
Di tempat lain,
"Mah, aku sudah bilang. Aku nggak mau. Aku nggak suka sama dia. Lagian dia juga sudah punya pacar Mah." Bujuknya pada sang Mamah seraya berlutut.
"Terserah kamu. Kalau nggak mau, Papah akan cabut semua fasilitas yang Papah berikan." Katanya yang langsung berdiri dari duduk dan langsung meninggalkan ruang keluarga menuju kamarnya. Menutup pintunya dengan kasar yang mengejutkan Sukma dan Ibunya.
"Mah, Sukma nggak mau. Mamah juga tahu, siapa pacarnya kan? Aku nggak mau dibilang sama teman-teman sebagai orang ketiga mah. Tolong bicara sama Papah, Mah." Bujuknya sekali lagi pada sang ibu.
"Keputusan Papahmu, tidak bisa diganggu gugat nak. Sabar yha. Lagian, mereka juga baru pacaran kan? Belum ada ikatan yang lebih serius? Jadi, kamu terima aja yha. Maafin Mamah nggak bisa bantu." Langsung berdiri mengikuti suaminya masuk kedalam kamar.
Seketika Sukma langsung melemas. Dia tahu, tidak akan bisa melawan pernyataan dari Papahnya. Ia hanya takut dibilang orang ketiga dalam hubungan sahabatnya itu. Haruskah ia mengikuti perintah Papahnya? Ataukah ia akan sanggup bila harus melepaskan semua fasilitas yang telah ia miliki selama ini?
Tangisnya pecah seketika mengingat hal apa yang akan terjadi kedepannya nanti.
***********
Dua hari berlalu.
Icha pun memulai aktifitasnya dengan biasa. Selama dua hari ini, ia harus bekerja lebih ekstra lagi. Karena, dulu orang yang pernah meminta bantuan untuk mengerjakan tugas Matematikanya sudah mempercayai Icha sebagai servernya. Jadi, jikalau ada tugas yang ia tak bisa atau lagi malas, maka ia tinggal telvon Icha, beres deh.
Pagi menyapa. Sang surya pun sudah menunjukkan jati dirinya di atas langit sana. Seperti biasa, Rio akan menjemput Icha ke rumahnya.
"Sayang. Nanti pulang sekolah, kita ke mall yha." Ucapnya ketika sudah sampai di gerbang sekolah.
"Hah? Ngapain kak?"
"Belanja."
Icha pun terheran-heran, "Hah?" Otaknya yang loading pun langsung menjadi bahan godaan Rio.
"Ihhh, gemes banget sih pacarnya aku." Mencubit kedua pipi Icha.
"Ih, kakak. Malu tahu, kan ada banyak murid." Mencebikkan bibirnya.
"Iyha-iyha." Mengacak rambutnya seraya tersenyum tipis.
"Jan ngambek dong. Nanti cantiknya hilang." Godanya sekali lagi.
"Ihh, nyebelin." Pura-pura merajuk tapi suka. Hhhh.
"Udah, sana masuk." Langsung dibalas anggukan Icha.
"Aku masuk dulu yha. Kakak, hati-hati di jalan."
"Iyha. Kamu juga, belajarnya yang rajin."
"Iyha. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Icha pun langsung masuk ke dalam sekolah.
Ketika naik ke tangga, tiba-tiba dikagetkan suara seseorang yang ia kenal,
"Dianterin Kak Rio?" Tanya Wahyu seraya menjejerkan langkah kakinya dengan Icha.
"Iyha." Menatap sekilas orang di sampingnya.
"O..." Manggut-manggut karena paham.
"Em, Lo bawa buku segitu banyaknya buat apa?" Tanyanya mengerling, ketika melihat Icha membawa buku yang sudah dijilid rapi di tangannya.
Menghentikan langkahnya sebentar,
"Em." Mencoba mencari alasan yang tepat. Karena tidak mungkin untuk memberi tahu Wahyu kalau itu tugas anak kuliah. Pada waktu dulu, Wahyu sudah memperingati untuk tidak menerima pekerjaan dari anak kuliah. Kalau kasih tahu, namanya cari mati dong.
Mengernyitkan dahi, "Itu bukannya tugas anak kuliah yha?" Tanyanya dengan mencoba meraih buku dari tangan Icha.
"Em eh, jangan." Dengan cepat menghentikan tangan Wahyu yang sudah mau meraih buku dari tangannya.
"Kenapa?" Mengerlingkan kepala.
"Em, anu." Menggaruk kepalanya yang gatal sebab bingung mau jawab gimana.
"Eh, gak papa kok. Ini, cuma bukunya kak Rio yang tadi disuruh bawa sama aku. Eh, malah kelupaan diambil." Kilahnya gusar.
