I'M Okey

I'M Okey
Masalah setiap orang



Yah, dua orang itu menangis sejadi-jadinya dan tenggelam dalam pikirannya masing-masing.


Hingga tak lama kemudian, Bu Mindi kembali bersuara,


"Saya yang akan mengurus masalah ini nantinya." suaranya begitu dingin.


Pak Jhon hanya meliriknya sekilas lewat pantulan kaca mobil.


"Jadi saya harap, baiknya kamu diam tanpa mencampuri urusan pribadi keluarga saya." tambah Bu Mindi yang masih menatap lurus dan tajam kearah depan.


Ingin menimpali, tapi entah kenapa tenggorokannya seperti tercekat.


Di lain sisi,


Indah yang merasa hawa dingin sudah masuk kedalam tubuhnya, langsung memeluk tubuhnya sendiri. Mencoba berdiri lalu berjalan pelan, menelusuri jalan yang sepi dan gelap tersebut.


Mengusap sisa air matanya, hingga beberapa meter setelah berjalan, terdengar suara petir yang menggelegar dan angin yang berhembus kencang. Hawa dingin semakin menusuk tubuhnya dan tanpa aba-aba, hujan deras pun langsung turun membasahi semua penghuni bumi.


Indah yang sudah kedinginan, bingung harus meneduh di mana, karena ia takut kalau meneduh di bawah pohon besar. Alhasil, ia nekad berjalan di bawah guyuran hujan deras dan petir. Pikirannya kini dipenuhi rasa bersalah kepada mamahnya dan Grafa. Oh iyha Grafa. Bagaimana laki-laki yang amat ia cintai itu sekarang? pasti kebingungan.


Hingga tanpa ia sadari, tetiba ia terpikir akan moment indah yang sudah ia lewati dengannya. Sungguh indah cinta remaja masa kini.


Tersenyum manis, "I love you Fa."


Menit berlalu, tubuhnya yang sudah basah kuyup membuat dirinya tambah kedinginan dan pusing di kepalanya.


Sebelum ia tergulai lemas, sayup-sayup, matanya melihat ada secercah cahaya dari depan yang mendekatinya. Hingga, ia tersenyum dan berhasil mengggumamkan satu nama saat seseorang berteriak memanggil namanya dan berlari kearahnya.


"Grafa." ucapnya lirih seraya memegang kepalanya dan pingsan.


*******


"Akhhhh." berkacak pinggang setelah membanting ponselnya di sofa.


"Kemana sih si Grafa? Tuh anak benar-benar pergi lagi dan pasti lupa waktu. Akhhhh." mengacak rambutnya frustasi.


"Sial." umpatnya seraya mengambil ponselnya kasar lalu bergegas pergi lagi.


Setelah keluar dari rumah, ia ingin menaiki motornya tapi ia urungkan, karena ada sebuah mobil sport yang datang dan menuju ke garasi.


"Darimana Lo." katanya setelah orang itu keluar dari mobilnya.


Tak menghiraukan pertanyaan dari Rio, Grafa cuek dan langsung memilih pergi ke kamarnya.


Mengepalkan tangannya, "Gue tanya Grafa!!!" ucapnya lantang yang menggelegar dan membuat Grafa berhenti tepat di bibir pintu garasi.


Tak mau membalikkan tubuhnya, Rio datang menghampirinya dan berdiri tepat di depannya. Melihat ada guratan kesedihan di mata Grafa. Begitu juga ada kelihatan kemarahan yang memuncak tapi coba untuk ditahan dalam wajah Rio.


Saling menatap manik yang didepannya.


Hufftt. Rio menghempaskan nafas kasar.


"Ikut gue." ketusnya yang langsung pergi meninggalkan Grafa.


Sesampainya di ruang keluarga,


"Gue tahu Lo juga ada masalah, tapi gue mau ngomong yang penting sama Lo. Mungkin ini tidak penting untuk Lo tapi penting untuk gue." menatap ke arah Grafa yang ternyata sedang menatapnya dengan wajah datar.


"Ehem." mencoba berdehem untuk menghilangkan groginya.


"Gue cuma mau minta tolong sama Lo."


Mengernyitkan dahi keheranan.


Memasukkan tangannya ke saku celana seraya menatap lurus ke depan lalu mengambil udara dan membuangnya perlahan. "Gue akan menyerahkan semua fasilitas yang gue punya kepada Lo jika Lo mau membantu gue." menatap Grafa kembali.


"Termasuk jabatan CEO?" tanyanya yang langsung membuat Rio kikuk untuk menjawabnya.


Menyeringai, karena sudah tahu jawabannya.


Berjalan menghampiri kakak tersayangnya itu,


"Jangan gila. Kalau masa lalu tidak mau terulang kembali." bisiknya yang diiringi dengan tepukan di bahu Rio.


Jawaban yang simple tapi sangat menusuk di hati Rio. Apa maksudnya?


Rio hanya diam mematung dengan mengepalkan tangannya, menahan amarah yang mulai hadir.


Sekelibat kenangan buruk di masa lalu terlintas di otaknya. Ini semua gara-gara wanita sialan itu.


"Akhhhhhh." teriaknya frustasi yang diiringi dengan melempar vas bunga dan dilanjutkan dengan menarik kasar rambutnya.


Maafin gue bang. Bukannya gue nggak mau bantuin, tapi masa depan Lo akan jadi taruhannya. Bathin Grafa yang melihat amukan Rio di bawah sana.


Ia berjalan menuju kamarnya dan langsung menguncinya.


Bugghh.


Menjatuhkan badan di kasur king size nya. Menghadap ke langit-langit kamarnya.


"Kenapa sakit." lirihnya seraya memegang dada sebelah kirinya.


Memejamkan mata dan reflek langsung membuka matanya.


Ponsel. gumamnya.


Ah iyha, sewaktu di rumah Indah, ponselnya kehabisan daya. Jadi dia segera mengeluarkan ponsel dari saku hodienya. Buru-buru langsung mencarger dan langsung menghidupkan kembali.


Dibukanya aplikasi hijau.


Ekspresi terkejut di raut wajahnya saat aplikasi tersebut langsung menampilkan notifikasi 10 panggilan tak terjawab dan 5 pesan yang belum dibaca dari Iqbal.


Tanpa langsung berpikir, ia langsung menelpon balik, berdering, tapi tak kunjung diangkat.


"Tidak biasanya dia Miss call sebanyak ini. Ada apa?" ia terus mencoba berpikir keras tapi nihil. Ia tidak menemukan apa-apa. Hingga ia tersadar ada sebuah panggilan masuk dari Pak Hakim.


"Halo."


"........"


"Wa'alaikumussalam."


"......."


"Iyha pak, segera saya kerjakan." memijat pangkal hidungnya.


"......"


"Iyha."


".......


"Wa'alaikumussalam."


Entah perintah apa yang diberi Pak Hakim untuk Grafa. Yang jelas, setelah menerima panggilan tersebut, ia segera membuka laptopnya dan segera mengerjakan sesuatu di sana yang cukup lama, hingga tak sadar ia tertidur di atas laptopnya.


Bersambung,