
Bughh
Bughh
Bughh
Tiga pukulan telak sudah mampir di wajah Rama yang mulai tak berbentuk. Darah segar sudah mulai mengalir di pelipis kanan dan kirinya. Pipinya juga sudah biru lebam ditambah sudut bibir yang terus mengalirkan darah segar.
"Wahyu stoppp." pekik Ilham yang langsung mencekal tangan Wahyu yang akan memberi bogem nya untuk ke lima kali.
"Lepasin tangan gue, Ham." berontaknya saat tangannya berhasil dicekal oleh Ilham.
"Nggak!! Lo sudah gila apa? Lo mau dipenjara??"
"Lo udah bikin anak orang babak belur Yu."
"Gue nggak peduli." jawabnya cepat.
"Lo nggak peduli pada diri Lo sendiri nggak papa, tapi jika Icha tahu, terus apa yang akan Lo jelasin nantinya?"
"Pikirin orang yang udah susah payah Lo jaga Yu." mintanya pada Wahyu yang ingatannya langsung tertuju pada Icha.
Icha? gumamnya dalam hati.
"Di mana dia?" melepas tangannya dari cekelan Ilham.
"UKS."
Berjalan mendekati Rama yang sudah tergurai lemas di lantai.
Berjongkok, "Sekarang, gue lepasin Lo. Tapi jika Lo berani menyentuh Icha sedikit saja. Gue nggak akan pernah belas kasihan kepada Lo." ucapnya gamblang, yang membuat Ilham susah untuk menelan ludahnya.
"Cabut." katanya pada Ilham yang langsung melenggang pergi ke UKS.
"Gue harap Lo paham dengan apa yang dikatakan Wahyu barusan." bicaranya pada Rama.
"Gue akan panggil Syahril dan Dion kesini. Gue pergi." menepuk bahu Rama.
Rama hanya bisa mengepalkan tangannya dan akan balas dendam, karena sudah membuat rencananya hancur. Terlebih, tubuhnya yang sudah babak belur.
Paham akan situasi yang mendadak angker, "Wahyu." panggil Icha seraya melambaikan tangannya.
Tersenyum saat namanya dipanggil, "Gue tidak akan pernah lupa dengan kejadian itu." bisiknya lirih tepat di telinga Rama.
Menyeringai saat Rama sudah mengepalkan tangannya.
Menghampiri Icha dan sahabatnya.
Tak menghiraukan Wahyu, ia langsung pergi dengan hati yang memanas.
******
"Dijemput Kak Rio?" tanyanya saat menemui Icha sedang berbincang dengan Pak Tono.
"Eh Wahyu. Iyha Yu, sebentar lagi juga sampai. Hehe" jawabnya seperti biasa yang selalu diiringi dengan senyuman manisnya.
Ah, hati siapa yang tidak meleyot jikalau dikasih senyuman semanis itu. Hihihi.
Menaikkan satu alisnya, "Well, gue temenin." ucapnya gamblang yang langsung turun dari motor sportnya.
"Woi, ngapain Yu?" tanya Kevin yang melihat Wahyu turun dari motornya dan ikut duduk bersama Icha dan Pak Tono.
"Kalian duluan aja. Ntar gue nyusul." titahnya yang membuat mendelik Kevin dan Ilham.
"Ok deh, kita duluan. Tapi jangan lama-lama, soalnya perjalanannya jauh." jawab Kevin yang langsung diangguki Wahyu.
"Kenapa Yu?" tanyanya heran saat Wahyu sudah duduk di sampingnya. Karena ia tahu, kalau Wahyu akan bertanding basket di sekolah sebelah.
Tidak menjawab malah berbalik bertanya, "Kenapa, Kenapa?" terkekeh geli saat mendapati pertanyaan Icha. Paham sih, tapi sengaja tidak menjawab.
"Haishh, kenapa nggak pergi sekarang? Kan SMA nya jauh."
"Ngusir nih?" ejeknya yang membuat Pak Tono tertawa kecil.
