I'M Okey

I'M Okey
Kehidupan baru Sukma



Dug,


Kening Icha terjedot dada bidang orang yang di depannya, dan buku yang dibawa mereka berserakan di lantai.


"Awww." Rintih Icha.


"Jalan pakai mata dong." Seloroh orang itu.


Deg.


Suara hantu lagi.


Mencoba mendongak, seketika langsung membelalakkan kedua matanya yang diiringi dengan menelan ludahnya kasar.


Mampus gue.


Keringat dingin mulai memenuhi wajah dan tangannya.


"Hah." Sentakan nafas kasar dari orang tersebut. Icha hanya berwajah pias yang tertunduk merem.


"Hobi banget Lo nabrak gue." Sedikit menaikkan nada suaranya.


"Ma-af." Suaranya tercekat, seperti ada sesuatu yang menghambat di tenggorokannya.


Dengan cepat, Grafa mengambil kertas jawaban anak kelasnya untuk dikumpulin ke Pak Hakim.


"Huh." Memukul kepala Icha dengan kertas jawaban.


Yang dipukul hanya memejamkan mata tidak bergeming. Mungkin menikmati sensasinya dipukul dengan tumpukan kertas.


"Untung Lo temannya si Wahyu, kalau nggak, bisa habis Lo." Katanya yang langsung mengetuk pintu ruangan Pak Hakim.


Seketika mata Icha langsung membola sempurna. Habis? emang siapa dia?


Membayangkannya hanya membuat tubuhnya bergedik ngeri.


Tanpa berpikir panjang, ia langsung mengambil kertas tugasnya itu.


Disaat ia sedang mengambil kertasnya di lantai, pintu ruangan Pak Hakim terbuka dan menampilkan sesosok yang seminggu terakhir ini, dicurigai oleh Syiffa.


Terlihat juga, Grafa belum masuk. Malah, mengamati tajam orang yang dihadapnya. Sukma yang paham akan tatapan tajam Grafa, langsung membuang muka kearah lain.


"Eh, Cha. Lo ngapain di sini?" Berjalan menuju Icha yang masih asik mengambil kertas tugasnya. Sedikit melirik Grafa, tetapi ia mencoba bersikap biasa.


"Oh, mau ngumpulin tugas." Jawabnya seraya bangun dari jongkok. "Hhhe." Tambahnya.


Sebenarnya, Icha penasaran dengan Sukma. Ia mau bertanya lebih, tapi tempatnya tidak tepat. Mungkin nanti, kalau sudah sampai kelas.


"Lo ngapain ke sini juga?" Mengernyitkan dahi saat tahu seragam yang dipakai Sukma kotor. Sukma yang tahu arah pandang Icha, mencoba mencari celah agar tidak ada rasa curiga.


"Seragam Lo..." Belum sempat bertanya, Sukma sudah lebih dulu memotongnya.


"Ouh, iyha. Gue mau ke toilet dulu. Hehe. Gue duluan Cha. Daaa." Jawabnya gusar lalu menuju toilet.


Mengikuti arah langkah perginya Sukma.


"Aneh kaya Lo." Ucapnya tepat di telinga Icha.


Sontak Icha langsung menoleh ke asal suara. Eh,,


Mata mereka bertemu dan Grafa mengunci tatapan Icha. Ada perasaan aneh yang timbul.


Kenapa berbeda? Grafa.


Oh jantung, kenapa deg deg deg.an? Icha.


Masih mode saling tatap hingga suara deheman yang membuyarkan mata dan pikiran mereka.


"Ehem". Alhasil, membuat mereka salah tingkah sendiri.


"Jadi ngumpulin tugas atau masih mau bertatap-tatapan?" Seloroh Pak Hakim, yang memang sedari tadi memperhatikan tingkah mereka.


Tanpa aba-aba, Grafa langsung nyelonong masuk kedalam begitu saja. Saat Icha mau menyusul, tetiba pintunya tertutup dan yha, keningnya jadi korban lagi.


Menit berlalu,


"Huffft." Menarik nafas panjang, lalu membuangnya pelan. Memejamkan mata. Memikirkan sikap apa yang harus ia ambil dalam masalah ini. Memikirkan dengan matang-matang, agar tidak ada orang yang kecewa.


"Sabar." Memotivasi dirinya sendiri.


Menghidupkan kran di wastafel itu, lalu membasuh muka nya.


"Maaf." Terlihat raut wajah yang sedih.


"Mungkin keputusanku akan menyakiti hatimu." Ucapnya tetiba sendu. Ada gurat kekhawatiran dan ketakutan di dalam hatinya. "Tapi apa boleh buat, mungkin itu yang terbaik." Monolognya lagi yang langsung disambut dengan senyuman kecutnya.


