
Di sekolah.....
BRUUKKKKK
Suara seseorang yang tertabrak sesuatu dan terjatuh ke lantai.
Karena berjalan terburu-buru dan tidak melihat ke sekelilingnya, Icha tak sengaja menabrak seorang siswa yang sedang memainkan benda pipihnya. Dan...
"Woi....." teriak siswa itu dengan nada kesal dicampur amarah.
GRAFANDA KEVIN ABRAHAM.
Putra kedua sekaligus terakhir dari keluarga Abraham, merupakan seorang remaja yang berwajah tampan, imut, putih yang dilengkapi dengan bulu mata lentik yang indah. Akan tetapi, dia juga punya sifat arogan, dingin, dan cuek terhadap sesuatu.
"Sory-sory. Gue nggak sengaja." ucap Icha tak enak hati sembari mengambil tasnya dan HP siswa itu, lalu berdiri dengan gusar.
"Sory-sory, gue beneran gak sengaja. Gue minta maaf." menggigit bibir bawahnya dan tertunduk.
Dengan cepat, yang punya ponsel langsung menyambarnya yang masih dipegang Icha dan langsung pergi. Tidak butuh waktu lama, Icha pun langsung bergegas ke kelasnya untuk menaruh tasnya dan segera menyusul murid yang lain ke lapangan untuk mengikuti upacara bendera.
Tapi sial, semua murid sudah berkumpul dan berbaris rapi. Hanya dirinya dan 4 murid lainnya yang terlambat. Itupun, tidak ada yang dikenalinya.
"Haduh, gimana ini?" ucapnya panik.
"Awww.... awww" pekiknya yang terdengar meringis karena lengannya dicengkeram kuat oleh seseorang yang berbadan tinggi, besar, dan tegap.
Iyha itulah Pak Hakim. Seorang guru killer yang super menakutkan karena ketegasan dan keadilannya.
"Aww....awww.. sakit pak." seringai Icha yang menahan sakit di lengannya dan mengimbangi langkah kaki guru killer itu,
Semua perhatian murid yang sedang mengikuti upacara pun langsung tertuju ke-5 murid yang sudah berdiri tegak di tengah lapangan, tak terkecuali Grafa. Badannya yang tinggi, bisa dengan mudah melihat seorang gadis mungil di depannya. Meskipun berada di baris tengah, matanya seolah tertuju pada gadis itu.
cih. Dengus Grafa.
Hah? Grafa?? nggak ikut dihukum juga?? oh ya ampun? kenapa? kan dia juga telat tadi? kenapa bisa nggak ikut dihukum??
"Mampus gue." batin Icha.
Setelah kurang lebih 30 menit upacara bendera dan penyambutan murid baru di sekolah tersebut pun selesai. Semua murid langsung bubar barisan meninggalkan lapangan upacara dan segera memasuki kelas mereka masing masing. Tak terkecuali dengan 5 murid yang masih berdiri di tengah lapangan. Terik matahari yang semakin meninggi dan memaksa masuk ke dalam tubuh siapapun pasti akan merasa gerah, haus, panas, pusing, ah semuanya ada.
Pak Hakim, guru killer muda yang masih berusia 22 tahun itu, yang menjabat jadi guru BK sedang memberi instruksi kepada murid-murid yang rajinnya sampai telat masuk.
"Hukuman seperti biasa, jalan jongkok mulai dari pintu gerbang sampai ke sini (lapangan sekolah)." jelas Pak Hakim singkat dan tegas.
"Baik, pak." jawab 5 orang murid serentak.
Kelima murid itupun langsung menjalankan hukumannya.
3 menit kemudian...
"Ah, gue serasa mau pingsan." ucap Icha lirih disela menjalani hukumannya.
Pak Hakim yang terus mengawasi murid itu pun tahu, kalau Icha sudah lelah dan hampir gak sanggup meneruskan hukumannya.
Di lantai 2, khususnya di kelas X1 IPA 1, ada 4 siswi yang sedang melihat temannya dihukum. Yha mereka, Anis, Sukma, Anggy, dan Syifa adalah sahabat rasa saudara bagi Icha. Mereka yang melihatnya pun merasa kasihan.
"Aduh, kasihan banget si Icha." ucap Anis dengan nada sedih dan imutnya.
"Iyha nggak biasanya dia telat." timpal Anggy yang diangguki temannya yang lain.
"Iyha, kenapa yha??" tanya Sukma.
"Eheemmmm." terdengar suara deheman keras seseorang dari bawah.
"Masuk kelas." titahnya dengan nada tinggi dan dingin.
Keempat siswa itupun kaget dan celingak - celinguk mencari dasar deheman itu.
"Paaa..... kk Hakim" ucap Sukma terbata dan melotot lalu melihat kearah sahabatnya dengan menelan ludahnya kasar.
"Udah cepetan ayo masuk, sebelum guru killer itu ngamuk nantinya." ucap Syifa menginstruksi sahabat-sahabatnya dengan susah payah menelan ludah.
"Mari pak." ucap Anis dengan beraninya nyengir ke guru killer itu.
Dan mereka langsung berlari masuk ke kelasnya.
"Aaaaa...." jerit keempat siswi itu setelah masuk ke kelas. Sontak, membuat isi seluruh kelas, fokus menatap mereka
"Woiii,,, berisikkk. ada apa sih??" tanya Wahyu sang ketua kelas yang sedang asik mengobrol dengan temannya.
Mereka berempat yang terengah-engah seperti dikejar setan pun langsung duduk di tempat mereka masing-masing dan tak menanggapi pertanyaan Wahyu.
"Gila, jantung gue mau copot." ucap Syifa yang memegang dadanya karena jantungnya berdetak kencang.
