I'M Okey

I'M Okey
Drama bakso



"Nggak papa kog, Nis. Biar lebih sopan aja." jawabnya tersenyum tipis.


Syiffa yang mendengar jawaban itu, hanya memutar bola matanya malas. Icha dan Anggy yang paham akan situasi rumit ini, mencoba mencairkan suasana. Karena, Anis sendiri mungkin tidak peka terhadap sekitarnya.


"Ma, maaf yha kita tadi udah pesen makanan dan minuman dulu. Kita kira, kamu nggak ke kantin, soalnya aku tadi cari kamu nggak ada." ujar Icha yang tak enak hati karena sudah meninggalkan temannya satu itu.


"Iyha, gak papa kog, Cha. Tadi, gue ada urusan sebentar di luar." mencoba untuk bersikap biasa aja di kala suasananya sudah mencengkam.


Berdiri, menghampiri si penjual bakso untuk memesan lalu kembali lagi. Tapi, eh. Tunggu sebentar. Tadi kan formasi duduknya nggak kaya gini. Dirubah?


Melihat Anggy yang sudah duduk di samping Syiffa dan Anis yang di samping Icha tepat di depan Anggy.


Brakkkkk,


Suara geprakan meja yang membuat semua orang di kantin terjingkat kaget.


"Buk, seperti biasa, pesen bakso tiga dan es jeruk!" teriak Syahril kepada penjual bakso.


Baru memasuki kantin, ia langsung membuat rusuh. Eh, bukan dia saja, tapi tiga biang kerok. Siapa lagi kalau bukan Rama, Syahril, dan Dion. Memang mereka bertiga tidak ada habisnya untuk membuat onar.


Semua orang pasti sudah tahu kelakuan mereka, jadi tidak kaget.


Eitts, tapi tidak untuk dulu, waktu Rama berpacaran dengan Icha. Ia berubah drastis. Menjadi diri yang mungkin bisa dibilang baik. Tapi tidak untuk sekarang. Setelah putus dengan Icha dan mengundurkan diri dari jabatan Ketua OSIS, ia kembali menjadi orang suka membuat onar dan rusuh.


"Pindah Lo." usir Dion ke dua anak siswi yang duduk di depan meja Icha.


Karena tidak mau kena masalah. Akhirnya, mereka pindah ke meja yang kosong.


Mereka bertiga langsung mendudukkan diri. Mereka sengaja untuk duduk di depan meja Icha.


Saat Rama hendak duduk, tak sengaja netranya bertemu dengan netra Icha sebelum akhirnya diputus oleh Icha.


"Eh-eh, tangannya kak Rama kenapa? kog diperban?" tanya Anis yang memelankan suaranya.


Icha yang sempat menunduk tadi, akhirnya mengangkat kepala untuk melihat Rama. Eh, ternyata Rama masih memperhatikannya sedari tadi.


Tuhan. gummam Icha dengan menggigit bibirnya.


"Iyha, yha. Kayaknya berdarah deh." timpal Anggy,


"Huumb, tuh, kaya ada noda merahnya." tambah Syiffa.


Sukma yang tidak tahu apa-apa, hanya melihat Icha dan Rama bergantian. Akhirnya, dia menangkap sebuah bukti dari raut wajah mereka berdua.


Ketiga biang kerok itu tahu, kalau meja di belakangnya itu lagi bicaraiin mereka.


Syahril dan Dion hanya tersenyum kecut.


Menatap lekat kedua manik hitam itu secara dalam. Meskipun dalam jarak jauh, ia bisa merasakan bahwa ada tatapan kekecewaan dari Rama untuk dirinya.


"Permisi mbak." ucap asisten penjual bakso itu yang mampu membuyarkan tatapannya ke Rama. Sedikit kagok, karena Rama terus melihatnya.


"Terima kasih." ucap Anis kepada penjual bakso, setelah ia menghidangkan bakso dan minuman pesanan mereka.


Bergelagat rada aneh karena salah tingkah, membuat Sukma semakin curiga sama Icha. Ia semakin yakin, pasti tangan Rama berdarah karena ulah Icha.


"Cha." panggil Syiffa saat melihat Icha yang masih mengaduk aduk baksonya dengan tatapan kosong.


"Hah? Iyha? kenapa?"


"Kog gak makan? kenapa?"


Melirik depannya.


Sittth, Rama masih saja menatapnya tanpa berkedip. Bahkan, baksonya dibiarkan begitu saja.


