
"Lo nggak laper apa?" tanya Dion.
Tidak menjawab, malah melotot ke dua bocah kampret itu.
Ha?? Syahril dan Dion dibuat termangu oleh sikap Rama. Padahal kan, tadi dia bilang sendiri, kalau dia lapar banget kenapa malah nggak makan?
"Iyha-iyha." cemberut Syahril.
"Ah, sorry-sorry."
"Gimana sih, punya mata nggak."
"Jalan pakai mata dong."
"Woii."
Ucap beberapa murid yang tak sengaja ditabrak oleh Sukma.
Bugghh,
"Aww." pekiknya yang merasa tubuhnya melayang di udara.
Deg,
Wahyu menahan tubuh Sukma agar tidak jatuh dan sepersekian detik, mata mereka bertemu.
Tuhan cobaan apalagi. batinnya yang masih berada di dekapan Wahyu.
"Ah, sorry-sorry Yu. Gue gak lihat tadi." bicaranya saat sudah lepas dari pelukan Wahyu.
"Hmmm, lain kali, hati-hati." ujarnya santai lalu berlalu pergi menuju kantin.
"Kedip Lo." ketus Kevin yang memang berada di belakangnya Wahyu sama Ilham.
Ih, pengen banget deh nimpuk tuh orang, tapi apa daya, nggak berani.
Beda dengan Kevin, Ilham hanya menyorotnya tajam. Lalu melenggang pergi nyusul Kevin dan Wahyu.
"Ih, kok mereka pada berubah sih??" cebiknya sebal.
"Ini pasti gara-gara hasutan Syiffa. Benar-benar tuh anak yha." gerutunya kesal sekali lagi.
"Cabut!" seru Rama yang melihat Wahyu dan temannya masuk ke kantin.
Bukan karena takut. Tapi, lebih baik ia menghindar daripada adu jotos lagi.
"Tapi tinggal dikit Ram." elak Dion yang memang baksonya tinggal sedikit. Kan mubazir nanti.
Tak menghiraukan Dion dan Syahril yang masih duduk, ia langsung melenggang pergi.
"Udah, nggak usah banyak bicara. Ayok." ajak Syahril yang langsung menarik lengan Dion.
"Iyha-iyha, sabar napa sih." kesalnya.
Tepat saat Wahyu akan berjalan kearah Icha dan temannya. Saat itulah, Rama juga akan pergi dari kantin. Kini, mereka berhadap - hadapan.
Sorot matanya menatap tajam ke Rama. Seolah - olah, ingin mengajaknya menyalakan api permusuhan. Begitu juga Rama, ia juga menatap Wahyu dengan penuh kebencian.
Kejadian beberapa bulan lalu, saat kebenaran yang terungkap. Ia sengaja mengajak Icha untuk ketemuan di gudang sewaktu jam istirahat. Awalnya, Icha tidak mau. Tho, diantara mereka sudah tidak ada hubungan apa-apa. Tapi, karena sebuah ancaman jadi, dengan terpaksa ia mengiyakan.
Setelah, Icha sampai di gudang, ia tak menemukan Rama. Akhirnya, ia berniat untuk ke kantin saja. Karena memang, perutnya sudah lapar.
Tak lama kemudian, tiba-tiba, ada seorang misterius yang membekap mulutnya hingga ia tak sadarkan diri. Membawanya masuk kedalam gudang, lalu membaringkannya di lantai begitu saja.
Melepas masker yang dipakainya dan segera ia menanggalkan seragam Icha. Perlahan ia melepaskan dasi yang masih terpasang di seragamnya. Lalu membuangnya asal.
Dalam hati ia menyeringai penuh kemenangan meskipun dengan cara yang salah. Namun, saat ia hendak membuka kancing kedua, tetiba derit pintu gudang terdengar terbuka. Sontak, ia menggerutui kebodohannya yang lupa menguncinya.
Tak tahu harus melakukan apa, ia segera bersembunyi di balik bangku dan meja yang sudah tak layak pakai dalam gudang tersebut.
"Icha...!"
"Icha...!"
"Lo dimana??"
"Jangan bercanda, Cha. Lo pasti di sini kan??"
Itulah beberapa seruan dari temannya yang sedang mencari Icha.
Mencoba memasuki lebih kedalam lagi. Dan akhirnya, ia menemukan Icha yang terbaring mengenaskan begitu saja di lantai dengan dasi yang sudah terlepas dan kancing atas seragamnya sudah terbuka.
