I'M Okey

I'M Okey
Asal mula



Tes,


Sebuah buliran asin yang tanpa permisi jatuh di pipi putih itu.


Memejamkan mata sebentar, merasakan bagaimana sakitnya Icha pada waktu itu. Sakit, sungguh sakit. Keterlaluan, sangat keterlaluan. Bodoh sangat-sangat bodoh. Itulah ungkapan yang memang harus diberikan untuk Rama. Bisa-bisanya menyakiti hati seorang wanita tanpa mau mendengarkan penjelasannya dulu.


Tak jauh dari mereka, ada sepasang mata yang melihat semuanya. Berawal dari mau mengambil buku paket yang dititahkan Pak Hakim.


"Sudahlah, lupakan saja kak. Semua sudah terjadi, dan akupun sudah melupakan semuanya." Ucapnya menunduk seraya menghapus buliran bening nan asin itu dari pipi mulusnya.


"Ya?" Panggilnya lirih dengan mata yang masih terpejam. Mungkin masih merasakan kebodohannya di masa lalu yang dengan mudahnya termakan omongannya Intan.


"Gak percayakan?" Tanya seorang perempuan yang masih mengenakan seragam sekolah walau bulan sudah menunjukkan jati dirinya.


"Apa maksudmu?" Tanya balik seorang laki-laki yang mengenakan hodi hitam itu.


"Hah." Tersenyum semirik.


"Bodoh." Gumamnya lirih sembari mengeluarkan ponsel dari tasnya dan menunjukkan sebuah foto dan video milik pacarnya.


Terlihat dengan jelas, pacarnya sedang bermesraan dengan laki-laki lain, yang pastinya ia kenal, yaitu Syahril, sahabatnya sendiri.


Tak hanya itu, foto yang lain juga menunjukkan bahwa ceweknya sedang tidur satu ranjang dengan Syahril. Bahkan seperti tidak mengenakan pakaian sama sekali karena tertutup selimut.


Seketika, mukanya yang putih itu sudah berubah merah padam. Namun masih bisa ia kontrol, karena Intan dari dulu memang tidak menyukai ceweknya, Icha.


Mungkin ini cuma alibinya Intan saja, agar ia dan Icha segera putus. Tidak hanya itu, Rama juga bukan tipe orang yang langsung menjudge orang lain hanya karena perkataan seseorang tanpa melihatnya sendiri.


Intan yang jengah akan lelaki dihadapannya itu, langsung memutar sebuah video yang menunjukkan bahwa Icha sedang mabuk berat dan berusaha merayu Syahril. Nampak, ia mengenakan pakaian yang sangat terbuka. Syahril laki-laki normal, tidak mungkin ia menyia-nyiakan kesempatan yang langka itu. Akan tetapi, akal sehatnya lebih waras. Ia tahu, Icha pacar sahabatnya.


Saat melihat adegan Icha mencium ganas Syahril. Saat itulah, ia mulai tak bisa menahan emosi nan geram. Otot-otot di kepalan kedua tangannya sudah terbentuk.


Brak,


Rama membanting kuat ponsel yang seharga motor itu, please deh Ram, sayang bangetkan mahal. Hhhh, lanjut lagi ah,


"Sial Lo, Ram." Umpatnya kesal saat ponselnya dibanting Rama hingga pecah.


Rama yang tak tahan akan video mes*m yang dilakukan ceweknya dengan sahabatnya sendiri, refleks membanting ponsel Intan.


"Brengs*k." Amarahnya sudah dipuncak ubun-ubun.


"Mau kemana Lo?" Tahannya saat melihat Rama akan naik ke motornya.


"Minggir." Ucapnya dengan nada marah.


"Kalau Lo gegabah, semua rencana gue akan sia-sia bego." Sarkasnya yang tak kalah tinggi.


"Hah." Membuang muka ke lain arah,


"Gue punya rencana, dan gue harap, Lo bisa berada di pihak gue." Tawarnya tenang.


"Gue nggak sudi kerja sama, sama Lo. Gue tahu, ini pasti alibinya Lo saja, agar gue dan Fiya segera putus. Iyha kan?" Bentaknya yang sangat menakutkan.


Intan yang baru pertama kena bentakan dari Rama itu, wajahnya seketika langsung pias ketakutan.


"Gue akan cari buktinya sendiri. Dan kalau video itu palsu, habis Lo!!" Ancamnya saat sudah menaiki motor dan langsung memutar pedal gasnya di atas rata-rata.