"Em, makan kog. Hhe." langsung menuangkan saos secukupnya, sedikit kecap, karena memang ia tak suka yang manis-manis. Dan sambal tujuh sendok.


Icha suka pedas, tapi karena kemarin maag dan lambungnya kumat, jadi dia harus puasa makanan yang berbau pedas.


"Icha??" pekik Anggy yang membuat gendang telinga di sampingnya bisa rusak. Sontak, orang yang di sekitarnya langsung menutup telinganya, tak terkecuali Icha.


"Anggy...!" teriak Syiffa dan Anis bersamaan.


Membalikkan badan dengan masih menutup kedua telinganya.


"Woi, brisikk." teriak Syahril tak kalah kerasnya.


"Auk. Napa sih kalian?" Dion juga tak mau kalah.


"Cha, lu Kenapa sih?? Pengen bunuh diri?" tanya Anggy yang mendelik.


Yang diajak bicara hanya menampilkan wajah mode off atau lebih tepatnya tidak paham akan maksud bicaranya Anggy.


"Hah?" ucap polosnya.


"Ha? Lo masih nggak ngeh? pikiran Lo kemana?" kesal Anggy.


"Nggy. Kalau bicara tu yang jelas dong. Kita juga nggak paham apa yang lu maksud." sargas Syiffa.


"Iyha, Nggy. Ada apa sih?" timpal Anis.


"Hisshh. Kalian tuh yha benar-benar." geram Anggy.


"Tuh liat." seraya menunjuk kearah mangkuk Icha.


Lantas, mereka bertiga langsung menoleh kearah tersebut, tak terkecuali dengan Icha sendiri.


"Astaghfirullah." pekik Icha kaget.


"Allahuakbar." pekik Anis.


"Astaga." pekik Syiffa.


Itulah beberapa pekikan dari masing-masing sahabatnya secara bersamaan. Tapi tidak dengan Sukma. Ia hanya menutup mulutnya.


"Icha. Lo pikirin apa?" tanya Anis yang masih mode kaget.


"Hah?" menatap baksonya yang penuh dengan sambal lalu menatap satu persatu sahabatnya.


Mendelik, menelan ludahnya, lalu pura-pura nyengir.


"Hehe."


Haduh. Bodoh, bodoh, bodoh. Mengerutuki kebodohannya dengan memukul kecil dahinya.


"Auk Lo. Mikir Kak Rio?" tanya spontan Anggy yang sudah memakan baksonya.


Refleks, Sukma terbatuk-batuk.


"Uhuk-uhuk." meraih minumannya lalu meneguknya.


"Lu kenapa." tanya Syiffa tak suka. Mengernyitkan dahi, karena merasa heran.


"Ouh. Gak papa kog. Hhe." mengelap bibirnya dengan tisu.


"Em, kalau gitu gue duluan yha. Soalnya udah kenyang." langsung beranjak pergi.


"Hah? Napa tu orang?" tanya Anggy aneh.


Melihat Sukma pergi begitu saja, tak hanya membuat Icha penasaran, tapi juga Syiffa yang semakin curiga.


"Auk. Kebelet kali. Ya kali udah kenyang, orang baksonya masih separo." sargas Syiffa yang melirik mangkok bakso Sukma yang memang tinggal separuh.


"Udah-udah. Makan aja. Nggak usah ngurusin orang." ucap Anis yang dengan santainya menikmati baksonya.


"Ye, emang elu. Makan mulu yang dipikirin. Huu." ledek Anggy dan Syiffa.


"Bodo." jawab Anis cuek.


"Udah-udah. Lanjutin aja makannya. Gue mau pesen bakso lagi." menyingkirkan bakso kuah sambal tadi lalu beranjak pergi dan sedikit melirik orang yang di depannya.


Masih utuh. pikirnya.


Rama yang masih enggan memakan baksonya, langsung mendapat perhatian dari temannya.


"Lo gak makan??" tanya Syahril disela memakan baksonya.


Dion pun ikut melirik depannya.


Tak bergeming. Malah asik menatap ke depan, yang jelas melihat Icha menunggu pesanan baksonya lagi.


Syahril dan Dion sama-sama melihat arah pandang Rama lalu menatap satu sama lain, dan akhirnya melirik depannya lagi.


"Napa? nggak usah liat-liat. Cepet habisin tuh baksonya, langsung kita cabut." omelnya seraya meneguk es jeruknya sampai tandas.


Bersambung,