
Tubuh Marchel sudah di telan habis oleh gelapnya malam meninggalkan Arland sendirian di sana. Untuk sesaat dirinya masih bergeming menatap ke arah tangga di mana terakhir dia melihat sosok Marchel berjalan ke sana lalu menghilang. Secara tiba-tiba angin bertiup kencang ke arah Arland hingga mampu menyadarkan dirinya yang tenggelam dalam lamunan.
Arland melihat sekelilingnya dan seketika itu juga tubuhnya merinding bukan main, bagaimana bisa dengan teganya Marchel meninggal dirinya di tempat terbengkalai ini? Arland berbeda dengan Marchel yang sudah terbiasa menapakkan kaki ke tempat menyeramkan. Meskipun dia seorang lelaki tapi tetap saja hal ini baru pertama kali dalam hidupnya.
Dengan tergesa-gesa Arland menuruni tangga tanpa melihat lagi ke arah belakang. Sendirian dalam suasana seperti sekarang terasa sangat mengganggunya.
Arland memutuskan untuk segera melangkah menuju rumah dan beristirahat. Namun ditengah perjalanan pikiran Arland terus terkutat. Dia teringat dengan pesan di smartphone Arsiel mengenai pertemuan numbers yang akan diadakan besok pagi.
"Apa besok dia akan absen di sekolah? Tapi ini baru hari pertamanya. Tidak masuk akal jika dia absen besok." Arland bergumam pelan. Saat ini perasaannya sangat tidak karuan. Antara merasa panik, cemas, dan takut. Semuanya dia rasakan disaat yang bersamaan.
Malam semakin larut dan angin semakin banyak yang menyambut. Tidak ada satupun diantara mereka yang menyadari bahwa semuanya baru dimulai dari setelah hari ini.
__________
Suasana pagi hari disekolah berjalan seperti biasanya. Arsiel duduk di taman sekolah sejak pagi buta, menunggu siluet seorang siswa yang sedari tadi tidak kunjung menunjukkan batang tubuhnya.
"Sudah hampir jam masuk sekolah, kenapa dia belum datang juga?" Arsiel berdecak sambil mendengus pelan. Tatapannya terus menyapu wajah setiap murid yang melewati pandangan. Sesekali melihat jam di tangan untuk memastikan dia tidak telat masuk ke kelasnya.
"Arsiel?"
Terdengar suara yang sangat akrab memanggil nama gadis itu. Arsiel dengan cepat menoleh, mencari darimana datangnya asal suara itu.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" Arland bertanya sambil melambaikan tangan dari tempat yang sedikit jauh darinya. Arsiel bergeming, menunggu Arland sampai tepat berada di depan matanya.
"Tidak ada. Aku hanya merasa kesal karena dua orang yang mengadakan pertemuan semalam dengan aku sebagai taruhannya." Arsiel melayangkan tatapan dingin dengan wajah tanpa ekspresi.
Arland mematung mendengar itu. Dia ingin memberikan penjelasan, namun suaranya hanya tersimpan di mulut saja.
"Tidak perlu memberiku penjelasan meski hanya sepatah kata. Aku sudah mendengar semuanya dan aku juga tahu alasanmu menerima tawaran itu." Arsiel mengalihkan pandangan pada air mancur di tengah taman dengan bunga bermekaran yang mengelilinginya.
Arland semakin terkejut. Dia bahkan sampai tidak bisa menyembunyikan keterkejutan yang terlukis jelas di wajah kusutnya.
"Ada hal yang harus aku bicarakan dengamu dan Marchel ketika jam istirahat. Datanglah ke ruang OSIS, aku akan menunggumu disana."
Setelah mengatakan itu, Arsiel pergi meninggalkan Arland yang masih mematung dengan segala kebingungan. Ekspresinya juga belum sempat untuk berubah.
"Sepertinya aku sudah membuat dia marah." Arland menghela napas pelan, berjalan sedikit lunglai karena saking banyaknya beban pikiran.
Arland semakin penasaran mengapa Gerryn melakukan hal keji itu disisi lain dia juga mengkhawatirkan sosok Arsiel gadis yang baru saja dia kenal. Arland merasa dirinya bukanlah orang yang dapat membantu Arsiel seorang diri, bagaimanapun dia sadar membutuhkan bantuan dari Marchel.
Dengan menerima tawaran kerjasama bersama Marchel apakah semua dapat berjalan dengan lancar? Ataukah akan menjadi bumerang untuknya juga Arsiel. Setelah di pikir lebih baik, keputusannya menyetujui tawaran yang melibatkan Arsiel dalam kerjasama bersama Marchel adalah hal yang salah. Maklum saja jika gadis itu marah jika mengetahui dirinya dijadikan taruhan.