"Iyha, bisa gawat kita kalau guru killer itu tahu kita belum masuk kelas." kata Anggy yang melihat sahabatnya satu persatu.
Pak Hakim guru killer yang memang tidak suka jikalau semua murid sudah waktu jam pembelajaran masih berada di luar kelas. Jika itu terjadi maka sanksi yang akan diberikan.
"Benar lho, apalagi jam pertama itu jamnya dia." timpal Anis.
"Aukk,,, gue udah merinding aja." celetuk Sukma yang udah bergedik ngeri.
Dan diangguki keempat orang itu.
10 menit setelah hukuman dilaksanakan....
"Ehemmmm..." suara deheman Pak Hakim yang memecahkan keheningan diruang BK
Aduh, kalau gini ceritanya gua mah gak mau terlambat lagi. capek, mana pusing lagi kepala gue. batin Icha menahan kepalanya yang sedikit pusing.
Setelah semuanya selesai menulis, Pak Hakim bertitah,
"Ok, tulis ini sebanyak 50 kali di kertas folio dan dikumpulkan sebelum bel istirahat berbunyi." memperlihatkan tulisan SAYA JANJI TIDAK AKAN TERLAMBAT LAGI.
Semua murid yang sering terlambat juga sudah tahu konsekuensinya. Tapi tidak dengan Icha. Ini pertama kali baginya. Wajahnya pias dan sedikit gemetar.
Ah, gue capek. Gue lapar. gerutu Icha dalam hati yang menggigit bibir bawahnya dan menahan tubuhnya yang sudah lemas agar tidak jatuh.
"Eh kamu gak papa?" tanya lirih murid laki-laki sembari melihat tubuh Icha yang sudah dipenuhi keringat dingin.
"Emmm, gak kok. gak papa." sekilas melirik laki-laki itu lalu tersenyum getir.
Pak Hakim yang tahu bisikan mereka pun langsung menyuruh,
"Kembali ke kelas. Untuk nama Icha dan Arga tetap di sini dulu."
Icha dan laki-laki yang bernama Arga pun sontak kaget dan sedikit gemetar.
Tuhkan lagi. Haiiisshhhh, Gue udah capek pak, lapar. Tolong kasihinilah saya. batin Icha yang berwajah masam, pias, pucat, ah semuanya.
"Beritahu kelas kamu, kalau jam saya kosong. Jadi, berikan ini kepada teman-temanmu." memberi buku yang berisi tugas kepada Icha.
"Mmmmm, Iyha pak." jawab Icha sembari mengambil buku tersebut yang tangannya sudah gemetar hebat.
"Dan untuk kamu," tunjuk ke Arga.
"Murid baru kog sudah beraninya terlambat." ucapnya dengan nada sindiran dan sinisnya.
Arga pun hanya menelan ludahnya kasar.
"Kamu ikut saya." mengkode dengan matanya, "Dan kamu, bisa kembali ke kelas. Kumpulkan tugasnya jika jam saya sudah selesai." kembali menatap Icha.
"Bbb...aaik pak." Jawab Icha terbata.
Icha pun langsung kembali ke kelasnya, meninggalkan Arga dan guru killer itu.
Icha berjalan menuju kelasnya dengan tubuh gemetar dan keringat dingin. Serasa tubuhnya sudah tak bernyawa lagi. Sesampainya di kelas langsung menuju ke bangku Wahyu,
"Yu, nih ada tugas dari Pak Hakim, harus dikumpulin setelah jamnya selesai." ucap Icha menyampaikan titah Pak Hakim dan menyerahkan buku itu.
Wahyu yang masih asik mengobrol dengan temannya pun langsung melirik Icha dan langsung berdiri.
Mengerutkan dahi, "Badan loe panas Cha." kata Wahyu yang menempelkan tangannya di dahi Icha.
"Pucat lagi." timpalnya.
"Cieeeellahhh modussss." sorak gemurai teman Wahyu.
"Cih, diem loe."
"Mending loe ke UKS aja Cha. Badan lho panas banget, terus pucat parah lagi." ujarnya dengan nada sedikit khawatir.
"Emmm gak kog, gue gak papa." balas Icha.
"Gue duduk dulu yha." tambahnya.
Wahyu pun langsung mengangguk dan berjalan ke depan guna menyampaikan titah Pak Hakim.
"Loe kenapa Cha? Wajah loe pucat banget." tanya Anggy. Penasaran dan langsung menyentuh dahi Icha.
"Ihhh, panas banget Cha." kata Anggy seraya mengibaskan kedua tangannya karena mungkin dahi Icha sangat panas.
Tak mau kalah, ketiga sahabatnya yang lain pun langsung mengecek dahi Icha bergantian.
"Ih, iyha Cha, panas banget loe." timpal Sukma yang berdiri di sampingnya.
"Ehemmm." deheman Wahyu membubarkan keramaian di kelasnya.
Sonta,, semua murid langsung duduk di tempatnya masing-masing.
"Perhatian semuanya. Hari ini jamnya Pak Hakim kosong dan beliau meninggalkan tugas yang harus dikumpulin kalau jamnya sudah selesai." ucap Wahyu dengan tegasnya.
"Anggy, lho tulis tugasnya di papan." perintah Wahyu ke Anggy karena memang ia sekretaris kelas.
"Iyha." Anggy berdiri dan mengambil buku berisikan tugas lalu menulisnya di papan. Wahyu pun langsung duduk di tempatnya.
"Cha, lho beneran gak papa?? ke UKS aja." tanya Anis khawatir yang diikuti anggukan Syifa
Yha, tempat duduknya berada di depan Icha. Dengan Icha bersebelahan dengan Syiffa, Anis dengan Anggy dan Sukma sendirian.
"Iyy.... a, gue gak pp.."
Buggggh
.
.
.
.
Bersambung