
Setelah memasuki rumah itu, yang nampak hanyalah kegelapan tanpa lampu penerang.
"Kak, kok gelap?" tanyanya takut dengan memegang lengan Rio dengan kuatnya.
"Gak papa sayank. Ada kakak. Jangan takut. Ok." jawabnya tersenyum menenangkan Icha
dan dibalas angggukan Icha
Mereka berdua melanjutkan masuk kedalam rumah tersebut. Memasuki lift yang menuju ke rooftop rumah tersebut. Sebelum sampai, Rio menyuruh Icha untuk menutup matanya sampai hitungan ketiga.
"Emang kenapa harus tutup mata segala kak?" tanyanya yang sudah menutup mata dan berjalan menuju meja yang dibantu Rio.
"Udah. Nanti kamu juga akan tahu." balasnya dengan sejuta senyuman yang manis.
Setelah sampai,
"Satu, dua, tiga."
Icha pun membuka matanya secara perlahan dan terkejut seketika melihat yang di depannya dan sekitarnya. Rooftop yang disulap menjadi pemandangan yang indah. Lampu kerlap kerlip dan hiasan yang sederhana namun terkesan megah. Tidak lupa juga langit yang cerah berbintang serta pemandangan lampu yang indah dari berbagai rumah yang nampak dari rooftop.
"Gimana? Suka?" tanyanya yang melihat Icha masih melongo karena mungkin terkejut senang. Dia hanya bisa menganggukkan kepalanya dan segera memeluk Rio dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Hai, kenapa menangis?" bertanya saat Icha menangis didalam pelukannya.
"Air mata kebahagiaan kak." segera melepaskan pelukannya lalu menyeka air matanya..
"Ini belum seberapa." bicaranya dengan senyum manisnya. "Nanti akan ada kejutan lagi. Sekarang, lebih baik kita makan dulu." Lalu mengecup dahi Icha. Icha pun memejamkan matanya dan tersenyum tipis.
"Ayo." seru Rio seraya menggandeng tangan Icha yang menuntun kearah mejanya. Menarik kursi Icha lalu duduk.
Prok prok. Suara tepuk tangan 2 kali yang disusul dengan datangnya pelayan.
"Terima kasih." ucapnya saat pelayan menyajikan makanan di meja, menunduk seraya tersenyum lalu pergi.
"Makanlah." Icha hanya tersenyum tipis.
Mereka berdua makan malam yang ditemani oleh keheningan, sama-sama diam tapi sangat romantis.
Uhuk-uhuk.
"Pelan-pelan yank." seraya menyodorkan gelas minuman.
Icha meminumnya lalu tersenyum malu.
"Udah?" dibalas anggukan Icha.
Rio yang melihat tingkah lucu Icha hanya bisa mengacak rambutnya.
Di tengah makan malam yang hening nan romantis, tiba-tiba ada suara petasan yang terdengar di sekitaran mereka. Icha yang terkejut menoleh dan menutup mulutnya dengan tangan.
Petasan yang bertuliskan HAPPY 7 MONTH lalu berganti I LOVE YOU dan berganti FANISYA, itu sontak membuat Icha melongo dan berdiri. Rio yang melihat ekspresinya, hanya tersenyum lucu.
"Suka?" tanyanya seraya berjalan menghampiri, saat Icha masih asik melihat takjub petasan itu. Ia menolah mengangguk pelan dengan mata yang sudah berkaca-kaca karena terharu.
Rio masih memandangi wajah manis Icha. Memutarkan si pemilik tubuh agar menghadapnya. Mengusap kedua pipi itu lalu mengecup dahi. Icha merasakan kehangatan. Sesegera langsung memeluk Rio dan menangis.
"Terima kasih kak." tak menjawab. Rio hanya menganggukkan kepalanya dengan tangan yang mengusap rambut hitam panjang milik Icha. Tak terasa dia juga menikmati sentuhan hangat yang belum dia dapat dari mantan-mantannya dulu. Lama berpelukan dengan hangat, Rio mengendurkan pelukannya,
"Tetaplah selalu sayang sama kakak." ucapnya mantap "Karena kakak, tidak akan bisa hidup tanpa dirimu." mengelus kedua pipi Icha dengan kedua tangannya. "Tetap jaga hati dan mata hanya untuk kakak." pandangan mereka saling lekat. "I LOVE YOU FANISYA OKTAVIANI." mencium dahinya lebih lama lagi. Icha mengangguk, merasakan bagaimana rasanya dicintai dengan tulus oleh seseorang yang dia cintai.
"I LOVE YOU TOO kak." memejamkan mata.
"Dah yuk. Pulang." ajaknya lalu beranjak pergi.
"Sepertinya lelaki itu mempermudah jalan kita Tuan." lapornya pada seseorang disebrang telepon.
"Bagus. Lebih mereka dekat, lebih mudah jalan untuk menghancurkan mereka. Haahhhhha." tawa puasnya.
"Tetap ikuti mereka. Jangan sampai ketahuan. Selesaikan dengan cepat dan rapi." raut muka yang berubah menjadi geram dan tersenyum sinis.
