
Setelah kepergian Wahyu, Rama berteriak histeris,
"Arrrggg. Breng**k." menjambak rambutnya sendiri dan memukul keras lantai hingga tangannya berdarah.
"Gak akan gue biarin Lo hidup, Ntan. Lo yang udah buat gue kehilangan cinta pertama gue. Aaaarghh. Brengs*k." teriaknya sekali lagi.
"Huhuhu." menangisi kepergian wanita untuk pertama kalinya bagi Rama.
Yha, Icha adalah cinta pertamanya dan tidak akan kan pernah ia lupakan semua kenangannya.
Di toilet,
Hiks hiks hiks,
Tangisnya tersedu-sedu di depan cermin toilet dan membiarkan air kran itu terus mengalir.
"Kenapa Lo hadir lagi di hadapan gue, setelah semua yang Lo tuduhkan ke gue, Ram?" monolognya dengan arah pandang kosong.
"Rasa itu sudah mati. Mati terkikis waktu. Saat gue udah mengatakan yang sebenarnya, Lo nggak percaya. Lo lebih percaya pada Intan. Hiks hiks hiks." tangisnya pecah tatkala mengingat memori bahagia bersama Rama dulu. Memejamkan mata, merasakan sakit dan bahagia dalam waktu bersamaan.
Tak berselang lama, terdengar salah satu bilik dalam toilet terbuka.
"Icha?" panggil Sukma mendekat.
Menajamkan pendengaran, ketika namanya dipanggil. Membuka mata perlahan, refleks terjingkat kaget karena Sukma sudah berada tepat di belakangnya.
Mengerutkan dahi saat melihat mata sahabatnya yang sedikit basah dan sembab di pantulan cermin.
"Ada apa? Lo nangis? Kenapa?" tanyanya yang hendak menyentuh bahu Icha, tapi segera ditepis pelan oleh Icha.
Tertegun akan reaksi yang diberikan oleh sahabatnya itu.
"Icha?" gumamnya lirih.
Mencoba untuk tersenyum. "Gue gak papa kog, Ma." menjawab kebingungan Sukma akan sikapnya tadi.
Mata mereka seolah berbicara lewat pantulan cermin. Tapi Icha tak mengindahkan kebingungan Sukma. Bukannya ia tak suka Sukma peduli dengannya, tapi saat ini, ia tak mau diganggu oleh siapapun. Ia butuh menenangkan pikirannya. Memikir nanti kalau sudah ketemu sama orangtuanya Rio, memikir tugas yang diberikan clientnya itu, serta bingung harus kasih sikap bagaimana ke Rama. Bukannya ia belum move on, tapi tak enak hati sama kedua orangtuanya.
Ah, memikirkan itu, membuat Icha pusing tujuh keliling.
"Gue duluan ya." pamitnya setelah menyeka air matanya.
Baru memutar tubuh, "Icha!" Seru tiga wanita secara bersamaan.
Refleks, Sukma yang sudah mencekal lengan Icha langsung melepaskan tatkala Syiffa dan Anggy menyorot tajam kearahnya.
Berjalan mendekat, "Kamu gak papa kan, Cha? Nggak ada yang sakit kan? Hem?" pindai Anis di seluruh tubuh Icha.
"Iyha gue gak papa kog." jawabnya.
"Oh, syukurlah kalau begitu." lega rasanya.
Berbeda dengan Anis yang memang tidak peka atau pura-pura tidak tahu. Syiffa dan Anggy masih menyorot tajam kearah Sukma.
Paham akan situasi yang tidak bersahabat, Icha mencoba mengalihkan pandangan mereka terhadap Sukma.
"Kog kalian tahu kalau gue ada di sini?" tanyanya memindai ketiga sahabatnya itu.
"Tadi Wahyu nyuruh kita untuk nyusul Lo ke toilet. Katanya Lo tadi sedang ber... Emppp." ucap Anggy terpotong, karena mulutnya sudah dibungkam oleh Syiffa.
Mengernyitkan dahi, "Kenapa?" gurat penasaran pun terlihat di wajah ayu Icha.
"Ighhh mulut Lo ember Nggy." tatapan tajamnya kearah Anggy seraya menurunkan tangannya.
"Nggak papa kog Cha." kini beralih menatap Icha.
"Wahyu cuma khawatir aja sama Lo. Soalnya tadi kan Lo nggak ke kantin. Paling dia takut kalau Lo belum makan, terus maag lo kumat." jelasnya yang sangat kentara kalau sedang berakting.
