
"Heh." Mendengus kesal.
"Kerjakan soal latihan 1 dan 2, kumpulkan besok sebelum bel masuk berbunyi." Detik kemudian, meninggalkan Kevin dan menuju ke depan untuk menjelaskan materi lagi.
"Hah?" Termangu karena perkataan guru killer itu.
Mendengar itu, membuat Wahyu dan Ilham menahan tawanya.
"Makanya, tutup mulut bentar napa." Seloroh Ilham yang masih dengan mode tahan tawa.
"Bengek lu." Selorohnya yang merasa kesal karena diberi tambahan tugas.
Tet... tet... tet,
Bel istirahat sudah berbunyi. Saatnya, semua penghuni SMA favorit itu langsung menghambur ke kantin sekolah. Mengisi energinya lagi setelah berfikir keras tadi pagi serta penambahan imun agar tetap fokus saat pelajaran dimulai lagi.
"Icha, tunggu." Pekik seseorang yang dari suaranya pasti tentu sudah dikenal. Mendengar namanya dipanggil. Ia segera menghentikan langkahnya lalu meneloh ke belakang.
Saat yang dipanggil sudah menoleh, Sukma segera berlari kecil kearah Icha yang sudah berdiri dengan tangan menggenggam jilidan buku yang tadi pagi ia bawa.
"Lo mau kemana?" Tanyanya saat sudah berdiri tepat didepan Icha.
"Ke perpustakaan."
"O.."
"Ada apa?"
"Ouh, emm iyha." Mengeluarkan sesuatu dari saku seragamnya.
Mengernyitkan dahi. "Undangan pesta ulang tahun?" Gumamnya lirih tapi masih mampu didengar oleh Sukma.
"Iyha. Undangan ulang tahunnya si Indah. Anak IPA 2. Pacarnya Grafa. Ketua voli dan murid cewe tercantik seantero SMA favorit sini." Katanya panjang kali lebar yang tidak dapat tanggapan dari Icha, karena ia sibuk membolak-balikkan undangan yang tercetak kecil namun elegan itu.
Saat tahu, bicaranya tak ditanggapi, Sukma hanya berdecak kesal kecil saja. "Huh." Memutar bola matanya malas.
Sedetik kemudian, membuka pita yang menghiasi undangan elegan itu. Terpampang nyata, namanya ditulis Fanisya IPA 1. Aneh si, kenapa juga nulis kelasnya. Tapi, auk ah. Yang penting dapat, pikirnya.
Saat membuka undangannya, tertulis permohonan kehadiran mereka dalam acara ulang tahun Indah Sofiana, tertanggal 15 Januari, pukul 19.00 WIB.
"Em, gue gak yakin gue bisa datang." Ucapnya seraya menutup kembali undangan tersebut.
"Yah, kenapa, Cha?" Tertera raut wajah kecewa. "Kan satu sekolahan diundang Cha. Jadi, Lo bisa datang sama Anis, Anggy, Syif..." Imbuhnya yang terputus.
"Dan, Lo?" Putusnya cepat.
"Gue. Gue gak bisa datang Cha." Ucapnya lirih yang berubah sendu.
"Kenapa?" Selidiknya dalam.
"Guuu...e.." Jawabnya yang tetiba terhenti seperti ada sesuatu yang menghambat di tenggorokannya.
"Gue?" Lanjut Icha.
Gue mau tunangan, Cha. Maaf, gue nggak bisa cerita sekarang.
Menarik nafas dalam-dalam, lalu dihembuskan dengan kasar. "Gue diajak bokap sama nyokap gue keluar kota." Jawabnya yang lugas meskipun berbohong.
"Ngapain?"
"Lo tau sendiri, Cha. Gue anak satu-satunya, dan Lo juga tau, kalau bokap gue selalu minta gua untuk berhenti sekolah dan gantiin posisinya jadi CEO." Katanya jelas yang bisa diterima akal sehat.
Memang, Papah Sukma sedari dulu berniatan untuk menjadikan anaknya sebagai penggantinya menjadi CEO. Bukannya tidak mampu dalam mengelolanya sendiri, tapi tidak mungkin juga semua bisa berhasil dengan instankan? Itulah mengapa, papahnya bersikeras untuk meminta Sukma berhenti sekolah dan memulai hidup baru dengan jabatan CEOnya. Karena, tidak mungkin jugakan, ia akan mengalihkan semua hasil kerja kerasnya selama ini untuk orang lain?
