I'M Okey

I'M Okey
Orang misterius



"Yu." menatap Wahyu yang bingung dan langsung menggaruk tengkuknya.


Rio yang menangkap kebingungan Wahyu pun mengerti.


"Sudahlah yank. Lagian cuma candaan tadi, Ibu juga tadi udah ngasih tahu, kalau rahasia. Siapa tahu Meraka lagi siapin kejutan untuk ulang tahunmu yank." jelas Rio yang membuat Icha membuka mulutnya membulat dan mengangguk - anggukan kepalanya.


"Hhhe " sekali lagi Wahyu hanya cengar-cengir kebingungan.


"Udah ayok, nanti CFD nya keburu dimulai lho."


"Ah iyha kak."


Segera mereka kearah motor Rio yang terparkir di depan rumah Icha. Sebelum kearah motornya, Rio membisikkan sesuatu yang membuat Wahyu langsung berwajah pias.


"Lo hutang penjelasan sama gue." bisiknya tepat di telinga Wahyu.


Terbelalak.


Apa? Kak Rio tahu? tapi dari mana? bathinnya seraya diiringi degup jantungnya yang berdetak kencang.


Menyeringai bukan karena ia tahu, melainkan melihat mimik wajah Wahyu sangat imut dimatanya.


Tin. bunyi klakson dibunyikan Rio pertanda ia akan pergi.


.................


5 menit setelah CFD.


"Kak, lapar." rengeknya manja.


"Lo tadi kamu belum sarapan?"


Langsung dijawab cepat dengan gelengan di kepalanya.


"Ya udah ayok, kita cari makan." beranjak dari aspal yang sedari tadi ia duduki bersama ratusan orang yang sedang melakukan CFD.


Hari minggu adalah hari yang paling dinanti jutaan manusia, meskipun hanya satu hari. Hari di mana semua manusia merelekskan otak dan tubuhnya setelah 6 hari bekerja keras. Hari bersantai, bersenang senang dengan keluarga maupun orang yang mereka cintai.


Semisal saja Rio dan Icha, yang kini sudah menikmati nasi pecel khas Jakarta.


Mereka berdua terlihat sedang tertawa di sela-sela sarapannya. Mungkin sedang membicarakan yang lucu-lucu, atau nggak yha nggak tahu lah. Wkwwkwkkw.


"Kakak mau nyobain punyaku?" tawar Icha yang sudah mengambilkan satu sendok nasi pecelnya plus irisan bakwan goreng ke depan mulut Rio.


Yha mau nolak juga nggak enak, orang udah disuguhkan didepan mulutnya. Yha jadinya,


Hap. Rio menerima satu suap nasi pecelnya. Setelahnya dia tersenyum dan langsung mengacak-acak rambut Icha.


"Udah jadi hobi banget ngacak-ngacak rambut Icha." ujar Icha pura-pura cemberut.


Rio hanya menimpali dengan senyuman, dan....


"Aaaak." mengarahkan sendok yang sudah berisi nasi pecelnya di mulut Icha.


Melirik dan tersenyum, Hap. Nasi pecelnya sudah dilahap oleh Icha.


Yha itulah alasan yang membuat mereka tertawa bersama. Bukan karena cerita tapi cuma adegan romantis kecil saja sudah bisa membuat mereka bahagia.


Tring tring tring. Panggilan suara masuk di ponsel Icha. Ia merogoh tas selempangnya.


Ka David.


Itulah nama yang tertera di layar ponselnya.


"Em kak, aku terima panggilan dari teman dulu yha." izinnya yang langsung diangguki Rio.


"Halo."


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Tepat, saat ia menerima telepon dari David. Di depan sana, ia melihat seseorang yang memakai hodie merah dengan tudungnya dipakai diatas kepala dan masker di wajahnya seperti sedang mengawasi seseorang karena terlihat dari gestur tubuhnya. Awalnya Icha cuek, tapi kok lama kelamaan, orang tersebut seperti mencurigakan. Tidak etis kan, di siang bolong seperti ini memakai hodie yang tertutup.


Nggak panas??


Eh,


Sepertinya orang itu tahu, kalau Icha sedang menatapnya. Mungkin terlihat mencurigakan kalau ia berada di sini terus dan memakai pakaian seperti ini.


Dan, tak banyak berpikir dan menaruh rasa curiga Icha ataupun orang lain, ia melepas tudung hoodinya dan maskernya.


Mengernyitkan dahi,


Pria. gumam Icha yang sedari tadi memang masih memperhatikan orang itu.


