I'M Okey

I'M Okey
Dia lagi



Menatap punggung orang itu dari bawah sampai atas hingga orang itu berbalik,


dan......


"Aaaaaaa." teriak kedua orang itu dengan kencangnya.


Seketika Icha langsung berbalik arah lagi dan menutup wajahnya dengan kedua tangan.


Begitu juga dengan Grafa. Iyha orang yang masuk ke dalam kamar mandi tak lain ialah Grafa.


Dia yang hanya memakai celana jeans dengan bertelanjang dada langsung berbalik arah juga.


"Woi... ngapain Lo ke sini??" tanyanya dengan berteriak keras.


"Ak... Akku." jawabnya tergagap.


"Keluar!" satu kata yang langsung membuat bulu kuduk Icha merinding ketakutan.


"Iyyy... yha." dengan nada terbata, ia langsung keluar dengan berlari kecil dan tangan yang masih menutupi wajahnya.


Huh. Menghembuskan nafasnya panjang setelah keluar dari kamar mandi.


Gila. Orang itu ngapain ke sini?? Temannya Kak Rio? Kok bisa seenaknya jidat masuk ke kamarnya orang🙄. Batin Icha seraya memegangi dadanya yang masih berdebar kencang akibat saking takutnya.


Di kamar mandi,


Gila tuh cewe. Kenapa tiba-tiba gue langsung deh deg an sih.


Batin Grafa seraya memegang dadanya juga.


.....


"Sayang ada apa?" tanya Rio khawatir setelah mendengar suara teriakan dari kamarnya dan langsung membuka pintu kamarnya dengan kasar.


"Hah, Kakak." refleks langsung memeluk Rio.


"Iyha sayang. Ada apa?" tanyanya seraya mengelus rambut Icha yang masih basah dan berantakan.


Melonggarkan pelukannya, "It...tu." sambil menunjuk kearah kamar mandi.


Menaikkan satu alisnya, "Apa?" mengikuti arah tunjuk Icha.


"Oh, Grafa?" jawabnya santai.


"Hah?" kini Icha benar-benar menampilkan wajah bingungnya yang sangat lucu di mata Rio.


"Igggg lucu banget sih pacarnya kakak." mencubit kedua pipi.


"Iggg kakak. Senang banget cubit pipinya Icha." mengerucutkan bibirnya.


"Yah, habisnya kamu lucu banget sih yank. Mana tahan aku nggak cubit kamu. Hhhh." goda Rio yang berhasil membuat wajah Icha menjadi merah seperti tomat. Xixixi.


"Igghh kakak." cubit Icha pada pinggang Rio.


"Aduh, aduh. Ampun, ampun yank. Hhhhh." tawa Rio pecah tatkala Icha mencubit pinggangnya yang dirasa geli.


"Ehem." deheman seseorang berhasil membuat mereka berhasil menghentikan kegilaan yang mereka buat sendiri.


"Sorry." ucap Grafa santai yang keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya.


"Awas." seketika tangan Rio menutup mata Icha dan membalikkan tubuh yang punya.


Tanpa mengindahkan reaksi Icha dan Rio, Grafa berjalan santai keluar melewati mereka berdua.


"Dasar kulkas." gumam lirih Rio yang masih terdengar di telinga Icha.


Dalam mata yang masih tertutup, Icha rupanya diam-diam tersenyum.


Kak Rio yang temannya aja dikulkasin, apalagi aku yang gak siapa-siapa. wkwkwk. Emang dasar kulkas.


"Mau makan dulu apa langsung pulang yank??" tanya Rio saat mereka berdua keluar dari kamar.


"Em, pulang aja deh Kak."


"Soalnya sudah malam juga. Takutnya ibu khawatir, yha meskipun kakak udah bilang sih. Hhee."


"Hhh, Iyah syank. Yok." sambil mengambil tangan Icha untuk ia genggam.


Icha hanya menganggukkan kepalanya lalu meraih tangan Rio dan mereka pun berjalan menuju ke bawah.