Pernah bertemu sekali, saat menghadiri makan malam dalam perayaan pembukaan cabang baru di perusahaannya. Ia mulai terpesona dengan ketampanan yang diwariskan dari sahabatnya itu. Postur tubuh yang tinggi, kulit putih nan bersih juga menambah ketampanannya, apalagi saat tersenyum. Sangat manis. Sempurna.
Mulai dari situlah, ia berniatan untuk menjodohkan anaknya dengan rekan kerja sekaligus sahabatnya itu.
"Hm, jadi gimana penawaranku pada waktu itu? Apakah kamu setuju?" Tanya seseorang yang duduk di keramaian sebuah club seraya menghisap rokoknya. Terlihat, samar-samar keriput mulai muncul diwajahnya, tapi tidak mengurangi ketampanannya. Ialah, Aris Sukma Wijaya. Pemilik dari ASW group. Sebuah group yang bergerak di bidang manufaktur, kertas, dan terakhir yang baru pada bidang Skincare. Jangan diragukan, walau hanya memiliki 3 bidang saja, namun perusahaannya sangat besar dan maju berkembang pesat.
"Nanti akan kupikirkan lagi. Ini bukan hanya sekadar jalan bisnis, tapi juga kebahagiaan anakku. Biarlah, aku bicara pada istriku dan anakku dulu, nanti kalau sudah kutemukan jawabannya, akan segera menghubungimu." Jawab seorang laki-laki yang sama halnya sedang merokok tapi tidak dengan minum.
"Hm, baiklah. Akan ku tunggu hari itu." Jawabnya seraya membuang semua kepulan asap rokok dari mulut dan hidungnya, berlalu mematikan rokoknya yang memang sudah pendek.
"Senang bertemu dengan Anda Tuan Abraham." Berdiri yang kemudian mengulurkan tangannya untuk dijabat. Akhirnya, Tuan Abraham juga ikut berdiri dan membalas uluran tangannya.
"Senang juga bisa bertemu dengan Anda, Tuan Aris Wijaya." Memberikan senyuman terbaiknya. Akhirnya, mereka pun meninggalkan club itu dan langsung menuju rumah mereka masing-masing.
"Cha." Panggilnya dengan menggoyangkan bahu Icha yang sedari tadi melamunkan sesuatu.
"Hello??" Melambaikan tangannya di depan wajah Icha yang masih setia melamun.
"Icha." Panggilnya sedikit berteriak.
"Hah??" Akhirnya, dipanggilan ketiga ini ia tersadar dari lamunannya.
"Lo kenapa? Kog melamun? Ada masalah?" Meneliti setiap jengkal wajah Icha, siapa tahu ia sudah mulai curiga karena termakan ucapannya Syiffa dan Kevin.
"Ouh, nggak kog." Terlihat gelagapan.
"Gue, gue ke perpus dulu yha. Hehe." Ucapnya seraya melirik jam tangan yang melingkar indah di tangan kirinya.
"Jadi, Lo akan datang kan??" Tanyanya sekali lagi, sebelum Icha benar-benar melangkahkan kakinya.
"Insyaallah. Akan ku usahakan." Jawabnya yang langsung meluncur pergi meninggalkan Sukma. Seperti sudah terlambat.
Menstabilkan nafasnya dulu, karena habis lari maraton.
Ceklek.
Derit pintu yang terbuka, membuat seseorang yang tengah fokus membaca sebuah buku tentang bisnis itu menoleh kearahnya.
Pelan menutup pintu, lalu berjalan gontai menuju meja laki-laki itu.
"Maaf terlambat." Cengirnya yang langsung mendudukkan dirinya di depan laki-laki itu dengan tangan yang masih menggenggam buku itu.
Menaikkan alis kanan, memperhatikannya dengan lekat. Sedetik kemudian, ia melirik jam dinding yang berada tepat di depannya.
Melihat orang depannya menoleh ke belakang nya, membuat Icha ikut menoleh.
Membelalakkan kedua matanya, "Hah? 15 menit?" Menelan ludahnya kasar.
"Huh." Sentakan nafas kasar laki-laki itu.
"Maaf-maaf. Beneran gue nggak sengaja, tadi itu gue hab...."
"Gue haus, pen minum, tapi gue males ke kantin." Potongnya cepat dengan nada santai. Lalu pura-pura membaca buku tadi lagi.
"Hah? Terus?" Paham, tapi pura-pura tidak tahu saja.
Bersambung,
Maaf yha, baru update ðŸ˜