
Kejadian yang sedang berlangsung tidak dapat dipercaya oleh siapapun. Tidak satupun dari penghuni sekolah yang akan menyangka bahwa dua pria tampan itu adalah keluarga Arsiel.
"Tunggu! Bapak ini siapanya Arsiel?" Mantan wali kelas Arsiel bangkit berdiri. Dia sedikit menatap curiga pada pria yang dipanggil dengan sebutan 'Ayah'.
"Apa yang sedang bapak tanyakan? Sudah jelas Arsiel adalah anak saya. Apa bapak tidak mendengar gadis imut ini memanggil saya dengan sebutan ayah? Dan tolong panggil saya dengan nama, Ithel Evend." Pria itu berdecak pelan lalu mendengus kesal.
"Tapi data yang masuk sangat berbeda!" Wali kelas itu segera membuka laci meja, mengambil beberapa berkas yang dibutuhkan saat Arsiel menjadi murid di sekolah.
"Lihat sendiri!" Wali kelas menunjukkan selembar kertas pada Evend. Di pojok kertas itu terdapat sebuah foto pria bekumis tipis dengan kulit sawo matang sebagai identitas ayah kandung Arsiel. Sebuah foto yang sangat berbanding terbalik dengan Evend.
Evend menelan ludah, dia dengan cepat memutar otaknya untuk membuat alasan yang dapat diterima. Foto yang tertera di kertas itu memanglah foto ayah Arsiel yang sebenarnya, namun Arsiel mengubah identitas dirinya sendiri.
Arsiel tidak pernah mengira bahwa data itu akan diperlukan olehnya, karena itulah dia memakai foto asli ayahnya tanpa berpikir panjang.
"Dia? Dia memang ayah kandung Arsiel, tapi sekarang Arsiel sudah menjadi anak angkat saya secara resmi."
"Anak angkat?" dia menaikkan salah satu alisnya. Wali kelas itu masih menyimpan beberapa kecurigaan. Terlihat jelas dari ekspresi wajahnya bahwa dia tidak mudah mempercayai pria di hadapannya.
"Saya mengenal gadis ini sudah sangat lama, tapi baru bisa mengangkatnya menjadi anak beberapa hari yang lalu." Perkataan Evend berhasil membungkam mulut wali kelas itu.
"Nah, sekarang kembali ke topik utama kita, sayang. Sepeti kata kakakmu, siapa keparat sialan yang berani mencari masalah padamu?" Evend menoleh mengalihkan pandangannya pada Arsiel, dia menatap penuh tanda tanya.
Arsiel menunduk tidak berani menatap balik mata Evend. Tanpa Arsiel menyebutkan namanya beberapa siswa yang menjadi saksi bisu sudah dapat menebak siapa pelakunya. Tatapan Evend melembut seketika melihat Arsiel menundukkan kepala. Evend melangkah mendekati Arsiel, perlahan namun pasti. Tangannya terangkat mengelus rambut Arsiel dengan penuh kasih sayang.
"Sayang ada apa? Apa yang terjadi pada gadis manisku?" Evend berjongkok menatap wajah Arsiel dari bawah. Salah satu tangannya meraih telapak tangan Arsiel sedangkan satu lagi bertumpu pada paha. Posisinya saat ini membuat Arsiel mau tak mau menatapnya.
"Ayah jangan memaksanya." Lelaki yang di panggil dengan nama Finnian membuka suara.
"Baiklah, jika kamu belum siap memberitahu kami tidak jadi masalah. Tapi jika ada yang menyakitimu lain waktu segera laporkan pada kami. Mengerti sayang?" Evend kembali berdiri tegak setelah menyelesaikan kalimatnya. Genggaman tangan itu terlepas perlahan.
Evend berjalan kembali pada titik awal sebelum dia beranjak mendekati Arsiel. Tatapan lembutnya berubah tajam seolah sedang mengancam lawan bicaranya. Tangannya meraih kancing kemeja di bagian leher, perlahan dia melepas kancing agar tidak merasakan gerah.
Mantan wali kelas merasa tidak terima dengan perkataan Evend. Bagaimanpun kejadian itu tidak di ketahui pasti, bahkan sang korban tidak membocorkan nama pelaku.
"Maaf untuk keteledoran kami selaku guru di sini, Tuan." Jacob mendahului sebelum mantan wali kelas itu kembali membuka suara.
"Saya tidak membutuhkan permintaan maaf darimu. Saya hanya menyuruh kalian untuk bekerja dengan benar."
"Jika anda ingin kami bekerja ekstra? saya mempunyai tawaran yang cukup bagus. Dilihat dari penampilan anda, bisa saya tebak anda adalah orang yang memiliki banyak kekuasaan." Jacob tersenyum penuh arti.
"Tebakan anda cukup bagus. Lalu apa yang anda inginkan?"
"Berikan sedikit tunjangan sebagai bayarannya."
Mantan wali kelas terkejut mendengar kalimat yang di lontarkan oleh Jacob. Namun, Jacob mencoba meyakinkan Pria berumur itu dengan tatapan dan senyuman agar pria itu tetap diam di tempatnya . Jacob sedang memerankan perannya sebagai orang yang senantiasa memanfaatkan keadaan untuk mendapatkan keuntungan.
"Apakah semua guru bertindak seperti seorang perampok? Namun itu tidak jadi masalah selagi putri saya merasa nyaman di sekolah ini. Tetapi jika sampai saya mendengar kabar kejadian ini terulang lagi maka nantikan akibatnya." Evend menatap tajam pada Jacob.
Tatapan itu berhasil membuat Jacob benar-benar merasa terkejut. Dia baru menyadari bahwa anggota bronze card juga bisa memasang ekspresi seperti itu.
"Baiklah, saya hanya ingin memastikan itu. Sayang, Ayah akan kembali ke luar negeri. Jika ada apa-apa, langsung hubungi saja kakakmu. Dia akan tetap berada di negara ini." Evend mengusap rambut Arsiel dengan lembut.
Arsiel hanya bisa mengangguk dengan senyuman mendengar perkataan itu. Kemudian mereka pergi mengangkat kaki dari sekolah dengan meninggalkan kesan yang luar biasa.
Seorang gadis yang menyaksikan semua kejadian ini dari kejauhan terlihat sangat gelisah. Dia menggigit kuku ibu jarinya supaya merasa lebih baik.
Tatapannya tidak lepas dari Arsiel yang tengah berdiri di tengah halaman sekolah.
"Dasar j*l*ng sialan! Dia pasti mengadu pada orang tua angkatnya."