I'M Okey

I'M Okey
Peringatan



"Ahhh."


Bughhh. bughhh. Meninju dinding kamar rahasianya dengan keras hingga darah segar keluar dari tangannya.


"Brengs*k. Sialan." umpatnya berkali-kali.


"Lihatlah mah, menantu yang mamah banggakan tidak ada gunanya. Semuanya sia-sia. Ahh."


"Kalau benar itu terjadi, maka bersiap-siaplah untuk menerima hukuman yang akan saya berikan." geramnya dengan tangan yang mengepal kuat, hingga otot-ototnya keluar.


...----------------...


"Kakak maaf nunggu lama." ucap Icha yang langsung duduk di bangku taman samping seorang laki-laki.


"Iyha gak papa santai aja kali." jawabnya sambil tersenyum.


Kini waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang dan sekarang dia sedang menemui seseorang yang sudah menjadi pelanggan setianya.


"Btw thanks yha Cha. Karena Lo sudah mau bantu gue."


"Iyha kak, gak papa kog. Lagian juga kan aku kerja kak. Hhee yha itung-itung buat nambah uang jajan lah."


"Iyha Cha bener. Penting halal kan."


Yhaa pokoknya mereka berdua mengobrol banyaklah sebelum dering ponsel David mengakhirinya.


Drrrttt drrrt.


"Bentar yha, Cha."


Melihat ponsel dan tertera nama Lucky.


"Iyha halo."


"....."


"Iyha, sudah kog."


"...."


"Iyha anjirrr."


"....."


"Iyha, gue ke sana sekarang."


Tut.


Entah kemana Lucky menyuruh David pergi, yang jelas ia langsung berpamitan dengan Icha.


"Ouh yha, Cha. Maaf yha, gue harus pergi dulu, udah ditunggu teman soalnya." nadanya sedikit kesal karena si Lucky menggagalkan rencana PDKT nya dengan Icha.


"Iyha kak."


Cring, David hilang termakan pohon di taman itu.


Begitu juga dengan Icha, ia segera pergi, karena ia mau membantu ibunya.


Tapi, sebentar.


Ada pesan masuk yang menghentikan langkahnya.


Tring,


Pesan dari nomor tidak dikenal.


"Siapa?"


Membuka pesan itu, dan betapa terkejutnya dia saat melihat pesannya.


Menoleh ke samping kanan, kiri, depan, dan belakangnya.


Tapi sepi. Jadi, siapa yang mengirimkan pesan ini??


Hhhh, jangan pikir aku bodoh. Kamu tidak akan tahu keberadaanku. Kalau kamu mau foto ini tidak menyebar ke sosial media, maka putuslah kau dengan Rio dan pergi jauh-jauh dari kota ini.


Ancaman itu lantas membuat Icha shock, menjatuhkan ponselnya ke tanah dan langsung menutup mulut dengan kedua tangannya.


Pesan berisi fotonya bersama David saat berbincang-bincang tadi dan juga foto di masa lalu yang memang sedikit intim, di mana ia sedang berpelukan hangat dengan Wahyu.


Yha dia ingat betul saat kejadian itu, saat dia diputus Rama secara sepihak dan beberapa hari setelahnya, dia datang ke Wahyu untuk menenangkan diri. Tidak terasa, air matanya jatuh menetes.


Dibalik pohon yang lumayan tinggi di taman itu, ada seseorang yang menyeringai senang, karena berhasil mengancam targetnya.


"Bos, silahkan kirim uangnya sekarang. Karena saya berhasil mengancam gadis itu. Dan mungkin sebentar lagi, gadis itu akan segera memutuskan hubungannya dengan Tuan Rio." katanya pada seorang yang dipanggil bos itu.


"Heh?? masih mungkin? Tidak. Saya akan transfer jika dia sudah memutuskan hubungannya dan meninggalkan kota ini."


"Maaf bos. Untuk saat ini, yang terpenting dia sudah mulai terancam. Dia pasti akan menimbang nimbang ancaman saya. Dan untuk bos yang tidak mau mentransfer, maka saya akan menceritakan semuanya pada suami Anda." jawabnya menyeringai sekaligus mengundang amarah bosnya di seberang sana.


"Apa maksudmu? bukankah kesepakatan kita dulu tidak seperti itu?"


"Maaf bos, ini memang pekerjaan yang mudah untukku, tapi untuk saat ini, saya sedang membutuhkan uang. Jika bos tidak mau, maka saya ak...."


Belum meneruskan katanya, bos itu langsung menyelanya.


"Iyha, baik-baik, saya akan transfer sekarang. Tapi cuma setengah. Sisanya kalau semua sudah beres." finalnya.


"Baik. Tidak masalah."


Di sebuah apartment mewah.


Tut. Nyonya Reni mematikan panggilannya dengan geram.


Yha, yang berbicara dengan orang yang telah mengirim sebuah pesan ancaman kepada Icha adalah orang suruhannya. Sungguh tega kau nyonya.


"Sial itu anak. Sekarang dia sudah berani mengancam saya." monolognya di depan kaca kamar mandi.


"Siapa yang berani mengancam mamah?" tanya Tuan Abraham yang datang tiba-tiba dari arah belakangnya.


Membelalakkan matanya dan spontan berbalik badan.


"P-papah?" panggil Bu Reni terbata dengan menampilkan wajah terkejut dan takutnya.


"Kenapa mah? Ada yang mengancam mamah?" selidik tuan Abraham.


"Ah? ti-tidak ada pah. Hehe." mencoba tersenyum untuk menghilangkan ketegangan di wajahnya.


"Oh ya udah. Papah kira ada yang mengancam mamah." setelah berucap, Tuan Abraham langsung berlalu menuju bathub untuk berendam. Menghilangkan pegal-pegal otot dan pikirannya setelah berkutat dengan angka-angka yang tertulis di kertas.


Biasa orang sibuk. xixixi.


"Papah." panggil Bu Reni pada Pak Abraham yang sudah berkutat dengan laptop lagi setelah mandi.


"Hm." tanpa mengalihkan pandangannya pada laptopnya.


huh. mendengus kesal karena hari libur saja masih bekerja.


"Kapan kita kembali ke rumah pah?? mamah bosen di sini terus." tanyanya sembari mendudukkan dirinya di sofa panjang sebelah Tuan Abraham.


Melirik sebentar terus kembali lagi.


"Nanti malam." simpel kan? itulah sikapnya yang turun ke anak-anaknya. Kulkas.


Huftt. Sengaja membesarkan dengusan nafasnya agar suaminya mendengar.


Menoleh lagi dan langsung menutup laptopnya.


"Kenapa mah?" tanyanya setelah melepas kacamatanya.


"Mamah pengen pertemuan kita dengan Tuan Aris segera dipercepat pah."


Huft. dari memijit pangkal hidungnya kini beralih meraup wajahnya.


"Papah sebenarnya mau bicara sama mamah. Karena pekerjaan, jadi papah lupa."


"Yha, papah kan emang begitu. Kerja, kerja, kerja. Hari libur aja sudah kaya hari Senin. Sibuk terus." gerutu Bu Reni.


Inilah sikap yang sangat disukai Tuan Abraham pada Bu Reni. Cerewet, tapi menggemaskan.


"Hhh, iyha-iyha, papah minta maaf deh. Besok kalau ada waktu luang, papah janji, akan bawa mamah dan anak-anak liburan ke luar negeri." seraya mengelus rambut Bu Reni.


"Yang bener pah??" matanya langsung berbinar binar.


"Iyha, dong masa papah bohong."


"Makasih papah." spontan langsung memeluk Tuan Abraham.


Bersambung,