Tetapi pada saat ia mereka menuruni anak tangga, mereka berpapasan dengan Grafa yang menaiki tangga dengan terburu-buru. Terlihat ia akan pergi lagi malam ini, karena ia sudah memakai hodie plus celana jeans hitamnya.


"Pergi." jawabnya santai.


"No!" balas Rio cepat.


"Ada hal yang ingin gue bicarakan." terdengar hembusan nafas kasar yang dikeluarkan Grafa.


Mengalihkan pandangannya ke Rio lalu pelan-pelan ke Icha.


"Apa lagi? bukannya mau pergi?" segera ia mengalihkan lagi pandangannya ke lain arah.


"Sebentar, gue cuma mau ngantirin Icha pulang aja. 30 menit." ucap Rio yang kini sudah serius.


Huffttt. "Terserah." tak mau ambil pusing, Grafa langsung bergegas menaiki tangga untuk segera sampai ke kamarnya karena dia sudah benar-benar telat.


.......


Tanpa menghiraukan ada orang di sampingnya atau tidak, Grafa langsung masuk ke mobilnya dan segera tancap gas. wusshhh...


"Dasar kulkas." umpat Rio tatkala melihat Grafa yang buru-buru masuk ke dalam mobil dan meninggalkannya tanpa melihat ke sekitarnya.


Icha yang mendengar umpatan Rio ke Grafa hanya bisa menahan senyumnya. Ingin rasanya ia tertawa tapi... ah sudahlah.


"Jangan senyum-senyum sendiri yank, nanti dikira orang gila." cetusnya yang langsung mendapat cubitan dipanggangnya.


"Awww, sakit yank." meringis kesakitan karena cubitan Icha benar-benar kerasa.


"Habisnya kakak bercandanya nggak lucu, masak aku dikira gila. Orang cantik-cantik gini, dibilang gila." rajuknya yang tentu berpura-pura.


Dan itu malah mengundang gelak tawa Rio.


"Hhhh. Iyha-iyha cantiknya cuma pacarnya kakak saja." gemasnya seraya mengacak rambut Icha.


"Udah kak, ini kita keburu pagi nyampai rumah, kalau bercanda terus."


"Hhh, biarin."


"Kakaaaakkk!!!" teriaknya yang cukup memekakkan telinga.


Refleks Rio menutup kedua telinganya dengan tangan, "Sakit yank."


"Sebal!" menghentakkan kakinya lalu berjalan menuju motor sport milik Rio yang sudah di luar garasi.


Rio berjalan mendekati Icha yang sudah nangkring di motornya, "Hhhhh. Udah dong ngambeknya, nanti cantiknya hilang." seraya mencolek dagu Icha.


"Igg, apa sih pegang-pegang." langsung menepis kasar tangan Rio.


"Utututu ngambek." godanya lagi.


"Auk ah." kini sudah melipat kedua tangannya di depan dada dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Hhh, iyha-iyha, udah ngambeknya. Kita pergi sekarang, mumpung udah terang, nanti keburu hujan lagi." ucapnya seraya memakaikan helm Icha dan dirinya lalu menaiki motor sportnya.


Alhamdulillah, hujannya sudah berhenti. Jadi Rio bisa mengantar Icha pulang ke rumahnya.


"Kan dari tadi kakak yang godain aku terus." cebiknya lagi.


"Kog kakak sih?" masih mencoba menyanggah.


"Iyha lah, kan emang dari tadi kakak goda aku terus."


"Lha kan kamu sendiri yan....."


Ah belum sempat menyelesaikan katanya sudah dipotong lebih dulu oleh Icha.


"Nggak!!!" jawabnya cepat.


"Pokoknya kakak yang salah."


"Ha??" mendelik pias.


"Udah, intinya yang salah kakak. Dan yang benar itu aku. Titik. nggak pakai koma." masih mode galak.


"Iyha-iyha, apa-apa ajalah yank, yang penting kamu bahagia." jawabnya pasrah yang kemudian menstarter motornya.


"Pegangan, kakak ngebut nih."


Belum sempat mengomel untuk tidak ngebut, Rio sudah lebih dulu menjalankan motornya dengan kecepatan tinggi.


Bersambung,