I'M Okey

I'M Okey
Siapa sebenarnya



"Udah. Paling salah lihat yank." katanya yang seketika membuat Icha sedikit lebih tenang.


Menganggukkan kepala dan kembali menyelesaikan sarapannya.


"Em kak, habis ini kita mau kemana?" tanyanya yang sedang meminum es tehnya.


"Terserah kamu yank. Kamunya mau kemana?" jawabnya seraya meneguk kembali minumannya.


"Em, gimana kalau kita langsung pulang aja kak? Soalnya Icha masih ada tugas dari sekolah." tawarnya.


Yah itulah Icha, yang gemar sekali belajar, belajar, dan belajar. Sekalipun itu hari libur.


"Yah, nggak mau jalan satu kali lagi yank?" tanya Rio dengan nada kecewanya.


Merasa kasihan pada kekasihnya, yha terpaksa. Eh bukan terpaksa, tapi yha nggak papa lah, demi Rio juga akhirnya, dia mau.


"Satu kali aja yha kak." sambil menampilkan mode imutnya.


"Oke siap pacarnya kakak." menucubit kedua pipi Icha.


"Ighhh, kakkak. Sakit." teriak Icha pelan tapi masih kedengeran orang sampingnya. Yha tau lah, bagaimana warung pedagang kaki lima.


"Hhhe." senyumnya malu-malu, karena dilihat banyak orang.


"Hobi banget kakak cubit pipi Icha." gerutunya dengan mencebikkan.


"Jangan dimanyun-manyunin bibirnya, Cha. Nanti pipinya kakak cubit lagi lho." Goda Rio yang sukses membuat mata Icha mendelik kearahnya.


"Hhhhh." tawa renyah Rio, yang tentu dengan nada pelan.


"Auk ah." pergi meninggalkan Rio dan bergegas keluar dari warung makan itu.


"Eh, ngambek." celoteh Rio.


"Wah, romantis bener mas sama mbaknya." seloroh ibu-ibu yang duduk di sampingnya dan sengaja memperhatikan tingkah mereka berdua sedari tadi.


Orang yang berada di sekitarnya pun ikut terkekeh pelan.


Rio hanya tersenyum kikuk sembari mengeluarkan dompetnya.


"Iyha buk. Biasalah anak zaman sekarang, lupa waktu dan tempat." timpal ibu penjual nasi pecel itu.


"Huumb benar" jawab ibu yang lainnya.


"Hhe, iyha buk. Aduh jadi malu saya." menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Hhhh biasa saja mas, namanya juga anak muda. Lagi apa tuh namanya," pikirnya sejenak, "Oh yha micin, micin itu." selorohnya yang langsung mengundang gelak tawa para pengunjung warung nasi pecel tersebut.


"Iyha nggak buk?" dengan pedenya masih bertanya. wkwkwk. Hedeh bu ibu, masih pagi saja sudah membuat perut orang lain jadi sakit.


Di tengah gelegar tawa pengunjung warung tersebut,


"Nih mas, kembaliannya." kata ibu penjual nasi pecel yang mengembalikan uang kembalian Rio.


"Tidak usah bu. Buat ibu saja. Itung-itung buat tambah beli minyak goreng. Kan lagi mahal bu." jawabnya dengan tersenyum tipis.


"Masyaallah, baik bener mas nya. Semoga rezekinya lancar yha mas. Aamiin."


"Aamiin. Kalau begitu saya pamit dulu yha bu." "Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Setelah beranjak pergi dari warung makan itu, Rio langsung menghampiri Icha yang sudah nangkring terlebih dahulu di motor sport miliknya. Seutas senyuman Rio terbit di bibirnya.


"Sayang." panggilnya dengan nada yang sengaja dibikin manja.


Icha yang tengah fokus dengan benda pipihnya, kini langsung mengalihkan pandangannya pada laki-laki yang tadi membuat jengkel dirinya.


"Hmm." jawabnya yang langsung fokus pada ponselnya lagi.


"Masih ngambek ya?"


Mengedikkan kedua bahu.


"Kalau masih ngambek, nanti Kakak cium di sini Lo." ancamnya lirih tepat di telinga Icha.


Tersenyum smirk, karena berhasil membuat Icha gelagapan.


"Ighh, apa sih kakak. Malu tau dilihat banyak orang." jawabnya ketus seraya memukul bahu Rio.


"Oh, jadi kalau tidak ada orang, tidak malu?" godanya yang sukses membuat Icha membelalakkan matanya.


"Iggg, cowok aneh." memalingkan wajahnya.


wkwkwk. Rio yang melihat ekspresi Icha malah tambah dibikin gemash, ingin rasanya ia cubit lagi kedua pipinya, tapi takut kalau ia marah lagi.


"Kakak!!!" hardiknya memekakkan telinga saat Rio mendekatkan wajahnya.


"Hhhh. Canda sayang." ucapnya seraya memberikan satu helm untuk Icha dan mengambil satunya lagi untuk dirinya.


"Pegangan yang kuat yank. Kakak ngebut."


Belum juga sempat protes, Rio sudah melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Alhasil, membuat Icha langsung memeluk Rio dengan erat.


Di sebrang jalan,


"Tuan, sepertinya orang misterius yang saya katakan tempo dulu semakin berbahaya."


"Maksudnya?" tanya seseorang di sebrang telepon.


"Iyha, tadi anak buah saya mengatakan, jika orang itu terus mengikuti tuan Rio dan Nona Icha kemana mereka pergi. Terlebih tadi sehabis CFD, ia sangat berani untuk menampakkan dirinya di hadapan Nona Icha."


"Icha melihatnya?"


"Sepertinya lihat Tuan. Sebab, orang itu langsung duduk di kerumunan ketika Nona Icha melihatnya lama."


"Apakah anak buahmu sempat melihat wajahnya?"


"Mohon maaf, tidak Tuan. Tapi mereka berhasil membidik fotonya pada saat memata-matai mereka, Tuan."


"Kirim sekarang."


"Baik Tuan."


Tut,


Setelah panggilan terputus, dengan segera mata-mata itu yang tak lain adalah awan segera mengirimkan beberapa foto orang misterius yang berhasil dibidik anak buahnya.


Pasti para besti tahu dong, siapa awan. Masih ingat kan? Masih dong. Tapi kalau lupa, author kasih tahu deh, awan yang tak lain orang kepercayaan Pak Hakim.


Sudah ingatkan yha?? Ok sekarang lanjut....


Pesan langsung bercentang biru.


Pak Hakim dengan segera melihat hasil bidikan anak buah kepercayaannya itu. Ketika terbidik, orang misterius itu masih memakai hodie tertutup dan masker yang masih terpasang di wajahnya.


Tapi, ketika melihat foto terakhir, Pak Hakim mengulas senyum smirknya. Seperti menemukan sebuah tanda yang bisa dijadikan acuan untuk menemukan siapa orang misterius itu.


"Ok, jikalau benar itu Anda. Maka, bersiap-siaplah untuk berhadapan dengan saya." kembali dia mengulas senyum smirknya.


Bersambung,


Jikalau ada part yang tidak nyambung atau kurang pas. Author mohon kritik dan sarannya yha bestii. Terimakasih.