
Tong tong tong
Bunyi panci yang ditabuh Bu Mayang tepat di telinga Icha yang masih asik terlelap di dalam selimut. Entah ia tidur jam berapa, yang pasti ia tidur setelah mengerjakan tugas dari seseorang yang sudah berlangganan kepada dirinya.
"Icha.... Icha....."
Tong tong tong.
Teriak nyaring Bu Mayang yang jika kamu di sampingnya, maka gendang telingamu akan pecah.
"Allahu Akbar buk. Sakit." bangunnya tergesa-gesa seraya menutup kedua telinganya.
"Bangun!!!! Makanya bangun. Anak gadis jam segini belum bangun." teriaknya seraya berkacak pinggang.
"Iyha buk. Ini sudah bangun." ucapnya yang masih terdengar serak.
"Sudah, sudah. Tapi matanya masih merem gitu." omelnya lagi.
"Yha kan masih ngantuk buk." ucapnya yang berniat untuk merebahkan dirinya di kasur lagi namun segera ditahan Bu Mayang.
"Masyaallah." teriaknya kencang seraya menahan tangan Icha.
"Tuh, di depan sudah ada den Rio. Masih mau tidur?"
"Hah? Kak Rio?" melihat jam di dinding kamarnya.
"Tapi masih jam 5.30 buk. Lagian juga hari minggu." dengan menggaruk belakang kepalanya malas.
"Masih-masih. Nggak sholat subuh?"
"Sholat buk." jawabnya malas.
"Yaudah sana bangun, sholat dulu baru mandi. Terus ajak den Rio sarapan bersama."
"Iyha buk." ucapnya seraya beranjak dari kasur empuknya.
"Anak prawan zaman sekarang kalau bangun masih dibangunin. Gayanya aja yang sok-sokan tapi dalamnya mah malas-malasan." gerutu Bu Mayang sembari merapikan kasur Icha.
Tersenyum kikuk saat matanya bertemu dengan Rio. Iyha-iyha lah malu. Masa anak gadis kalah sama anak laki-laki.
"Hhhe, Icha mandi dulu yha kak." pamitnya membungkukkan badan lalu berjalan menuju kamar mandi.
Tersenyum sambil menganggukan kepalanya.
"Hhhe maafin Icha yha den Rio." ucap Bu Mayang setelah keluar dari kamar Icha. Tidak lupa ia membawa pakaian kotor dan selimut Icha yang nantinya akan dicucinya. Eittss, jangan lupakan panci dan spatula yang dibawanya tadi untuk membangunkan Icha. wkwkwk.
"Icha mah gitu kalau tidurnya kelewat batas. Suka kesiangan." cerocosnya lagi seraya meletakkan seperangkat bawaannya di lantai dan segera bergabung dengan Rio.
Rio yang sedang meminum teh hangat buatan Bu Mayang, langsung menaruhnya di atas meja lagi. Tersenyum, "Iyha Bu, tidak apa-apa. Lagian sepertinya, Rio yang kepagian. Hhhe."
"Alah, tidak apa-apa nak. Ibu malah senang kalau kamu datangnya pagi. Bisa bantuin ibu bangunin si anak yang katanya rajin itu." sindir Bu Mayang yang masih terdengar jelas di telinga Icha. Karena ia baru saja mengambil wudhu.
"Icha dengar Bu." kesalnya yang melewati mereka berdua begitu saja.
"Xixixi." Bu Mayang terkikik geli melihat ekspresi Icha yang digodanya. Dan itu malah membuat Rio ikut terkikik juga.
"Ya Sudah nak Rio. Ibu mau lanjutin nyuci baju dulu yha. Nanti kalau lama nunggu Ichanya, bisa tiduran dulu di kursii ya. Maaf yha ibu tinggal." ucapnya seraya mengambil seperangkat bawaannya tadi untuk menuju ke arah dapur.
............
Tring,
Sebuah pesan masuk ke ponsel Icha, saat ia sedang menyisir rambutnya.
"Bisa gue ambil sekarang?" pesan masuk dari seseorang yang sudah berlangganan menyelesaikan tugasnya pada Icha. Siapa lagi kalau bukan David.
Wah cepat banget bacanya. bathin Icha yang meneruskan kegiatan menyisir rambutnya.
Tidak menunggu lama, ponsel Icha langsung berbunyi lagi.
Ternyata sebuah balasan dari orang tersebut.
'Oke'
Dibacanya saja, lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas dan memakainya.
Setelah 30 menit berkutat, akhirnya ia keluar dari kamar dengan pakaian yang sudah rapi.
Rio yang sedang sibuk dengan benda pipinya tadi, langsung berhenti karena panggilan seseorang.
"Kak Rio." panggilnya seraya mendekat ke Rio.
"Udah?" tanyanya saat Icha sudah berdiri tepat di depannya. Ditatapnya lekat, dengan pakaian santai ala anak remaja, menambah keimutan yang dimiliki Icha.
Menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Tersenyum, "Ayok." beranjak dari duduk dan menggandeng tangan Icha.
Mereka berjalan keluar dan mendapati seseorang yang mereka kenal sedang berbicara dengan Bu Mayang.
"Wahyu?" gumam Rio dan Icha bersamaan.
Menghampiri Wahyu dan ibunya yang sedang fokus berbicara hingga tak sadar jika mereka berdua sudah berada di belakangnya.
"Iyha, buk. Wahyu akan jaga rahasia." balas Wahyu yang sangat jelas terdengar di telinga Icha dan Rio.
"Rahasia apa buk?" tanya Icha yang seketika membuat Bu Mayang dan Wahyu menegang.
Saling menatap satu sama lain, hingga berputar arah pandang dan menghadap ke arah sumber suara.
"Ada rahasia apa ibu sama Wahyu?" tekan Icha yang penasaran akan suatu hal yang disembunyikan ibunya.
Di samping Icha, Rio hanya diam memperhatikan tapi juga ikut berpikir, rahasia dan rencana apa yang mereka buat dan sembunyikan?
"Emm i....itu." jawab Wahyu tergagap.
"Ah, kamu Cha. Kepo amat." sahut Bu Mayang seraya memukul kecil lengan anak kesayangannya itu.
"Kalau diberitahu nanti namanya bukan rahasia lagi dong." tambah Bu Mayang dengan sedikit tertawa dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Mereka bertiga mengernyitkan dahi karena bingung.
"Sudah. Tidak usah dipikirkan. Nanti kamu juga tahu sayang." ucapnya lembut, sangat lembut. Ah, inilah yang membuat para kaum laki-laki tergila-gila pada Bu Mayang sewaktu muda dulu. Yha karena sikapnya yang lemah lembut.
Nexxttt. Hhhiii.
Tak lama setelah berkata seperti itu, Bu Mayang langsung masuk kedalam rumah serta membawa ember yang dijadikan tempat untuk menaruh pakaian yang akan dijemur tadi.
Bersambung,
Em, author minta tolong dong,
ada yang ingat nggak, nama dari teman kuliah Rio yang suka mengerjakan tugas kuliahnya sama Icha? Itu di episode-episode sebelumnya, kira-kira author udah kasih namanya nggak sih??
Kalau sudah, trus para bestinya akuh ingat atau tahu, tolong komen yha😌. Soalnya, author lupa. Hhhe.
Hhhe terimakasih bestinya akuhh 🥰🥰🤗.