Pria dengan tubuh tinggi, berkumis tinggi, dan alis kanan dibelah tengah.


Orang itu dengan santainya duduk di pinggir jalan bersama orang lain. Ia meraih air mineralnya yang memang sudah ia beli sebelum melakukan aksi mata-matanya. Ia sesekali melirik kearah Icha, dan yha Icha masih menatapnya tanpa mau melepaskan tatapannya.


kata David basa basi di seberang sana.


1 detik, 2 detik, 3 detik, hingga detik ke 30, tidak ada sahutan.


"Cha?" menjauhkan ponsel untuk dilihat apakah masih tersambung panggilannya atau tidak.


Tersambung. bathinnya.


"Halo, Cha." panggilnya sekali lagi dan masih tidak ada jawaban.


"Icha. Masih di sana kan?" menaikkan nada suaranya agar terdengar.


"Hah?" terperanjat karena tidak fokus. Melirik Rio yang melihatnya kebingungan.


"Ah, iyha kak. masih kog. Hhhe." jawabnya gugup.


"Iyha kak, nanti bisa. Seperti biasanya saja yha." seketika langsung mematikan panggilannya sepihak.


"Hah?" di sana David dibuat bingung karena tiba-tiba saja dimatikan sepihak.


"Kenapa yank? kog kelihatannya gugup sekali." tanya Rio yang mengelap bibirnya dengan tisu.


"Ah? Nggak kog kak. I...tuuu." ingin rasanya ia bilang kepada Rio kalau orang yang di depan sana, sangat mencurigakan.


Tapi eh,,,


kog gak ada? celingak celinguk mencari keberadaan orang itu. Namun sial, ia tak menemukannya karena ramainya orang berlalu lalang.


"Cari siapa yang?" tanya Rio yang seraya ikut melihat arah pandang Icha. Tapi tidak ada siapapun. Hanya orang berlalu lalang saja.


"Kak, tadi sewaktu aku menerima panggilan dari teman, di depan sana." tunjuk tempat di mana ia melihat orang berhodi merah tadi duduk.


"Ada orang mencurigakan." tambahnya.


"Mencurigakan?"


"Iyha kak. Orang itu tadi pakai hodie berwarna merah, menutup wajahnya dengan masker. Kan aneh kan yha kak, masa siang-siang begini ada orang pakai hodie? Nggak gerah?" jelasnya dengan tatapan yang serius.


"Ciri-cirinya kamu tahu?" kembali menyedot es tehnya.


Menganggukkan kepalanya. "Malah aku sempat melihat wajahnya."


"Hah?"


"Seingat aku itu, alis kanannya di belah tengah kak. Yha kayak zaman sekarang aja sih, trend nya gitu." ucapnya seperti putus asa, karena anak muda zaman sekarang lagi suka trend itu.


"Tidak ada yang lebih spesifik? Yha mungkin ada tanda apa di wajahnya."


Menggelengkan kepalanya. Toh ia juga melihatnya lumayan jauh dari tempat duduknya. Jadi, tidak mungkin ia bisa melihat detail wajah orang itu.


"Ya sudah, kamu tenang saja. Biarin kakak yang cari informasi. Siapa tahu dia mungkin salah satu orang yang ikut CFD di sini."


"Hah?" keheranan.


"Coba kamu lihat sampingmu!" titahnya pada Icha.


"Bingung?" seakan tahu isi otaknya.


"Coba lihat orang itu." tunjuknya pada seorang wanita yang sedang memainkan ponselnya seperti sedang menunggu nasi pecelnya jadi.


"Dia juga pakai hodie dan masker yank. Tuh maksernya dilepas."


Seketika mata Icha melihat orang yang ditunjuk Rio. Benar saja, orang itu memakai hodie coklat susu ditambah masker yang ditaruh di atas meja.


"Hufft." menghembuskan nafas kasar.


"Udah. Paling salah lihat yank." bijaknya yang seketika membuat Icha sedikit lebih tenang.


Menganggukkan kepala.


Di balik warung pedagang kaki lima,


"Iyha bos, tadi dia sempat melihat saya. Tapi segera saya mengalihkan pandangannya dengan melepas masker dan berpura-pura duduk di tengah orang-orang yang sedang CFD." lapornya di panggilan pada seseorang.


"Bagus. Terus alihkan perhatiannya, jangan sampai dia curiga sama kamu."


"Baik bos."


Tut. panggilan di matikan,


Dan, orang itu tersenyum aneh, "Segeralah huru hara ini datang."


Suhhhhh. meniup telapak tangannya yang seperti ada debu.


Bersambung,