
Menyalakan mesin motornya. Tanpa aba-aba, Icha langsung naik keboncengan, memeluk erat Rio lalu menyandarkan kepalanya di punggung yang tertutup oleh jaket kulit hitam itu.
Mengernyitkan dahi, bukan maksud tidak suka. Tapi, ada perasaan yang tidak enak.
Kenapa? Menangis? Oh Ya Tuhan. Sengaja memelankan laju motornya.
Kenapa? Kog malah nangis? Kan hanya datang, kenapa harus Takut?
Huffft. Menegakkan kepala lalu mengusap bulir air asin yang sempat keluar.
*************
Sesampainya di rumah.
Icha langsung turun dari motor. Terlihat ibunya yang sedang menjemur pakaian.
"Assalamu'alaikum Bu."
Jelas dari raut wajahnya yang terlihat kaget lalu meletakkan pakaian yang sudah siap untuk digantung ke ember lagi, tatkala mendengar suara salam dari seseorang.
"Wa'alaikumussalam." Menerima tangan yang meminta untuk diciumnya.
Tak berselang lama, Rio juga ikut bergabung.
"Assalamu'alaikum, Bu." Mencium tangan Bu Mayang.
"Wa'alaikumussalam." Tersenyum hangat.
"Ayo, masuk dulu nak." Mempersilahkan Rio dan Icha masuk kedalam rumah.
"Kamu di sini aja Cha. Temenin Rio. Biar ibu yang membuat minuman." Ucapnya tatkala melihat Icha yang mau pergi ke dapur.
"Em, iyha buk." Mendudukkan pan***nya di samping Rio.
Tak lama kemudian, Ibu Mayang sudah keluar dari dapur sembari membawa nampan yang sudah ada gelas berisi kopi dan teh hangat.
"Makasih buk."
"Iyha. Kayak siapa aja nak." Kini ibu juga ikut duduk tapi bersebrangan dengan mereka berdua.
"Em, gini buk. Rio juga tidak bisa lama-lama di sini. Soalnya masih ada urusan." Ucapnya sopan.
"Iyha gak papa."
"Juga, meminta izin mengajak Icha main ke rumah Rio besok Hari Sabtu."
Mengernyitkan dahi, "Tumben nak Rio. Ada acara?" Pertanyaan yang terlihat aneh. Tapi fakta. Karena memang, itulah hari pertama, dimana Icha menginjakkan kaki di rumah Rio.
"Em. Mamah dan papah saya pulang dari luar negeri, Bu. Katanya ada sedikit pekerjaan yang harus diselesaikan disini Tapi kemungkinan cuma sebentar." Jelasnya.
"Ouh, Yha." Tersenyum dengan melirik Icha yang hanya memainkan bajunya.
"Baiklah. Ibu izinkan, tapi tetap jaga Icha yha nak Rio. Soalnya, dia pasti malu ketika bertemu dengan Orangtua kamu." Tambahnya.
"Huumb, iyha Bu."
"Kalau begitu, saya pamit pergi dulu yha Bu." Ucapnya seraya beranjak dari duduk. Mencium tangan Bu Mayang, lalu mengucapkan salam.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Keluar rumah yang diekori Icha. Sementara ibu sudah kembali ke dapur.
"Kakak pergi dulu yha." Ucapnya ketika sudah diatas motor dan memakai helmnya.
"Iyha. Hati-hati kak."
Mengangguk, "Jangan nakal." Mengacak rambut Icha lalu mulai melajukan motornya.
Ibu yang tak sengaja melihat pintu kamar Icha terbuka sedikit, mengurungkan niatnya untuk melanjutkan menjemur pakaian lagi.
"Temuilah tanpa membawa beban sayang." Membuka pintu sedikit lebar. Menghampiri Icha yang termenung menghadap jendela. Seakan tahu apa yang dirasakan oleh anaknya.
Icha yang terlonjak kaget, langsung menoleh ke asal suara.
Duduk di sampingnya. Diraih tangannya lalu ditaruh dipangkuannya. Tersenyum, "pergilah." Ucapnya lembut.
Mengernyitkan dahi.
"Nak Rio, orangnya baik. Ibu percaya sama dia." Mengelus rambut Icha yang diiringi dengan senyuman.
Menatap wajah teduh ibunya. Lalu memeluknya erat. Menumpahkan segala kegundahan hati yang mungkin akan terjadi nanti. Tak sanggup, jika ibunya menampilkan raut wajah yang sedih. Icha pun segera melepaskan pelukannya dan bicara
"Aku akan datang Bu. Tapi aku juga tidak tahu, bakal diterima atau tidak." Menatap lekat mata hitam ibunya.
