I'M Okey

I'M Okey
Kamu?



Tanpa bicara, Grafa menarik tangan Indah yang satunya menuju UKS.


"Sayang, mau kemana?" tanya Indah melihat Grafa yang menggandeng tangannya. Indah hanya bisa menelan ludahnya kasar. Dia tahu, kalau ada luka sekecil apapun ditubuhnya, pasti dia sudah sangat khawatir, apalagi luka besar.


Siska dan Laura yang melihat tangan Indah ditarik lembut oleh Grafa pun ternganga.


" Eh, mau kemana tu orang?" tanyanya pada Laura.


"UKS paling." jawabnya.


"Udah ikutin yuk." kata siska dijawab anggukan oleh Laura. meraka berdua pun mengikuti Indah dan Grafa pergi tanpa sepengetahuannya.


Setibanya di depan UKS.


"Duduklah." dibalas anggukan oleh Indah.


Masuk ke UKS dan mengambil kotak p3k lalu keluar.


Mengobati luka kecil di tangan kanan Indah dengan lembut. Sungguh pemandangan yang luar biasa.


"Mmmm, Soo sweett bingittt." celetuk Laura dengan menggigit bibir bawahnya yang merasa gemas dengan adegan romantis di depannya. Siska dan Laura yang sengaja mengikuti Indah dan Grafa pergi, bersembunyi dibalik tiang untuk mengintip apa yang mereka lakukan.


"Parah." timpal Siska yang juga menganga karena terpesona.


Seraya Grafa mengobati luka ditangannya. Jarak yang begitu dekat, membuat Indah menatap lekat wajah tampan yang sudah 3 bulan menjadi kekasihnya itu. Alis sedikit tebal, mata hitam, hidung mancung, bibir ranum merah tebal dan kumis tipis itu menjadi daya tarik tersendiri.


melihatnya tanpa berkedip hanya membuat Indah menelan salivanya kasar.


Sempurna. begitulah kiranya yang tergambarkan pada diri Grafa dalam benaknya.


"Sudah selesai? tanya Grafa dengan senyum tipis yang masih mengobati luka tanpa melihat Indah.


"Ahh." jawab Indah gelagapan, "Emmm,." hanya menelan salivanya kasar.


Grafa hanya tersenyum tipis.


"Makasih." ucap Indah pada Grafa yang sudah selesai mengobati lukanya.


"Iya." jawabnya sembari merapikan peralatan kotak p3k nya.


"Kamu kembali ke lapangan, aku mau langsung ke kelas." titah Grafa seraya beranjak dari duduknya.


"iya." jawab Indah yang masih duduk.


"Hati-hati kalau olahraga. Jangan terluka lagi." ucap Grafa seraya mengacak rambut Indah. Indah hanya mengangguk menganga dibuat perlakuan Grafa yang begitu manisnya.


"Ihhh, tuhkan. so sweet bangettt." celetuk Laura.


"Gue mau pingsan." timpal Siska.


Mereka berdua memang masih terus memantau Indah dan Grafa dibalik tiang. Tapi, tiba-tiba....


Satu.. dua... seraya berjalan mengendap endap.


"Woiiii." teriak Iqbal dan Indro yang mengejutkan Laura dan Siska. mereka berdua yang memang tak sengaja melihat Laura dan Siska yang sedang mengintip seseorang pun, berniat mengakegatkan mereka, dan berhasil.


"Aaa...." teriak Laura dan Siska bersamaan.


"Hhhhhhhhh" tawa Iqbal dan Indro seraya menjajarkan tubuh mereka dengan Laura dan Siska.


"Makanya jangan suka ngintipin orang lain." celetuk Indro.


"Igggghh, siapa juga yang ngintip. Iyha kan sis." tanyanya pada Siska.


"Iyha. orang kita emmm.. anuuuu...."


"Wkwkwk hhhh... maling gak ada yang ngaku." seloroh Indro.


"Iyha kan ngab.. Ngab." memanggil.


Serasa tidak dijawab, Indro pun melihat Iqbal. Ikut fokus arah mata Iqbal yang melihat Grafa dan Indah yang masih di situ. Tapi, sepersekian detik, Indah pergi ke lapangan lagi dan Grafa masuk UKS.


"Sabar." tenang Indro ke Iqbal.


"Ha?" jawabnya gelagapan.


"Berusahalah untuk menjauh, sebelum jatuh terlalu dalam." bisik Indro ke Iqbal agar suaranya tidak didengar oleh dua cecenguk itu. Iqbal hanya tersenyum.


"Eh, eh, tuh Indah sudah pergi. ayok." ajak Laura ke Siska yang masih mendumel.


Laura dan Siska langsung meninggalkan dua orang itu dan segera mengejar Indah.


"Udah ayok." ajak Iqbal.


Gue tahu ngab, saingan loe berat, tapi gue salut sama loe. bathin Indro yang melihat Iqbal berjalan menjauh.


Ceklek, suara pintu UKS terbuka dan ditutupnya kembali.


