
"Aaaaa." Teriaknya sedikit keras karena saking terkejutnya. Seketika, tangan yang menyeret Icha langsung menutup telinganya karena suara melengkingnya.
"Huussttt." Menutup mulutnya dengan tangan.
"Berisik tau." Akhirnya berhenti juga.
"Ihh, Lo. Ngapain Lo kesini?? Ini kan toilet wanita." Suara yang sedikit meninggi.
"Oh, gue tau. Jangan-jangan Lo mau ngintip yha?" Mendelik lalu menuding wajah yang ada di depannya.
"Iyha kan??" Tegasnya lagi.
" Eh-eh, sembarangan kalo ngomong." Seraya menurunkan tangan yang menudingnya. Icha hanya mendengus kesal.
"Terus, mau apa Lo." Mengalihkan pandangan lalu melipat tangannya di dada.
"Nih. Nyampe in amanat." Menyerahkan sebuah seragam putih.
Menatap yang ditawarkan lalu menyepitkan mata.
"Dari Rama." Seakan tahu apa maksud dari tatapan Icha.
"Terus?" Masih asik melipat tangan di dadanya.
"Nabrak." Ketusnya.
Memutar bola malas, "Ya udah." Jawabnya santai.
"Eh, mau kemana??" Mencekal tangan, saat Icha mau keluar.
"Balik ke kelas lah." Menghentikan langkahnya dengan malas.
"Eh, ganti dulu tuh seragam Lo."
"Ogah."
"Ya udah, terserah lo aja. Gue cuma mau ngingetin, tuh baju Lo masih basah kuyup kayak gitu, mau masuk kelas? Lo mau jadi bahan dasar dosa para buaya-buaya di sekolah ini?"
Menimbang perkataan Syahril, bener juga tuh anak. Batinnya.
"Hishh, ya udah deh." Membalikkan badan.
"Ini kan juga gara-gara kalian gue jadi basah kuyup kek gini." Mengambil kasar seragam putih dari tangan Syahril. Lalu masuk ke dalam toilet.
"Yha maap. Kan gue ikutan." Katanya saat Icha mau masuk ke toilet.
"Sama aja." Ketusnya seraya menutup pintu dengan kasar.
Kalau bukan karena bocah kampret tu, mana gue mau Cha. Beruntung banget Lo direbutin banyak cowok tamvan-tamvan nan baik. Desusnya dalam hati.
Tanpa mereka sadari, di luar toilet wanita, ada sepasang mata yang mendengarkan semua obrolan mereka. Senyum kemenangan memenuhi wajahnya. Seakan, telah meluluhkan sebuah es yang sulit untuk cair.
Sedikit demi sedikit, Cha. Gue yakin, pasti bisa dapetin hati Lo lagi. Ucapnya mantap dalam hati.
Menyugar rambutnya kasar ketika keluar dari toilet.
"Gimana? Diterima kan?" Tanya Rama yang baru saja keluar dari toilet.
"Ishh Lo. ngagetin aja." Menepuk lengan Rama.
"Idih. Kaya cabe-cabean aja lu. Gitu aja kaget."
Hanya mendengus kasar saat jawabannya benar. Hhhh.
Iyha, ternyata, Rama yang menguping tadi.
duh ram-ram.
"Iyha."
"Lagian Lo, siapa juga yang suruh nyiram tu anak. Ngebully, tapi ujung-ujungnya dikasihani lagi." Ketusnya sebal.
"Terserah gue lah." Jawabnya santai.
"Herman gue sama Lo. Lo sendiri yang mutusin, tapi Lo sendiri yang kecewa. Aneh."
Mentonyor kepalanya.
"Sakit anjirr." Makanya tuh mulut dijaga.
"Gue akui. Gue salah. Waktu iku gue bener-bener tertipu sama perkataan manisnya Intan." Ada seonggok rasa sakit dalam hati ketika ia mengingat kejadian beberapa bulan lalu.
Flashback on,
Beberapa bulan lalu. Saat di sekolah mengadakan acara PenSi untuk merayakan atas kemenangan anak Bantara dalam mengikuti sederet lomba yang mereka ikuti.
Malam hari, tepat semua murid berada di lapangan sekolah untuk menikmati alunan musik yang dimainkan anak band.
"Ram-ram, tunggu ram." Mencekal tangan yang hendak pergi.
"Ini nggak kaya yang Lo lihat tadi. Gue dijebak." Tangisnya tersedu-sedu dengan mencoba menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya.
"Lepasin." Menghempas kasar lengannya, sedetik kemudian, tangan Icha sudah terhempas begitu saja.
