I'M Okey

I'M Okey
Lagi



Bbbuughhh


.


.


.


.


.


"Icha." teriak Sukma yang langsung mendekati Icha. Seketika semua murid terjingkat kaget dan melihat ke arah sumber teriakan lalu mengerumuni. Yha, Icha yang sudah tidak bisa menahan tubuhnya pun langsung jatuh pingsan dengan kakinya yang sudah tertimpa kursi duduknya.


"Icha." Anggy yang sedang menulis di depan pun sontak menjatuhkan buku yang dibawa dan langsung menutup mulutnya karena kaget lalu menghampiri Icha.


Sukma, Anis, dan Syifa pun langsung menyingkirkan kursi dari atas kaki Icha.


"Awas, minggir-minggir." ucap Wahyu yang langsung datang dan sesegera langsung membopong tubuh Icha.


"Kalian tetap di kelas, jangan gaduh. Gue bawa Icha ke UKS dulu." perintahnya sembari membopong tubuh Icha.


"Andra, loe ambil alih dulu urusan kelas. Bikin kondusif dulu." perintah Wahyu yang langsung berlari kecil menuju UKS.


"Iyha, loe tenang aja." jawab Andra yang memang wakil ketua kelas.


"Sudah-sudah. Kembali ke tempat duduk kalian masing-masing. Nggy, lho lanjutin nulisnya."


Semua murid pun langsung menuju tempat duduknya.


"Gue takut Nis," ucap Sukma dengan gemetar.


"Iyha, gue juga. Udah lho tenang aja ya, kan tadi Wahyu udah bawa Icha ke UKS." jawab Anis sembari menenangkan Sukma.


Keempat orang itupun langsung saling berpeluk menguatkan.


.......


Kelas X1 IPA 2,


"Ighh, apaan sih, tuh kelas sebelah berisik banget." ucap Indah tak suka.


"Auk, gaduh banget." timpal Siska.


"Jamkos kali." tambah Laura.


Yah, Indah and the geng's yang sedang siap-siap mau jam olahraga.


Wahyu yang sudah tiba di UKS pun langsung disambut penjaga UKS dan sesegera membaringkan tubuh Icha di kasur rawat.


"Kak, kak, kak. Cepet tolongin teman saya pingsan." ucap Wahyu yang khawatir.


"Iyha, kamu tenang dulu." jawab Rina kakak kelas yang memang tugas menjaga UKS.


15 menit kemudian,


"Emmm, kamu Wahyu kan?? anak kelas X1 IPA 1??" tanya Rina menghampiri Wahyu yang duduk tak jauh dari Icha.


"Iyha, kak." jawab Wahyu.


"Itu murid yang kena hukuman karena terlambat kan?" tanyanya lagi menunjuk Icha yang terbaring lemah dengan matanya.


"Iyha, kak."


"Mungkin dia belum sarapan. Jadi, dia kelelahan." ucapnya lalu ikut terduduk di samping Wahyu.


"Ouhhh, emmm" menggaruk tengkuknya yang tak gatal, karena bingung mau jawab apa.


"Kamu tenang aja. Sebentar lagi dia bakal siuman." ucapnya menenangkan.


"Emmm, iyha kak. Kalau gitu, aku kembali ke kelas yha. Nanti aku kesini lagi." katanya beranjak berdiri.


"Iyha, gak papa biar dia gue yang jagain."


"Makasih kak." ucapnya lalu meninggalkan UKS.


.....


Jalan menuju kelas


"Wahyu, kenapa kamu diluar??" tanya Pak Hakim yang tak sengaja bertemu dengan Wahyu.


"Emmm, habis nganter teman ke UKS pak, soalnya tadi pingsan di kelas." jawab Wahyu sedikit nyengir.


Pasti Icha. batin Pak Hakim.


"Ya udah segera kembali ke kelas. Oh ya, jangan lupa tugas saya dikumpulkan tepat waktu." titahnya datar dan dingin.


"Baik pak permisi." jawab Wahyu langsung menuju kelas.


Kelas X1 IPS 1


"Ehemmm... selamat pagi anak-anak." ucap Pak Hakim yang mengejutkan seisi ruang.


"Pagi pak." jawab semua murid serempak.


"Saya hari ini tidak ada jam untuk mengajar di kelas kalian."


"Yeeeeahhh..." gemuruh semua murid.


"Jam kos woyy." teriak Bima dengan gembiranya. Bima yang memang bermulut ceplas-ceplos itu langsung mengegas suaranya.


