
"Misi pembunuhan?" Arland tertegun menatap pesan yang tertera di layar smartphone yang tengah berada di genggamannya. Jantung lelaki itu mulai berdebar kencang melihatnya. Arland menggigit bibir bawah, menatap Arsiel yang sedang tertidur pulas di kasur.
Dia mulai bertanya-tanya tentang apa yang akan dia lakukan atau seperti apa sikap yang akan dia tunjukkan di hadapan Arsiel mulai saat ini. Sejak mengetahui bahwa Arsiel bukan gadis biasa, Arland masih ingin berbaik sangka bahwa Arsiel tetaplah gadis yang baik. Namun pesan yang dikirim oleh anonim membuatnya sedikit menciut.
"Arland...?!"
Tanpa disadari, Arsiel sudah terjaga dari tidurnya. Gadis itu memasang wajah penuh tanda tanya ketika melihat ekspresi kusut Arland yang terlihat kebingungan.
"Oh, Hai! Apa kamu sudah bangun? Aku membawakan beberapa makanan ringan dan sekotak susu. Makanlah supaya merasa sedikit lebih baik. Aku akan kembali ke kelas terlebih dahulu." Arland berusaha untuk tidak tergagap saat sedang berbicara, namun gaya bahasanya berubah tanpa dia sadari. Arland berbicara dengan bahasa formal karena merasa tegang.
"Kamu..." Kalimat Arsiel terhenti, matanya menatap lurus wajah Arland yang mulai berkeringat dingin.
"Terima kasih, kamu sudah mau menemaniku."
Arland menghela napas panjang, dia berdeham mencoba menetralkan rasa tegangnya. Meskipun merasa lega untuk sesaat, wajahnya masih menampakkan ekspresi gelisah.
Arland menutup mulutnya rapat, tidak ada jawaban yang keluar dari lisannya. Tatapan Arsiel kembali normal, tidak seperti tadi yang seolah menginterogasi penjahat.
"Ponselku mau kamu bawa kemana?" Arland terkejut bukan main seolah tertangkap basah, dia baru tersadar sedari tadi tangannya sedang memegang telepon genggam milik Arsiel. Arland sebisa mungkin mengendalikan ekspresi wajahnya, tangannya terjulur mengembalikan smartphone yang dia pegang.
"Maaf, tadi ponselmu terjatuh. Aku tidak sengaja menyenggolnya." Arland mencoba menjelaskan apa yang terjadi sebelum Arsiel terbangun.
Arsiel meraih smartphone nya, dia merasakan kejanggalan. Bagaimana bisa dia tidak terbangun pada saat smartphone nya terjatuh? Arsiel adalah orang yang mempunyai tingkat kewaspadaan akut bahkan saat sedang tertidur. Bukan hanya Arsiel, setiap agen dilatih untuk memiliki kewapadaan tinggi di situasi apapun itu.
"Apa benar benda ini terjatuh? kamu tidak membohongiku, kan?"
"Tentu saja tidak!"
"Ekspresimu menjelaskan semuanya, apa yang kamu lakukan selama aku tertidur?"
"Aku hanya pergi ke kantin lalu kembali ke sini, hanya itu saja. Sungguh!"
Arsiel memicingkan mata menatap Arland, dari raut wajahnya terlihat seolah tidak percaya pada Arland.
"Aku akan kembali ke kelas lebih dulu, jika kamu sudah selesai bergegaslah kembali ke kelasmu."
Arland langsung beranjak pergi dari sana tanpa menunggu jawaban Arsiel, meninggalkan gadis itu sendirian di UKS dengan segala pertanyaan yang masih belum terjawab. Arsiel mengecek smartphone yang masih dia pegang, pada layar smartphone menampilkan sebuah pesan dari nomor tidak dikenal. Arsiel membelalak terkejut menatap layar, lalu dia bergumam pelan setelahnya.
"Sial, bagaimana ini?" Arsiel menggigit kuku ibu jarinya. Sekarang dia tahu kenapa sikap Arland sangat aneh sejak beberapa jam lalu. Arsiel berasumsi bahwa Arland diam-diam memasang telinga untuk mendengarkan percakapannya dengan Marchel terakhir kali.
"Jika hanya menguping pembicaraan tadi, seharusnya tidak masalah. Dia tidak akan mengerti apa maksud dari pembicaraan kami, tapi kali ini berbeda. Dia juga sudah membaca pesan rahasia. Bagaimana aku akan mengatasi ini?"
