I'M Okey

I'M Okey
Karma yang mulai berjalan



Akan ada adegan kekerasan dalam part ini. Jikalau tidak suka, mohon langsung diskip saja🙏. Daripada nanti berkomentar yang tidak mengenakkan.🙏.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bremmmm


Bunyi mesin motor yang ia lajukan dengan sangat kencang tanpa menghiraukan pengguna jalan yang lain.


Cukup 10 menit untuk ia sampai ke tempat tujuannya.


Rumah pohon.


Iyha, tempat inilah yang akan ia kunjungi ketika pikirannya sedang kacau balau. Tempat asri yang dipenuhi warna hijau sebagai tanda ketenangan. Tidak hanya Rio, Grafa juga melakukan hal yang sama jika pikirannya sedang tidak baik-baik saja.


Sesampainya di parkiran,


"Ini kan?" menunjuk motor sport yang tentu ia tahu siapa pemiliknya.


Melangkah masuk, mengernyit heran karena sepi.


Bukankah seharusnya ramai karena hari ini Minggu?? gumamnya dalam hati.


Dengan sedikit rasa penasaran, ia mulai melangkah masuk lebih dalam lagi.


Dan ...


.


.


Dia melihat abangnya sedang menggendong Icha ketika menaiki tangga, tertawa bersama, hingga menangis dalam pelukan. Cepat-cepat ia bersembunyi di balik pohon pinus agar tidak ada yang melihatnya.


Tanpa ia sadari, ia mengakui wajah cantik Icha meskipun dari kejauhan. Angin yang memporak-porandakan rambutnya, membuatnya terlihat lebih cantik.


Entah apa yang mereka katakan di atas sana, tapi yang jelas di mata Grafa, ia menangkap kalau abangnya sedang tertawa ria setelah kejadian beberapa bulan yang lalu.


Menit berlalu, kebahagiaan yang semula menyelimuti mereka kini berubah menjadi kesedihan. Lantaran, Rio melepaskan air mata yang sudah terbendung sedari tadi.


Melihat momen yang menyedihkan ini, tentu Grafa tau apa yang sedari tadi dibicarakan oleh mereka.


"Kakak?" panggilnya tepat di sebelah telinga kiri Rio.


Rio yang fokus melajukan motornya dengan kencang, kini langsung melambatkan lajunya dan membuka kaca helmnya.


"Hm?"


"Maaf, karena Icha, kita tidak bisa lama-lama." ujarnya dengan nada sedih dan sedikit mengeratkan pelukannya.


"Nggak kok yank. Mau lama atau sebentar, asal sama kamu itu sudah cukup untuk kakak."


"Juga, bukan masalah waktu yang dibahas, tapi masalah pembicaraan atau kegiatannya yang perlu dibahas. Karena itu akan menjadi kenangan yang bisa diceritakan ke anak cucu kita nanti."


Tersenyum bahagia mendengar jawaban Rio.


"Makasih kakak."


"Sama-sama pacarnya kakak yang cantik."


"Gombal.*


"Hhhhh." mereka berduapun tertawa bahagia bersama.


......................


Perjalanan menuju bandara,


"Nyonya, apa yang Anda lakukan? Bagaimana kita bisa pergi tanpa Nona Indah? Tuan pasti sangat marah kepada kita." geram Jhon yang sudah tak tertahan.


"Bisakah kamu diam? sudah saya katakan! saya hanya menjalankan tugas saya sebagai seorang ibu. Untuk kemarahan suami saya, saya yang akan menanggungnya. Jadi tugas kamu cukup diam dan cepat-cepatlah sampai di bandara." tegasnya lantang dengan mata merah sehabis menangis.


Sekitar 30 menit perjalanan, akhirnya mobil yang dikendarai Bu Mindi sampai di bandara. Cepat-cepat ia turun dari mobil tanpa menunggu Jhon.


Jhon yang melihat sikap bosnya itu hanya bisa menahan geramnya.


"Bawa semua barang yang di dalam dan parkirkan mobil Tuan Arfan." memberikan kunci mobil keluaran terbaru pada seorang pegawai bandara yang merangkap sebagai mata-mata Jhon.


