I'M Not A Special Character

I'M Not A Special Character
Mikhael Archie



Binar matahari menyeruak melewati kaca jendela, menerangi ruang kelas yang terasa berisik seperti biasanya. Arsiel sengaja mengambil tempat duduk di pojok belakang ruangan yang jauh dari pintu. Tidak ada yang memperhatikan atau mengajaknya bicara. Tidak heran, sih. Dia berpenampilan seperti anak culun. Kali inipun Arsiel memainkan peran figuran dengan sempurna.


Kenapa dia ingin memerankan karakter figuran? Menjadi MC jauh lebih baik. Apa dia tidak mampu? Bukan seperti itu. Dia jauh melebihi kata mampu. Hanya saja dia memiliki pemikiran yang berbeda dari kebanyakan orang. Memang pantas menyandang nama "gadis aneh" jika dia bersikap seperti itu. Dan julukan itu bukan dibuat tanpa alasan.


Arsiel Charsa juga bukan nama aslinya. Dia memalsukan identitas? Tentu! Dia memiliki apa yang dibutuhkan untuk melakukan itu tanpa diketahui oleh siapapun. Mengerikan, ya? Setidaknya dia bukan orang bodoh yang bertindak tanpa alasan apalagi sampai terbawa emosi pribadi.


Selama ini Arsiel tidak mengungkapkan jati dirinya pada orang lain. Dia merasa semakin banyak yang tahu, maka akan semakin merepotkan. Jika identitasnya terkuak pada publik, dia jadi sulit untuk mendapatkan informasi. Itulah fungsi "karakter figuran" yang dia perankan saat ini. Jadi siapa dia? Belum saatnya untuk tahu.


Kembali pada suasana kelas.


Arsiel memperhatikan satu persatu dari mereka yang sekelas dengannya. Hanya butuh waktu beberapa hari bagi Arsiel untuk menangkap informasi secara nyata dari mereka. Mulai dari informasi yang terasa konyol sampai informasi yang lumayan berbobot. Dia juga sudah mengetahui beberapa orang penting dan orang berpengaruh di sekolah. Informasi seperti ini sangat penting untuk situasi ke depannya.


Ada beberapa orang yang sampai saat ini menarik perhatiannya. Gadis yang dia temui di hari pertama, osis yang menemani berkeliling sekolah, dan beberapa anak yang tidak terlalu menonjol. Untuk saat ini, Marchel Volgy adalah orang yang berhasil membuat Arsiel turun tangan untuk mengorek informasi.


Lazimnya dia mempercayakan pencarian informasi pada tangan kanan. Tapi kali ini, dia menawarkan diri untuk mencarinya sendiri. Apa yang membuat Arsiel begitu tertarik?


"Apa ada yang bernama Charsa?"


Tahu-tahu ada seseorang yang berteriak dari ambang pintu kelas. Suara yang tidak asing di telinganya. Arsiel mendongak, mencari asal suara.


"Kak Marchel!! Ganteng kaya biasanya!!"


"Kak Marchel pasti sibuk ya jadi anggota OSIS."


"Kalo butuh bantuan ga usah sungkan, kak!"


Hampir semua perempuan di kelas heboh dengan kedatangan Marchel. Belum sempat Arsiel bertanya tentang keperluan Marchel mencari dirinya, Marchel sudah terjebak. Dia dikelilingi oleh para penggemarnya. Marchel tetap memperlihatkan senyuman walau dia merasa tidak nyaman diperlakukan seperti itu.


Arsiel hanya bisa menatap dari bangkunya. Dia memang tertarik pada Marchel, tapi bukan ketertarikan seperti yang mereka rasakan. Arsiel tidak pernah peduli dengan rasa tertarik semacam itu.


"Charsa, temui saya di ruang OSIS!"


Hanya dengan sepatah kata, Marchel begitu saja meninggalkan kelas. Tentu saja semua orang di ruangan itu terheran-heran. Ada hubungan apa antara Marchel dan Arsiel?


Dalam hitungan sepersekian detik, semua pasang mata tertuju pada Arsiel. Dia sengaja memasang wajah polos kebingungan yang membuat hampir semua teman sekelasnya mengecap dia sebagai gadis yang menggunakan kepolosannya untuk menarik perhatian senior.


