I'M Okey

I'M Okey
Sakit hati



Menyibak tirai, dannnn


"Kamu....?"


"Ah, sory-sory, Gue gak sengaja lihat " ucap Grafa membalikkan badannya sesegera mungkin.


Wahyu dan Icha yang mendengar suara lain, langsung mendorong tubuh Wahyu menjauhinya. Iyha, karena setelah drama makan tadi, Icha hendak minum. Wahyu membantu membukakan tutup botol dan langsung mengasihnya ke Icha. Karena tangannya yang masih bergetar hebat tidak kuat membawa. Maka air mineral tadi langsung tumpah mengenai seragam Wahyu. Wahyu terjingkat kaget dan langsung berdiri menjauh sambil memegang seragamnya yang sudah basah.


"Ah, sorry-sorry yu, gue gak sengaja." ucapnya terbata, menggigit bibir bawahnya karena merasa bersalah.


"Ah iya gak papa. santai aja." jawab Wahyu yang langsung mengambil sesuatu yang bisa dijadikan lap untuk mengeringkan seragamnya. Tapi sial, saat baru melangkah, kakinya sudah terpeleset dahulu. Mengakibatkan dia terhuyung ke depan mengenai Icha.. Icha yang tidak siap pun sontak terjatuh ke kasur dan mereka seperti beradegan pelukan di film-film.


"Aaa." teriak Icha pelan karena kaget.


Wahyu yang menumpu tangannya pada kasur dan Icha yang refleks memegang pundak Wahyu. Netra mata yang saling bertemu, membuat jantung mereka berdegup kencang. Saling pandang setelah beberapa saat hingga suara seseorang terdengar.


"Ah, sory-sory Cha, gue gak sengaja." seraya bangun dari atas tubuh Icha dan mencoba menenangkan jantungnya yang berdetak tidak karuan tadi.


Icha hanya mengangguk sebagai jawaban dan langsung duduk dengan kakinya yang sudah menggantung di atas kasur.


"Eh loe Graf? Ada apa?" tanyanya yang masih sedikit grogi.


Grafa membalikkan badan lalu melihat Wahyu dengan wajah dingin. Menaruh tangannya di saku celana membuat hawa coolnya semakin bertambah.


"Dipanggil Bu Inggit ke ruang guru sekarang. katanya sih rapat." jelas Grafa yang melihat Wahyu dan sedikit melirik Icha. Dia yang serasa tidak asing pun mencoba mengingat wajahnya. Dan, setelah 10 detik dia ingat.


Dia kan siswi yang terlambat dan menabrak gue tadi. batin Grafa.


Icha yang sadar kalau Grafa meliriknya hanya bisa menelan ludahnya dan menunduk.


Mampus gue. batin Icha.


"Oooh emm ok. Gue kesana." jawab Wahyu yang masih grogi sedikit melirik kearah Icha.


"Cha, gue ke ruang guru bentar yha. Kalau loe udah enakan, loe bisa kog langsung ke kelas dulu. Atau loe mau nunggu gue."


Icha mengangkat wajahnya, "Oh, emmm, gue nungguin loe aja deh Yu." sedikit nyengir dan melirik sekilas Grafa.


"Ok. Gue pergi dulu ya."


Icha menggangguk.


Grafa dan Wahyu pergi keruang guru meninggalkan Icha yang masih di UKS sendiri.


"Ah, jantung gue." ucapnya seraya memegang dadanya.


"Kenapa malah deg degan sih, padahal kan sama Wahyu."


"Terus tadi ada anak itu. Mampus-mampus gue." menepuk-nepuk jidatnya sendiri.


"Kalau dia ingat gue dan minta ganti rugi gimana?"


"Ahhh,," mengacak rambutnya.


Satu jam berlalu, dan waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi.


Rapat dalam rangka pemilihan ketua OSIS baru pun baru selesai. Saatnya Wahyu kembali ke UKS untuk mengajak Icha kembali ke kelas.


Ceklek, pintu UKS terbuka dan mendapati seseorang sedang tertidur. Tanpa sadar, senyum simpul terbit dibibirnya. Menghampiri dan melihat lebih dekat wajahnya. Matanya yang bulat, bulu mata lentik, dan pipi sedikit chubby.


Dibulatkan tekadnya untuk menyentuh pipinya.


Manis. gumam dalam hatinya.


Ah Wahyu. sadar. dia milik orang lain. dia cuma sahabat loe. gak lebih. dan gak akan pernah jadi milik loe. gak akan. batinnya dalam hati.


Wahyu yang melihat Icha mengerjapkan matanya, segera menjauhkan dirinya.


"Ehemm, sudah bangun?" tanya Wahyu yang pura-pura tidak tahu.


"Emm, Wahyu." beranjak duduk dan sedikit mengumpulkan nyawanya.


"Sudah lama?"


"Ouh, emm, gak kok. Baru saja. hehe." jawabnya nyengir karena sedikit grogi.