"Jangan senang dulu, ada tugas yang sudah menanti." timpal pak Hakim sinis.


"Yah,,,," semua seisi ruang langsung mendengus kesal.


Pak Hakim hanya tersenyum sinis.


"Untuk ketua kelas bisa maju ke depan."


Grafa yang merasa dirinya terpanggil, yha langsung maju aja


"Ini," menyerahkan lembaran tugas, "dikumpulkan kalau jam belajar saya sudah selesai." imbuhnya


"Iyha, pak." jawab Grafa seraya mengambil tugas dan langsung duduk ke tempatnya.


"Owh ya, kelas kalian ada ketambahan siswa baru." kata Pak Hakim seraya memecah keheningan kelas.


Seisi kelaspun, hanya saling pandang dengan heran.


"Masuk." ucapnya dingin.


Sontak semua murid langsung melihat ke arah pintu dan menemui seorang siswa laki-laki memasuki kelas dengan langkah tegak tapi sedikit grogi.


"Perkenalkan dirimu." titah Pak Hakim setelah anak itu berdiri tepat di depan kelas.


"Emmm, perkenalkan nama saya Muhammad Arga Alamsyah. Biasa dipanggil Arga. Saya murid pindahan dari Bandung. Semoga bisa berteman baik dengan kalian semua."


"Baik, silahkan kamu duduk di samping Indro." ucap Pak Hakim seraya menunjuk bangku kosong samping Indro.


Arga pun langsung menuju bangku yang dimaksud dan langsung mendudukinya.


"Hai ganteng, nanti boleh dong minta nomor wa nya." bisik Ela yang memang duduk di samping Arga. Arga hanya memberi senyum tipisnya.


"Ehemm, kalau begitu saya keluar dulu. Jangan lupa tugasnya dikerjakan."


"Baik pak." jawab murid serempak.


Pak Hakim pun langsung meninggalkan kelas dan menuju keruangannya.


******


Kelas X1 IPA 1


Semua murid mengerjakan tugasnya dengan seksama, ada yang membuat kelompok, ada juga yang dikerjakan sendiri tanpa kegaduhan. Tak terasa 50 menit berlalu, suara bel tanda pergantian jam pembelajaran pun berbunyi,


"Ayo gaes, cepat-cepat." ucap Wahyu yang sudah berdiri seraya mengambil lembar jawaban anak kelasnya.


"Udah dong." jawab beberapa murid.


Setelah terkumpul semua, Wahyu langsung bergegas keruangan pak Hakim untuk menyerahkan lembar jawaban. Tapi, suara seorang menghentikan langkahnya tepat di pintu kelas.


"Eh yu, gimana keadaannya si Icha? udah sadar belum dia?" tanya Kevin dan Ilham sembari menepuk pundak Wahyu.


"Emm, nggak tahu. Nanti deh gue jengukin sekalian gue ngumpulin ni tugas," jawab Wahyu yang sudah membawa lembar jawaban.


"Ingat lho, jangan baper dengan dia. Loe tau kan kalau Icha udah punya Kak Rio. Alumni murid sini yang kegantengannya tiada tara, sekaligus anak pemilik sekolah ini." sahut Ilham.


"Ishhh apaaan sih loe." celetuk Kevin yang menampar pundaknya.


"Hmmm." jawab Wahyu yang langsung meninggalkan dua sejoli itu.


"Edann loe ya, berani-beraninya loe ngomong gitu sama si Wahyu." ucap Kevin.


"Lha napa emang?" seraya mengangkat kedua alisnya, "Gue kan bener, sebelum si Wahyu sakit hati terlalu dalam." imbuh Ilham.


"Yha iya, loe tahu sendirikan kalau si Wahyu itu kaya apa?"


"Dia itu rela ngelakuin apa saja demi keinginannya terwujud." sanggah Kevin.


"Ya makanya itu, gue gak mau dia terlalu sakit hati saat dia ditolak sama si Icha." jelas Ilham


"Auk ah, pusing gue." kesal Kevin seraya masuk kelas meninggalkan Ilham.


"Haisssnh." batin Ilham dengan mengacak rambutnya.


.........


"Assalamualaikum." tok tok tok tok, terdengar suara ketukan pintu, Pak Hakim langsung membuka pintu.


Ceklek. suara pintu terbuka.


"Oh,. taruh saja di meja saya." ucap Pak Hakim yang sudah tahu maksud kedatangan Wahyu.


"Iyha pak." Wahyu langsung masuk keruangan dan menaruh lembar jawaban di atas meja.


