I'M Okey

I'M Okey
ketulusan seorang ibu



"Ayo sayang." ucapnya seraya membantu Indah bangun dari duduknya.


"Mah." entahlah tiba-tiba ia tidak yakin mau ikut atau tidak. Tapi ia tidak bisa berpikir saat ini. Pikirannya sedang kacau balau.


"Ada mamah. Jangan sedih dan takut yha." ucapnya seraya menyembunyikan anak rambut indah ke belakang telinganya.


Menuntun sang anak memasuki mobil dan diakhiri dirinya yang menatap orang suruhan suaminya mengunci semua pintu dan jendela rumah yang sudah menjadi bukti bagaimana ia meluluhkan hati seorang Arfan Wirawan. Lelaki yang dulunya penuh dengan sejuta pesona.


Ah itu dibahas di novel aku selanjutnya aja yha🤭🤭 hihihi.


Menit kemudian, mobil yang membawa Indah dan Bu Mindi sudah melaju stabil, Menjauh dari kota kelahiran dan kebesarannya.


Di dalam mobil hanya ada keheningan yang melanda. Semua orang larut dalam pikirannya masing-masing.


Pak Jhon yang merasa iba dengan Nyonya dan Nona mudanya.


Bu Mindi yang dalam hatinya muncul sebuah rasa ketakutan.


Indah yang sudah kembali fokus, tiba-tiba langsung teringat akan Grafa.


Ah hiya Grafa, bagaimana jika ia tahu dan mencarinya.


Mencoba mencari ponselnya yang entah dimana ia letakkan.


Gerakkan tangan yang sibuk mencari ponselnya, menyebabkan Bu Mindi, mamahnya terusik dan terbangun dari lamunannya.


"Ada apa sayang?"


Seketika tangan dan pikirannya langsung berhenti. "Em, itu mah, ponsel Indah nggak ada." masih sibuk mencari-cari ponselnya siapa tahu keselip di mana gitu.


"Lho kog bisa? Nggak kamu bawa?" kini beralih dari ekspresi kosong dan takut berubah menjadi terkejut dan bingung.


"Nggak tahu mah, Indah lupa." jawabnya yang mencoba menahan air matanya untuk tidak keluar.


Kenapa disaat-saat genting seperti ini, malah ponselnya tidak ada?? Ahh sial.


"Grafa." ucapnya lirih tepat ketika air matanya menetes.


"Husstt. Sayang, kenapa menangis?" ucap Bu Mindi menghapus air mata anak semata wayangnya itu.


Menatap kedua manik mamahnya sangat lama lalu berkata,


"Mah kesalahan apa yang mamah buat sampai papah melakukan ini?" tanya Indah yang sudah tidak bisa menyimpan pertanyaan itu sejak lama.


"Apa maksud kamu sayang?" mengernyit dahi karena bingung.


"Mah, kenapa papah berubah? Kenapa papah jahat sama Indah? Apa Indah berbuat salah? Kalau iyha, kenapa papah tidak memberitahu Indah? dan biasanya papah juga akan menghukum Indah dengan mengambil kunci mobil indah sama potong uang saku. Tapi kenapa hari ini Indah dihukum dengan dijauhkan sama Grafa? Apa salah Indah mah?? Apa?" Itulah unek-unek yang selama Indah simpan. Pertanyaan yang mungkin menyakiti hati mamahnya, tapi apa boleh buat, ia sudah tidak bisa menahannya lagi.


Plakkkkk.


Seketika Bu Mindi langsung menampar pipi kiri Indah.


"Pertanyaan bodoh macam apa itu, Ndah?" melotot karena terlalu sakit hati mendengar pertanyaan anak kesayangannya itu.


"Mamah tidak pernah mengajarkan kamu untuk berbicara tidak sopan seperti itu kepada orang lain Indah." menekan nama anaknya dengan nada marah.


Yang ditampar pun hanya bisa pasrah, menahan panas yang menjalar di pipi putihnya itu.


Entah sengaja atau tidak, Pak Jhon yang mengemudikan mobil hanya diam. Mungkin ia takut dan bingung harus bersikap bagaimana.


melirik kaca mobil, "Ke-napa Nyonya." tidak menuruti perintahnya malah kembali bertanya.


"Apakah saya harus bilang kepada suami saya agar kamu dipecat sekarang juga?" tanpa menoleh kearah Pak Jhon.


"I-yha Nyonya." dengan segera Pak Jhon langsung menepikan mobil.


"Matanya masih merah menahan amarah kepada Indah.


"Keluar kamu sekarang!!!!" titahnya pada Indah setelah mobil berhenti tepat dipinggir jalan yang minim akan penerangan.


Seketika Indah langsung terkejut dengan perintah mamahnya.


"A.. apa maksud mamah?" tanyanya dengan air mata yang sudah tidak bisa ditahan lagi.


"Keluar atau saya seret kamu!!!!" titahnya menggelegar mengusik telinga.


Membuka pintu mobil yang diikuti dengan dirinya keluar lalu Indah.


Keluar dengan mata yang menelisik keadaan sekitarnya. Sepi, gelap, ditambah cuaca yang sedikit mendung karena tiada bintang diatas langit.


Jelas tersirat aura ketakutan diwajahnya.


Tanpa ia menyadari, mobil yang membawanya tadi sudah melenggang pergi meninggalkannya seorang.


"Mamah!!!!!" panggilnya seraya berlari sekencang mungkin untuk menyusul mobil itu,


Derai air mata pun langsung meluncur begitu saja di pipi mulusnya.


"Mamah maafin Indah, Mah." teriaknya yang diiringi dengan tangisan.


"Mamah." teriaknya kencang, sangat kencang. Tapi mobil itu masih berjalan hingga menjauhinya.


Satu detik, dua detik, tiga detik, sampai beberapa detik kemudian, ia menyerah. Ia mulai memperlambat larinya hingga berhenti dan terjatuh di jalan.


Tangisnya pecah seketika itu. Meratapi nasibnya yang entah bagaimana nantinya.


Mengedarkan pandangannya, entah di mana ia sekarang.


"Mamah." lirih dalam isaknya.


"Mamah. Indah takut."


"Mamah jahat sama Indah. Indah salah apa mah?"


Cuma hal sepele menurut Indah, tapi tidak dengan mamahnya. Pertanyaan yang memang tiada bobotnya, tapi sangat menyinggung hati seorang Bu Mindi.


"Nyonya, apa tidak kasihan dengan meninggalkan Nona Indah sendirian di jalan sepi tadi?" tanya Jhon yang pada akhirnya berani berucap setelah terjadi keheningan tadi.


Yang ditanya masih berada dalam tangisnya. Tapi tunggu,


Bukankah itu yang lebih baik Jhon? bathin Bu Mindi.


Saya lebih rela melihat anak saya menangis karena saya tinggal di jalan yang sepi, daripada melihat dia menangis karena sikap arogan papahnya. tambahnya.


Yah, dua orang itu menangis sejadi-jadinya dan tenggelam dalam pikirannya masing-masing.


Bersambung,