Icha yang merasa dirinya sudah lebih baik, segera beranjak dari kasur dan ingin cepat kembali ke kelas.


"Pelan-pelan." seraya membantu Icha beranjak berdiri dan berjalan.


"Hemm, iyha." jawabnya dengan senyum tipis.


"Iyha, santai aja kali." jawabnya yang membalas senyuman manis itu.


Sesampainya di kelas,


Karena memang guru pengampu belum datang. Jadi, semua anak masih bisa bercengkrama dengan santai tapi tentu tidak dengan membuat kegaduhan. Anis, Sukma, Anggy, dan Syiffa yang asik ngrumpi tetiba dikejutkan dengan panggilan nama mereka yang serasa tak asing.


"Ani, Sukma, Anggy, Syiffa." pekik seseorang.


Nama Meraka yang serasa dipanggilpun langsung menoleh.


"Icha?" teriak mereka berempat yang langsung berhambur memeluk Icha.


"Icha. loe gak papa kan?" tanya Anis.


"Iyha, gue gak papa kog." jawab Icha yang membalas pelukan sahabatnya.


"Ihhh, loe tahu gak kita itu khawatir banget sama loe. Kita takut kalau sakit lambung loe kumat lagi. Pasti Tante Mayang dan Kak Rio bakal sedih banget." tutur Syiffa yang diangguki lainnya.


"Eheeehmmm." suara deheman yang melonggarkan pelukan mereka.


"Sudah. kangen-kangenannya nanti saja. Sebentar lagi pasti gurunya bakal masuk." Seru Wahyu yang memang sedari tadi memperhatikan drama kelima bocahnya itu


"Ih, apaan sih Yu. ganggu aja." tegas Anggy.


"Baru aja satu jam sudah kangen. Dasar cewek." timpal Wahyu yang langsung pergi duduk karena malas meladeni anak cewek.


"Ih, untung ganteng loe. kalau nggak, udah gue sikat loe." Gerutu Sukma.


"Sudah-sudah. Wahyu benar kog. sebentar pasti gurunya bakal masuk. Ayo duduk." tutur lembut Icha.


Mereka berlima pun langsung duduk di bangku masing-masing.


...


"Gimana pdkt nya?? lancar?" tanya Ilham, yang otomatis langsung dapat lemparan buku kearahnya.


"Hahahaha . makanya nih mulut tuh dijaga." timpal Kevin yang meremas mulut Ilham.


"Ih, apaan sih loe ngab. Gue kan cuma tanya." gerutu Ilham.


5 menit sebelum bel pulang,


Dert..dert...dert,


Bunyi ponsel milik Icha berbunyi. Segera dia mengambil di tasnya dan membukanya. Ternyata pesan dari kak Rio.


Sayang, aku sudah di depan pintu gerbang. ~MinešŸ¤—


Aku juga sudah izin sama ibu. Beliau mengizinkan tapi jangan pulang terlalu malam. ~MinešŸ¤—


Icha yang melihat isi pesannya, hanya senyam senyum sendiri tanpa memperhatikan sekitarnya. Keempat sejoli yang sadar bahwa sahabatnya senyum sendiri kaya orang gila, sudah tahu pasti pesan dari Kak Rio.


"Napa lu senyum-senyum sendiri." tanya Anggy pura-pura tidak tahu.


Icha hanya melirik tanpa menjawab lalu fokus ke ponselnya lagi,


Iyha kak, kurang 4 menit lagi sudah pulang. ~My sunshineā¤ļø


Emangnya kita mau kemana kak? kog aku penasaran yha, hehhe🤭 ~My sunshineā¤ļø


Rio yang menerima balasannya, juga ikut senyum-senyum sendiri.


Dia yang masih diatas motor dan sudah berada di depan gerbang sekolah milik keluarganya.


Rahasia dong šŸ˜…, kan surprise sayang. ~MinešŸ¤—


Icha senyum lagi.


"Yeh ni anak nih. Kalau udah senyum-senyum kagak jelas kaya orang gila noh. Pasti lagi kasmaran nih sama Kak Rio." ketus Sukma.


"Dasar bucin loe Cha." timpal Syiffa.


"Biarin. wlekkk" seraya menjulurkan lidahnya dan mengetik balasannya lagi,


hehehe iyha deh kak😘 ~My sunshine ā¤ļø


Rio yang mendapatkan balasan Icha dengan adanya emoticon cium itu, membuat jantungnya berdetak kencang dan berbunga-bunga. Pak Tono, satpam sekolah yang melihat adegan Rio senyum-senyum sendiri juga ikut terkekeh senyum. Dia pasti sudah tahu banyak tentang Rio. Anak pemilik sekolah ini yang mempunyai sejuta rahasia kelam dalam masalah percintaannya. Yah siapa sangka, dibalik wajahnya yang tampan, postur tubuh yang ideal ini pernah merasakan sakit hati karena cintanya mengkhianatinya.