"Percaya sama nak Rio." Ucapnya meyakinkan.
"Dia pasti akan berusaha untuk meyakinkan hati kedua orangtuanya." Mencoba tersenyum menutupi kegetiran yang juga dirasakan oleh Icha.
Saling mencintai juga saling menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing adalah anugerah yang luar biasa untuk Icha dan Rio. Menjalani hubungan yang belum mendapat restu dari orang tua salah satu pihak, membuat mereka terus berusaha untuk meyakinkan dan memantapkan hati mereka. Menjaga kepercayaan adalah kuncinya.
Tidaklah ada kata menyerah dalam kamus Rio. Walau Orangtua atau takdir sekalipun yang tak merestui mereka, ia tetep bersikeras untuk melawannya. Seakan tak peduli akan bahaya apa yang mungkin menimpanya. Tidaklah Allah merubah nasib suatu kaum kecuali mereka merubah nasibnya sendiri? Begitulah kata dalam Al-Qur'an yang dapat dijadikan motivasi untuknya.
Malam menjelang. Warna orange kemerahan di cakrawala sudah berganti dengan warna biru kehitaman. Tampak, langit yang cerah dan banyak bintang. Tiupan angin yang sudah mulai terasa dingin, memaksakan bagi siapa saja harus memakai pakaian tebal yang hendak akan keluar.
Tak terkecuali Rio yang sudah memakai hodi tebal mahalnya. Ia, yang setelah mengantar Icha pulang langsung bergegas ke rumahnya. Mandi, mengganti pakaian, dan langsung pergi lagi. Saat di rumah, ia tak menjumpai sang adik, Grafa. Entah kemana perginya bocah itu. Memang sudah biasa jikalau ia sering pulang telat.
Melajukan motornya dengan kecepatan maksimal. Takut teman-teman yang lain sudah lama menunggunya. Tak lama kemudian, ia memasuki gang yang mungkin cuma muat buat satu mobil saja. Jalanan yang beraspal tapi sedikit rusak dengan lampu yang temeram. Terlihat di samping kanan dan kiri, terdapat lahan pertanian padi serta rumah warga satu dengan yang lainnya sedikit berjarak. Menandakan masih sedikit penduduknya. Ia baru memasuki gang ini pertama kali.
Berhenti sejenak, membuka maps yang telah dikirim oleh temannya. Melihat, apakah benar gang yang dimasukinya ini.
Membuka kaca helm lalu melihat mapsnya dengan fokus. Benar, kurang sedikit lagi ia akan sampai di rumah temannya.
Kembali melajukan motornya dengan kecepatan sedang, seraya tangan kirinya yang memegang ponsel yang menampilkan aplikasi petunjuk arah tersebut.
Lima menit berlalu, akhirnya ia sampai juga. Sedikit salah arah tadi, membuatnya harus putar balik walau tak jauh.
Mematikan mesin motor. Membuka helm dan langsung turun dari motor. Sudah terlihat di halaman rumah yang sederhana itu, ada beberapa mobil dan motor yang tentu ia kenali.
Temannya sudah sampai semua. Mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Semua orang yang berada di situ, sontak melihat asal suara.
"Oh, silahkan masuk Yo." Ucap salah satu temannya. Menganggukkan kepala lalu menyalami semua temannya ala anak cowok.
"Devi mana?" Tanya keberadaan yang punya rumah yang diikuti dengan mendudukkan pant***ya di samping temannya yang beralaskan tikar.
"Ada. Di dapur. Sedang buat minuman mungkin." Jawab salah satu temannya yang lain.
"O..."
"Sudah lama sampai? Maaf telat tadi. Soalnya sedikit nyasar. Hhhe." Sedikit canggung karena terlambat. Ditambah lagi mereka semua belum akrab.
"Santai. Belum juga mulai ngerjain tugasnya." Tersenyum. Kini, Devi sang pemilik rumah yang menjawab. Membawa nampan yang berisi gelas dan di belakangnya ada satu wanita lagi yang membantu membawa nampan yang berisi makanan.
Berjalan menuju teman-temannya dan meletakkan nampan itu di atas meja.
"Jadi, ngrepotin Lo deh Dev." Ujar temannya, pria.
"Tapi seneng kan, dapat makan dan minum gratis. Hhhh." Celetuk teman yang membawa nampan bersama Devi tadi.
Sontak, seisi ruangan langsung tertawa.
Devi melirik Rio dengan tatapan yang entah. Tersenyum saat melihat Rio tersenyum tipis dengan begitu manisnya.
Ah, dia kan sudah punya pacar. Tepisnya dalam hati.
Bersambung,