
"Kenapa kalian berdua berada di sini? Apa kamu menindas Arsiel lagi?" Arland mengernyitkan dahi, menatap Gerryn dengan sorot mata yang tidak menyenangkan.
"Apa?! Aku tidak melakukan apapun! Lagi pula jangan bersikap seperti pahlawan yang datang ketika semuanya sudah terlanjur terjadi." Gerryn memalingkan wajah, pergi meninggalkan mereka begitu saja.
Kedua pasang mata itu menatap punggung Gerryn yang semakin jauh sampai kemudian menghilang di balik dinding.
Arland mengalihkan pandangannya pada Arsiel, menatap gadis itu dengan penuh rasa haus akan penjelasan.
"Tidak ada yang terjadi, sungguh. Dia hanya menanyakan hubunganku dengan Marchel. Tidak ada yang lain." Arsiel mengangkat bahu, menghela napas pelan.
"Entahlah, aku tidak tahu harus bersikap bagaimana sekarang. Mengingat kamu adalah orang yang berbeda membuatku kadang kehilangan sandiwara." Arland memejamkan matanya, sejenak berusaha untuk meringankan pikiran.
"Jangan terlalu dipikirkan. Aku akan menemui Jacob sekarang. Kamu mau ikut denganku?" Lupakan niatnya tadi. Bertemu dengan Geryyn membuat Arsiel kehilangan nafsu makan.
"Tentu!" Arland mengangguk pelan, beranjak berjalan mendahului Arsiel sambil menggandeng tangannya.
Mereka sudah memiliki janji untuk bertemu di belakang gedung sekolah. Selama Arsiel masih berada di perjalanan, Jacob sudah menunggu disana bersama Marchel dan beberapa orang yang tidak dikenal.
"Kenapa dia lama sekali?" Marchel berdecak pelan,melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Maaf membuat kalian menunggu." Suara Arsiel berhasil mengalihkan perhatian Marchel dari jam tangannya.
"Lama sekali. Sudah terlambat beberapa menit. Bagaimana bisa seorang agen tidak memerhatikan waktu?" Marchel menggelengkan kepala, membuat wajah Arsiel menjadi masam.
"Saya mendapati beberapa masalah, jadi tolong jangan asal membuat kesimpulan."
"Baiklah, maafkan saya. Tapi kenapa dia juga ikut?" Marchel menautkan alisnya, melontarkan tatapan bingung yang membuat Arland sedikit canggung.
"Apa ada masalah?"
"Lupakan saja! Sekarang karena semua sudah berkumpul, tolong jelaskan rinciannya, Nona West!" Marchel menadahkan telapak tangannya ke arah Arsiel, memberi isyarat pada gadis itu untuk memulai penjelasannya.
"Tunggu, saya meminta lima orang pada organisasi. Kenapa hanya datang tiga?" Arsiel mengeraskan rahang, merasa kesal karena permintaannya tidak didengarkan dengan serius.
"Apa kami tidak cukup?" Salah satu dari mereka bertanya dengan sopan, sedikit menganggukkan kepala.
"Haaah! Terserahlah! Saya akan langsung memulai pada intinya." Arsiel berhenti sejenak, bola matanya melirik ke arah Marchel.
"Beruntung sekali saya ditugaskan di sekolah ini padahal sudah ada Agen A-03." Arsiel membuang muka. Dia merasa kesal setelah mengetahui bahwa organisasi memang sengaja mengirim Arsiel pada misi ini bersama Marchel.
Sebenarnya Marchel sudah dua tahun berada di sekolah ini dengan misi yang sama seperti Arsiel, namun karena belum ada perkembangan apapun mengenai informasi yang didapatkan akhirnya organisasi mengirim Arsiel sebagai bantuan.
"Tugas kalian tidak berat, tapi juga tidak ringan. Mulai dari Tuan Mikhael, karena kamu berada di kelas akhir dan merupakan siswa populer, saya berharap kamu bisa diajak bekerja sama. Tolong lakukan tugas dengan benar." Arsiel melayangkan tatapan dingin, seolah memberi peringatan pada Marchel untuk tidak membuat kesalahan.
"Saya sudah mengetahui tugas saya. Tenang saja."
"Bagus!" Arsiel mengalihkan pandangannya. Kali ini dia menatap tiga wajah asing di hadapannya.
