
"Siapa?"
Icha sedikit terlonjak kaget, mendengar suara yang selama ini jadi hantunya
Meneguk ludah kasar, Mampus gue. Batinnya bicara.
Sama-sama menoleh ke sumber suara, ternyata Grafa tepat di belakangnya.
Nah kan, dia lagi. kerutuknya dengan memejamkan mata yang diiringi dengan pukulan-pukulan kecil di dahinya.
"Oh, hai Graf?" Sapa Wahyu yang hanya dijawab senyuman manis Grafa.
"Ada apa Lo ke sini?" Memang saat ini mereka berada di koridor yang mengarah ke jurusan IPA.
"Biasa." Jawabnya santai yang mengarah ke Icha.
Hah, lucu juga. katanya dalam hati.
Wahyu yang tahu maksudnya, hanya menaikkan satu alisnya.
"Bucin Lo." Dengan menepuk bahu Grafa.
"Hhhh, besok Lo juga kaya gitu." Ikut tertawa.
"Gue pergi dulu." Berjalan mendekat, "Temen Lo lucu juga." Bisiknya ke Wahyu yang diikuti liriknya ke Icha.
Sontak Wahyu juga ikut melirik Icha. Menahan senyum, seakan tahu apa yang dimaksud Grafa.
"Gue duluan." Menepuk bahu Wahyu, lalu melenggang pergi.
Wahyu terkekeh geli melihat tingkah lucu Icha. Akhirnya, Icha yang ia kenal dulu sekarang sudah kembali. Icha dulu yang dingin, cuek, dan pendiam, sekarang menjadi sesosok gadis yang ceri, cerewet, dan juga bertambah cantik.
Semakin dalam mengamati raut wajah yang imut nan manis. Senyum manisnya keluar, tatkala mengingat kejadian kemarin.
Sungguh ekspresi wajah yang menggemaskan saat Icha menjadi salah tingkah.
Tetiba, senyumnya berubah menjadi getir. Dalam lubuk hatinya, ada rasa ingin memiliki, tapi tidak mungkin. Ah lupakan.
"Ngapain?" Tanyanya berpura-pura tidak tahu. Padahal dalam hatinya menahan tawa .
Lucu banget tau Cha.
"Dia udah pergi." Menaruh tangannya di saku celananya.
Perlahan, Icha membuka mata. Ada rasa takut dan malu dalam hatinya saat bertemu dengan Grafa.
"Hhhee." Cengengesan.
"Emang kenapa?"
"Hehe gak papa." Menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Lo suka sama dia?" Katanya tepat di telinga Icha.
Sontak, Icha membelalakkan matanya lalu mencubit perut Wahyu.
"Apaan sih."
"Aw, sakit Cha." Pura-pura meringis kesakitan.
"Biarin." Pura-pura ngambek
"Ciiee. Tuhkan, malu-malu kucing. Hhhh." Godanya sekali lagi.
"Wahyu." Sedikit berteriak dengan tangan yang sudah di udara untuk memukul atau mencubit perutnya lagi.
Namun, Wahyu yang tahu pergerakan Icha, langsung berlari kecil. Icha yang tak mau jadi bahan godaannya lagi, segera mengejar Wahyu.
"Tangkap kalau bisa. Hhhh." Ejeknya seraya menjulurkan lidahnya.
"Idih, kaya anak gadis aja." Mencoba mengejar lagi.
"Biarin." Julurkan lidahnya sekali lagi.
"Awas Lo."
Hhhhh. Jadinya, mereka bermain kejar-kejaran seperti anak kecil.
******
Bel istirahat sudah berbunyi,
"Cha, ayok." Ajak sahabatnya untuk menuju kantin.
"Iyha bentar." Seraya membereskan bukunya, lalu memasukkannya ke dalam tas.
"Ayok." Berdiri, mau berjalan, tapi perkataan seseorang menghentikan langkahnya.
"Cha tunggu." Wahyu mendekat.
"Ada apa Yu?"
"Lo dipanggil sama Pak Hakim. Disuruh ke ruangannya sekarang juga."
"Hah? Ngapain? kan ngumpulin tugasnya masih Hari Jum'at."
"Nggak tahu. Tadi gue dikasih tau sama beliau."
"Ya udah deh Cha. Lo datang sana ke ruangannya, siapa tahu penting." Ucap Anggy.
"Huumb. Siapa tahu juga kan, hukuman Lo diringankan. Hhhe." Timpal Kevin.
"Iyha deh. Gue ke ruangannya Pak Hakim." Jawab Icha.
"Mau gue antar?" Pertanyaan Wahyu yang langsung dapat teriakan dari sahabat-sahabatnya.
"Huuuu. Modus Lo Yu." Ucap serempak.
"Apaan sih kalian."
"Biarin. hhhh." Jawabnya santai.
"Ok." Mengacungkan jempol, "makasih yha." Tambahnya.
Para sahabatnya pun langsung meninggalkan kelas dan segera menuju kantin.
