I'M Okey

I'M Okey
Ketulusan



"Ehemm." berdehem untuk mengurangi groginya.


"Pagi ini, Hari Selasa, tanggal 4 Januari 2022. Saya, Grafanda Sandi Abraham, ingin mengumumkan bahwa, perempuan di samping saya adalah kekasih saya." bicaranya tegas. Indah hanya menatap Grafa heran,


apa maksudnya?


mungkin batinnya begitu


Semua murid yang mendengarnya hanya diam seribu bahasa. Entah mengapa jikalau Grafa berbicara, seakan tenggorokan mereka tercekat untuk bicara, tak terkecuali Indah.


"Mungkin sebagian murid di sini, sudah ada yang tahu. Untuk itu, untuk kalian yang belum tahu, hari ini saya akan memberi tahu sekaligus menekankan pada kalian semua." menuding semua murid yang berada di situ.


"Bahwa, jika ada seseorang diantara kalian, ataupun keluarga kalian yang berani mengusik dan mengancam, atau bahkan membahayakan nyawa kekasih saya. Maka, bisa saya pastikan, jika orang tersebut akan menerima akibatnya." Ucapnya dengan suara yang penuh keberanian dan kelantangan.


Indah hanya diam. Menatap seorang laki-laki yang tengah berbicara itu sambil menggenggam erat tangannya. Hatinya seketika hancur. Serasa diremas-remas dan ditusuk ribuan duri. Mengapa ia baik sekali? mengapa ia tidak mengambil pusing dengan ucapannya di mobil tadi? mengapa ia mudah sekali untuk langsung memaafkan atau bahkan melupakan perkataannya tadi.


Sungguh, hati yang jahat. Sebegitu teganya,ia menyakiti hati laki-laki yang baik hati itu


flashback on,


Setelah keduanya masuk kedalam mobil, hanya suara mesin mobil berjalan yang menemani mereka.


Menggaruk tengkuknya, memberanikan diri untuk memulai percakapan. "Emmm, Say,,," belum selesai bicara, suaranya terlebih dulu dipotong Grafa,


"Kenapa?" tanyanya dingin tanpa melihat yang diajak bicara.


Sontak, Indah bingung. Apa maksudnya?


"Emmmm " menggigit bibir bawahnya dan tertunduk. Grafa hanya melirik sekilas lalu fokus kembali mengemudi.


"Aku berantem sama mamah." suaranya melemah dan masih tertunduk.


"Dia bilang," Menarik nafas dalam, "untuk segera memutuskan hubungan denganmu."


Ciiit,


Menginjak rem dengan tiba-tiba, yang mengakibatkan Indah terdorong kedepan, dan dahinya terbentur dashboard mobil.


"Aww." pekiknya dengan rintihan.


Seketika itu, Grafa melihat Indah dengan sorot mata yang tajam. Seperti mengintimidasi untuk dimintai penjelasan.


Indah pun menoleh Grafa. Sekilas, kedua mata mereka bertemu, lalu dengan cepat, Indah membuang muka untuk melihat kedepan masih dengan mengelus dahinya yang terbentur tadi.


"Aku yakin itu permintaan papah. Karena, papah tidak ikut mamah pulang kesini." menatap sekilas Grafa, yang ternyata masih setia menatapnya sedari tadi.


"Aku juga yakin. Kalau ada masalah diantara mereka, dan aku yang jadi korbannya." lanjutnya dengan menatap kembali kedepan.


Terdengar Grafa membuang nafas kasar. "Mamah juga mengatakan, kalau akan ada bahaya yang menimpamu atau orang terdekatmu jika kita masih berhubungan." ucapnya lirih dengan sedikit menahan tangisnya.


Grafa yang mendengar penjelasan itupun sontak terkejut dan melotot. Tapi mungkin Indah tidak melihatnya, karena ia masih tertunduk.


"Aku nggak tahu harus gimana Graf." ucapnya sedikit meninggi dan menoleh ke Grafa.. Tanpa permisi, air matanya mengalir begitu derasnya.


"Aku nggak mau jika terjadi apa-apa denganmu atau keluargamu. Tapi aku juga nggak mau kehilangan kamu Graf. Hu hu hu." tangisnya pecah, tatkala ia mengingat bagaimana Papahnya jikalau sudah bertindak. Kejam dan tidak akan mengasihi lawan-lawannya.


Segera Grafa menarik tubuh kekasihnya itu kedalam pelukannya. Menenangkan dan mengelus lembut punggung Indah.


"Husst.. husst.. Udah-udah. Berhenti nangisnya. Maaf jika sudah salah paham sama kamu." merenggangkan pelukannya lalu mengusap air mata yang masih membasahi pipi putih itu.


