
Bel pulang sekolah pun sudah berbunyi,
"Cha. Gimana lo jadi ikut gak?" tanya Sukma yang sudah berdiri di samping Icha dan diikuti Syifa sama Anis yang membalikkan badan menatap Icha.
"Emm, sorry yha. Gue gak bisa. Gue udah ada janji sama Kak Rio. Lain kali deh gue janji bakalan ikut." jawabnya tak enak hati sembari memasukkan buku ke dalam tasnya.
"Cieee yang lagi kasmaran nih ye. Uhuuuyyy." goda Anggy sedikit berteriak yang diiringi tertawa.
"Uhuuuyy" timpal Syiffa dan Sukma tertawa bersama.
"Pajak-pajak." timpal Sukma yang tak kalah hebohnya.
"Ih apaan sihh." dengus Icha.
"Ya udah, Lo hati-hati Cha. Tuh mulut mereka emang gitu." bela Anis, "Biasalah, jomblo." ucapnya nyengir dan sedikit lirih tapi masih terdengar di telinga mereka.
"Ye, kayak lu kagak jomblo aja." balas Anggy dan Syifa serempak yang diiringi dengan jitakan di dahi Anis oleh Anggy.
"Adawww." rintih Anis seraya mengelus dahinya.
"Sakit tahu." tambahnya.
"Ye, makanya punya mulut tuh dijaga. Kalau ngomong jangan suka benar. Ahhhaaahh." balas Anggy tertawa yang malah diikuti semua sahabatnya.
Icha yang mendengar celetukan demi celetukan absurd oleh sahabatnya pun ikut tertawa terbawa suasana hingga suara Sukma mengejutkan semua orang yang berada di dalam kelas itu. Tak terkecuali Wahyu dan dua temannya itu, Kevin dan Ilham.
"Ye, emang lu lu lu pada. Gue udah ada calon kali." ketus Sukma dengan santainya.
Sontak jawaban Sukma membuat mereka terdiam sejenak, kaget dan akhirnya malah tertawa.
"Bemmppp hahahaha." tawa pecah mereka.
Sukma yang melihat reaksi dari sahabatnya hanya memutar bola matanya malas dan mencebikkan bibirnya.
Di tempat yang sama. Wahyu dan dua temannya, Kevin dan Ilham yang memang belum pulang, mendengar semua obrolan mereka. Terutama pertanyaan Sukma kepada Icha soal dia ikut kumpul atau tidak.
Yah rencana kumpul-kumpul yang memang sengaja dibuat Wahyu dengan tujuan untuk bisa lebih dekat dengan Icha ternyata gagal. Ada rasa sedikit kecewa dalam dirinya Bagaimana tidak, semangat 45 yang sudah ia dapat sedari kejadian di UKS tadi sudah memadamkannya begitu saja. Terlebih lagi dengan alasan pergi dengan Kak Rio. Entah kenapa hatinya masih saja sakit jikalau wanita yang disukainya dekat dengan orang lain. Padahal toh, mereka cuma berteman.
*******
"Kak Rio." pekik seseorang yang sudah ia kenali dari suaranya. Icha yang melihat Rio sedang berbicara dengan Pak Tono di pos satpam pun langsung berlari kearahnya dan spontan memeluknya.
Rio membulatkan matanya diam tak bergerak sedangkan Pak Tono terperanjat kaget.
"Waduh-waduh, hari semakin siang begini memang udaranya tambah HOT." Ucap Pak Tono yang menekan kata Hot.
"Hhhiii maaf " ucapnya lirih seraya nyengir dan diikuti lepasan pelukan dari tubuh Rio.
Rio yang mendapati tingkah lucu Icha hanya tersenyum tipis dan mengacak rambutnya.. Icha hanya malu-malu kucing dan Pak Tono terkekeh geli.
"Udah ayo. Keburu sore nanti." ajak Rio seraya menggandeng tangan Icha menuntun ke arah motor sportnya.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang memperhatikan tingkah mereka sedari tadi.
"Sepertinya Nona Icha akan pergi dengan kekasihnya." telepon seseorang dengan yang disebrang.
"Ikuti saja kemana mereka pergi." putus telepon dari sebrang yang diangguki orang tersebut.
"Baik Tuan."
*****
Dalam perjalanan menuju tempat yang telah direncanakan Rio, di tengah perjalanan,
"Kak Rio, aku lapar." rengeknya manja yang sedikit berteriak agar Rio mendengar suaranya.
"Mau makan dulu?" jawabnya yang dibuat gemas oleh kekasihnya.
"he.emm." Icha menganggukkan kepalanya.
"Yau udah mampir ke cafe dulu." jawabnya lagi yang diiringi senyuman yang terbit di bibirnya.
.....
20 menit berlalu. Sekarang sudah pukul 14.30. Mereka berdua sudah sampai di sebuah cafe. Masuk kedalam dan duduk. Memanggil waiter untuk memesan makanan dan minuman.
Setelah 10 menit menunggu, akhirnya makanan dan minuman telah sampai.
