I'M Not A Special Character

I'M Not A Special Character
Penyamaran Mantan Platinum Card



"AAAARRGGHHH!!! DASAR SIALAN!!!!!"


Ditengah percakapan serius antara Arland dan Arsiel, suara seorang gadis yang sangat akrab di telinga keduanya berteriak sangat kencang. Suaranya terdengar sampai ke beberapa ruangan yang bertetanggaan dengan perpustakaan.


Seketika seluruh pasang mata dan atensi berpusat pada gadis itu. Padahal perpustakaan adalah tempat yang dilarang untuk berisik, tapi gadis itu malah meneriakan kalimat yang kotor.


Arsiel dan Arland menangkap perawakan Gerryn di bibir pintu masuk perpustakaan. Wajahnya merah seperti udang yang baru saja direbus.


"Aku rasa Marchel sudah sedikit keterlaluan." Arland bergumam pelan sambil terus mengikuti arah tubuh Gerryn bergerak.


"Kenapa terasa sangat cepat? Apa Marchel berhasil memikat Gerryn hanya dengan waktu yang singkat itu?" Arsiel mengernyitkan dahi merasa tidak pecaya bahwa Marchel memiliki kharisma yang luar biasa.


"Sebaiknya aku pergi dari tempat ini." Arsiel beranjak dari tempat duduknya.


"Jangan lupa untuk menaruh kembali buku-buku itu."


Setelah mengatakan itu, Arsiel melangkah meninggalkan Arland. Dia jauh dari tempat Gerryn saat ini berada, sehingga gadis itu tidak akan menyadari keberadaannya.


Arsiel terus berjalan menyusuri koridor dan langsung menuju kelasnya. Sebentar lagi jam pelajaran yang ditunggu-tunggu akan segera dimulai.


"Aku tidak boleh melewatkan ini." Arsiel begumam pelan.


Beberapa menit kemudian bel berbunyi, pertanda bahwa jam pelajaran selanjutnya sudah dimulai. Arsiel duduk seperti biasa tanpa mencuri banyak perhatian. Gadis itu memasang senyum menantikan sosok yang akan datang.


"Semuanya, tolong duduk dibangku kalian dan jangan banyak berbicara." Seorang pria paruh baya berjalan memasuki ruang kelas diikuti oleh sesosok lelaki muda yang terlihat gagah di belakangnya.


Semua pasang mata sontak terkejut karena kagum melihat perawakan tubuh yang sangat sempurna. Wajah tampannya berhasil memikat semua gadis yang berada di ruangan, terkecuali Arsiel.


"Mulai hari ini kalian akan mendapat wali kelas baru. Tolong jangan membuat wali kelas kalian kesusahan. Dia masih baru dalam dunia perguruan." Pria paruh baya itu memberikan sedikit penjelasan sebelum akhirnya meninggalan ruang kelas.


"Salam kenal semuanya, nama saya Jac..." Lelaki itu tiba-tiba tertegun. Hampir saja dia memperkenalkan diri dengan nama aslinya.


"Jack? Nama Bapak Jack?" Salah satu siswi bertanya. Lelaki itu menggeleng pelan sambil tersenyum ramah.


"Tidak, bukan. Nama saya Eden, Eden Malfyio." Lelaki yang memperkenalkan dirinya sebagai Eden membungkukkan badan di depan semua mata yang sedang memerhatikannya.


"Baiklah, kita langsung masuk pada pelajaran."


Selama pembelajaran berlangsung Arsiel sesekali menunduk sambil melukis senyum di wajahnya. Arsiel merasa terhibur melihat gelagat aneh yang di tunjukkan oleh Jacob.


Lihatlah di depan sana Jacob menunjukkan senyum suramnya. Untungnya Arsiel berhasil menahan gelak tawa yang ingin meluap. Jika saja dirinya lepas kendali dan tertawa kencang di dalam kelas, tatapan sekitar akan semakin mempersulit dirinya.


Tujuan mereka meminta Jacob menyamar menjadi wali kelas Arsiel hanya ada satu, yaitu agar mereka dapat senantiasa mengawasi pergerakan yang dilakukan oleh Jacob. Hal itu membuat Jacob semakin terkekang, tapi dia tidak memiliki pilihan.


Jacob berhasil memerankan perannya dengan baik. Setelah menyelesaikan tugasnya dia langsung pergi meninggalkan ruang kelas. Tentu saja perasaannya saat ini sedang diaduk-aduk


\*\*\*\*\*


Arsiel berjalan menelusuri lorong koridor. Tujuannya kali ini adalah kantin. Dia berniat untuk membeli beberapa makanan ringan. Namun, niat itu di urungkan ketika sebuah tangan dengan paksa menariknya ke arah tangga.


Arsiel mengerutkan kening merasa kebingungan melihat Gerryn yang entah muncul dari mana. Dengan napas memburu dapat dia tebak gadis ini baru saja berlari mengejar dirinya dari jarak yang lumayan jauh.


"Apa yang kamu inginkan dariku?" Dengan raut wajah ketakutan Arsiel bertanya padanya.


"Ada hubungan apa di antara kalian?"


"Siapa yang kamu maksud?"


"Marchel."


Mendengar nama itu membuat Arsiel mengumpat dalam hati. Apa yang telah Marchel lakukan hingga menyeret masalah datang ke arahnya. Sejak awal Arsiel dan Marchel tidak bisa di satukan, kehadiran Marchel selalu menjadi hambatan untuknya.


"Tidak ada hubungan yang spesial." Arsiel menjawab dengan suara yang sedikit bergetar. Gerryn mendengus melihat betapa menyedihkan gadis yang sekarang sedang berada di hadapannya.


"Jangan takut. Aku tidak akan melakukan apapun padamu selama kamu tidak membuatku meras kesal." Gerryn melipat tangan di dada, memutar bola mata diiringi dengan helaan napas.


"Jadi, kamu bilang tidak ada yang spesial? Lalu kenapa dia selalu mencarimu?"


"Kami hanya teman masa kecil. Tidak lebih dari itu." Arsiel menggelengkan pelan kepalanya.


Di tengah suasana canggung, Arland tiba-tiba datang diantara mereka. Raut wajah Gerryn berubah seketika melihat batang tubuh Arland tiba di depannya.


"Kenapa kalian berdua berada di sini? Apa kamu menindas Arsiel lagi?"