"Sekarang kita ke sekolah yha." menatap lekat mata hitam itu lalu mencium kening bekas benturan dashboard. Lama mencium kening itu, lalu melepaskan dan kembali ke posisi semula.


"Setelah sampai sekolahan, nanti langsung ke UKS. Mengobati luka dikeningmu itu." Indah hanya mengangguk pelan dan mobil Grafa melaju menuju sekolah.


flashback off,


Diantara ribuan murid yang berada di sana. Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata di lantai dua, yang menatap mereka dengan raut wajah yang kecewa. Indro yang melihat sahabatnya itu, hanya bisa diam. Karena, ia juga bingung. Dia berada di tengah-tengah sahabatnya yang mencintai perempuan yang sama.


"Gue masuk duluan." ucapnya menepuk bahu Indro lalu melenggang pergi kedalam kelas.


"Ah." Seperti gusar memikirkan sahabatnya yang satu ini. Sangat pandai dalam menyembunyikan perasaannya.


******


Kelas IPA 1,


Di depan kelas,


"Gila tu orang. Romantis banget." ucap Anis melongo.


"Beruntung banget tu si Indah." ucap Anggy.


"Cep cep cep. Emang bener dah tu anak. Bikin ngiri satu sekolahan." kini giliran Ilham dengan kepala yang digeleng-gelengkan.


"Makanya cari pacar." timpal Kevin yang segera ditonyor oleh Ilham.


"Lu tahu, kalau gua suka sama yayang Anggy. Tapi dia malah suka ma tu cowo." ucapnya seraya mencebikkan bibirnya.


Anggy yang merasa disindir pun, melotot tajam kearah Ilham. Mentonyor kepalanya lalu melenggang masuk kedalam kelas.


"Bmmpp.. hhhhhha.." Mereka yang melihatnya hanya tertawa.


"Emang enak tuh. Dapat tonyoran dari yayang Anggy?" Ketus Kevin. Ia juga ikut masuk kedalam kelas.


"Sakit tau." Lirihnya seraya mengelus kepalanya yang bekas tonyoran.


Akhirnya, mereka pun masuk kedalam kelas meninggalkan beberapa murid yang masih setia melihat adegan itu.


Ketika sedang menulis, Icha mendapati Anggy yang masuk kelas dengan raut wajah yang sebal dan langsung duduk menghempaskan pa****nya begitu saja. Entah apa yang terjadi diluar?


Ia pun segera duduk di samping Anggy, yang diikuti Kevin, Ilham, Syiffa, dan Anis. Wahyu? Ia tadi pergi izin keruangan Pak Hakim.


"Kenapa." tanya lembut Icha.


Tak menjawab, ia hanya melirik Icha sekilas lalu menggelengkan kepalanya. Icha hanya tersenyum, saat mendapati kelakuan Anggy yang begitu ketika sedang galau.


"Bete tuh dia." Jawab Sukma tiba-tiba yang langsung ikut bergabung dengan mereka.


Sontak, semua terkejut. Mereka pikir, ia tidak masuk atau mungkin dia dihukum karena terlambat.


"Baru masuk? kog nggak dihukum?" cecaran pertanyaan yang dilontarkan Kevin.


Ah iyha, Kevin memang sedikit tidak menyukai Sukma. Karena ia merasa, ada sesuatu yang ditutupi oleh Sukma dari sahabatnya. Dan itu, seperti hal negatif yang nantinya akan merugikan sekelilingnya.


Tak menjawab pertanyaannya. Sukma memilih menunjukkan video aksi Grafa waktu di lapangan tadi.


Icha yang melihatnya sontak kaget. Karena memang ia tidak ikut melihat.


"Loe video?" tanya Icha.


"Iyha lah. Buat kenangan . hhhe " Mengangguk.


Anggy yang melihatnya hanya jengah dan memilih untuk meletakkan kepalanya ke meja dan memejamkan matanya sebentar.


"Udahlah Ma. Gak kasihan apa sama Anggy yang lagi patah hati." Kata bijak Anis seraya mengelus rambut sebahu yang sedikit coklat itu.


"Iyha.-iyha." Dengan malas, Sukma menaruh ponselnya kedalam tas lagi.


Kevin yang jengah melihat drama Sukma memilih duduk tenang di bangkunya.


"Cha, Wahyu kemana?" tanya Ilham.


"Ke ruangannya Pak Hakim." jawabnya seraya berdiri lalu pindah ke bangkunya.


"Ooo."


Bersambung,


Em, kalian paham nggak yha jalan cerita ku??


Komen untuk saran dan masukannya yha🤗