"Tidak ada jalan lain. Aku harus mencari kesempatan untuk berbicara dengannya." Arsiel mengacak rambutnya sambil memasang wajah kusut. Arsiel berencana untuk menyelesaikan urusan ini sendiri, namun Arland membuatnya semakin rumit.
...----------------...
Ketika Arland sedang berjalan di Koridor sekolah, dia tanpa sengaja bertemu dengan Marchel yang seolah seperti memang menunggu kedatangannya. Arland ingin bersikap tidak acuh berusaha melewati Marchel senatural mungkin.
"Hei, kamu sudah mengetahuinya. Jangan berpura-pura dan berhentilah bersikap seperti orang bodoh!" Marchel mengeraskan rahang. Dia baru mengetahui bahwa Arland menguping pembicaraannya ketika tanpa sengaja pandangan Marchel mendapati sesosok siswa yang bersembunyi dibalik pilar.
Ucapan Marchel berhasil menghentikan langkah kaki Arland. Dia tertegun sejenak karena terkejut. Padahal Arsiel tidak mengetahuinya, tapi bagaimana bisa senior ini langsung menembak tepat pada sasaran?
"Maaf, aku tidak mengerti apa maksud ucapan senior." Arland membalik badan, mengucapkan beberapa patah kata dengan susah payah memasang wajah kebingungan.
"Benarkah? Lalu kenapa kamu terkejut ketika saya mengatakannya?" Marchel menatap dingin dengan wajah yang datar. Saat ini dia benar-benar terlihat selayaknya 03 yang dikenal dengan 'penyakit jiwa'.
"Aku hanya..." Arland berusaha keras untuk memutar otaknya, mencari alasan yang pas dan masuk akal untuk dia berikan.
"Hanya? Hanya apa?!"
"Aku terkejut karena senior memanggilku. Biasanya senior bahkan tidak menanggapi sapaan dariku. Karena itulah aku merasa terkejut." Arland terkekeh pelan. Namun, semua usahanya tidak berhasil di mata Marchel. Mata itu bisa mendeteksi hampir semua kebohongan, apalagi Arland yang masih menjadi pembohong amatiran.
"Apa kamu sadar bahwa kamu adalah orang yang buruk dalam berbohong? Meski kamu sudah berusaha, tapi tatapan matamu yang telah mengatakan semuanya."
"Jadi, apa yang sebenarnya ingin senior sampaikan?" Raut wajah Arland berubah seketika. Wajah polos dan lugu yang dia tunjukkan beberapa detik lalu berubah menjadi wajah datar yang penuh emosi.
"Akhirnya kamu mengakuinya, bajing—"
Kalimat Marchel terhenti sebelum dia sempat menyelesaikannya. Penyebab itu adalah sesosok gadis yang beberapa waktu lalu berurusan dengan Arsiel. Mata Arland mengikuti tatapannya dan mendapatkan Gerryn Shaytton yang sedang berjalan di lorong koridor.
"Target important!" Marchel berseru tertekan. Tangannya mengepal keras sampai urat-urat terukir di permukaan kulitnya.
"Apakah Gerryn adalah target kalian?" Arland takut, tapi dia tetap bertanya. Gerryn memang mempunyai temperamen yang buruk, tapi itu tidak cukup untuk membuat seorang agen sampai terlibat di dalamnya.
"Saya yakin kamu belum mengetahui apapun tentang gadis itu." Marchel beralih menatap Arland yang berada tidak jauh darinya. Tatapan membunuh yang masih belum berubah itu berhasil membuat Arland beringsut mundur.
"Saya akan mengajukan kesepakatan yang menarik untukmu. Akan saya perlihatkan padamu iblis macam apa yang bersemayam dalam tubuh gadis sialan itu." Marchel tersenyum dingin dengan wajah penuh maksud. Baru kali ini dia melihat seorang pelajar yang terasa 'asing' baginya.
"Dan apa yang kamu inginkan sebagai bayarannya?" Arland membalas tatapan dingin itu dengan tatapan yang sama. Kali ini Arland tidak memanggilnya dengan sebutan senior karena dia sudah memandang lelaki di depannya dengan sudut pandang yang berbeda.
"Bantu saya untuk mendapatkan Nona West. Ah, maksud saya mendapatkan Arsiel. Bagaimana? Itu tawaran yang cukup menarik, bukan?"