"Arggh, sial-sial. Brengs*k." Teriaknya frustasi.


"Gue nggak akan biarin, Lo dan Fiya bisa bersama lagi. Selama gue masih hidup, kalian tidak akan tenang." Monolognya yang penuh kecaman.


"Maaf." Gumamnya lirih tapi masih terdengar di telinga Icha.


Tubuhnya bergetar hebat, menandakan wanita itu menangis sejadi-jadinya.


"Mau kan, maafin kakak?" Tanyanya dengan melihat wajah Icha yang masih tertunduk dengan deraian air mata.


Mendongak, menghapus air mata itu.


"Jauh sebelum kamu meminta maaf, aku sudah memaafkan kamu dulu kak." Jawabnya tenang.


Mendengar jawaban yang enak di telinga, membuat Rama berani untuk menyentuh kedua bahu Icha. Refleks, Icha langsung menepis, tapi tidak bisa. Karena cengkeraman tangannya sangat kuat.


"Nggak, Ya. Sekali saja." Mohonnya saat Icha mau melepaskan tangannya dari bahunya.


"Apa maumu kak? Sudahkah kamu bahagia dengan melepaskan aku yang tidak tahu apa-apa pada waktu itu?" Tanyanya mengingatkan dan terlihat air mata yang sedikit tersisa di pipinya.


"Kamu benar, Ya. Kamu benar. Aku sudah menuduhmu sembarangan, tanpa mau mendengarkan penjelasan darimu dulu." Ucapnya dengan tatapan nanar.


"Terlambat kak. Sekarang, aku sudah bahagia dengan laki-laki lain. Laki-laki yang mau menerima segala kekuranganku, laki-laki yang mau menerima masa laluku, dan laki-laki yang kalau ada masalah tidak langsung menggunakan emosi untuk menyelesaikannya. Apalagi sampai main tangan." Jelasnya panjang lebar.


Rama pun dibuat terpaku dengan bicaranya Icha yang sudah dewasa, tidak seperti dulu, yang masih kekanak-kanakan.


"Tunggu, Ya." Tahannya saat Icha hendak melangkah pergi.


Masih tanpa mereka sadari, seseorang itu masih mendengarkan obrolan mereka dengan seksama, bahkan sampai ikut geram saat dulu Icha dilakukan seenak jidatnya.


"Maaf kak."


Melirik tangan kanannya yang masih membawa kalung berharga itu. "Simpan saja kalung itu kak. Berikan pada wanita yang cocok untuk berdamping denganmu."


"Sampaikan maafku pada Tante Dewi dan Paman Joko. Karena aku belum sempat meminta maaf kepada mereka."


"Terimakasih juga pada waktu itu, kakak sudah kasih perhatian yang sangat tulus dan diirikan oleh wanita manapun."


"Terimakasih untuk kenangan 2 bulannya kak. Akan selalu aku ingat." Memberikan senyuman terbaiknya walau hatinya terpukul.


Senyuman yang sangat ia rindukan dan hanya bisa ia lihat dari kejauhan. Sungguh, masa lalu yang indah sebelum adanya masalah itu. Seketika ia menjatuhkan kalung itu badannya terkulai lemas di lantai.


Saat akan melangkah pergi,


Deg.


Netranya bertemu dengan seseorang yang sedari tadi mendengarkan obrolan mereka. Tanpa bicara, Icha langsung melewati orang itu dan segera pergi.


Wahyu yang tahu perasaan Icha sedang hancur, tidak mau menambah masalah lagi. Cukup sadar ia akan situasi seperti ini.


Rasa geramnya pasti ada, tapi mungkin, ini adalah saat yang tidak tepat.


Sekilas, tatapan mereka bertemu. Tatapan kebencian yang diberikan Wahyu serta tatapan menahan amarah yang diberikan Rama. Tak ingin berlama-lama di sini, Wahyu memutuskan untuk segera pergi mencari buku yang diinginkan Pak Hakim dan langsung pergi meninggalkan Rama yang masih menatapnya dengan marah.


Setelah kepergian Wahyu, Rama berteriak histeris,


"Arrrggg. Breng**k." Menjambak rambutnya sendiri dan memukul keras lantai hingga tangannya berdarah.


Bersambung,


Ayo dong bestie - bestie yang baik hati, kalau mampir jangan lupa like nya yha, hhhee.


Ditunggu, saran dan masukannya 😊 love you all.