"Kalian bertiga yang memiliki peran penting. Aku yakin Tuan Mikhael sudah memberikan rincian mengenai rencananya." Sorot mata Arsiel menunjukkan dengan jelas betapa seriusnya gadis itu pada rencananya.
"Baiklah, lalu untuk Jacob. Bersikaplah seolah kamu merendah di hadapan mereka. Bersikap selayaknya anjing penjilat."
Jacob mengangguk patuh sebagai jawaban.
Kalimat itu menjadi akhir dari pertemuan, mereka semua mulai pergi secara bergantian meninggalkan halaman belakang geung sekolah. Detik itu juga sandiwara akan segera dimulai.
*****
Sebuah mobil mewah memasuki lingkungan sekolah, menyita beberapa perhatian untuk terpaku menatapnya. Di dalam mobil itu duduk tiga lelaki yang tidak lain adalah orang dari organisasi yang Arsiel minta.
Dengan menyebut identitas palsu pada penjaga, mereka dapat dengan mudah masuk ke dalam sana. Mobil itu terparkir apik di tempat para wali. Terlihat sangat kentara bahwa mobil itulah yang paling mencolok diantara mobil yang lainnya.
Salah satu orang berjas keluar dari mobil. Dengan tergesa-gesa pria itu pergi ke sisi lain mobil untuk membukakan pintu. Setelah pintu terbuka terlihatlah sosok pria bertubuh tegap kuat dengan wajah rupawan sebagai pelengkapnya. Tidak berhenti sampai di situ, dari pintu belakang muncul sosok lelaki muda bertubuh lebih pendek dengan wajah tak kalah tampan.
Dengan penuh wibawa pria itu berjalan lebih dulu sedangkan dua orang sisanya mengekor dari belakang. Kehadiran mereka menimbulkan kehebohan di setiap langkahnya. Segelintir gadis berteriak kegirangan, mereka terpikat menatap wajah tampan dari ketiganya.
Kehebohan di tengah koridor tidak lepas dari pandangan Marchel. Dia harus mengambil tindakan agar ketiga orang itu tidak mengalami hambatan. Dengan langkah pasti Marchel menghampiri kerumunan para gadis muda itu.
"Maaf, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" Marchel menunjukkan senyum ramahnya. Membuat para gadis mengalihkan pandangan kearahnya.
"Saya sedang mencari keberadaan putri saya, bisakah kamu menunjukkan di mana letak kelasnya?" Dalam sekejap kalimat itu mampu mematahkan hati para gadis yang ada di sana.
"Jika boleh tahu siapa nama lengkap Putri anda?"
"Arsiel Charsa."
Nama yang terlontar dari mulut lelaki itu sontak membuat beberapa murid yang tidak asing dengan nama 'Arsiel Charsa' menelan ludah mereka sendiri.
"Mari ikuti saya." Marchel melangkah lebih dulu untuk memimpin jalan.
Di tempat lain, Arsiel sedang bersama dengan Jacob. Mereka berdua memanfaatkan status murid dan guru sebagai kedok untuk tetap berada di tempat yang sama. Namun tidak hanya Arsiel yang berada di dekatnya, saat ini Jacob tengah di kelilingi oleh segelintir murid yang tidak mengerti perihal tugasnya.
"Arsielll!" Dari kejauhan terdengar teriakan kencang membuat fokus beberapa orang buyar seketika.
Arsiel berbalik badan menghadap asal suara. Senyuman manis terlukis jelas di wajahnya ketika melihat beberapa orang yang dia kenal.
"Ayaaah!" Tanpa pikir panjang dia langsung berlari menghampiri salah satu pria yang lebih dewasa, kemudian Arsiel menjatuhkan tubuhnyanya ke dekapan hangat pria itu.
"Arsiel! Jangan lupakan aku!" Lelaki muda yang berada tepat di belakang pria itu berseru sedih.
"Tidak akan pernah! Bagaimana kabarmu, Finnian?" Arsiel melepas pelukannya pada pria yang lebih dewasa lalu beralih menghampiri lelaki yang lebih muda.
"Aku baik, tapi itu tidak berselang lama setelah mendengar kabar bahwa adikku ditindas." Lelaki itu mengelus rambut Arsiel dengan penuh perhatian. Tidak lupa juga dengan senyum manis yang menghias di wajahnya.
"Sekarang katakan padaku, siapa bedebah yang berani mengusik adik kesayanganku?"