"Ichaa .." seru Sukma yang langsung menghambur ke tubuhnya yang langsung diikuti temannya yang lain.
"Icha.... Astaghfirullah." pekik Anis.
"Icha..." seru beberapa temannya yang lain.
"Sial, siapa yang berani ngelakuin ini?" umpat Wahyu kesal.
"Sabar-sabar dulu, Yu." ucap Kevin menenangkan Wahyu yang sudah tersulut emosi.
"Woii, siapa Lo?? Gue yakin, Lo pasti masih di sini kan?? keluaaar!!!!" teriaknya dengan wajah yang sudah merah padam.
Mengepalkan tangannya, "Woiii." menggebrak meja dengan kerasnya.
"Keluaarrr!!" sulut emosinya.
"Sebaiknya, kalian bawa Icha ke UKS deh. Biar gue, Ilham, dan Wahyu yang cari pelakunya." ucapnya pada keempat cewe tersebut.
"Hah? yang benar saja."
"Eh, itu nggak etis. Nanti kalau banyak orang yang tanya gimana?" sanggah Anggy.
"Ah iyha. Ya udah biar gue aja yang bawa. Kalian tetap ikut gue. Dan lho, Ham, tetap temenin Wahyu di sini. Selesai bawa Icha ke UKS, gue langsung ke sini." jelasnya pada Ilham.
"Iyha, siap. Udah Lo bawa cepat." suruh Ilham.
Kevin pun segera menggendong Icha dan langsung membawanya ke UKS yang diikuti oleh keempat sahabat cewe nya.
"Sial. Keluar nggak??" menggebrak meja sekali lagi.
"Sabar. Sabar dulu, Yu. Kita cari sama-sama pelakunya. Dia tidak bisa melarikan diri. Gue udah kunci pintunya." ucap Ilham seraya merendamkan amarah Wahyu.
Sahabat manapun yang tahu jikalau sahabatnya diperlakukan seperti itu, pasti tidak terima, apalagi korbannya seorang perempuan yang benar-benar ia jaga melebihi nyawanya sendiri.
Geram, mengerang seperti orang kesetanan, Wahyu mulai mengobrak - abrik semua bangku dan kursi yang tak terpakai itu.
Brak.. brak... brak...
Suara kursi dan meja yang berjatuhan.
"Keluarrr!!!!!" serunya dengan wajah yang sudah merah padam.
"Siall. Brengs*k." umpat Rama yang masih bersembunyi diantara meja dan kursi.
"Gue harus cari cara untuk bisa keluar dari sini."
Merogoh saku celananya, "Ah sial. Ngggak bawa HP segala. Ah..." umpatnya untuk kesekian kalinya.
Berjalan mulai mendekati tempat persembunyian Rama,
"Gue tahu, Lo pasti masih berada di sini. Dan Lo gak bisa lari dari sini. Siapapun kamu, gue akan bikin perhitungan yang setimpal." geramnya dengan rahang yang sudah mengeras.
Berjalan mundur pelan-pelan. Tahu, kalau Wahyu sudah tahu tempat persembunyiannya.
Merasa tidak ada langkah kaki, ia memutuskan untuk mencoba melihat kearah pintu, yang memang gemboknya berada di dalam.
"Sial, brengs*k Lo Yu, awas yha, gue akan balas dendam kali ini."
Srekkk,
Dengan cepat, Wahyu menemukan Rama dan segera menarik hodi hitamnya saat ia mencoba kabur.
"Mau pergi kemana Lo?" tanyanya yang langsung disusul oleh bogem,
Bugghh,
Satu tinjuan yang mendarat sempurna di wajah ganteng Rama.
Karena tidak sigap, ia langsung terhuyung ke lantai.
"Awww." menyentuh sudut bibirnya yang sudah berdarah.
Menatap tajam orang di bawahnya, "Brengs*k Lo. Cowo apaan Lo, yang beraninya cuma sama cewe. He?" mencekal krah seragamnya. Semua amarahnya sudah berada di puncak ubun-ubun dan tak bisa ia kendalikan lagi.
Bughh
Bughh
Bughh
.
.
. Bersambung,
Maaf yha besti-besti nya aku. Mau minta tolong, tolong do'akan agar novel ini cepat lulus kontrak 😭. Biar, author lebih semangat lagi ☹️.
Dan jan lupa, kalau mampir, tolong tinggalkan jempolnya yha,,,
Huumb, terima kasih ❤️!