
Yah, hari ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang kenaikan kelas.
FANISYA OKTAVIANI
atau yang lebih akrab dipanggil Icha ini merupakan gadis remaja yang berusia 17 tahun dan masih mengenyam pendidikan di salah satu SMA favorit di Jakarta. Parasnya yang cantik, putih, dan bertubuh mungil itu, selalu menjadi incaran para siswa satu sekolahnya. Tapi sayang, Icha adalah anak yang susah untuk berbaur antarteman pun menjadi kendala bagi siapa saja yang ingin mendekatinya. Sifatnya yang cuek, dingin, dan pendiam itu yang sangat sulit untuk menaklukkan sang pemilik hati.
******
Pagi hari.....
"Icha, Icha..... bangun nak, sudah jam 6 ini. Nanti bisa telat ke sekolah nya." teriak seorang wanita paruh baya sambil meletakkan makanan di atas meja makan. Yah, teriakan ibu Icha yang bisa membuat gendang telinga siapapun yang mendengarnya bisa pecah seketima.
Setelah dirasa cukup lama tidak ada sahutan dari penghuni kamar, akhirnya wanita paruh baya tersebut memutuskan untuk menghampiri dan membangunkannya.
Setelah sampai di kamar, "Ya Allah, ni anak ngebo mulu. Nggak tahu apa, sudah jam 6 lewat?" gumamnya sembari berkacak pinggang berlalu melihat jam dinding.
"Bangun Cha, nanti terlambat." sambil menyibak selimut dan menggoyangkan tubuh Icha.
"Lima menit lagi buk." jawabnya sedikit berteriak lalu menutup selimut sampai ke kepalanya dan memiringkan tubuhnya.
"Astaghfirullah ni anak ya. Makanya kalau dibilangin jangan begadang yha jangan gini kan akibatnya. Susah dibangunin." gerutu Ibu.
"Ayo cepet bangun." suruh ibu yang berusaha menyibak selimut dengan nada kesalnya.
Belum selesai menggerutui anaknya yang masih tidur pulas seperti kebo itu, tiba-tiba suara klakson motor sudah terdengar di depan rumah. Akhirnya, ibu memilih pergi ke depan dan menghampiri yang punya motor.
Tin.. tin.. tin..
"Tuhkan sudah dijemput." gumam kesal ibu lalu pergi ke depan.
Dilihatnya seorang remaja pria yang memakai pakaian rapi turun dari motor sportnya dan melepas helm lalu menaruhnya di motor.
"Eh nak Rio. Mau jemput Icha ya?" tanya ibu basa basi. Ibu tahu maksud kedatangan pria tampan tersebut. Yha, sudah menjadi kebiasaannya di pagi hari, menjemput kekasih untuk pergi menuntut ilmu bersama.
"Mari-mari silahkan masuk dulu nak." ucapnya mempersilahkan Rio masuk kedalam.
ALFERIO SANDI ABRAHAM
Yah, seorang laki-laki tampan, berkulit putih, bersih, hidung mancung dan alis tipis itu adalah anak pertama dari salah satu pengusaha kaya raya di negara X. Rio, sapaan orang lain untuknya. Sekarang, dia menjadi Maba di salah satu Universitas favorite yang dimiliki oleh Ayahnya.
*****
"Iya buk." dengan senang hati, dia mencium tangan ibunya Icha lalu berjalan mengekori ibu. Sesampainya di ruang tamu, ibu mempersilahkan Rio duduk.
"Nak Rio duduk dulu ya, biar ibu bangunin Icha dulu."
"Hah? Ichanya belum bangun buk?" tanyanya dengan raut muka yang terkejut.
Iyha terkejut, Icha yang notabenenya gadis rajin tidak pernah terlambat bangun. Tapi, ini apa?? Sudah jam 06.20 menit. What?? Belum bangun juga?
"Ibu juga nggak tahu nak, mungkin efek tadi malam dia begadang kali." Ibu menjelaskan dengan raut muka datar.