Tanpa pikir panjang Arsiel segera meninggalkan ruang kelas. lorong koridor terasa sepi dilihat, tapi sangat berisik saat di dengar. Jarak antara kelasnya dan ruang OSIS terpisah cukup jauh. Jika dilihat di denah tiga dimensi, sekolah ini mempunyai tiga lantai. Lantai pertama adalah ruang kelas untuk Angkatan kelas sepuluh dan sebelas.


Untuk lantai dua ditempati kelas dua belas dan beberapa ruangan untuk ekstrakurikuler. Lantai teratas adalah ruangan-ruangan yang disediakan untuk kepentingan sekolah dan guru. Seperti ruang rapat, ruang untuk tamu penting, dan lain sebagainya. Setiap lantai disediakan kantin dan beberapa kamar mandi.


Arsiel sudah sampai di tangga menuju lantai dua, berjalan menaiki anak tangga. Model tangga yang dipakai oleh sekolah adalah model tangga L. Ada tempat jeda sebelum belokan tangga. Disana Marchel sudah menunggu dengan tampang dingin, menunggu Arsiel menampakkan batang hidungnya.


Arsiel yang sudah menaiki anak tangga terakhir sebelum tempat jeda dikejutkan oleh sosok yang sudah menantinya disana. Bukankah Marchel bilang akan menemuinya di ruang OSIS? Kenapa dia menunggu di tempat seperti ini?


"Kamu bilang saya harus menemuimu di ruang OSIS. Tapi mengapa kamu menunggu saya di sini?"


Entah kenapa Arsiel tidak mengenakan 'topeng' seperti biasanya. Saat ini dia memerankan dirinya sebagai 'aku' dan bukan sebagai 'karakter figuran'.


"Saya memang bilang seperti itu. Tenang saja, saya cuma ingin berjalan beriringan hingga sampai di ruang OSIS. Tidak ada niatan lain, jadi tidak perlu memasang muka seram seperti itu. Lagi pula saya bukan preman sekolah."


"Oke, saya pegang perkataanmu. jika saya melihat kamu bertingkah mencurigakan sedikit saja, jaga bagian belakang kepala."


Marchel tertegun mendengar ucapan Arsiel. Tidak akan ada yang menyangka gadis yang terlihat culun seperti dia bisa melayangkan tatapan yang sangat tajam dan mendominasi. Saat ini Marchel merasakan perubahan yang terjadi pada Arsiel. Apakah ini adalah gadis yang sama dengan gadis yang dia temui di kelas beberapa menit yang lalu?


Percakapan usai begitu saja diantara mereka. Sepanjang perjalanan menuju ruang OSIS hanya suara riuh-rendah dan suara langkah kaki yang terdengar. Beberapa kali Marchel mengurungkan niat untuk mengajaknya bicara. Dia merasakan aura yang mengancam sedang memperhatikannya. Gadis ini terlalu menyeramkan.


Beberapa menit berjalan, mereka akhirnya tiba di ruang OSIS. Di dalam ruangan ini tidak ada siapapun yang berarti hanya tinggal mereka berdua. Marchel menutup rapat pintu ruangan bahkan mengunci pintu dengan suara pelan. Arsiel bergeming. Dia sudah memasang kuda-kuda dalam diam, bersiap untuk melancarkan pukulan jika Marchel berani melakukan hal yang tidak senonoh.


"Kamu ingat saya tadi bilang apa?!" Arsiel menautkan alis, menatap awas ke arah Marchel.


"Iya, iya! Saya masih ingat!" Marchel dengan santai berjalan menuju meja kecil di pojok ruangan, mengeluarkan sesuatu dari dalam laci meja.


Arsiel masih bergeming di tempat. Dia tidak bergerak seinci pun. Marchel berbalik, menunjukkan sesuatu yang dia pegang di tangan kanannya pada Arsiel. Itu adalah sebuah kartu berwarna emas cerah. Disana tertulis nama "Mikhael Archie".


Arsiel tertegun melihat kartu nama itu. Rahangnya mengeras, urat di dahinya samar terlihat.


"Harwich West. Code name A-09. Perkenalkan saya Mikhael Archie. Code name A-03. Mohon kerjasamanya, Nona West!" Marchel menarik ujung bibir, tersenyum.


"Jangan harap kamu bisa kabur dari sesi interogasi saya, Tuan Mikhael!"