I'M Okey

I'M Okey
Kejadian Serupa



Tet tet tet


Bel masuk sudah berbunyi. Semua murid segera membubarkan diri dari lapangan.


"Ada-ada saja." Gumam Pak Hakim.


"Segera keruangan saya." Bicaranya pada seseorang lewat sambungan telepon.


"Baik pak." Terdengar jawaban dari sana.


Tut. Telepon dimatikan.


...


"Sayang, kamu pergi ke UKS sendiri dulu yha. Soalnya aku sudah ditunggu Pak Hakim di ruangannya." Ujarnya lembut seraya memasukkan ponselnya ke saku celananya.


"Iyha." Jawab singkat Indah. Entahlah, mungkin masih sedikit canggung atas kejadian beberapa menit lalu.


Segera Grafa memarkirkan mobilnya terlebih dulu lalu bergegas ke ruangan Pak Hakim.


...


Tok tok tok.


"Em, permisi Bu." Masuk ke dalam kelas


"Saya mau panggil Icha. Katanya ia disuruh ngambilin buku kegiatan OSIS milik Wahyu yang tertinggal di tasnya." Ucapnya dengan Bu Hani yang sedang menerangkan pelajaran di depan.


"Ouh. Baiklah." Jawab Bu Hani.


"Em, ditunggu di ruangannya Pak Hakim yha, Cha." Selorohnya pada Icha.


Icha hanya mengangguk paham.


"Saya permisi dulu Bu." Izinnya ketika di depan dan sudah membawa bukunya didadanya.


"Iyha. Jangan lama-lama."


"Baik Bu."


Segera Icha dan murid tadi yang diketahui sebagai anggota OSIS yang bernama Bagus keluar dari kelas.


"Eh. Kenapa nggak Lo aja yang disuruh mgambilin ni buku? Kenapa harus gue?" Katanya setelah menutup pintu kelasnya.


"Em. Anu." Menggaruk tengkuknya yang tak gatal dan cengengesan.


"Kenapa?" Mengernyitkan dahi.


"Em. Gak taulah gue. Gue hanya disuruh Wahyu. Yha udah gue lakuin aja." Jawabnya asal yang sedikit gemetar.


Icha bertambah heran,


"Kalau gitu, gue ke kelas dulu yha. Bye." Bingung dan takut ditanyai lagi. Lebih baik alasan ke kelas kan aman. Pikirnya.


"Ishhh, dasar Bagus Hanasuri." Gerutunya sebal saat melihat Bagus yang langsung meninggalkannya terburu-buru tanpa menjawab pertanyaannya.


Dengan rasa malas, berlalu lah ia ke ruangan Pak Hakim.


Karena saking asiknya mendumel dan mengatai Bagus, ia sampai tidak fokus memerhatikan jalan.


Buggh


Keduanya sama-sama tersungkur ke lantai.


"Auww.." Pekiknya dengan mengelus pan***nya.


"Punya mata kan?" Mencoba berdiri.


Deg


Seperti suara seseorang yang tidak asing di telinganya.


Mendongak ke atas. Melotot kan matanya. Lalu menunduk lagi.


"Em, sorry-sorry." Ucapnya sedikit takut. Mengambil bukunya, lalu mencoba berdiri.


Aduh. Bodoh banget sih lo Cha. Sampai nabrak dia lagi. Gerutunya dalam hati


Yang sudah berdiri sejak tadi pun hanya melihatnya tajam dengan tangan si dada.


Icha yang merasa diperhatikan, hanya tertunduk.


"Maaf. Gue nggak sengaja." Menggigit bibir bawahnya dan mencengkeram erat bukunya.


Byurrrrr


"Aaah." Teriaknya saat satu ember air berhasil mengguyur tubuhnya.


"Hhhhhh." Tawa anak kelas 12 yang berhasil mengerjai Icha.


"Lo?" Mendelik kesal menatap tiga laki-laki diatasnya.


Grafa yang melihatnya hanya tersenyum tipis yang masih setia berdiri di situ dengan kedua tangan yang sudah di saku celananya.


"Hhhh.. Emang enak tuh, mandi bekas air es pel-pelan. Hhhhh" Ujar salah satu laki-laki itu.


"What?" Tambah melotot lalu memperhatikan seragamnya yang memang basah dan sedikit kotor.


"Awas yha kalian." Menuding ketiga bocah kampret itu.


"Aaah, takut.. Hhhh." Sahut satu temannya yang lain.