"Gue bisa jelasin semuanya Ram. Tolong dengerin gue." Mencoba untuk meraih lengan Rama lagi. Tapi, ia segera menghindar.
"Ram, please. Gue dijebak Ram." Tangisnya pecah seketika.
Rama terlihat terkejut, tetapi seketika.
"Plak." Sebuah tamparan keras yang mendarat di pipi mulusnya.
"Awww " Memegangi pipi bekas tamparan dengan merintis kesakitan. Panas, perih, itulah yang ia rasakan di pipi kirinya.
"Ram." Panggilnya lirih.
Rama yang masih tersulut emosi, ingin menampar pipinya yang lain. Akan tetapi, ada sebuah tangan yang menghentikannya.
"Brengsek. Beraninya sama cewek Lo."
Brugghh
Rama yang tak siap menahan dirinya, langsung terhuyung ke lantai.
Memegangi sudut bibir yang sedikit berdarah. Tersenyum sinis.
"Cih. Tau apa Lo tentang wanita murahan seperti dia." Mencoba berdiri dengan senyum mengejeknya.
Ingin melayangkan tinjuan lagi, tapi ditahan oleh Icha.
"Udah kak. Gak papa." Ucapnya lembut.
"Suatu saat, Lo pasti menyesal." Gumamnya tegas
"Gak bakal. Buat apa gue nyesali cewek murahan seperti dia." Menuding wajah Icha.
Icha yang masih menangis, seakan pasrah akan perkataan yang akan terlontar dari bibir Rama. Menunduk, menahan tangisnya. Sesekali mengusapnya.
"Sekarang, kita putus "
Spontan mendongak wajah pria yang amat ia cintai itu.
Wajahnya memelas, seakan tak terima dengan keputusan yang diambil oleh laki-laki berambut hitam itu.
Setelah mengatakan putus, ia langsung bergegas pergi meninggalkan Icha dan Rio.
Seorang wanita tersenyum puas di balik tembok yang berada di belakang mereka.
Flashback off,
Deg,
Mendengar semua obrolan mereka, seketika badannya lemas. Tapi mencoba untuk menguatkan hatinya. Semua sudah masa lalu. Kubur hidup-hidup dalam tanah, agar semuanya hilang dalam ingatan.
Menyeka air mata yang tiba-tiba muncul, lalu beranjak keluar.
Ternyata, mereka berdua masih asik berbicara.
Saat melihat Icha keluar, Rama benar-benar ingin menarik tubuh kecil itu kedalam dekapannya.
Ada rasa hangat dan rindu yang tiba-tiba muncul. Sentuhan-sentuhan maupun perilaku manis yang ia dapat, akan selalu ia ingat.
Melihat mata yang sedikit berair, menandakan wanita itu baru menangis kan? Karena dibully?? atau dia mendengar semua obrolannya?
"Permisi." Ucapnya sedikit membungkuk. Dengan tanpa sengaja membuyarkan Rama yang tengah tenggelam dalam pikirannya.
"Em, Cha."
Berhenti tanpa menoleh yang memanggilnya.
"Sorry, gue tadi cuma iseng doang." Ucapnya getir, seakan takut kalau Icha membencinya lagi.
Entahlah, pertolongan Allah memang tidak pernah salah. Di saat yang tepat, saat tak ingin mendengar atau melihat dirinya, tetiba Wahyu datang memanggilnya.
"Icha " Panggilnya sedikit berteriak.
Ketiga orang itu menoleh ke asal suara.
Senyum tipis tergambar di sudut bibir Icha. Kali ini, ia harus bersyukur karena akan terhindar dari Rama.
Berjalan mendekati Icha, "Ayo." Menarik tangannya.
Tidak ada pilihan lain, Icha mengikuti langkah Wahyu.
"Kok Lo tau, kalau gue di sini?" Tanyanya saat sudah di koridor sekolah.
"Grafa kasih tahu gue. Katanya Lo dibully lagi sama Rama kampret itu." Ucapnya dengan tangan yang masih menggandeng tangan Icha.
Memang, berita pembullyan yang terjadi antara Icha dan Rama sudah menyebar ke seluruh sekolah. Mereka juga tau, kalau itu hanya sebuah candaan.
Karena, mereka berpikir, bahwa Rama suka sama Icha, tapi Icha kan sudah punya Rio. Hhhh, Salah alamat netizen. wkwk
"Hhhh, ternyata dia bisa bicara juga?" Terseling tawa kecil dari bibirnya. Dan tak disangka, Wahyu juga ikut tertawa.
"Siapa?"
Bersambung,
Semoga suka sama ceritanya yha🙏,
Mohon sarannya teman-teman.