"Hehehe." Tambahnya disertai cengiran khasnya.
Mencoba mencari tahu kebohongan di wajah Icha. Tapi sial, bukan kebohongan yang ia temukan, melainkan wajah imut, putih, bersih Icha yang berhasil ia tangkap. Menatap lekat hingga tak sadar ia lupa mengedipkan matanya.
"Wahyu. Hello?" Melambaikan tangannya di depan wajah Wahyu yang masih tak bergeming untuk berkedip.
"Ehem." Mencoba menetralkan suasana dengan berdehem.
"Sorry-sorry, Cha."
"Hhhh, lagian, Lo liatin gue sampai segitunya. Jatuh cinta Lo sama wajah gue?" Menggelengkan kepalanya seraya tersenyum tipis.
Bukan cuma wajahnya aja, Cha. Tapi juga orangnya.
"Hhhh, PD banget lu jadi orang." Jawab Wahyu bohong.
Akhirnya, mereka berjalan menuju kelas bersama.
Waktu bersamaan, Kak Rio yang sudah mau pergi, tetiba melihat sebuah mobil sport yang sangat ia kenali. Siapa lagi kalau bukan punya adiknya.
"Bener-bener tuh anak." Menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah sang adik. Semalam tidak pulang ke rumah, eh tau-tau pergi sekolah juga, kiranya juga bakal bolos. Memutar pedal gasnya, lalu melenggang pergi.
"Em, itu bukannya kakakmu yha?" Tanya seorang perempuan yang duduk di sebelahnya. Tanpa menjawab, Grafa hanya melajukan mobilnya ke parkiran sekolah.
"Huft." Terdengar sentakan nafas kasar dari mulutnya. Sudah biasa jikalau Grafa bersikap seperti itu. Dingin kaya es.
Tet tet tet,
Bel masuk sudah berbunyi,
"Gue, pergi ke ruangannya Pak Hakim dulu yha. Mau ngumpulin nih tugasnya. Kalau gurunya udah datang, tinggal izinin aja." Pamitnya pada Syiffa teman sebangkunya.
"Siap. Jangan lama-lama." Mengacungkan kedua jempolnya.
Melihat Icha keluar kelas, seketika Wahyu beranjak dari duduknya dan duduk di samping Syiffa.
"Icha kemana?"
"Pergi ke ruangannya Pak Hakim. Ngumpulin tugas waktu ia terlambat ikut upacara kemarin."
"Ouh." Langsung pergi begitu aja.
"Ih, dasar aneh."
Saat, matanya melihat Wahyu yang berjalan menuju bangkunya. Tanpa sengaja, ia melihat bangkunya Sukma yang masih kosong.
"Eh-eh." Menggoyangkan kursi depannya. Tidak ada sahutan, lanjut yang kedua.
"Ih, kalian tu budeg atau apa sih??" Menggoyangkan kursi depannya sekali lagi.
Dengan malas, Anggy menoleh, menghentikan tangannya yang sedang mencoret-coret kertas.
"Ih, apa sih Fa?" Sedangkan Anis, hanya menoleh sebentar lalu membaca bukunya lagi.
"Tu, bangkunya Sukma kenapa masih kosong?? Gak berangkat dia?" Sambil melirik bangku di belakangnya.
Sekilas, Anggy juga ikut melirik bangku belakang Anis itu lalu mengernyitkan dahi, "Nggak tahu." Mengedikkan kedua bahunya lalu fokus ke coretannya tadi.
"Ih, nyebelin. Diajak bicara juga." Sebal karena merasa diacuhkan.
Tuh orang kemana ya? Nggak biasanya dia absen tanpa izin.
Menit berlalu,
Icha yang sudah mau mengetuk pintu ruangan Pak Hakim, diurungkannya. Karena, mendengar suara seseorang yang sedang disidang.
Di dalam,
Mendongakkan kepala,
"Baiklah, mungkin kamu juga tahu hukuman apa yang akan saya berikan jika ada siswa yang terlambat." Ucapnya tegas dengan pandangan yang menghadap ke depan dan tangan yang berada di saku celana.
"Em, i.. iyha pak." Jawabnya menunduk dengan nada yang takut.
"Kumpulkan besok hari Senin. Sekarang, kamu boleh pergi."
"Iyha, pak. Permisi." Pamitnya seraya beranjak dari duduk dengan membungkukkan badannya.
Mendengar seseorang mau keluar. Dengan cepat, Icha langsung bersembunyi. Namun naas, saat memutar tubuh dan hendak melangkah, tak sengaja ia bertabrakan dengan seseorang.
Dug,
"Aaww."
Bersambung,