
Arsiel tersenyum pada lelaki yang saat ini sedang berada di depannya. Dia terus menunggu di ujung lorong koridor selama pertemuan numbers berlangsung.
"Bagus, sekarang kita hanya perlu melanjutkan rencana bagiannya. Apakah kamu sudah menyiapkannya sesuai rencana?" Marchel melipat tangan di dada, menatap lelaki di depan sana dengan dingin.
"Aku sudah menyelesaikannya. Sempat ada beberapa kendala, tapi semuanya sudah diatasi."
"Kerja bagus, Arland. Saya akan menuju tempat selanjutnya dan menunggu kalian di sana." Arsiel menepuk pelan pundak Arland, membuat lelaki itu mengangguk paham.
Setelah bayangan Arsiel menghilang memasuki lift, Marchel menarik kasar baju Arland, memaksa Arland untuk bisa mengikuti ritme langkah kakinya.
"Kita harus cepat! Tidak banyak waktu yang tersisa sampai mereka selesai melihat semua bukti dan rekaman itu." Marchel mengeraskan rahang. Dia semakin mempercepat langkah kakinya, membuat Arland harus sedikit berlari untuk bisa menyusul.
Sementara itu, Arsiel menghentak-hentakan kakinya pada pijakan lift. Mungkin karena dikejar oleh waktu, gadis itu merasa lift turun lebih lama dari biasanya. Ditambah lagi lift sempat berhenti di beberapa lantai untuk mengangkut orang yang lain.
Arsiel berali-kali memerhatikan jam yang mengelilingi pergelangan tangannya dan waktu terasa berjalan begitu lamban. Banyak pasang mata yang menatapnya aneh selama berada di lift. Seorang gadis remaja dengan pakaian yang begitu elegan dan riasan gelap yang terlihat natural, siapa yang tidak akan tercuri perhatiannya?
Setelah pintu lift terbuka di lantai terakhir, Arsiel dengan cepat berlari keluar dari gedung, langsung menuju tempat mobilnya terparkir. Arsiel menginjak gas dengan kasar, melajukan mobilnya pada kecepatan tinggi di malam hari. Arsiel memacu mobilnya melewati jalan yang terhindar dari pengawasan polisi dan tidak banyak digunakan untuk menghindari terhambat oleh berbagai hal.
Kembali lagi pada Marchel dan Arland yang tetap berada di dalam gedung.
Mereka menyiapkan segala keperluan untuk rencana lanjutan. Saat ini mereka sedang berada di sebuah ruangan dengan banyak sekali kabel besar yang saling terhubung. Marchel berjalan menuju sebuah kotak besar dari besi yang tertempel di dinding.
"Apa kamu tahu cara melakukannya?" Arland bertanya karena merasa khawatir. Bisa saja Marchel salah melakukan langkah dan malah memicu alarm untuk hidup.
"Kamu pikir saya adalah seorang amatiran?" Marchel berdecak kesal mendengar pertanyaan Arland yang meremehkan skillnya sebagai agen yang sudah melakukan penyelinapan dan pembunuhan bekali-kali. Tanpa melanjutkan perdebatan, Arland meraih dua kacamata malam kemudian dia memberikan salah satunya pada Marchel. Mereka memasang kacamata itu secara bersamaan.
Sebelum menyentuh sesuatu, Marchel memasangkan sarung tangan pada tangannya untuk menghindari sidik jarinya menempel pada benda yang akan disentuh olehnya. Secara perlahan tangan Marchel masuk kedalam kotak besar. Dengan teliti jarinya memilah beberapa kabel yang saling melilit. Kemampuannya yang begitu ahli saat melakukan pembobolan membuat Marchel tidak merasa kesulitan. Selang berapa detik akhirnya Marchel menemukan kabel yang sedari tadi dia cari.
Salah satu tangan Marchel berpindah ke dalam saku celana mencari pemotong kabel kecil sedangkan tangan satunya menahan kebel di dalam kotak. Marchel menyerahkan pemotong itu pada Arland, dengan sigap Arland menerimanya. Tangan Marchel menekan sakelar besar yang menjadi pusatnya, detik itu juga secara serentak pencahayaan di dalam gedung besar itu menghilang digantikan kegelapan.
"Serahkan benda itu."