"Permisi, silahkan mas, mbak." ucap waiter sopan seraya meletakkan makanan di meja..
"Iyha, makasih mbak." jawab Icha lembut.
Rio yang mendengarnya hanya tersenyum.
Icha dan Rio segera menghabiskan makanannya karena tempat yang dituju masih jauh.
"Makannya pelan-pelan." ujarnya tersenyum gemas karena Icha makannya yang terburu-buru. "Gak bakal ada yang minta." melirik Icha lalu mengambil ponselnya.
"Hhheee iyha kak." jawabnya nyengir.
"Semuanya sudah siap bos".
"Ok. Pastikan semua aman tanpa ada gangguan." balas Rio.
"Siap bos."
Setelahnya, Rio memasukkan ponselnya ke saku celananya.
"Sudah selesai?"
Dibalas anggukan Icha.
Mereka berdua segera pergi ketempat tujuan. Sesampainya di depan pintu cafe, Icha dan Rio berpapasan dengan teman-teman Icha yang memang berniatan kumpul di cafe tersebut. Dilihatnya ada Wahyu, Kevin, Ilham, Anis, Sukma, Syiffa, dan Anggy.
"Icha." teriak Anis memanggil lalu berlari kecil kearah Icha yang diikuti semua sahabatnya. Mereka berempat biasa kalau sudah ketemu, langsung berpelukan hangat.
"Unchhh." gemas Ilham yang terkekeh melihat sahabat perempuannya yang saling berpelukan seraya mempraktekkannya dengan Kevin.
"Ih apaan sih lo ngab??" ujar Kevin seraya melepaskan pelukan Ilham dari tubuhnya. "Lepasih bodoh." tambahnya.
Ilham mencebikkan bibirnya. "Ihh, gak so sweet banget jadi orang." ketusnya
"Idih, ogah gua so sweet-so sweet an ama elu." gerutu Kevin sambil bergidik ngeri.
Melihat tingkah lucu Ilham dan Kevin, semua orang yang di situ terkekeh geli.
"Hai. Wahyu kan? Anak OSIS dan Bantara?" tanya Rio seraya menunjuk Wahyu.
"Em, iyha kak." sedikit tersenyum.
"Ouh, sudah lama gak ketemu yha." seraya menjulurkan tangan kearah Wahyu. "Terakhir ketemu mah waktu acara perpisahan OSIS angkatanku kan ya?" tanyanya lagi seraya mengingat-ingat kejadian itu.
"Em, iyha kak." seraya membalas uluran tangan Wahyu.
"Em, ya udah kalau gitu kita pergi dulu yha. Soalnya takut kemalaman nanti pulangnya. Hehe." Ucap Rio seraya melihat jam tangannya.
"Ayo sayang." ajaknya seraya menjulurkan tangannya kearah Icha.
Para ciwi-ciwi itupun melepaskan pelukan hangat mereka.
"Gue pergi dulu yha." ujarnya tersenyum.
"Emm, bye-bye Icha." ucap ciwi serempak yang diiringi lambaian tangan.
"Bye." dibalas lambaian tangan lalu meraih tangan Rio untuk digandengnya dan melenggang pergi.
"Uncchh so sweet bingittt tahu gak sih." ucap Sukma seraya menampilkan wajah imutnya.
"Huumb." dibalas anggukan ciwi yang lain.
"Biasa aja." jawab Wahyu lalu melenggang pergi memasuki cafe.
"Ye, cemburu kan tuh anak." ketus Sukma.
"Hah." kata Ilham seraya mengarahkan wajahnya kearah Sukma lalu menyusul Wahyu yang diikuti Kevin
Sukma hanya memundurkan wajahnya dengan raut muka menyebalkan.
"Udah, masuk yuk." Ajak Anggy.
Semuanya sudah masuk kedalam cafe dan mengambil meja di dekat jendela.
....
Setelah satu jam perjalanan. Akhirnya sebuah motor sport hitam milik Rio sudah berhenti tepat di depan sebuah rumah besar yang berwarna emas dan putih yang masih terlihat karena lampu yang temeram menyinarinya.
"Ini rumah siapa kak?" tanya Icha seraya turun dari motor dengan raut wajah penasarannya.
"Masuk yuk " Ajaknya yang sudah melepas helm dan turun dari motornya lalu menggenggam tangan Icha untuk mengikutinya.
"Semuanya sudah siap seperti yang Tuan Muda perintahkan. Dan silahkan masuk." ucap seseorang yang berdiri di depan pintu rumah tersebut, seraya menundukkan kepalanya dan menjalarkan tangannya untuk mempersilahkan Rio dan Icha masuk.
Setelah memasuki rumah itu. yang nampak hanyalah kegelapan tanpa lampu penerang.
"Kak, kok gelap?" tanyanya takut dengan memegang lengan Rio dengan kuatnya.
"Gak papa sayank. Ada kakak. Jangan takut. Ok." jawabnya menenangkan Icha.
Dibalas Anggukan Icha
.
.
.
Bersambung