
Tepat pukul 10 malam, Mobil Grafa sudah sampai di sebuah rumah di pusat perkotaan.
Tidak ada yang tahu apa yang ada di dalam pikiran Grafa saat ini. Yang saya tahu sebagai penulis cerita adalah pikiran Grafa sedang tidak baik-baik saja. Ia mencemaskan seseorang yang 1 jam lalu mengabarinya, kalau ia akan pindah ke luar negeri malam ini juga.
Di dalam perjalanan menuju rumah orang yang mengabarinya tadi, Grafa langsung tancap gas full namun, sedikit tidak fokus dalam mengemudi. Terlihat dari ia beberapa kali hampir menabrak pengendara jalan yang lain. Memang pukul 10 malam di Ibu kota belum lah sepi, yha meskipun tidak terlalu ramai, tapi tetap saja sangat membahayakan pengguna jalan lain.
Sesampainya di halaman rumah, ia segera keluar dari mobil dengan tergesa-gesa. Tapi, saat ia akan membuka pintu, ternyata tidak bisa karena pintunya sudah dikunci.
"Akhhhh. Sial." frustasinya yang menendang-nendang udara karena ia datang terlambat.
"Sial sial sial. Bodoh!!!" meraup wajahnya kasar.
Tanpa berpikir panjang, ia langsung mengambil ponselnya yang berada di jaket Hoodie nya, dan langsung mencari kontak dengan emoticon ❤️ lalu menelpon yang punya.
Satu kali, dua kali, sampai panggilan ketiga, masih sama. Hanya ada suara sang operator saja.
"Sial... Ahhhh." teriaknya seraya menjambak rambutnya sendiri.
"Brengsek." entah hal apa yang sedang ia lakukan, namun yang jelas saat ini, ia hanya terpikir bagaimana kondisi Indah, sang kekasih saat ini.
2 jam lalu, tepatnya setelah Grafa mengantar Indah pulang dan menjamin kalau sudah masuk rumah, Grafa tanpa berpikir negatif langsung meninggalkan rumah Indah. Bersenandung dengan rianya, karena hari ini ia benar-benar bahagia. Seulas senyumannya tidak pernah luntur tapi semakin mengembang karena mengingat moment tadi.
Ah, Grafa benar-benar dimabuk cinta sama Indah.
Hihihi.
Tapi tak jauh beda dengan Grafa, Indah pun begitu. Ia terus mengembangkan senyumnya yang manis itu setelah turun dari mobil sampai masuk ke dalam rumah.
Tapi senyumannya itu tak bisa bertahan lama. Karena sesampainya di ruang keluarga, Indah dipanggil oleh seseorang yang suaranya sangat ia kenali. Tak menampik jika Indah tak menyadari jikalau ada dua orang yang sedang duduk di ruang tersebut karena saking bahagianya. Satu perempuan yang sudah berumur tapi masih sangat cantik karena uang. Ah uang, kamu memang segalanya. Xixixi.
Dan satu laki-laki yang mungkin 5 tahun lebih dewasa dari Indah. Siapa?
"Indah." panggil orang itu saat Indah akan menaiki tangga pertama tapi diurungkannya.
Membalikkan badannya lali mengernyitkan dahi. Mungkin ia bertanya, siapa laki-laki dewasa yang ada di samping mamahnya.
"Mamah?" suaranya lirih lalu berjalan menuju mereka.
Selanjutnya, Indah menyalami tangan mamahnya dan ke orang itu hanya menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
"Emm, Om." sapanya sopan seraya tersenyum tipis.
"Iyha." membalas seperti yang indah lakukan.
"Duduk dulu nak."
Bingung akan keadaan sekitar, ia mencoba melirik ke mamahnya. Paham akan kebingungan Indah, Bu Mindi segera membuka suara.
"Em, kenalin ini Pak Jhon, asisten baru papahmu, Ndah." canggung, itulah yang Bu Mindi rasakan.
Ketika Pak John dikenalkan, ia langsung menatap Indah seraya tersenyum kepadanya.
"Oh yha, salam kenal om." jawabnya basa basi.
"Iyha." jawabnya dengan nada tegas.
"Ok." mengambil nafas dalam lalu menghembuskannya kasar.
