
"Yang bener pah??" matanya langsung berbinar binar.
"Iyha, dong masa papah bohong."
"Makasih papah." spontan langsung memeluk Tuan Abraham.
"Iyha."
"Oh Yha, katanya papa mau bicara soal Tuan Ar...."
"Iyha, beberapa waktu lalu, saat masih di LA, papah sempat bertemu dengan Tuan Aris di cafe. Dia bertanya mengenai keputusan kesepakatan waktu dulu."
Mendongak, ingin melihat wajah suaminya, tapi ditahan oleh Tuan Abraham.
"Gini dulu aja mah." ucapnya lembut dengan mengelus rambut panjang Bu Reni yang masih basah.
Tersenyum, karena momen inilah yang membuatnya bahagia. Diistimewakan dan diperlakukan seperti seorang ratu.
"Terus jawaban apa yang papah berikan?" tanyanya sembari memainkan kancing baju tidur Tuan Abraham.
"Papah belum memberikam jawaban." seketika jari Bu Reni langsung berhenti.
"Kenapa?"
"Papah mau tanya dulu sama mamah dan Rio. Kan Rio yang menjalaninya mah, bukan kita." mengecup pucuk kepala istrinya.
"Tapi pah, bukankah itu kesepakatan yang harus diberi jawaban pasti mau? kalau kita menolaknya, pasti semua bantuan yang diberikan oleh ASW group kepada perusahaan kita akan diberhentikan." sedikit ada nada ketakutan dalam suaranya.
Menatap kosong ke depan lalu berkata, "Iyha mah, papah tahu, biar itu menjadi urusan papah." nada getir juga terlihat dalam jawaban Tuan Abraham.
"Yang terpenting sekarang cepatlah bersiap, karena nanti malam kita akan pulang." mengecup puncak kepala.
Mendongak, "Ah, papah nggak asik. Kalau ditanya atau diajak bicara serius selalu mengalihkannya." mencebikkan bibirnya.
"Hhh, lucu sekali mah." mencubit kedua pipi istrinya yang menggemaskan itu.
Haduh, mungkin kebiasaan Rio yang selalu mencubit pipi Icha turunan dari Tuan Abraham. Xixixi.
"Sakit pah." berpura-pura merajuk.
"Hhh, udah sana siap-siap, nanti telat lho." katanya serasa menuju ranjang.
"Ye, papah malah balik tidur lagi."
"Merem." berhasil memejamkan matanya. Lumayan masih ada waktu 5 jam untuk istirahat sebentar, sebelum kembali ke rumah.
"Sama aja."
"Beda. Papah siap-siap paling lama 30 menit. Kalau mamah kan bisa sampai 5 jam. Hhhh." gelegar tawanya memenuhi kamar hotel itu.
"Papah ighhh." melempar bantal sofa tapi tidak bisa, karena Tuan Abraham sudah menarik selimut sampai menutupi tubuhnya lebih dulu. Wkwkwkwk
...****************...
Kediaman Tuan Abraham.
"Akhirnya." ucap Bu Reni tatkala ia turun dari mobil dengan meregangkan otot-otot tubuhnya.
Tersenyum, "Ayo." ajak Tuan Abraham untuk segera memasuki rumah.
"Surprise."
Lampu yang tadinya mati langsung menyala yang diiringi dengan jatuhnya manik-manik dari langit ruang tamu dan berisiknya suara terompet yang dibunyikan. Seketika Tuan Abraham dan Bu Reni terkejut dan langsung menutup kedua telinganya.
"Selamat datang, mamah dan papah di istana kalian yang super megah ini." ucap Rio dengan riangnya dan segera berlalu menuju kearah mereka dan memeluknya.
Truth truth truth. (Anggap suara terompet yha. wkwkwk.)
Terompet langsung dibunyikan teman Grafa, siapa lagi kalau bukan dua cecunguk, Iqbal dan Indro.
Hiya, mereka juga ikut. Karena memang, keluarga Grafa sudah dekat dengan mereka. Malah sudah dianggap anak mereka sendiri.
"Haduhhhhh. Stop stop stop." berjalan kearah Grafa dan temannya yang sedang meniup terompet.
"Haduh, haduh, haduh, tan Tante sakit." rintih mereka berdua ketika Bu Reni menjewer telinganya.
"Dasar anak nakal!" menarik sedikit keras jewerannya sebelum melepaskannya.
"Hiya hiya Tante, ampun dah." ucap Indro seraya mengelus telinganya yang memerah.
"Auk, Tante Reni mah." timpal Iqbal.
"Tuh, yang di samping saya juga ikut tiup terompet, tapi kenapa nggak dijewer sekalian??" sebal Indro seraya melirik Grafa yang sialnya hanya memasang wajah datarnya. Haduh benar-benar kulkas.
"Itu beda!" ketus Bu Reni.
"Sekalipun dia dijewer sekencang-kencangnya, atau ditimpul kaya gini." mempraktikkan senjata pukulannya pada bahu Indro.
"Aduh-aduh, sakit Tan. Ya Allah." ringis Indro yang memang merasa sakit karena pukulan Bu Reni yang lumayan kencang. Hemmm, tangannya memang kecil, tapi pukulannya behhhh, bikin badan hancur.
"Nah, itu kan kalau kamu dan manusia biasa pasti kesakitan. Tapi kalau yang di sana." melirik Grafa yang masih tak bergeming dari tempatnya berdiri.
"Yha, masih seperti itu. Kulkas." sedikit berbisik tapi masih bisa didengar oleh orang di ruangan itu.
Bempphhh hhhhhh.
Seketika Rio dan Tuan Abraham langsung menyemburkan tawanya. Tapi tidak dengan dua cecunguk itu. Mereka ingin tertawa, tapi takut kalau tidak dijatah uang jajan. Hadeh-hadeh.
"Sudah-sudah, kalian ini. Minggir, om sama tante mau pergi istirahat dulu. Capek di perjalanan." ujarnya seraya menarik istrinya untuk istirahat.
"Tapi terima kasih yha atas surprise nya." tambahnya sebelum Iqbal menghentikan langkahnya.
"Eh, eittss, tunggu dulu om. Hhhe."
"Foto om. Buat kenangan." seraya mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
Memukul bahu Iqbal dengan tasnya. "Nggak ada! dibilangin capek, masih minta foto."
"Udah mah, mungkin mereka kangen sama kita dan ada benarnya juga si Iqbal. Buat kenangan." mengambil ponsel milik Iqbal dan mereka semua ikut merapat untuk selfi bersama.
Banyak sekali selfi yang mereka ambil. Hingga akhirnya, Tuan Abraham dan Bu Reni merasa lelah.
Bersambung,
Mohon maaf untuk besti-bestinya akuhhh. Karena author lagi up lagi. Bukan karena kehilangan ide tapi sibuk kerja. Jadi, jarang deh buat nulis novelnya.
Tetap dukung author yha... terima kasih