"Kalau begitu, saya pamit dulu pak." izin Wahyu sembari membungkukkan tubuhnya.


"Hmmm." jawab dingin Pak Hakim dengan tangan yang sudah berada di saku celananya.


Setelah Wahyu pergi,


"Hmmm, menarik." ucapnya seraya menunjukkan senyum aneh. Berjalan masuk dan menutup pintu.


**********


Kelas X1 IPS 1


Setelah mendengar jam pergantian pelajaran, semua murid harus segera menyelesaikan tugasnya dari Pak Hakim, Kalau terlambat, ya harus terima tugas tambahan lagi.


20 menit berlalu,


"Mau kemana loe?" tanya Iqbal yang melihat Grafa menyimpan bukunya kedalam tas dan beranjak dari duduknya.


"Lapangan." jawabnya singkat.


"Ishh, apa loe lupa, ini kan jam olahraga ceweknya." jelas Indro.


"Emang, loe sudah selesai ngerjain tugasnya?" tanya Iqbal lagi dengan menatap Grafa yang berdiri. Yang ditanya hanya menggerakkan bahunya dengan tangan yang sudah berada di saku celana.


"Ishhh." ucap Indro seraya memukul kepala Iqbal dengan buku.


"Auw, apa sih." mengelus kepalanya.


"Loe lupa, kalau dia ranking 1 bertahan di sekolah ini. Ya pasti udah selesai lah, otaknya encer. Gak kaya otak loe, putus-putus, sinyal E." celetuk Indro yang melirik Grafa sekilas.


Grafa hanya tersenyum tipis.


"Gue Kembali 30 menit lagi. Pastikan jangan ada yang membuat kegaduhan." perintahnya dingin lalu pergi.


"Auk tuh anak. Dinginnya minta ampun," ucap Iqbal.


"Udah biarin aja. Mana jawaban loe, gue mau nyocokkin, sama nggak jawaban Lo sama gue." Indro.


"Ihh, nggak mau. Bilang aja mau nyontek kan loe." jawab Iqbal seraya menutup jawabannya.


Arga yang sedari tadi melihat adegan penuh drama didepannya hanya memperhatikan.


*********


Sorak gemuruh murid dari berbagai kelas di lapangan yang sedang melakukan berbagai macam olahraga, menyita perhatian sang pemilik mata hitam. matanya yang terpanah pada seseorang yang sedang bermain voli berposisi tosser itu mengembangkan senyumnya. Melihat pacarnya yang memang ahli bermain voli itu memiliki kebanggaan sendiri. Tak hanya cantik, Indah juga pintar dalam pelajaran baik olahraga, materi maupun praktik. Berbadan tinggi semampai dan rambut lurus membuat murid laki-laki di sekolah ini menaruh hati padanya. Memang tak mudah untuk mendapatkan hati seorang Indah Sofiana, tapi Grafa bersyukur sudah memilikinya terlebih dulu. Padahal, Grafa juga murid tampan bak pangeran dari kahyangan, yang tak sedikit murid perempuan mengaguminya. memang benar-benar pasangan yang serasi.


Melihat olahraga voli yang hampir selesai, Grafa berniat membeli minuman ke kantin.


"Ehemmm." suara deheman pelan yang menyita anak-anak di sekitarnya.


pangeran kahyangan.


ganteng banget


cooll woiii


pingsan gua


haii ganteng


Itulah mungkin beberapa ungkapan murid perempuan yang melihat Grafa berjalan dengan tegaknya menghampiri Indah yang memang sudah selesai bermain voli.


"Sayang." ucap Indah seraya mengayunkan lengan Grafa dengan manjanya.


"Makasih." jawabnya setelah Grafa memberi air dingin dan membuka untuknya.


"Uhhh,,, soooo sweeett." kata Laura sembari menampilkan wajah imutnya yang diangguki Siska. Tak hanya mereka berdua yang terpana dengan adegan romantis mereka. Tapi, semua murid yang melihatnya pun dibuat ternganga dan hanya bisa menelan ludahnya kasar.


"Emm seger." ucap Indah setelah meminum air nya. Grafa hanya tersenyum tipis dan mengacak rambut Indah.


"Kenapa?" tanya Grafa pada Indah seraya mengangkat tangannya.


"Emm, gak papa kog sayang. Tadi sempat jatuh aja waktu voli." jawabnya dengan nyengir dan berusaha menyembunyikan tangannya yang terluka. Grafa mengerutkan keningnya.


.


.


Bersambung