I'M Okey

I'M Okey
Shopping 1



"Em, tadi Kevin kasih tahu. Makanya aku bisa tahu. Hhe." Cengirnya dan sekarang jantungnya sudah tidak bisa baik-baik saja.


"Oh."


"Ok, kalau gitu, gue duluan, Cha, Kak Rio." pamitnya membungkukkan badan.


"Makasih sudah bantu jagain Icha." bisiknya saat Wahyu sudah naik diatas motornya.


Menoleh Icha, yang mungkin bingung maksud Kak Rio, lalu menganggukkan kepala sebagai jawabannya,


"Gue, duluan kak."


"Hm, hati-hati."


Lalu pergilah Wahyu menyusul temannya.


Membalikkan badan, masih mendapati Icha yang kebingungan.


"Ihhh, lucu banget sihh pacarnya kakak." ucapnya gemas seraya mencubit kedua pipi Icha.


Mencebikkan bibirnya, "Ih, Kak Rio mah." rajuknya pura-pura.


"Hhhh, lucu banget tau, Cha." kekehnya geli.


"Udah, ayo kak, nanti keburu malam." ketusnya.


"Ih, ngambek pacarnya kakak. Utututu." godanya sekali lagi,


********


Selang 15 menit perjalanan menuju mall, mereka langsung segera masuk kedalam. Mencari toko yang menjual pakaian dan aksesoris wanita.


Sesaat setelah melihat ke kanan kiri, Icha mendapat sebuah gaun yang terpampang nyata dipakai oleh model orang-orangan.


"Wah, bagus banget." binarnya ceria tatkala Ia mengamati lebih dekat gaun simple nan elegan tersebut. Gaun berwarna navy dengan sentuhan payet yang sedikit membuat kesan yang sangat apik.


"Kamu suka?" tanya Rio mendekat.


Hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawabannya.


Tersenyum, "Kalau suka, ambil saja yank." seraya memasukkan kedua tangannya di saku celananya.


Menoleh, "Hah? beneran kak?" tanyanya antusias.


"Kapan kakak pernah bohong?" menaikkan satu alisnya.


Tersenyum, "Makasih kak." spontan langsung memeluk Rio.


Rio yang mendapati pelukan Icha secara tiba-tiba, langsung merasa sangat bersalah. Bagaimana cara untuk memastikan kedua orangtuanya perihal hubungannya dengan Icha? Akankah ia sanggup untuk kehilangan separuh jiwanya? Dia rasa, tidak akan pernah sanggup.


Tanpa mengurangi rasa curiga, Rio segera membalas pelukan hangat Icha.


"Sama-sama sayang." tersenyum getir saat mengingat kejadian mengerikan yang akan terjadi.


"Ehem."


Tetiba terdengar deheman seseorang yang mengharuskan mengurai pelukan hangat mereka.


"Em, maaf mengganggu sebentar Tuan, Nona." bicara seorang pelayan laki-laki seraya membungkukkan badannya dengan sopan


"Iyha? ada apa yha?" jawab Rio.


"Em, apakah benar, Anda adalah Tuan dengan atas nama Tuan Alfareo Sandi Abraham?"


"Iyha, betul. Ada apa yha?"


"Em, itu Tuan, maaf. Saya hanya menjalankan perintah, bisakah Anda ikut dengan saya sebentar saja?" ucapnya ragu.


"Ikut? Kemana?"


"Em, itu Tuan....", sebelum melanjutkan obrolannya, dering ponsel pelayan tersebut sudah berbunyi.


"Maaf Tuan, saya angkat telepon dulu." izinnya agak menjauhkan tubuhnya dari Rio dan Icha.


"Ada apa yha kak?" tanya Icha polos


Mengedikkan kedua bahu, "kakkak juga nggak tahuu yank, mungkin ada fans kakak yang mau minta foto." jawabnya santai.


Mendelik kesal, "ih, pede pake bangett nih orang."


"Hhhhh." malah mereka tertawa bersama.


"Em, maaf Tuan. Mari ikut saya sebentar, soalnya sudah ditunggu." tetiba pelayan itu langsung datang tergopoh dari tempat menerima panggilan teleponnya. Sepertinya memang penting.


Rio melihat Icha yang ternyata ia melihatnya.


"Nggak papa kak, temui dulu aja. Sepertinya memang sangat penting."


"Tapi kamu sendirian di sini nanti."


"Nggak papa kak. Sekalian aku mau lihat gaun-gaun yang lain. Hhe."


"Ya udah, kalau begitu, kakak pergi dulu yha, jangan jauh-jauh lihatnya. Nanti kalau kakak sudah selesai, kakak telvon kamu."


"Heem, iyha kak."


"Ok, kakak pergi yha."


"Iyha."


Sebelum beranjak pergi, Rio menyempatkan diri untuk mencium kening Icha. Entah mengapa firasatnya mulai tidak enak.


"Hati-hati, Kak." lambaian tangan Icha saat Rio sudah ditelan tembok mall.


"Huh." mengembungkan kedua pipinya lalu membuangnya asal.


"Semoga baik-baik saja." monolognya


"Pak, tolong. Berjalanlah dengan biasa. Tidak usah berlari kecil seperti itu." titahnya saat melihat pelayan tersebut berlari kecil, seakan dikejar anjing saja.


"Maaf Tuan, saya tidak punya waktu. Karena kalau terlambat, saya bisa dipecat." jawabnya tanpa menoleh ke arah Rio yang masih di belakangnya.


"Ck." desisnya.


"Harus naik lift?" tanyanya saat sudah di depan lift yang masih tertutup.


"Iyha Tuan, karena ruangan privatenya ada di lantai 4. Maaf."


"Hufft. Cepatlah, saya tidak punya banyak waktu. Karena pacar saya sendirian di bawah."


"Baik Tuan."


Ting, pintu lift pun terbuka dan mereka berdua langsung masuk kedalamnya, menutup lift dan menekan tombol naik ke lantai 4.


Tidak ada obrolan yang terjadi ketika di dalam lift hingga mereka sampai di lantai 4. Lantai di mana manager sekaligus pemilik mall ini singgah ketika berkunjung.


"Mari pak." ucapnya sopan.


CEO ROOM


Berada di sinilah mereka berdua. Di dalam ruangan private CEO mall ini.


Bersambung,


Hai besti-bestinya akuhhh. Sekadar info, aku kembali lagi setelah sekian lama Hiatus😌, Tapi mungkin, memang masih jarang update dan setiap Bab nya mungkin tidak sampai 1000 kata, seperti Bab-ban sebelumnya.


Tapi diusahakanlahh 600-800 kata. HHEEE


Makasih-maksih banyak untuk semua yang sudah kommen dan like,


Semoga kalian tetap setia dengan cerita IM Okey, karena di part-part selanjutnya bakal tambahh gregett.


lope lope lope tak hingga untuk semuanya.♥️♥️♥️


Dahhh🤗🤗