I'M Okey

I'M Okey
Romantis yang terakhir kalinya



Menoleh lagi ke sampingnya dan spontan langsung mencium kening pacarnya sangat lama. Seperti telah memberikan cinta sepenuhnya.


Icha yang semula kaget, langsung bisa mengendalikan dirinya dengan memejamkan mata dan memegang erat Hoodie samping Rio. Dan,


"Janji jangan pernah tinggalkan Kakak yha, Cha." ucapnya yang spontan memeluk erat Icha. Seakan tidak membiarkan Icha pergi dari sisinya, meskipun hanya sejengkal.


Terdengar sebuah isakan dan jatuhnya lelehan air mata di pundaknya.


"Kakak." mencoba melepas pelukan, tapi tidak bisa karena ditahan oleh Rio, malah semakin erat pelukannya.


"Plisss, biarin seperti ini dulu, Cha." semakin deras air matanya yang keluar dan semakin erat pula ia memeluknya.


Setelah dirasa sudah cukup tenang hati dan pikirannya, Rio pun langsung melepas pelukan, tapi beralih menangkup kedua pipi Icha.


"Yank." menatap dalam kedua manik hitam Icha.


"Kakak." jawab Icha dengan tangan yang memegang tangan Rio yang sedang membelai pipinya dengan ibu jari.


"Icha mau janji sama kakak?" tanyanya serius.


Menatap juga kedua manik Rio yang masih merah dan terdapat sisa air mata. Ingin rasanya ia menghapus air mata itu, tapi entah kenapa ia tidak bisa.


"Apa?" tanyanya polos.


"Janji, kalau Icha akan selalu ada di samping kakak, apapun yang terjadi nanti."


"Nanti?" mengerutkan dahi karena jujur ia bingung.


Menghela nafas dan membuangnya perlahan, lalu dengan pelan tapi pasti, Rio menganggukkan kepalanya.


"Nanti jikalau ada suatu masalah yang terjadi sama kakak, tolong selalu ada di samping kakak, walau kakak tidak tahu kita akan selalu bersama apa tidak."


"Apa maksud kakak? Kenapa bicara seperti itu?" tanyanya yang mungkin sudah maksud apa kata Rio.


"Cha."


"Tidak. Jelaskan dulu apa maksud perkataan kakak tadi? Icha nggak mau pisah sama kakak. Icha nggak mau." menaikkan nada suaranya lebih tinggi disertai dengan gelengan kepala sebagai tanda tidak persetujuannya.


"Huhuhu." tumpahlah air matanya yang sedari tadi memang sudah terbendung.


"Husst. Jangan nangis." menghapus air asinnya Icha dengan sapuan ibu jari.


"Kita akan selalu bersama dan Icha akan selalu ada di samping kakak, apapun yang terjadi. Jadi Icha mohon, jangan berbicara seperti itu lagi, kak." melepaskan tangan Rio dari wajahnya lalu menghambur ke pelukan hangat seseorang yang sudah mau menerima dirinya tanpa ada apanya.


Balasan hangat Rio, malah menambah derai air mata Icha semakin deras.


"Hussttt, udah yank. Maafin kakak, malah buat kamu jadi nangis kaya gini." tenangnya seraya mengelus punggung belakang Icha.


Sebenarnya, Rio rasanya ingin menangis juga saat ini. Tapi karena tidak mau menambah Icha sedih, dia hanya bisa menahannya dan akan menghapus air matanya sendiri jika tiba-tiba turun.


"Kenapa?"


Melonggarkan pelukannya lalu mendongakkan kepala agar terlihat wajah Rio.


"Kakak jangan berbicara seperti itu lagi. Icha nggak suka." ujarnya yang sangat mirip dengan anak kecil kalau mau minta sesuatu.


"Tanpa kakak minta, Icha akan selalu ada di samping kog." tambahnya yang membuat Rio sedikit mengulas senyum.


Tangan kirinya menyapu halus di pipi mulus Icha dan tangan kanannya sibuk menyembunyikan anak rambut yang basah akibat tangisan ke belakang telinga.


"Janji?"


Menganggukan kepala sebagai jawaban.


"Terima kasih pacarnya kakak." tersenyum dan spontan memeluk Icha lagi. Lalu dengan segera ia menyatukan dahi, hingga bisa merasakan deru nafas masing-masing.


Tersenyum saat kedua manik mereka bertemu.


Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang sedari tadi melihat aktivitas mereka dari awal mula Icha yang bermanja ingin digendong sampai sekarang.


"Gue janji bang, gue akan usaha bujuk papah sama mamah. Karena gue lihat cinta di mata Lo dan cewe Lo. Gue yakin, dia yang sudah buat Lo berubah dan melupakan gadis sialan itu. Lo harus bahagia bang. Gue akan dukung hubungan kalian. Dan gue akan jadi garda terdepan jika mamah dan papah menentangnya." ucapnya tegas dengan mengepalkan tangannya kuat.


Setelah itu, Grafa langsung bergegas keluar menaiki motor sportnya yang telah lama tak ia pakai.


Entah kemana ia akan pergi, yang jelas ia melajukannya dengan sangat kencang.


Grafa yang pikirannya dari semalam sedang kalut, berinisiatif datang ke rumah pohon untuk merelekskan otaknya. Pikirannya penuh pada keselamatan Indah. Bagaimana kabarnya? Apa dia sudah lepas landas dan sedang terbang? karena nomor yang sudah berpuluhan kali dipanggil, sama sekali tak ada jawaban sampai sekarang.


Menerka-nerka, hanya membuat Grafa stress. Sudah bertanya pada Siska dan Laura, sahabat Indah, tapi nihil, mereka malah tidak mengetahui perihal perginya Indah ke luar negeri. Ingin rasanya ia meminta tolong pada Iqbal dan Indro tapi ia yakin, mereka juga tidak tahu.


Terus, kemana lagi ia akan mencarinya?


"Arghhhh."


Bugghh. Bugh. Memukul keras dinding kamarnya.


"Gue bisa gila gara-gara Lo Ndah. Gue nggak bisa jauh dari Lo. Emang brengs*k bokap Lo. Gue harus kemana lagi cari Lo, Ndah??"


"Argghhh." frustasinya yang langsung menyambar kunci motor sport merahnya di dalam laci. Motor kesayangan yang sudah lama tidak dia pakai.


Bergegas keluar dari kamar dan menuruni anak tangga lalu beralih ke garasi. Masuk kedalam sebuah ruangan rahasia yang terdapat di dalamnya.


Breeeemmmmm.


Bersambung,