Tunggu sebentar sepertinya ada yang terlewat di sini. Arland mencoba berpikir apa yang dia lewatkan. Sampai mana tadi, Arsiel marah jika mengetahui dirinya di jadikan taruhan? Arland baru saja menyadari sesuatu, bagaimana bisa Arsiel mengetahuinya?! Wajah Arland menjadi pucat setelahnya.
Bell berbunyi menyadarkan Arland dari lamunannya. Kelas sudah dipenuhi oleh siswa-siswi yang siap menerima pelajaran di tahun ajaran baru, lima menit berlalu akhirnya guru yang di tunggu memasuki ruang kelas. Seluruh murid yang ada di ruangan mengalihkan perhatiannya ke arah depan kelas.
Arland mencoba untuk fokus sementara waktu melupakan masalahnya. Arland adalah seorang siswa teladan, tugasnya saat ini mendengarkan penjelasan guru yang berdiri di depan kelas sampai pelajaran selesai.
"Baiklah pelajaran berakhir sampai di sini, jangan lupa untuk mengumpulkan pekerjaan rumah kalian besok!" Setelah empat jam berlalu dua mata pelajaran akhirnya selesai. Guru keluar dari kelas di susul para murid yang berhamburan ikut pergi meninggalkan kelas menuju kantin.
Tanpa pikir panjang Arland segera meninggalkan ruang kelas untuk pergi menuju ruang OSIS. Arland berjalan menaiki tangga menelusuri koridor. Selama di perjalanan, Arland memikirkan terlalu banyak kemungkinan. Tapi yang pasti bahwa dia akan bertemu juga dengan Marchel, mengingat lelaki itu lebih banyak menghabiskan waktu di ruang OSIS.
Dilain sisi, Arsiel sudah berada di ruang OSIS bersama Marchel. Sudah sejak sepuluh menit lalu mereka menunggu satu orang tersisa yang tidak kunjung menampakkan dirinya.
Tidak lama kemudian pintu didorong dari luar, memperlihatkan sebagian tubuh Arland yang berada di balik pintu.
"Masuklah. Saya tidak mempunyai terlalu banyak waktu." Arsiel memberi isyarat pada Arland dengan gerakan mata. Tanpa mengangguk, Selang langsung memasuki ruangan dengan atmosfer yang menegangkan itu.
"Saya mengetahui semuanya, jadi jangan mencoba untuk mengelak. Tujuan saya bukan untuk mencari masalah, tapi karena sudah berkembang sampai sejauh ini, maka saya akan mengikuti permainan kalian. Sebelum itu, Arland, seharusnya kamu sudah mengetahui resiko dari mengambil peran ini bersama kami. Jadi, apa kamu tetap akan ikut?" Arsiel mengangkat kedua alisnya, menatap Arland dengan wajah kesal.
"Tentu saja! Bukankah itu terdengar keren?" Arland menjawab antusias.
Arsiel menepuk pelan dahinya sambil menggelengkan kepala. Mengapa Arland begitu antusias, apakah dia tidak mengkhawatirkan keselamatannya? Arsiel merasa pusing menghadapi mereka berdua dan hanya bisa pasrah untuk saat ini.
Arland menghela napas berat. Raut wajah antusiasnya mulai memudar digantikan oleh wajah dengan tatapan sendu. Tidak bisa dipungkiri bahwa dia merasa takut. Namun selalu ada dorongan yang entah darimana asalnya selalu membujuk lelaki itu untuk terus menyelam lebih dalam.
"Aku tahu bahwa ini akan sangat membahayakan, tapi aku akan menerima semuanya. Jangan tanyakan alasanku atau apapun itu. Langsung bahas ke intinya saja." Arland menundukkan kepala, tidak berani menatap empat mata yang berada di depannya. Tersirat perasaan yang tidak dapat dijelaskan sedang menumpuk di benaknya.
"Baiklah, saya akan menuruti permintaan itu. Lalu masuk ke inti pembahasan." Arsiel mengalihkan pandangannya pada Marchel, memberi isyarat padanya untuk memulai.
"Aku siap mendengarkan." Arland juga mulai memusatkan perhatiannya.
"Saya akan menjalankan sebuah rencana ketika pertemuan numbers malam nanti. Rencana ini adalah rencana yang cukup rumit, jadi saya harap kalian bisa mendengarkan saya dan mengikutinya dengan baik."
Arsiel dan Arland memberikan atensi penuh pada Marchel. Suasana di dalam ruangan menjadi hening seketika. Marchel memasang raut wajah serius menatap keduanya, dia menarik napas dalam-dalam sebelum memulai penjelasan.