"Jan manyun-manyun gitu deh, Cha. Jelek tau." selorohnya yang sukses membuat Icha memukul lengannya.
"Aw, sakit Cha." rintihnya pura-pura.
"Abisnya kamu ngeselin tau." masih mode kesal.
"Hhhh, lucu banget deh." mencubit kedua pipi Icha yang dirasai sangat menggemaskan.
"Ighhh, Wahyuu!!!" teriaknya sedikit manja.
"Ahhhhhhh." mereka berdua malah tertawa. Eh betiga nding, kan ada Pak Tono juga yang ikut tertawa. Hhh
Tertawa seperti ini terus lah, Cha. gumamnya dalam hati disela tawanya.
Tak terasa, disela mereka tertawa, ada seseorang yang sedari tadi memperhatikan mereka.
Menyunggingkan senyum semirik, "Baiklah, permainan akan segera dimulai." ucap orang itu mantap lalu pergi.
"Huh. Ternyata terjebak dalam friendzone." Grafa tersenyum miring lalu melajukan mobilnya.
"Ehemmm." suara deheman yang membuat mereka bertiga berhenti tertawa lalu menoleh kearah asal suara bersamaan.
"Eh Kak Rio." ucap Icha tersenyum lalu menghampiri Rio yang berdiri di samping motor sportnya.
"Kak Rio." ucap Wahyu lirih.
"Den Rio." kini Pak Tono juga ikut berbicara.
"Hemmm. Sepertinya kalian sedang membicarakan hal yang lucu yah? Sampai tertawa renyah begitu." tanyanya pada mereka bertiga yang sudah berdiri.
"Hhhhe, iyha kak. Tadi waktu aku nungguin kakak, aku berbincang-bincang sama Pak Tono, terus ada Wahyu datang dan ikut dalam perbincangan kami, eh nggak tahu topik semula apa malah sampai kebablasan bahas yang lucu-lucu. Hhhh." jelasnya panjang kali lebar yang terus diiringi dengan tawanya.
"Hhe iyha kak. Kita cuma ngobrol aja kog, nggak ada yang lebih." timpalnya kagok, karena asli ia bingung mau jawab apa.
"Iyha kan Pak Tono?" meminta persetujuan Pak Tono.
"Em, oh iyha den Rio. Kita cuma ngobrol biasa kog." jawab Pak Tono yang mungkin ikut gemetar karena juga bingung.
"Oh, baiklah." ucapnya yang secara ekspresi bisa terlihat jika tidak percaya.
"Ya udah, kalau begitu, saya mau masuk kedalam dulu den. Mau memastikan jikalau sudah sepi dan terkunci semua." lalu pak Tono yang langsung masuk kedalam sekolah lagi, karena mungkin mencari aman.
"Ouh, iyha pak, hati-hati." jawab Rio.
Melihat Pak Tono sudah hilang ditelan tembok, membuat Wahyu sedikit canggung sama Icha dan Kak Rio.
"Em, kalau gitu, gue duluan yha, Cha, Kak Rio." finalnya.
"Mau kemana?" tanya Kak Rio tanpa menatap Wahyu.
"Em, latihan basket kak." bukan Wahyu yang menjawab, melainkan Icha. Kak Rio yang mendengar jawaban Icha, sontak langsung menoleh kearahnya, dan membuat Icha sedikit gugup.
"Em, tadi Kevin kasih tahu. Makanya aku bisa tahu. Hhe." Cengirnya dan sekarang jantungnya sudah tidak bisa baik-baik saja.
Hhhe, benar-benar tunggu novel ini dikontrak , baru mau lanjutin😌😌
Pokoknya tetap standby yha,
Nanti kalau kontraknyaa sudah turun, pasti semangat lanjutin nulis novelnya.
Terimakasih untuk besti-bestinya akuhhh..
Sekali lagi, mohon maaf jikalau jarang update,
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankannya 🤗🙏
Salam,
Zaifa❤️