Tidak bisa dipungkiri, Tuan Arfan merupakan seorang pembisnis terkenal dunia, pasti akan banyak pesaing yang menghalalkan segala cara untuk bisa membuatnya jatuh.


Sesampainya di dalam pesawat, tidak ada obrolan yang terjadi. Mereka saling diam dalam pikirannya masing-masing. Bu Mindi yang aslinya mengkhawatirkan keadaan Indah, anak kesayangannya dan Jhon yang memikirkan nasibnya nanti kalau bertemu tuannya.


Paris, Perancis.


Ketika Bu Mindi baru membuka pintu rumah utama,


"Brengs*k kamu." kemarahan langsung mengisi kepala Tuan Arfan.


Plak. Plak.


Tamparan telak diberikan Tuan Arfan kepada Bu Mindi sebanyak 2 kali di pipi kiri dan kanannya.


Seketika Bu Mindi langsung terkapar di lantai.


Tidak puas dengan tamparan, Tuan Arfan kembali menarik rambut belakang Bu Mindi, hingga dia mendesis kesakitan.


"Dasar, wanita kurang ajar!" hardiknya dengan nada yang sudah melengking tinggi.


"Beraninya kau datang tanpa membawa anak itu sialan itu!!"


"Dia bukan anak sialan!!" sanggah langsung Bu Mindi yang membuat pak Arfan menariknya semakin kencang.


"Cih." meludah ke samping kirinya.


"Apa katamu? bukan? lantas julukan apa yang pantas pada anak itu? Heh? Jawab!!!!" semakin kesetanan Pak Arfan dibuatnya.


Semua pelayan yang melihat dan mendengar kejadian itu langsung merinding ketakutan.


"Semua masuklah ke dalam kamar kalian. Lupakan masalah ini dan anggap tidak terjadi apa-apa." titah Pak Toni (kepala pelayan) kepada para pelayan yang bersembunyi di balik tiang besar.


"Ba-baik Pak." jawab serempak semua pelayan.


Dan mereka meninggalkan dapur menuju kamarnya masing-masing, juga Pak Toni.


"T-Tuan." beraninya Jhon berbicara ketika Tuan Arfan sedang marah besar. Jelas di wajahnya ada raut ketakutan yang luar biasa ketika Tuan Arfan menatapnya tajam. Kembali ia menunduk.


Semakin bergetar tubuh Jhon, karena Tuan Arfan menuju kearahnya.


"Apa kau sudah mulai bosan bekerja denganku, Jhon?" tanyanya lirih, tapi terdengar sangat menakutkan di telinga Jhon.


Hanya menunduk.


"Dasar sialan!!" umpatnya yang langsung memukul wajah Jhon.


Sama seperti Bu Mindi, Jhon juga ikut terkapar di lantai.


"Pergi kalian semua!! Saya tidak ingin lihat wajah kalian!! Terutama kau!!" tunjuknya kearah Bu Mindi.


Bu Mindi yang awalnya mau menjadi benteng kemarahan suaminya untuk Jhon, malah menangis sesenggukan. Tidak bisa menepati janjinya.


"Toni!!" suaranya yang menggema berhasil membuat bulu kuduk para pelayan yang mendengar semakin ketakutan.


"Iyha Tuan." jawab Toni yang datang dari arah dapur sambil tergopoh-gopoh.


"Berikan hukuman kepada mereka yang sudah membangkang perintahku!!" ucapnya yang dingin dan tegas.


"Dan terus awasi dia." menunjuk arah Bu Mindi.


"Jangan biarkan dia pergi, walau keluar kamar."


"Baik Tuan."


Segera Tuan Arfan pergi meninggalkan mereka berdua dan menuju ke suatu ruangan rahasia di lantai atas.


"Nyonya." mendekat ke arah Bu Mindi.


"Saya bisa sendiri sialan." ketusnya yang langsung berdiri meskipun dengan sempoyongan.


"Dasar pembangkak." desis Jhon yang merutuki kesalahannya karena sudah mengikuti perintah Bu Mindi.


Bersambung.


Hai-hai bestie, jangan lupa jempolnya yha, terima kasih.