"Begadang? Ngapain buk? Perasaan aku dan Icha sudah tutup telepon itu sekitar jam 20.00 deh buk." ucapnya bingung, "Soalnya dia bilang sudah mengantuk, jadi nggak mungkin dia begadang buk." jawab Rio jujur apa adanya.
"Entahlah nak Rio, ibu juga nggak tahu,"
"Emm, yaudah biar Rio aja buk yang bangunin Icha, gak papa kan buk?" izinnya sopan.
"Emm,.. iyha nak gak papa. Kalau begitu ibu lanjut buat siapin sarapannya ya." jawab ibu lalu menuju ruang makan.
"Iya buk." jawab Rio lalu berjalan ke kamar Icha.
Ceklek.. Suara pintu kamar terbuka dan memperlihatkan yang punya kamar masih tertidur pulas dengan posisi tubuhnya tertutup selimut.
"Icha, bangun yank, bangun. Nanti kamu terlambat lho, sudah jam 6.25 ini." pinta Rio lembut dengan melirik jam tangannya.
Yah, selain memiliki wajah yang tampan, Rio juga punya sifat sopan, santun, dan lembut yang apik.
"Hmmm, 5 menit lagi bu." jawab seseorang di bawah selimut.
"Sudah lewat 5 menit sayank." sambil membuka selimut. "Kalau nggak bangun juga, nanti aku cium lho," celetuk Rio yang sudah mencondongkan kepalanya ke arah Icha sambil tersenyum tipis.
"Hah." refleks membuka mata lalu membulat sempurna, tatkala mendapati Rio di depannya.
"Aaaaaaa......." teriaknya lalu menutup wajahnya lagi dengan selimut.
Rio yang mendengar teriakkan tepat di telinganya lalu berdiri menjauh dan menutup telinganya.
"Kakak?? Ishhh. Kakak ngagetin Icha aja.??" bicaranya dengan membuka selimutnya lagi dan langsung duduk dengan memegang dadanya.
Untung jantungnya tidak copot.
"Haish. Habisnya kamu dibangunin dari tadi nggak bangun-bangun" jawab Rio yang mendekat arah bibir kasur.
"Tadi malam ngapain aja?? Kata ibu kamu begadang?? Begadang ngapain??" berondong pertanyaan yang diberikan Rio untuk Icha.
"Eemmmm, anu..." menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena bingung harus jawab apa. "Icha mandi dulu kak, sudah terlambat. Nanti aja ceritanya." jawab Icha berteriak dan langsung bergegas ke kamar mandi dengan berlari.
******
"Emmm, kak Rio, mendingan kita pergi sekarang deh, soalnya Icha sudah telat nih." pinta Icha dengan nada sedikit khawatir.
Yah, remaja cantik yang bertubuh mungil itu sudah berseragam sekolah rapi dan langsung menyusul Rio dan Ibu di meja makan.
"Lho, nggak sarapan dulu Cha?" tanya ibu.
"Nggak usah buk. Nggak sempat." jawabnya gusar sedikit khawatir dan langsung menarik tangan Rio yang sedari tadi sudah duduk di meja makan dengan ibu.
"Ayo, kak."
"Isssh, iyha-iyha, kebiasaan deh." gerutu Rio,
"Emang benar tuh anak, iggg." berdiri yang langsung menjewer telinga Icha.
"A..a..a. sakit buk." memegang telinga yang sakit akibat jeweran ibunya.
"Makanya, kalau dibilangin jangan begadang itu nurut napa sih!" ketus ibu.
"Iyha-yha bu, nggak lagi." jawab Icha dengan memanyunkan bibirnya.
Rio yang melihat drama itu pun hanya tersenyum tipis.
"Ya udah buk, kami pamit dulu yha." berdiri lalu mencium tangan ibu yang diikuti Icha mencium tangan ibunya juga.
"Iyha, ati-ati nak." jawab ibu lalu berdiri.
Rio dan Icha pun bergegas ke depan, segera menaiki motor sport berwarna hitam kesayangan Rio. Ia mulai menyalakan mesin motor setelah Icha naik dan memakai helmnya. Membunyikan klakson dengan pertanda memberi tahu ibu, bahwa mereka akan pergi. Dan ibupun hanya menganggukkan kepalanya.
