I'M Okey

I'M Okey
Kecurigaan 2



"Pesan bakso dulu aja Cha." Suruh Wahyu yang diangguki oleh Icha. Mendekati penjual dan memesan lalu kembali ke tempat duduk.


"Aaww." Pekik seorang wanita yang tidak sengaja ditabrak oleh anak lain yang sedang membawa semangkok bakso. Alhasil, seragamnya kotor karena ketumpahan kuah baksonya.


Sontak, membuat semua anak yang sedang menikmati baksonya menoleh ke asal suara. Tak terkecuali Icha dan sahabat - sahabatnya.


"Maaf-maaf kak. Nggak sengaja." Permintaan maaf dari seseorang yang ia tahu itu siapa. Mendongak keatas.


Laura?


Sukma?


"Sorry-sorry Kak, gue nggak sengaja." Kelabakan lalu pergi menjauh begitu saja. Sontak, membuat Sukma curiga.


Kak? Gumamnya dalam hati yang terus melihat punggung itu menghilang ditelan tembok kantin.


"Ma." Menepuk bahu yang membuat Sukma sedikit terkejut.


"Syiffa!" Mengelus dadanya.


"Ngagetin aja."


"Lagian Lo bengong aja. Ada apa sih?" Ikut melihat arah mata Sukma.


"Ada masalah?"


"Oh. Emm, nggak kog." Jawabnya gugup.


"Em. Gue duluan yha." Beranjak pergi, tapi tangannya langsung dicekal Syiffa.


"Kan Lo belum makan."


"Em, gue nggak laper." Mencoba melepaskan tangannya tapi tidak bisa, karena Syiffa mencekalnya kuat.


"Aww." Meringis kesakitan.


"Fa, lepasin tangan gue. Sakit." Ringisnya akan tetapi dibiarkan oleh Syiffa seolah tak peduli.


Icha dan yang lain, melihat Syiffa mencekal tangan Sukma begitu erat terlihat terkejut. Ada apa?


Menatap penuh pertanyaan. Akan tetapi, dibuyarkan oleh Icha yang tetiba sudah ada di sampingnya.


"Fa." Ucapnya lirih seraya melihat tangan yang masih mencekal erat tangan Sukma. Syiffa hanya melirik Icha lalu menatap tajam Sukma lagi tanpa melepaskan cekalan tangannya.


"Kalau ada masalah, sebaiknya dibicarakan baik-baik. Tapi jangan di sini, jadi pusat perhatian semua orang." Ucapnya lirih karena takut orang lain mendengarnya.


Melepaskan cekalan tangannya, lalu pergi duduk gabung dengan yang lainnya.


Sukma yang merasa tangannya dilepaskan, merasa senang. Memegang tangan yang sudah memerah.


"Makasih yha Cha. Gue duluan." Memaksa tersenyum dengan melirik meja yang sudah dipenuhi oleh sahabatnya.


"Nggak makan dulu?"


"Nggak laper." Lalu melenggang pergi.


.


Gue yakin, itu Laura. Tapi kenapa dia pura-pura tidak kenal sama gue?


Mengingat bagaimana Laura yang menabrak dirinya lalu pura-pura tidak mengenalinya.


Aneh. Terus bergumam sembari berjalan menelusuri koridor kelas dengan pikiran yang tak fokus.


.


Tet tet tet


Bel pulang sekolah berbunyi.


Semua murid yang mendengarnya sontak merasa senang, karena sudah terbebas dari kewajiban seorang anak sekolah hari ini. Melepas penat pikiran dan tubuh yang sudah membelenggu sedari tadi. Beramai-ramai, semua murid menuju parkiran untuk mengambil kendaraan masing-masing. Ada juga yang menaiki angkot, ojek, ataupun bus.


Tak jauh dari gerbang sekolah, terlihat seorang laki-laki nangkring di atas motor murid lain, yang mungkin belum pulang karena mengikuti ekstrakurikuler. Sepertinya ia sedang menunggu seseorang.


Sepuluh menit berlalu, akhirnya orang yang ia tunggu keluar juga.


"Tunggu." Ucapnya yang langsung turun dari motor dan mendekati orang itu.


Seseorang yang tengah berjalan sendirian itu, sontak langsung memberhentikan langkahnya karena mendengar suara yang mungkin tak salah ia dengar.


Srek.


"Gue bilang tunggu yha tunggu." Menarik tangan yang punya.


Membalikkan badan.


Deg.


Tanpa sengaja kedua manik hitam mereka bertemu. Karena ada perasaan takut yang masih menjalar dihatinya, Icha pun langsung memutus kontak mata dan langsung melihat kearah lain.