Anggy yang sudah paham, langsung manggut-manggut.
Tapi beda dengan Sukma yang merasa semua sahabatnya sudah menjauhinya. Pikirannya kacau, apa alasannya? toh masalah perjodohannya dengan anak sahabat papanya itu belum ada yang tahu. Terus ada apa?
Paham akan situasi yang tak menguntungkan dirinya. Ia segera melangkahkan kaki untuk menjauh, sebelum ditanyai yang aneh-aneh sama mereka, terutama Syiffa.
Berbalik badan, "Ada apa?" tanyanya yang memang tak mengerti.
"Lo ngapain ke sini juga?" tanyanya yang penuh selidik.
Haishh, baru juga dipikirkan, ini malah ditanyakan.
"Buang air kecil." jawabnya santai karena memang malas untuk berdebat.
Meneliti wajah Sukma, mencari kebohongan di sana, tapi tidak menemukannya. Mungkin dia jujur.
"Kenapa?" paham akan tatapan Syiffa yang begitu lekat di wajahnya.
"Gak papa." mencoba tenang.
Anggy, Anis, dan Icha yang melihat itu hanya menampilkan wajah penasaran terhadap sikap Syiffa yang berbeda jauh kalau sudah bertemu dengan Sukma.
"Ayok, guys." ajaknya ke Anggy, Anis, dan Icha untuk keluar tanpa melihat Sukma.
"Gue duluan, Ma." pamit Icha pada Sukma.
"Iyha." menganggukkan kepala.
Sukma masih betah berdiri di situ sambil memikirkan sikap Syiffa yang begitu curiga terhadapnya.
Ah pusing gue. batinnya.
Mematikan kran yang memang sedari tadi masih menyala lalu melenggang pergi.
Tet tet tet.
Bel jam istirahat kedua sudah berbunyi. Waktunya bagi semua murid berbondong-bondong ke kantin untuk mengisi perut mereka yang sudah berteriak meminta makanan.
Seperti biasanya, Icha, Anis, Syiffa, dan Anggy akan menempati tempat duduk mereka biasanya. Saat baru mendudukkan tubuh mereka, tiba-tiba,
"Hai." sapa Sukma pada Icha, Anis, Anggy, dan Syiffa yang baru berbicara dengan asyiknya.
Seketika, mereka berhenti bicara dan langsung menoleh ke asal suara.
"Gue boleh gabung di sini kan?" pintanya dengan nada hati-hati.
"Ngga...." ucap Syiffa yang langsung dipotong cepat oleh Icha.
"Boleh, duduk aja kali, Ma." ucapnya dengan tersenyum.
"Kenapa minta izin, Ma?" tanya Anis polos saat Sukma mau mendudukkan dirinya di bangku.
"Kan, biasanya kamu juga duduk di sini bareng kita." imbuhnya lagi.
Seketika, mata Sukma melihat Syiffa yang berada di sampingnya dan Anggy yang berada di depannya. Akan tetapi, mereka acuh tak acuh.
"Nggak papa kog, Nis. Biar lebih sopan aja." jawabnya tersenyum tipis.
Syiffa yang mendengar jawaban itu, hanya memutar bola matanya malas. Icha dan Anggy yang paham akan situasi rumit ini, mencoba mencairkan suasana. Karena, Anis sendiri mungkin tidak peka terhadap sekitarnya.
Brakkkkk
Bersambung,
Mohon maaf yha untuk besti-besti nya aku. Akhir-akhir ini, memang sudah jarang update, karena serasa kurang semangat☹️.
Bukan karena malas untuk berfikir menulis jalan cerita. Tapi malas atau kurang semangat, karena novel pertama ku ini sudah kuajukan kontrak, tapi belum lulus😭😭😭😭.
Mungkin, akunya yang kurang pengalaman atau apa dalam penulisan novel. Tapi, aku akan berusaha memperbaiki lagi, sampai bisa lulus kontrak😌.
Mohon untuk dukungan dan do'anya yha besti-besti nya aku😊🤗. Supaya aku bisa semangat lagi, karena sumpah, jalan cerita yang sudah aku pikirkan itu insyaallah baper sekali😭😭😌 dan mungkin reel di kehidupan nyata di sebagian orang.
Huhu, tetap semangatin author yha besti, supaya lulus kontrak😭. Mohon untuk saran dan masukannya juga👍🙏.
Terima kasih❤️