Sesaaat setelah si pembawa motor itu sudah tak terlihat, ia terdiam di tempat dan merenung. Merenungi kebahagiaan yang telah didapatkan anaknya. Ya, setelah Icha menjalin hubungan dengan Rio kurang lebih sudah 6 bulan, kehidupannya memang langsung berubah sedikit demi sedikit. Berawal dari gadis pendiam, dingin, tak mudah bergaul dengan orang lain, sekarang menjadi gadis remaja yang ceria dan humoris setiap saat. Entah hal apa yang menjadi alasan perubahan sikap Icha, ibu hanya tau kalau anaknya sudah keluar dari zona nyaman.
Dulu, ibu memang tidak merestui hubungan mereka. Bukan tanpa alasan, Rio yang berasal dari anak orang kaya raya dan terpandang itulah yang menjadi penyebabnya. Keluarganya hanya hidup dengan sederhana. Ibu yang seorang pengusaha laundry kecil dan bapak yang sudah lama meninggal, merasa tidak pantas jikalau harus bersanding dengan Rio. Tapi, karena cinta mereka kuat dan tulus, akhirnya, ibupun merestuinya. Walau kadang ibu merasa tidak yakin akan keputusannya.
Orangtua Rio memang sudah tahu akan hubungan anak mereka, tapi mereka memilih untuk tidak ikut campur dalam urusan cinta anaknya. Biarlah Rio sendiri yang mencari kebahagiaannya. Jika itu yang membuat Rio bahagia, kenapa tidak? itulah yang mungkin dipikiran orangtua Rio.
********
Tengah jalan....
"Kak, bisa lebih cepat nggak?? Soalnya kurang 15 menit ini." ucapnya teriak dan sedikit panik karena takut terlambat.
"Iyha, kamu pegangan yang kuat. Kakak akan ngebut." jawabnya sambil menoleh ke belakang.
Icha menggangguk dan langsung melingkarkan tangannya di perut Rio dengan kuat. Rio terlihat tersenyum tipis dan langsung gas onnnn.
*******
Sesampainya di depan gerbang sekolah,
"Yah, kog gerbangnya sudah ditutup kak??" tanya Icha sedikit sedih dan takut, pada Rio yang dibarengi dengan turun dari motor. "Padahalkan masih ada waktu 5 menit." ucapnya dengan nada panik setelah sekilas melihat jam tangannya.
"Inikan, hari pertama masuk yank, jadi wajarlah gerbangnya sudah ditutup." jawabnya dengan tenang. "Mungkin sudah pada persiapan upacara bendera dan penyambutan anak didik baru." timpalnya lagi.
"Iyha ya kak." menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Terus gimana dong?" tanyanya bingung.
"Bentar." jawab Rio sambil memikirkan sesuatu.
Tampak Rio mengambil Hp yang disakunya dan langsung mengetikkan sesuatu.
Sepersekian detik, tiba-tiba pak Tono, satpam sekolah tersebut berjalan sedikit berlari menuju pintu gerbang sekolah dan langsung membukanya. Icha yang melihat pak Tono membuka pintu gerbang itupun tampak bingung. Tapi, suara dari Rio menyadarkannya dari keterbingungannya.
"Sudah sana masuk, jangan bengong."
"Hah?? iy.... iyhha-iyha kak." jawab Icha dengan terbata karena bingung.
"Icha masuk dulu kak." ucapnya langsung berlari masuk ke dalam sekencangnya meninggalkan Rio dan Pak Tono.
"Kalau begitu, Saya juga pamit yha pak terima kasih atas bantuannya.." pamit Rio
"Iy...yha-yha den, sama-sama." jawab Pak Tono gugup.
Rio pun langsung meninggalkan sekolah dan langsung bergegas ke kampusnya. Begitu juga Pak Tono yang langsung menutup pintu gerbangnya lagi dan masuk ke dalam sekolah.
****
BRUUKKKKK
.
. Bersambung