"Emm." Merasa tak nyaman, kala tangannya yang masih dipegang Iqbal.


"Sorry." Langsung melepaskan pegangannya.


Canggung.


"Kamu Fanisya kan? Teman satu kelasnya Wahyu?"


"Icha."


"Hm, yha itu."


"Gue mau minta tolong."


"Ouh. Iyha." Mengambil flashdisknya lalu disimpan di tasnya.


"Ok, thanks yha. Gue duluan." Pamitnya dengan mengangkat tangan kanannya.


Tak jauh dari mereka, ada sepasang sorot mata yang memperhatikan mereka. Tersenyum, saat ia berhasil menangkap gambar waktu Iqbal tanpa sengaja memegang tangan Icha.


"Bila foto tadi belum bisa ngeluarin kamu dari sekolah ini. Maka beberapa foto nanti yang akan mengangkat kakimu dari sekolah ini. Haha." Tawa renyah orang itu lalu melenggang pergi.


*******


Cafe


"Yang, besok hari Sabtu free kan?"


"Kenapa kak?" Tanyanya setelah memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


Sebelum sampai di rumah, Rio ingin mengajak Icha berbicara serius. Tadinya Rio ingin di taman, tapi karena perut Icha sudah keroncongan. Alhasil, yha di cafe.


"Telan dulu yank. Baru bicara. Hhh, kamu itu." Tertawa gemas.


"Hehe."


"Mau ajakin main ke rumah." Menyendok makanan lalu melirik sekilas depannya.


Uhuk-uhuk. Dengan segera, Rio mengambilkan minuman lalu diteguknya.


"Kamu gak papa?" Tanyanya memastikan.


"Oh, gak kok kak. Hehe." Mengembalikan gelas, lalu mengelap bibirnya dengan tisu.


"Oh, kirain." Memasukkan makanan ke mulutnya.


"Em, ada apa kak?" Melihat Rio yang masih dengan santainya menikmati makanannya.


Mendongak, lalu melihat Icha yang terlihat gusar.


"Ehem." Sedikit berdehem.


"Kenapa yank?" Menggenggam tangan yang dijadikan untuk menopang dagunya.


"Ouh, gak papa kak." Mencoba menstabilkan ekspresinya.


"Mamah sama papah kakak, pulang ke sini. Yha mungkin cuma sebentar. Katanya ada sedikit pekerjaan yang harus dilakukan di sini."


Icha yang mendengarnya dengan segera membelalakkan matanya.


"Yha, sekalian ngenalin kamu."


"Eh? Tapi bukannya udah kenal sama aku yha kak?"


"Hum benar. Tapi aku mau ngenalin kamu lebih serius."


"Hah? Maksudnya kak?"


"Dulu kan, Orangtua kakak hanya tahu orangnya, tidak dengan sifatnya." Tersenyum manis alanya.


"Hah?" Masih mode bingung.


"Hhhh. Lucu banget sih " Mencubit pipi kanan Icha.


"Auw. Kog dicubit." Mencebikkan bibirnya.


"Habisnya, ngegemesin banget auk yank." Kini mencubit kedua pipinya.


"Igg kakak. Sakit." Mode cemberut.


"Hhhh."


"Udah, pokoknya kamu datang yha. Nanti kakak jemput. Sekalian, nanti pulang ke rumah izin sama Tante Mayang."


"Em. Iyha kak." Mencoba tersenyum menahan debaran jantungnya.


Deg deg deg. Orangtua Rio akan pulang. Ia tahu, kalau kedua orangtuanya, rada tidak suka sama dia. Tapi, mungkin itulah kesempatan untuk mengambil hati mereka.


Kakak akan melakukan apa saja agar bisa terus bersamamu, Cha. Meskipun, kedua orangtua kakak ataupun kamu mungkin tidak suka caranya.


"Em, sudah selesai?" Tanyanya yang melihat Icha melamun.


Tidak dapat respon, "Cha." Melambaikan tangannya di depan mata Icha.


"Oh." Terpekik kaget.


"Mikirin apa?"


"Em, gak kok kak. Gak papa. Hhhe."


"Soalnya tadi kakak tanya, tapi kamunya malah melamun."


"Oh yha? Hhhe." Menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Em. Kalau udah selesai, kita pulang sekarang yha." Melihat jam tangan yang melingkar di tangannya.


"Soalnya, kakak juga mau ketemu sama temen kakak. Bahas tugas kuliah." Tersenyum lagi.


"Ouh iyha kak."


Mereka pun beranjak dari duduk. Rio membayar tagihan bil makanannya. Lalu segera pergi dari cafe.


Bersambung