Grafa masuk menaruh kotak p3k ke tempatnya lalu segera pergi.


Sesampainya di depan pintu, sebelum memegang handle pintu, tiba-tiba pintu terbuka. Grafa langsung menghindar.


"Eh. Grafa." ucap Wahyu seraya masuk.


"Loe, ngapain kesini?"


"Oh, habis mengembalikan kotak P3k."


"Ooooo.." sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Kamu, ngapain kesini juga?"


"Em, iyha, tadi anak kelas gue ada yang pingsan. Jadi, gue jengukin.." jelas Wahyu.


"Oh ok." tersenyum. "Gue keluar dulu yha."


"Oh ya, silahkan." memberi jalan Grafa untuk keluar dan segera menutup pintunya.


Berjalan kearah kasur Icha yang tertutup oleh gorden. Menyibaknya dan,


"Udah baikan?" tanyanya tatkala melihat Icha yang sudah duduk diatas kasur seraya meletakkan kantung plastik diatas nakas.


Icha hanya mengangguk.


"Kamu bawa apa?"


"Makanan. Tadi kamu belum sempat sarapankan?? jadi, aku bawain." jawabnya lagi dengan mengambil makanan dari kantung plastik.


"Ayo makan." serasa menyodorkan makanan yang sudah dibuka.


"Emmm." mengangguk dan mengambil makanannya.


Wahyu menarik kursi lalu duduk mengamati Icha yang sedang lahap makan. Tidak terasa, senyum simpul terbit dibibirnya


.


"Ehemm." Suara deheman Wahyu memecah keheningan diantara keduanya.


"Emm, loe kenapa kog sampai telat gitu?? nggak kaya biasanya." tanya Wahyu.


"Emm, iya. gue kesiangan. Soalnya gue ngerjain tugas sampai larut." jawab Icha yang masih mengunyah makanan sedikit.


"Tugas apa?" seloroh Wahyu yang terkejut karena hari ini memang tidak ada PR.


"Biasalah. Tugas ketikan anak kampus." jawabnya seraya memasukkan nasi kedalam mulutnya.


"Hah? loe masih kerja sampingan itu??"


"Heemm." jawabnya nganggguk.


"Kan gue udah bilang Cha, berhenti kerja sampingan untuk jasa pengetikan tugas anak kampus."


"Lihat kan jadinya loe sendiri yang kena imbasnya." tuturnya sedikit meninggi.


"Tapi kan uangnya lumayan Yu. Buat nambah-nambah tabungan gue untuk ikut ke Bali." jawabnya lagi dengan wajah tertunduk.


"Aghhh " Wahyu mengusap wajahnya kasar.


Wahyu tahu kalau Icha memang mengalami sedikit masalah keuangan. Keinginannya yang ingin ikut studi tour ke Bali pun semakin menggebu-gebu. Dia rela ngelakuin apa saja, agar keinginannya bisa terpenuhi. Bagi anak lainnya sih, memang hal kecil untuk urusan biayanya karena orang tua mereka berada semua. Tapi bagi Icha, itu hal yang berat. Dia tidak mau merepotkan ibunya. Uang hasil jerih payahnya sebagai pengusaha laundry kecil-kecilan hanya bisa untuk makan sehari, uang saku Icha, dan juga bayar hutang. Ah hutanggggg......


"Tapi, kamu jangan bilang ke ibuku yha Yu. Soalnya kamu tahu sendiri kan, ibuku orangnya gimana." pintanya dengan nada memohon.


"Hah? iya. Tapi, gue gak mau, lihat loe kecapean lagi kaya gini. Alesan begadang atau apalah itu."


"Iyha, janji." seraya menerbitkan senyumannya.


Disisi lain.


Grafa keluar dari UKS yang langsung disambut oleh dua cecunguk, yha siapa lagi kalau bukan Indro dan Iqbal.


Kalian ngapain disini?" tanyanya mengernyitkan dahi.


"Em itu, tadi kamu dan Wahyu dicari Bu Inggit. Semua ketua kelas harus kumpul diruang guru sekarang, tidak boleh diwakilkan." ketus Indro menjelaskan.


"Oh." jawabnya dingin.


"Ih, belum selesai ngomong juga." menahan Grafa yang hendak pergi.


"Kenapa lagi?"


" Sekalian kamu beritahu ke Wahyu. Dia ada di dalam kan?? Tadi gue ke kelasnya, tapi dianya gak ada, katanya sih ke UKS jengukin anak kelasnya yang pingsan." timpal Indro.


"Ah, baiklah." Grafa memasuki UKS lagi dan dua cecunguk itu langsung kembali ke kelas.


Ceklek, suara pintu terbuka.


Grafa memasuki UKS dan segera datang kearah Wahyu. Karena memang ruang UKS nya yang terdiri dari 5 kasur pasien, dia secara mudah menemukan Wahyu karena cuma ada satu tirai dipojokan yang tertutup.


Menyibak tirai, dannnn


"Kamu....?"


Bersambung.