"Baik Tuan. Laksanakan." seraya memasukkan ponsel ke saku dan berjalan pergi .
"Sekarang, permainan baru akan dimulai Kakak." monolognya setelah telepon berakhir. Menekan kata Kakak dengan nada geram yang diiringi senyuman menyeringai.
******
Di sisi lain,
"Mamah?" kagetnya mengernyitkan dahi.
Bu Mindi, Mamah Indah yang baru pulang dari luar negeri.
"Mamah kapan pulang? kenapa nggak ngabarin Indah dulu?" tanyanya seraya menghampiri mamahnya lalu duduk didekatnya.
Bu Mindi hanya tersenyum dan mengelus rambut Indah
"Papah mana mah??" celingukan mencari papahnya. "Gak ikut?" memastikan.
Lagi-lagi Bu Mindi hanya tersenyum kecut. Ada rasa sesak di dadanya juga ada rasa senang. Entahlah, terlihat dari raut wajah yang sudah termakan usia namun masih cantik yang menyembunyikan sesuatu.
"Mandi, makan, lalu istirahatlah." serunya dengan tangan yang masih mengelus rambut anak yang ia rindukan selama tiga bulan tidak bertemu. Perasaan rindu tapi ia tahan. Entah apa penyebabnya.
"Mah?" langsung menyeka air mata yang tiba-tiba muncul di pelupuk matanya.
"Mamah kenapa? ada masalah?" tanyanya terkejut karena melihat mamahnya yang tiba-tiba menangis.
Dengan cepat, Bu Mindi menyibak tangan Indah yang mau menghapus air matanya dengan kasar. Refleks Indah terkejut dan melotot.
"Mamah?"
"Istirahatlah. Besok kita bicara lagi " beranjak pergi menuju kamarnya.
Yha, Bu Mindi, Mamah Indah yang sudah pergi keluar negeri selama tiga bulan dengan dalih urusan pekerjaan. Memang sangat sibuk kalau soal pekerjaan, tapi kenyataan yang tidak seperti itu. Ada sebuah rahasia yang dia pendam sendiri tanpa memberitahu Indah. Biarlah dia yang merasakannya sendiri.
Indah yang sudah menyelesaikan mandi dan berganti baju. Saat ini masih termenung di balkon kamarnya. Menatap langit-langit yang berbintang Indah Matanya sedikit mengeluarkan air mata. Menyekanya tapi menangis lagi. Pikirannya masih terbayang dengan sikap Mamahnya tadi. Sikap yang tidak pernah ia dapatkan sebelumnya. Memang selama ini, kedua orangtuanya sangat memanjakan Indah, terlebih lagi dia anak tunggal. Apapun permintaannya akan selalu diberikan. Termasuk kasih sayang yang tulus.
"Maafin mamah nak." tangis Bu Mindi pecah yang tersungkur ke lantai depan pintu kamar Indah. Ia yang mau mengajak Indah makan malam, tak sengaja melihat putri kesayangannya melamun di balkon kamarnya. Sudah dipastikan kalau hatinya sedang tidak baik-baik saja.
"Maaf." kembali terisak dalam tangis.
Entah ada masalah apa ia dengan suaminya. Kenapa dia tidak ikut pulang?
*********
Di sisi lain,
Rio yang baru pulang dari ngedatenya dengan Icha langsung menuju kamarnya untuk mandi. Setelah selesai, ia turun ke bawah lagi dengan niatan mengambil air dingin. Terdengar suara mesin mobil yang sudah dipastikan punya Grafa, adiknya. Hiya, Rio adalah kakak kandung dari Grafanda.
Melihat Grafa memasuki rumah,
"Besok lusa, mamah sama papah pulang." ketusnya dingin seraya meneguk air dinginnya di ruang keluarga.
"Hmmm " menghentikan langkahnya sebentar lalu jalan lagi.
"Kamu bisa tolongin kakak kan?" berjalan kearah Grafa yang sudah menghentikan langkahnya lagi .
Grafa menoleh, mengernyitkan dahi. "Kenapa?"
"Kamu pasti sudah tahu, maksud dari kepulangan mamah sama papah." ucapnya seraya menyembunyikan getiran di hatinya.
"Aku juga gak tahu, aku bisa membujuk mereka atau nggak kak "
Rio membuang nafas kasar lalu duduk di sofa. "Hmm, baiklah. Istirahatlah dulu." dengan tatapan yang kosong.
Grafa mengangguk lalu beranjak pergi. Meninggalkan Rio yang masih bergelut dengan pikirannya.
Memasuki kamar lalu membersihkan tubuh, mengganti pakaian lalu mengarah ke balkon kamar menyalakan ponsel . Terdapat banyak pesan grub dari sekolah maupun temannya yang lain. Tak terkecuali Pak Hakim. Guru killer itu mengirimkan pesan ke Grafa,
"Besok pagi, sebelum jam pertama, temui saya di ruangan pribadi saya.."
"Baik pak."
Grafa menghembuskan nafas kasar, saat tiada pesan dari Indah, kekasihnya. Untuk itu, ia memutuskan untuk tidur karena tubuh dan pikirannya sudah sangat lelah.
.
Bersambung