Arland segera memberikan alat yang tadi dititipkan Marchel padanya. Tanpa ragu tangan Marchel mulai memotong beberapa kabel yang telah dipisahkan. Sebelum memasang kembali penutup kotak, Marchel dengan sengaja menyembunyikan kabel yang tadi dia rusak. Setidaknya hal itu akan mengulur sedikit waktu. Merekapun dengan segera pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Marchel dan Arland berlarian menulusuri lorong juga tangga darurat tanpa mengenakan sepatu agar tidak menimbulkan bunyi, tujuan mereka saat ini adalah ruangan pertemuan para numbers. Jika tidak segera sampai tepat waktu maka hanya kegagalan yang akan menanti mereka.
Setelah lamanya berlari dan bersembunyi akhirnya Marchel dan Arland tiba di ruangan tersebut. Dengan posisi mengendap-ngendap mereka melangkah memasuki ruangan, mencoba sebisa mungkin agar tidak menimbulkan suara. Sesuai dengan rencana yang telah di sepakati, mereka berdua langsung menjalankan tugas masing-masing.
"Heii! jangan diam saja. Pergilah cari lilin atau apapun itu yang dapat kita gunakan untuk sementara waktu. Saya tidak yakin pemantik ini akan bertahan lama." Agen A-01 sedikit berteriak. Jika pemantik itu mati maka satu-satunya yang dapat menerangi ruangan adalah jendela.
"Baiklah, bantu saya untuk mencarinya di beberapa laci meja." A-05 menyahutinya.
Pencahayaan dari pemantik tidak sepenuhnya menerangi ruangan, bagaimana bisa benda kecil dapat menerangi ruangan seluas itu?
Marchel mencoba mengalihkan perhatian mereka dengan menjatuhkan furniture yang di gantung pada dinding. Hal itu berhasil membuat para agen beserta pria rubah menatap ke arah mana asal suara benda itu terjatuh.
Satu-satunya agen yang menyalakan pemantik melangkah maju untuk memeriksanya. Kesempatan itu dimanfaatkan dengan baik oleh Marchel dan Arland. Dengan segera Arland melangkah menghampiri meja besar untuk mengambil alat penyimpanan data yang tergeletak di sana sedangkan Marchel memukul tengkuk leher pria rubah hingga pingsan tak sadarkan diri.
Sekuat tenaga Marchel dan Arland berlari menyeret tubuh pria rubah ke arah jendela. Mereka menghempaskan tubuh besar itu kearah kaca jendela hingga pecah berserakan. Tubuh pria rubah terlempar jatuh dari atas gedung disusul mereka berdua yang ikut melompat keluar dari jendela.
Semua perhatian langsung teralihkan mendengar suara pecahan kaca yang terdengar sangat nyaring. Namun Marchel dan Arland sudah menghilang ketika seluruh pasang mata menatap awas ke arah jendela.
Mereka bertiga mendarat di atas kasur udara yang telah di siapkan oleh Arland. Tubuh pria rubah kembali di seret ke arah mobil lalu di lempar masuk ke kursi bagian belakang.
"Siapa disana?" Agen A-05 berteriak, berlari secepat mungkin menuju jendela untuk memastikan. Namun Marchel dan Arland sudah sepenuhnya berada di dalam mobil sehingga agen A-05 tidak bisa menebak siapa pelakunya. Ditambah lagi Arland sudah menyediakan mobil yang disewa tanpa menyertakan identitas untuk berjaga-jaga jika saja mereka bisa melihat plat nomor mobil itu.
Tanpa membuang waktu lagi Marchel langsung menginjak gas dengan kasar, mobil mereka melaju sangat kencang meninggalkan gedung besar itu dan langsung menuju tempat dimana Arsiel sudah menunggu.
"Sial! Mereka berhasil kabur!" Agen A-05 memukul kaca jendela yang lain hingga pecah. Tidak lama setelah itu lampu kembali menyala dan disaat itulah mereka tersadar bahwa pria rubah sudah tidak ada di tempatnya.
"Bajingan! Mereka membawa pengkhianat itu kabur." Agen A-10 mengeraskan rahang.
"Mereka juga membawa bukti itu bersamanya. Apa menurut kalian ini adalah ulah anjing pemerintahh dari organisasi yang sama?" Agen A-02 menatap semua agen yang masih berada di dalam ruangan dengan serius.
Beralih pada sebuah tempat tersembunyi. Disana Arsiel sudah menunggu Marchel dan Arland tiba dengan membawa tawanan mereka. Selang beberapa puluh menit setalah itu, mobil yang dinaiki oleh dua lelaki itu terlihat dari kejauhan. Mobil itu berhenti tepat di depan Arsiel bediri.
"Kenapa kalian begitu lama?" Arsiel melipat tangan di dada, mengangkat kedua alisnya sambil menatap dingin pada mereka.
"Diam dan lanjutkan saja sesuai rencana."