
CEO ROOM
Berada di sinilah mereka berdua. Di dalam ruangan private CEO mall ini. Ruangan dengan desain khas pulau Bali. Cantik, mewah, dan tentunya sangat elegan nan mahal.
"Silahkan duduk dulu, Pak." ucap pelayan mempersilahkan Rio untuk duduk di kursi depan meja CEO nya.
Menganggukan kepalanya lalu mendudukkan dirinya.
"Dua menit." ucap seseorang dengan suara beratnya yang berada dibalik kursi putar panjangnya seraya memperagakan tangannya dengan bentuk dua jari.
Rio yang merasa kebingungan, menoleh kearah pelayan laki-laki tadi yang masih senantiasa berdiri di sampingnya. Terlihat, ia susah menelan ludahnya, ingin bicara namun serasa tercekat di tenggorokannya.
"Emm, maaf tuan." ucapnya seraya menundukkan kepalanya.
"Ehem." kini Rio yang berdehem untuk menstabilkan suasana.
"Maaf, bukannya saya ingin ikut campur. Tapi, kita telat itu karena say....." belum selesai dengan ucapannya, sudah dipotong lebih dulu.
"Afkar, kamu tahu, saya adalah orang yang tidak bisa menerima alasan apapun untuk keterlambatan seseorang?" suara yang cukup berat nan tegas untuk didengar pelayan yang bernama Afkar dan Rio.
"I...iyha tuan. Saya tahu." sudahlah, tenggorokan Afkar sudah tidak bisa diajak kompromi lagi.
Menyeringai, "bawa dia kembali lain kali saja. Saya sibuk!" tanpa memberi tahu alasan apapun. Orang itu langsung melenggang pergi tanpa menoleh, melihat, bahkan melirik ke arah Rio. Dengan sombongnya, ia berjalan angkuh yang masih membelakangi Rio dan Afkar tanpa melihatkan wajahnya.
"Tunggu!" ucap Rio.
Seketika tubuh yang hampir memasuki sebuah ruangan itu langsung terhenti.
Tertawa di dalam hati, lalu menyeringai.
"Mohon maaf jikalau saya lancang, tapi tidak bisakah Anda mendengar alasan kami mengapa terlambat? lagi pula kami hanya terlambat 2 menit seperti yang Anda bilang. Apa ruginya?"
Menaikkan kedua alisnya lalu menyimpan kedua tangan di saku celananya.
"Lagi pula kita terlambat, karena perjalanan menuju ruangan Anda sangat jauh. Ditambah lagi, lift yang kami naiki juga harus bergantian bukan?? Lalu untuk apa Anda mempermasalahkan hal yang sepele ini??"
Orang itu masih setia mendengarkan alasan demi alasan yang Rio utarakan.
"Bukankah hal yang wajar jikalau kami terlambat? lagi pugla hanya 2 menit, itupun tidak akan mengurangi keuntungan mall ini bukan??"
Melihat jam di tangan kirinya, "Sudah? kalau sudah silahkan Anda bisa keluar sendiri. Masih hafal jalannya bukan? kalau lupa, saya akan berbaik hati untuk memanggil security supaya dia membantu Anda untuk pergi dari sini!" ucapnya lugas nan sinis.
Tidak ingin membuang-buang waktu lebih lama lagi. Akhirnya, ia memasuki ruangan yang entahh apa itu.
"Ma-af tuan." dengan tergagap, Afkar mencoba untuk meminta maaf soal perilaku bosnya itu.
Menaikkan kedua alis, "Kenapa minta maaf?"
"Karena sudah memaksa Anda untuk datang ke sini tapi malah ti...."
"Sudahlah. Tidak apa. Aku yang seharusnya minta maaf. Karena aku, gajian kamu telah dipotong 2 persen. Yha meskipun dipotong kecil, tapi kan lumayan buat beli bensin 1 minggu."
"Ambillah!" menyodorkan beberapa lembar uang seratus ribu untuk diberikan kepada Afkar.
"Tidak usah tuan. Maaf, bukannya saya menolak, tapi..."
"Sudahlah, tidak ada penolakan." meraih tangan kanan Afkar,
"Ambillah, hitung-hitung buat ganti gajimu yang dipotong." lalu ditaruhlah uang tersebut di tangan Afkar seraya tersenyum.
"Terimakasih, tuan. Anda memang baik sekali. Semoga selalu dilancarkan rezekinya."
Mendengar kata pujian dan untaian do'a dari Afkar, Rio hanya menyunggingkan senyumannya yang manis itu.
"Silahkan tuan." membukakan pintu seraya menundukkan kepalanya.
Di balik ruangan yang berada di CEO ROOM,
"Kamu memang tidak berubah, nak. Selalu saja baik dengan orang lain." menyunggingkan senyum tatkala ia melihat adegan di mana Rio memberikan beberapa uang seratus ribu kepada Afkar tadi, lewat cctv-nya.
Kembali di bawah,
Setelah beberapa menit kepergian Rio dan pelayan tersebut. Tiba-tiba, Icha dikejutkan dengan kehadiran Sukma yang tampil glamor nan modis yang tidak seperti penampilannya sehari-hari.
"Icha!" seru Sukma mendekat.
Icha yang sedang melihat-lihat koleksi tas pun reflek menoleh kearah sumber suara.
"Sukma?"
"Hai."
"Hai juga."
"Sendirian?" ucapnya basa basi.
"Em, Ng..." belum selesai ngomong, langsung dipotong saja.
"Ouh, gue tahu, pasti sama Kak Rio yha?? Tapi kog gue gak lihat? Kemana yha?" tanyanya yang panjang kali lebar.
"Ouh, ada kog, cuma Kak Rio tadi...." lagi. Belum sempat menyelesaikan bicaranya, langsung dipotong oleh Sukma.
"Ouh, gue tahu, ke toilet yha?" tebaknya spontan.
"Hem, kasihan, sendirian dong berarti." ucapnya santai.
"Hah?" melongo
"Kan, emang dari sewaktu kamu datang nyamperin aku, aku sendirian Ma. Lupa?" jawab Icha kesal.
"Upss." menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Hhhe, hiya nding. Lupa gue." cengirnya.
Icha hanya geleng-geleng kepala.
"Kamu sendiri ngapain ke sini??" celingak celinguk mencari seseorang yang mungkin datang dengan Sukma.
"Nggak ada teman?" tanyanya heran.
Iyha heran, orang pergi mall gitu aja pakaiannya sangat mewah banget. Seperti mau menghadiri pesta saja.
"Ada kok, Teman aku lagi ke toilet, jadi aku tinggal milih-milih tas dulu deh. Eh, malah ketemu sama kamu, Cha." ucapnya dengan tersenyum.
Gue kangen, Cha. Miris Sukma dalam hati.
Pengen cerita, tapi gue takut. Gue harus gimana, Cha??
Tanpa ia sadari, bulir putih itu tiba-tiba langsung jatuh ke pipinya.
Bersambung,
Jangan lupa tekan tombol like dan komentarny yha🥰
Always love you guys 🥰🥰