Menahan geram melihat tingkah mereka yang selalu jail kepadanya.


"Ishhh." Kembali menatap ketiga kakak kelasnya lalu turun dengan kesalnya.


Yha, karena nggak mungkin banget kan, ke ruangannya Pak Hakim dengan seragam yang basah dan kotor begitu.


Baru dua langkah menuruni tangga, tiba-tiba suara yang tidak ingin ia dengar sama sekali, menghentikan langkahnya.


"Seragam Lo nyetak bego!" Ucapnya santai.


Sekali lagi, Icha melotot karena mendengar ucapan yang terlalu fulgar. Tak hanya dia saja, Grafa pun juga tak kalah terkejut yang hanya menahan senyumnya lalu berekspresi dingin lagi.


Ia juga sadar, kalau seragamnya pasti membentuk lengkuk tubuhnya. Karena memang, tubuh Icha yang sedikit berisi, terutama dibagian itu.


Jengah mendengar ucapan atau tindakan yang akan mengerjainya lagi. Icha berlalu meninggalkan mereka dengan segera.


Karena air bekas pel-pelan tadi sudah dikasih sabun lantai, alhasil menyebabkan lantainya licin. Dan tanpa sengaja, saat baru satu langkah menuruni tangga, ia terpeleset dan Grafa yang melihatnya dengan berlari kecil langsung menahan tubuh Icha agar tidak jatuh terguling dari tangga.


Brugghh


"Auuww." Pekik dua orang yang sama-sama tersungkur di lantai dengan berpelukan.


Yang diatas, hanya menatapnya tak suka. Terutama siswa yang di pinggir. Sebut saja, Birama Bagaskara atau yang lebih dikenal Rama.


"Sial." Gumamnya lirih. Mungkin dua sahabatnya tidak mendengar.


"Cabut " Ketusnya langsung melenggang pergi yang membuat kedua sahabatnya kebingungan.


Jatuh dengan wajah yang berada di jarak kurang aman, mengakibatkan kedua manik hitam mereka bertemu yang akhirnya saling terkunci. Posisi berpegang pada krah baju Grafa, membuat deru nafasnya, terasa menghempas di kulit wajah mulus Icha.. Ada perasaan aneh, yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, sekalipun dengan Rio. Berbeda dengan Grafa, mungkin moment ini sudah dirasa biasa saja. Karena, mungkin juga sering dilakukannya dengan Indah.


Seketika, Icha tersadar, mencoba berdiri.


"Tolong, kasihkan ini ke Wahyu." Menyodorkan buku yang ia bawa. Lalu diterima baik oleh Grafa.


"Dia juga ada di ruangnya Pak Hakim." tambahnya yang langsung bergegas ke kamar mandi.


Grafa hanya mengernyit heran. Menatap tajam punggung yang akan hilang ditelan tembok pembatas.


"Kog dia bisa tahu, kalau aku mau ke ruangannya Pak Hakim." Tanyanya dalam hati.


"Ah, kenapa aku harus memikirkan itu. Membuang-buang waktu saja." Monolognya lalu pergi ke ruangannya Pak Hakim.


Untung, pada saat kejadian itu, masih di jam pembelajaran. Jadi, luar kelas sepi. Mungkin ramai di lapangan yang ada jam olahraga.


"Oh, jantungku." Mendelik di depan cermin toilet. Memegangi dadanya yang sedari tadi tak berhenti berdegup dengan kencang.


"Gila." Krutuknya


"Ahhh,, sial " Berteriak tapi sedikit pelan, agar tak ada yang mendengarnya. Mengingat kejadian beberapa menit lalu, membuat hawa panas dalam hatinya membuncah lagi. Seakan mengingatkan luka lamanya. Luka yang tak ingin ia ungkit lagi.


"Awas aja. Gue bakal balas kalian." Ucapnya kesal.


10 menit berlalu, akhirnya ia keluar dari toilet. Tiba-tiba, tepat di depan pintu toilet yang ia masuki tadi, ada sepasang tangan yang menyeretnya.


"Aaaaa." Teriaknya sedikit keras karena saking terkejutnya.


Ada apa?


Bersambung,


Hhhe mungkin, di part ini atau bahkan di part sebelumnya, ada beberapa kata yang mungkin kelihatan kaku kalau dibaca. Maaf, Author juga masih belajar.


Jan lupa jempolnya atuh 😘, hhhe