Di pertengahan jalan. Tepatnya di lantai bawah,
"Eh bentar - bentar deh." Ucap Syiffa lalu membalikkan badan dengan tiba-tiba.
"Haiishhhh." Ujar Kevin yang menabrak punggung Anis.
"Awww. Jalan pakai mata dong Vin." Pekik Anis.
"Noh lihat. Tuh depan berhenti dadak."
"Woii.. Ada apa? Kog berhenti dadakan?" Selorohnya pada Syiffa.
"Eh, Syiffa ada apa? Main berhenti tiba-tiba aja lu." Kini Ilham yang berbicara.
"Hehe sorry." Tersenyum yang melihatkan sederet gigi rapi putihnya.
"Aukkkk, tetiba aja lu kaya se**n." Timpal Anggy.
"Iyha-iyha, Sorry-sorry."
"Gue kog nggak lihat Sukma ya?" Tanyanya tiba-tiba.
"Aellah. Gue kira apa." Ujar Kevin.
"Hah? Iyha, yha. Gue juga. Kemana dia?" Wahyu ikut menimpali lalu Ilham. "Nggak biasanya tuh anak ngilang sendiri."
"Udahlah. Biarin aja dia. Mungkin juga udah ke kantin duluan." Ketus Kevin yang memang tidak suka dengan hal apapun yang berbau Sukma.
"Iyha. Perutku udah keroncongan ini. Udah bunyi." Mengelus perutnya yang memang sudah lapar.
Kruyuk-kruyuk. Suara cacing dalam perut Anis yang tidak bisa diajak berkompromi.
"Hhee." Tersenyum canggung.
"Ah lu mah biasa Nis, perut mulu." Ketus Anggy.
"Hhhh." Tawa serempak sahabatnya. Anis hanya cengar-cengir.
Mereka pun melanjutkan langkahnya ke kantin.
Di waktu bersamaan,
Tak. Menjatuhkan ponsel yang dilayarnya sudah menampilkan fotonya saat sedang tersungkur di lantai tadi. Foto yang tampak diambil dari samping yang menampilkan wajah Icha dengan jelas tapi tidak dengan si pria.
Mengerutkan keningnya, saat tahu ada yang menfotonya waktu kejadian tadi.
Sial. Umpatnya dalam hati.
Matanya yang awas, melihat guratan ketakutan di wajah Icha.
"Emmm, da... dari mana bapak punya foto itu?" Tanya lirih yang sedikit gemetar.
Pak Hakim hanya tersenyum sinis.
"Tidak perlu tahu. Saya hanya bertanya, kenapa ada foto itu?"
"Emmm, i..itu " Gugup serta bingung, bagaimana cara menjelaskan.
Pak Hakim yang sudah mau bicara, diurungkannya. Karena mendengar pintu yang diketuk.
Tok tok tok.
"Masuk."
Ceklek. Suara pintu terbuka. Menampilkan Sukma dibaliknya. Menutup pintu kembali dan berjalan menuju kursi Pak Hakim.
"Em, ada perlu ap.." Belum selesai bicara, sudah dipotong dulu oleh Pak Hakim.
"Duduk." Ketusnya.
Sukma mengangguk lalu duduk di samping Icha. Saat hendak duduk, dia tidak sengaja melihat layar ponsel yang menampilkan foto Icha dengan seorang pria.
Icha? Melirik sampingnya. Siapa pria itu? Lalu mendudukkan pant**nya perlahan di kursi.
"Ehemm." Mengambil ponselnya.
"Icha, sekarang kamu boleh keluar dulu. Jawab pertanyaan saya nanti saja. Kalau saya panggil kamu lagi."
"Baik Pak." Berdiri dari duduk.
"Permisi, Pak." Melirik Sukma. "Gue duluan." Tersenyum tipis.
"Iyha." Jawabnya.
Lalu Icha pun keluar dari ruangannya Pak Hakim.
"Ah, gue susul aja mereka ke kantin. Baru 10 menit." Melihat jam yang melingkar di tangannya.
"Pasti masih di sana." Bergegas menuju kantin.
Tak tak tak. Suara sepatu Icha yang memasuki kantin.
"Hai semuanya." Mendekati sahabatnya yang tengah asik menikmati semangkuk bakso sembari berbicara yang kadang diselingi tertawa juga.
"Eh Icha. Kok cepet banget. Emang ada apa?" Cerocos pertanyaan yang terlontar dari Anggy.
"Eh, suruh dia duduk dulu vangke. Baru lo berondong pertanyaan." Gerutu Ilham.
"Auk Lo Nggy. Baru aja datang " Jawab Icha yang langsung menduduki kursi panjang sebelah Anis tepat di depan Wahyu
"Pesan bakso dulu aja Cha." Suruh Wahyu yang diangguki oleh Icha. Mendekati penjual dan memesan. Kembali ke tempat duduk lagi.
"Aawwwww."
Bersambung