I'M Okey

I'M Okey
Apakah sebagai pertanda?



"Ok, jikalau benar itu Anda. Maka, bersiap-siaplah untuk berhadapan dengan saya." kembali dia mengulas senyum smirknya.


......................


Mengulas senyum saat motornya sudah berhenti, tapi Icha masih memeluk erat perutnya.


"Nggak mau turun?" selorohnya yang langsung membuat Icha membuka kedua matanya.


Yah selama perjalanan, Rio memang tidak memberi kesempatan Icha untuk protes perihal melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Itu yang membuat Icha memeluk erat perut Rio dengan memejamkan kedua matanya.


"Hah? Udah nyampai kak?" tanyanya polos dengan posisi meletakkan dagunya di bahu Rio dan tangan yang masih melingkar hangat di perut Rio.


"Udah dari tadi yank." seraya mengelus tangan Icha dengan lembut.


"Oooh." langsung turun dari motor.


"Wah." menatap takjub pemandangan yang ada dihadapannya.


Terlihat di depannya sebuah pemandangan hutan pinus dengan daun yang lebat dan terdapat beberapa area sport foto yang dibuat seindah mungkin.


"Suka?" seraya memasukkan kedua tangannya di saku celana.


Menganggukkan kepala, "Suka banget kak."


Merentangkan kedua tangan dan menghirup oksigen banyak-banyak, karena memang udaranya sangat sejuk, seperti di puncak.


"Mau masuk?"


Menoleh ke samping lalu menganggukan kepala.


"Wah, indah banget kak."


Sesampainya di dalam, Icha tidak bisa berhenti untuk berdecak kagum dan berkata-kata. Karena sumpah, pemandangannya sangat indah, menyejukkan hati, dan pikiran.


"Mau ke sana?" tunjuknya kearah rumah pohon.


"Ayo." dengan antusiasnya.


Ketika sudah berjalan dan hampir mendekati anak tangga,


"Eh." langkahnya mendadak terhenti, seperti teringat sesuatu.


"Kenapa yank?" tanyanya yang otomatis ikut berhenti.


Celingak-celinguk, "Kog nggak ada orang kak??" selidiknya.


Menaikkan satu alisnya tanpa menjawab.


"Kog sepi? mana yang lain??" mendelik seperti meminta jawaban. Tapi Rio hanya cuek, melanjutkan langkahnya pada rumah pohon. Perjalanan menaiki rumah pohon, Rio hanya menahan tawanya. Dan sesampainya di rumah pohon,


"Kakak!!" terdengar jelas teriakan Icha yang nyaring di bawah sana.


"Kog Icha ditinggal sih?? Ini gimana naiknya??" lengkingan keras Icha sangat bisa merusak telinga seseorang yang mendengarnya.


Diatas sana,


Rio yang sedang tertawa ketika mengingat ekspresi Icha di bawah tadi langsung berhenti dan auto menutup kedua telinganya.


"Apasih yank?" tanyanya yang melihat ke bawah.


"Igggg." menghentakkan kedua kakinya.


Menutup telinganya lagi.


"Kakak jahat!" ketusnya seraya melipat kedua tangannya di depan dada.


"Ha?? Jahat gimana coba?"


"Iggg, nggak peka. Dasar cowok!!"


"Ha? Gimana sih?" menggaruk belakang telinganya.


"Turun!" perintahnya dengan nada galak tapi manja.


"Ngapain??"


"Iggg, nggak peka juga. Pokoknya turun. Cepet!!"


Igggg, karena tidak mau gendang telinganya tambah sakit. Alhasil, Rio langsung menghampiri Icha yang masih berada di bawah sana.


"Kenapa sayank."


"Gendong." sambil merentangkan kedua tangannya.


"Ha?"


"Gendong keatas." menggerakkan dagunya ke rumah pohon.


"Igg, kalau nggak mau ya udah. Icha pergi nih."


"Hey, yha jangan dong yank. Kog pergi sih?" sambil mencekal lengan Icha sebelum melangkahkan kakinya.


"Yha udah, gendong." rengeknya manja. Kembali ia merentangkan kedua tangannya.


Karena tidak mau berdebat lebih lama dengan cewek yang cerewetnya minta ampun, yang sial itu pacarnya sendiri. Maka dari itu, Rio langsung menggendong Icha menuju rumah pohon.


Pada saat menaiki tangga rumah pohon, Icha langsung tersenyum menang.


"Hhhee. Maaciwww kakak. Emmuachh." dengan beraninya ia mencium pipi kiri Rio.