"Kita?" merasa bingung mengedarkan pandangan kedua orang yang berada di depannya. Jemput kemana?
"Kita akan ke Paris."
"Hah?" terkejut? so pasti.
"Mohon maaf menyela Nyonya. Biar saya yang menjelaskan ke Nona Indah." kini Pak John beralih untuk menjelaskan.
Pandangannya kembali ke Indah, menatapnya tajam. Aura dari Pak John memang tak kalah dengan papahnya. Sama-sama membuat bulu kuduk merinding kalau sudah berbicara serius.
"Mohon maaf untuk kelancangan saya Nona Indah. Tapi saya hanya menjalankan tugas yang diberikan oleh Tuan Arfan untuk menjemput Anda dan Nyonya Mindi." ucapnya terus terang tanpa berbelit-belit.
Ditatap tajam nan dingin oleh asisten baru papahnya itu, membuat Indah semakin takut.
"Anda tidak perlu khawatir soal Tuan Arfan yang akan menjadikan Anda sebagai penerusnya."
Mengernyitkan dahi karena merasa aneh. Tidak mungkin papahnya menyuruh sang asisten jauh-jauh kesini kalau bukan untuk memaksanya menjadi penerus perusahaan ARF Corp.
"Saya tidak mau membuang-buang waktu, harap ikuti saja semua perintah yang saya instruksikan agar Tuan Arfan tidak marah dan semuanya berjalan dengan lancar." ucapnya tegas membuat Indah dan Bu Mindi terdiam tidak mampu menjawab ataupun menanggapi penjelasan dari Pak Jhon.
"Nona dan Nyonya akan pergi ke Paris hanya untuk menemani Tuan Arfan yang akan menghadiri pesta pernikahan dari salah satu kolega beliau."
"B, bbb erapa lama?" kini Indah mencoba memberanikan untuk bertanya.
"Saya tidak tahu kapan pastinya Nona."
Menggigit bawah bibirnya, otaknya seketika ngeblank. Ia tidak bisa berpikir jernih, di dalam otaknya hanya ada semacam bahaya yang akan mengancamnya.
Entahlah, mungkin itu hanya firasatnya saja.
Lain hal Indah yang tidak bisa berpikir jernih. Ibu Mindi sedari tadi hanya melamun, menatap wajah sang anak dengan tatapan kosong.
Entahlah nak, mungkin permainan ini sedikit lagi akan berakhir. Maafkan mama yang sudah menjadikan kamu korban karena keegoisan mama. isaknya dalam hati yang tidak diketahui oleh siapapun. Menyeka air mata dengan segera sebelum ada seseorang yang melihatnya.
Namun sayang, Indah yang sedari tadi merasa ditatap dua orang itu hanya diam. Ia diam-diam melirik mamahnya tatkala ia menyadari bahwa orang yang sudah melahirkannya itu sudah memutus kontak kearahnya.
Mamah. rengek Indah dalam hati.
Ada apa mah? kenapa sekarang semakin rumit? Apa yang mamah dan papah sembunyikan dari aku? kenapa aku harus terlibat jika ini masalah kalian berdua di masa lalu?
Menunduk, menahan air mata yang hampir keluar.
Pak Jhon sang asisten pun paham akan situasi yang dialami oleh kedua bosnya ini. Dia juga tidak bisa menolong, karena ini mungkin sebuah karma yang mungkin sudah mulai berjalan menghampiri Ibu Mindi.
"Mohon maaf Nyonya dan Nona. Sebaiknya kita segera berangkat menuju bandara. Karena 1 jam lagi, pesawat akan lepas landas." ucap John setelah beberapa detik terjadi keheningan.
Tak menunggu lagi, John segera berdiri dan membawa koper yang berisi baju-baju bosnya.
Mau tak mau, Bu Mindi harus bangun dan ikut dengan asisten sang suami. Kalau tidak, ia bisa mendapat kemarahan yang sangat luar biasa darinya.
"Ayo sayang." ucapnya seraya membantu Indah bangun dari duduknya.
Bersambung,
Hai-hai para bestinya akuhh, tetap dukung novel aku terus yha. Yha meskipun jarang update. HHEEE, mkshh untuk semuanya.