama papah belum pulang kog." ucapnya seraya melihat ke sampingnya. Seakan tahu apa yang dipikirkan Icha, Rio mencoba untuk menstabilkan ekspresi Icha yang begitu gugup.
Tersenyum hambar, "Iyha kak." masih mencoba menenangkan diri.
Mengamati ruangan tamu yang masih sama seperti saat dulu ia berkunjung ke rumah ini hingga pikirannya kembali saat ia dulu pernah sempat dikenalkan tapi ditolak mentah-mentah oleh kedua orang tua rio.engingat bagaimana perkataan mereka yang masih sangat ia ingat hingga detik ini.
"Mungkin waktu di mall itu kamu salah lihat yank."
"Hah?" tersadar dari lamunannya.
"Soalnya di garasi kosong."
Ah syukurlah. bathin Icha.
"Ya udah, sebaiknya kamu ganti baju dulu aja yha, setelah itu aku antar pulang."
"Tapi ka...." belum selesai bicara, Rio sudah memotong perkataannya.
"Udah tenang aja. Kakak udah kabarin Tante Mayang kog. Dia juga sudah paham, kalau hujannya emang rata dan deras."
"Em, iy.. iyha kak." masih ada keganjalan sih aslinya. Mau tanya tapi takut.
Melihat masih belum ada kepuasan dalam raut wajah Icha, Rio langsung berkata, "Tenang aja, soal baju, serahin ke kakak aja yha. Sekarang, kamu pergi mandi air hangat dulu."
"Ayo." ajaknya untuk menaiki tangga menuju kamarnya.
"Kamu mandi di kamar kakak." ucapnya setelah di depan pintu kamarnya.
"Kakak mandi di kamar sana." tunjuknya ke arah kamar sampingnya, namun hanya tersekat anak tangga saja.
"Kalau udah, langsung ketuk aja pintunya."
"Kakak tinggal yha." ucapnya yang langsung diangguki kepala oleh Icha.
Krek,
Suara pintu terbuka.
Gelap. Mencari saklar lampu lalu menekannya.
cring, lampu sudah nyala. Kesan pertama saat melihat kamar Rio adalah menakjubkan. Ruangan yang di design dengan khas pria yang menonjolkan warna monokrom.
Rapi, bersih, dan wangi khas Rio. Ah, parfumnya memang menggoda Indra penciuman Icha.
Lama termenung dengan keindahan dekorasi kamar Rio, tetiba ia disadarkan dengan suara ketukan pintu kamar.
Tok tok tok
Bergegas Icha membuka pintu kamar,
Krek.
"Kak Rio."
"Nih baju, maaf lama, tadi milih - milih dulu. Tapi Alhamdulillah sih, bajunya mamah ada yang pas sama badan kamu." ucapnya seraya menyerahkan perlengkapan baju kepada Icha.
"Ah, makasih kak. Nggak enak aku jadinya." menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Hhh santai aja kali, Yank." mengacak rambut Icha karena saking gemasnya.
"Ya udah, buruan mandi."
"Iyha kak."
Kembali ia menutup pintunya lalu bergegas ke kamar mandi.
15 menit berlalu,
Icha keluar dari kamar mandi dengan sudah memakai pakaian mamahnya Rio dan rambut yang masih ditutup dengan handuk kecil.
Melepas handuk dari kepalanya, lalu berjalan menuju cermin besar yang ada di kamar itu. Menyisir rambut hingga ia mendengar suara deru mesin mobil yang berhenti di bawah.
Hah?? apa mungkin itu orangtuanya Kak Rio?
Tapi kata Kaka kan paling lambat siang. Jadi apa paling awal malam ini yha?
Hah?? Haduh. Mana aku deg degan lagi. Menyentuh dadanya yang sudah berdebar kencang.
Itulah sekelibat pikiran menerawang jauh Icha.
Huh. menghembuskan nafasnya kasar lalu berjalan menuju kamar mandi untuk menyampirkan handuk.
Saat mau berbalik ke belakang, tetiba ia dikejutkan dengan seseorang yang ia kenali sedang mengunci kamar mandi.
Menatap punggung orang itu dari bawah sampai atas hingga orang itu berbalik,
dan......
Bersambung,