Membelalakkan matanya, karena tak disangka Icha akan menciumnya dulu.


"Yank."


"Hmmm."


"Jangan mancing-mancing. Nanti kakak cium lebih dari itu lho."


Plakkk.


Seketika Icha langsung memukul bahu belakang Rio.


"Ssshh, sakit yank." ringisnya.


"Habisnya, kakak nyebelin." mengerucutkan bibirnya.


"Eh, salah lagi."


"Eh, eh, eh." jerit mereka berdua karena Rio hampir terjatuh.


"Kakak!!!"


"Pegangan yang kuat yank dan jangan banyak gerak, nanti goyang lagi."


"Iyha, bawel."


"Akhhh, akhirnya." ucapnya ketika sudah sampai di rumah pohon.


Rumah pohonnya itu tidak seperti rumah pohon yang ada di film-film. Yang biasanya, tangganya ada di tengah dan bentuk dari rumahnya itu kecil. Ini berbeda. Jadi, rumah pohon yang dinaiki Rio dan Icha itu lumayan besar. Yha bisa muat sampai 3 mobil kalau dihitung.


Di dalam rumah tersebut, dibagi menjadi tiga buah ruangan, yang masing-masing ruangan memiliki design yang berbeda-beda. Entah apa maksudnya, tapi yang jelas itu sangat indah.


Untuk sampai di rumah pohon itu, harus melewati jembatan kayu yang terbuat dari kayu mahoni pilihan, agar kuat untuk menampung pengunjung. Panjangnya kira-kira sampai 15 meter dengan tinggi yha mungkin 5 meter. Di sepanjang lintasan jembatan, terdapat lampu flip flop yang sudah terpasang melilit pada pagar, yang nantinya akan dihidupkan saat sore sampai malam hari agar memberi kesan estetik tersendiri.


Saat melintas di jembatan, kita tidak akan bosan, karena saat berada diatasnya, kita bisa melihat sebuah cafe dan warung-warung makan yang memang tersedia di sana. Ada juga, sebuah taman kecil yang digunakan untuk menambah-nambah kesan estetik saja. Dan masih banyak lagi yang bisa memanjakan mata.


Seketika turun dari gendongan Rio, Icha langsung mendekat ke pagar, merentangkan kedua tangan dengan memejamkan matanya, dan menghirup udara segar sebanyak mungkin. Senyum sumringah terlihat jelas di bibirnya, menandakan dia sangat bahagia.


Rio yang melihatnya pun ikut bahagia. Segera ia melangkahkan kaki untuk menyusul sang pacar. Dilihatnya dari samping dengan kedua tangan sudah masuk kedalam saku celananya.


"Yank." masih asik menatap wajah imutnya.


"Hmmm." tidak bergeming dari posisinya.


Cantik. puji Rio tatkala ia membenahi anak rambutnya yang terbawa oleh angin.


Serasa ada tangan yang menyentuh wajahnya, Icha langsung membuka matanya dan mendapati Rio yang sedang menatapnya dalam.


Karena tatapan Rio yang tidak biasa, membuat Icha menjadi salah tingkah.


"Kenapa??" tahu kalau dia salah tingkah. Rio hanya mengetesnya saja.


"Ng--nggak. Nggak papa, hhhe." jawabnya kikuk seraya membenahi anak rambutnya yang diombang-ambingkan oleh angin.


Terdengar suara hembusan nafas kasar dari arah sampingnya.


"Kenapa kak?" menoleh, menatap heran padanya.


"Tempat ini adalah tempat di mana kakak menghabiskan waktu saat pikiran kakak sedang kacau." tuturnya dengan tatapan lurus yang kosong.


Mengernyit heran, "Jadi,.."


"Bukan." potongnya cepat.


Icha malah tambah bingung.


Tersenyum, "Kamu mau mengatakan kalau sekarang, pikiran kakak lagi kacau kan?" menoleh kearah Icha yang sedang menganggukkan kepalanya.


Menatap lurus depannya lagi, "Kakak cuma mau ngasih tau aja sama Icha, nggak ada maksud apa-apa. Mungkin, suatu saat nanti, kalau kakak lagi ada masalah dan Icha nggak bisa hubungi kakak, Icha langsung datang ke sini saja, yha. Pintu rumah pohon ini, akan selalu terbuka untuk Icha."


menoleh lagi ke sampingnya dan spontan langsung mencium kening pacarnya sangat lama. Seperti telah memberikan cinta sepenuhnya.


Bersambung,