Kembali keruangan Pak Hakim,


"Besok hari Senin adalah pemilihan ketua OSIS yang baru. Jadi, saya harap kalian berdua mempersiapkan materi, visi, dan misi yang akan kamu jalankan." Jelasnya pada Grafa dan Wahyu. Yha, mereka berdua yang mencalon sebagai ketua OSIS baru, setelah Rama anak kelas XII mengundurkan diri karena mau fokus ke Ujian Nasional.


"Jadilah, penerus Ketua OSIS yang lebih baik dari sebelumnya." Imbuhnya.


"Rama, saya sebenarnya suka sekali dengan caramu untuk memajukan sekolah ini. Banyak peningkatan yang sudah kamu capai setelah Rio." Pujinya pada Rama yang hanya tersenyum tipis.


"Terima kasih atas pujiannya, Pak." Yang langsung dijawab dengan anggukan kepala Pak Hakim.


"Jadi, kalian berdua, belajarlah dari kakak senior kalian. Buktikan bahwa kalian layak menjadi ketua OSIS di SMA favorit sini." Tuturnya tegas.


Memang, dalam kepemimpinan Rio dan Rama, sekolah favorit itu mendapat peningkatan yang signifikan dalam berbagai bidang. Tak salah, jika Pak Hakim menuntut mereka, yha minimal mempertahankanlah atau lebih bagus meningkatkan kualitasnya lagi.


Kelas XI IPA 1


"Assalamu'alaikum." Salam dari seseorang di depan pintu yang terlihat seragamnya ada sedikit noda kotor seperti habis dibersihkan.


"Wa'alaikumussalam." Jawab seorang guru wanita yang baru saja menerangkan pelajaran. Sontak, membuat seluruh penghuni kelas tersebut menoleh ke arah suara.


Mendekati Ibu Guru, "Em, maaf Bu, saya terlambat." Ucapnya lirih.


"Tidak biasanya kamu terlambat, Ma."


"Juga, kenapa seragam kamu kotor begitu?" Ucapnya setelah menelisik badan Sukma.


"Em, itu Bu." Berhenti sejenak karena memikirkan alasan yang tepat.


"Tadi, gak sengaja terpeleset di jalan." Jawabnya jujur. Memang, saat ia turun dari taxi, ia berlari sekencang mungkin dari pertigaan sampai ke gerbang sekolah. Karena bel masuk akan berbunyi 3 menit lagi. Tapi sial, saat sudah akan sampai, ia tak sadar menginjak segumpalan tanah yang basah, hingga membuat alas sepatunya licin dan terpeleset deh.


"Hem, baiklah. Karena ibu sedang berbaik hati, maka kamu hanya dihukum berdiri di depan sampai pelajaran ibu selesai."


Oh Ya Tuhan, terima kasih banyak. Mungkin, Sukma harus mengucapkan rasa syukur yang sebanyak-banyaknya. Biasanya, kalau guru killer kedua itu sedang mode on, atau ada murid yang terlambat masuk di jamnya atau mungkin tidak masuk, ia tidak akan memberi toleransi sedikitpun. Mereka harus angkat kaki dari kelas dan nilainya dikurangi 10. Oh my good.


"Wah, nggak adil dong Bu." Celetuk Kevin tiba-tiba.


Semua murid yang mendengarnya langsung mendelik kearahnya. Karena, tak ada siapapun murid atau bahkan guru sekalipun yang berani memprotes keputusannya.


"Wow, benarkah? Lantas, hukuman apa yang adil untuk Sukma? Bukankah berdiri di depan sudah cukup?" Intimidasinya seraya berjalan ke bangku Kevin.


"Mampus Lo ngab." Celetuk Ilham yang menyenggol lengannya dengan sikutnya.


Mati gua.


"Cari mati sih lo." Gumam Wahyu lirih tapi masih mampu didengar oleh Kevin dan Ilham.


Meneguk air liurnya dengan susah payah.


"Mau menggantikan?" Tanyanya sekali lagi saat sudah berdiri tepat di samping bangku Kevin dengan bersedakep dada.


"Eh, hhhe, ti-tidak, tidak Bu. Hehe, Bercanda." Elaknya yang disertai cengirannya dan memperlihatkan gigi batiknya.


"Heh." Mendengus kesal.


Bersambung,


Ceritanya memang tak buat seperti itu besti. Memperbanyak cerita masa-masa sekolah.


Hehe, mohon untuk sarannya, para bestie🥰